Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Desember 2018

Sholat Malam dan Rindu

Di malam yang dingin dan sesunyi ini, menarik kembali selimut tentu sangat menyenangkan. Bebas dari hawa dingin dan nyamuk ganas ~

"Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk sholat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, ..."

Bentar deh.. Lima menit lagi...

"Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang. ..."

Eh?

=====

Surat Muzzammil ini, sungguh mencabik-cabik perasaan kita. Bagaimana bisa kita terlalu sibuk dengan dunia di siang hari, lalu di malamnya pun tak kita sempatkan waktu untuk menuntaskan rindu dengan Sang Pencipta?

Sering, kita sudah diberikan tanda untuk terbangun di malam hari. Sayangnya, sinyal-sinyal itu sering kita abaikan. Menarik lagi selimut adalah hal yang nikmat dan tak pernah ragu kita lakukan. Alarm yang sudah meraung-raung pun kita matikan cuma-cuma. Tunda lagi, tunda lagi. Sampai adzan menyahut-nyahut, baru kita terkaget-kaget. Atau, malah masih asik berselimut?

Padahal, sudah jelas bahwa Allah sudah memilih kita untuk menjadi satu dari sekian yang 'dipanggil'. Kadang, melalui hawa dingin yang tetiba menyeruak dan membuat kita terbangun menggigil. Kadang, melalui nyamuk ganas yang menggigit tanpa ampun hingga kita terbangun gatal-gatal. Kadang, melalui alarm yang meraung-raung, suara tetangga yang berisik, selimut yang terjatuh, keinginan untuk berhajat ke kamar mandi, atau hal-hal kecil lainnya yang mungkin tidak kita sadari bahwa itu adalah tanda.

Tanda, bahwa Allah sedang merindukan hambaNya.

Lalu, apakah kita menyambut panggilan rindu itu? Atau hanya sebatas lalu saja? Bukankah, di setiap sepertiga malam itu, adalah waktu terbaik kita bertemu denganNya? Seberat itukah menuntaskan rindu dengan Sang Pencipta? Seberat itukah kita tundukkan diri sejenak melalui Qiyamul Lail dibandingkan apa yang telah Allah berikan kepada kita? Apa kita tidak rindu? Apa kita tidak ingin membalas rindu itu?

=====

Ah iya, tentang rindu.
Barangkali rindu itu berat. Eh, emang berat sih ya. Tapi, bukankah kita tetap senang merindu? Bukankah kita menikmati setiap saat kerinduan sampai kita menyapa temu? Bukankah, kita akan melakukan dan memperjuangkan apapun untuk mempersiapkan pertemuan itu sebaik mungkin? Baik dengannya, apalagi denganNya, bukan? Baik dengan ciptaanNya, apatah lagi dengan Penciptanya, kan?

=====

Kalau sholat malam dan rindu sama-sama berat, barangkali kolaborasi keduanya akan saling meringankan? Semoga keduanya berujung pertemuan membahagiakan. Mari kita buktikan. ❤

Jakarta, 10 Desember 2018
Di ujung pagi, diantara nyamuk ganas, dan berisik musik tetangga. It's okay, mari menuntaskan rindu, juga untuk mempersiapkan temu :3

Rabu, 22 Agustus 2018

Idul Adha

IDUL ADHA

🐏🐑🐂🐫

Belajar untuk meneladani keimanan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail terhadap ketentuan Allah.

Bahwa apa yang kita lakukan adalah semata untuk mendapatkan ridho Allah, dan apa yang nampak menjadi kepunyaan kita adalah hanya titipan yang kelak akan diminta pertanggungjawaban.

Semoga kita bisa belajar untuk 'mengurbankan' hawa nafsu kita, untuk meraih puncak keimanan dan ketaqwaan. Heu, aamiin.

Eid Mubarak everyone! ☺

*fyi, selain di Indonesia, mostly Idul Adha atau Hari Raya Besar ini justru lebih meriah lhoo dibanding Idul Fitri 😁
**can't wait to see mam and dad :")

#HappyEid #IdulAdha #ntms

Senin, 25 Juni 2018

Allah itu Dekat

Pernah nggak, merasa, bahwa semesta terasa memusuhi kita?

Pernah nggak, merasa, bahwa apa-apa yang kita lakukan salah di mata semua?

Pernah nggak, merasa, bahwa diri ini rasanya tiada guna? Hidup pun seperti percuma?

-----

Rasa-rasanya,
Allah lagi kangen...

Cuman,
Kitanya aja yang selama ini nggak peka, terlalu sibuk dengan urusan dunia.

-----

Allah SWT berfirman:

وَاِذَا  سَاَلَـكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ  اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran." (QS 2:186)

-----

"Fa inni qariib, maka sesungguhnya Aku dekat.."

Namun sayangnya hambaMu ini ya Allah, yang tak pernah mau mendekat..

"Ujiibu da'wataddaa'i, Kukabulkan permohonan orang yang berdoa.."

Namun sungguh sayangnya hambaMu ini ya Allah, yang selalu enggan meminta..

-----

Jangan bosan-bosan untuk selalu mendekat. Karena Allah suka ❤ lalu apa yang kita cari di dunia ini selain ridhoNya, kan?

#ntms

Sabtu, 19 Mei 2018

CONNECTION

Kata Syekh Yusuf Estes, bahasa Inggrisnya "sholat" itu bukan 'pray'

Lalu, jamaah pada bingung, termasuk aku. Bukankah, selama belasan tahun kita belajar bahasa Inggris dan ketika kita mau sholat bilangnya "I wanna pray" ?

Sambil ku berpikir keras, kemudian beliau bilang, kalo 'pray' itu lebih ke berdoa, du'a, yang bisa kita lakukan anytime, anywhere.

Sedangkan, sholat itu, beda...
Kata beliau, SHOLAT itu C O N N E C T I O N.

Sholat itu,

Connection to Allah, yang nggak semua orang bisa merasakan nikmatnya.

Connection to Allah, yang membutuhkan kondisi spesial untuk merasakan kekhusyukannya.

Lalu, sampai manakah "connection" kita sama Allah?

Mumpung Ramadhan, dimana pahala amal dilipatgandakan, mari  makin dekat-dekat, supaya sinyalnya makin kuat :") #ntms

Anyway, almost five years ago ya guys 🙈

Senin, 05 Maret 2018

Katanya Siap

Katanya, yang mengukur siap atau tidak itu, sebenarnya bukan diri kita sendiri, tetapi orang lain. Bahkan, bukan juga keduanya, melainkan Allah.

Ada, yang merasa siap, tapi tak berhenti meratap ketika yang ditunggu tak kunjung tiba. Ternyata, Allah rasa, dia belum cukup siap.

Ada, yang merasa belum siap, tapi tetiba ada yang datang menjemputnya dari persembunyian. Ternyata, Allah rasa, dia sudah pantas dikategorikan siap.

Lalu, apa parameternya?

Katanya, ia akan tiba ketika seseorang berada pada puncak ketaqwaan. Ketika tak ada lagi yang menjadi puncak harapan selain Allah, tak ada tujuan selain Allah, tak ada penghambaan selain kepada Allah.

Bukankah, yang lebih pasti adalah menemuiNya?

Semoga dalam keadaan terbaik, di puncak keimanan dan ketaqwaan.

Minggu, 29 Oktober 2017

Teacher’s Diary: Saat Belajar Praktik Sholat

Ceritanya lagi perpisahan sama bu Ais karena mau ditinggal nikah, heu :"
Ketika Ramadhan 1438 hampir usai, setelah 'pelarian' panjang wqwq
Sesore kemarin, ga ada kelas seperti biasa karena gurunya banyak yang izin dan ada keperluan. Jadi kelasnya adalah belajar praktik sholat. I got jilid 4 keatas, jadi lumayan lah yaaa ga bocil2 banget wkwk. Sekolahnya pada kelas 2-6 SD, Cuma satu bocah yang masih TK. After a long practice, ya gitu lah, sebagian udah baik, sebagian masih perlu dibenahin dikit, sebagian lagi ogah-ogahan πŸ˜‚ Capek kali yaa praktik sholat maghrib 3 rakaat dan dengan bacaan jahr jadinya lama. Belum lagi kalo gurunya 'iseng' pause dulu buat benerin gerakan temennya yang masih salah, dan jadilah makin lama wkwkwk.

Setelah selesai tiga rakaat, saya sadar kalo ini bocah2 pasti bakalan bosen kalo disuruh praktik lagi dkk, akhirnya, kesempatan emas datang: cerita πŸ˜‚ Di TPQ yang kelasnya formal abis (?) karena udah ada pattern dari pusat, jadi agak susah menyelipkan cerita agak panjang. Singkat aja juga agak maksa, karena waktu yang ada emang pas banget buat ngaji 'doang'. Kalo dulu di TPQ waktu saya masih kecil, emang ada kelas sendiri Madrasah Diniyah namanya, setelah ngaji jilid dan Quran, dan pas banget kelas saya adalah kelas teratas alias assabiqunal awwalun wkwk jadi langsung diajar sm Ustadz 😍 Disitu ada pelajaran tarikh, fiqh, aqidah, bahasa arab, hadits, dkk. Full of knowledge banget! Sayang saya baru sadar pas udah agak gede dan udah gak ngaji lagi hahaha jadinya yaa gitu, ada yang masih nyantol banget, ada yang byar, heu.. Barakallahufiik Ustadz dan Ustadzah :”)

Balik ke kids jaman now, akhirnya saya nyeritain sedikit tentang 'sejarah' sholat. Terus, ceritalah kita tentang Isra' Mi'raj. Bahwa, perintah shalat lima waktu itu datang saat Isra' Mi'raj. Apa itu Isra Miraj? Isra adalah perjalanan Rasulullah dari Mekkah ke..mana hayoo? Madinah! Bukaan, itu mah hijrah, nak πŸ˜… (Eh, kata Pandji ga boleh langsung disalahin yaak, bilang 'hampir', biar anaknya tetep semangat 😁).

Jadi, Isra adalah perjalanan Rasulullah dari Mekkah ke Negeri Syam atau Palestina. Disana, Rasulullah shalat bersama Nabi-Nabi yang lain dan malaikat Jibril juga di Masjidil Aqsa. Naah setelah itu, barulah peristiwa Mi'raj terjadi. Apa itu Mi'raj? Perjalanan dari bumi ke langit, dari Masjidil Aqsa ke Langit ke tujuh 😱😱😱 (disini mulai takut kalo salah menjelaskan karena kurangnya ilmu, tapi terlanjur karena udah di tengah jalan dan nak-anak udah pada curious overload heu).

Jadi, waktu naik kesana tuh, Nabi naik Buroq. Buu, buroq itu apa? Becak? πŸ˜³πŸ˜… Buroq adalah rrrrr mikir dulu wkwk. Kadang, bukan, seringnya, saya takuutt banget salah ngomong ke anak-anak. Karena, mereka daya ingatnya lebih kuat. Kalau salah ngomong, nanti bahaya jadi atsar, alias kesalahan yang bertumpuk kemudian. Juga, kalau 'salah berjanji', nanti ditagihnya ga berhenti2. Anak-anak kan, kaya cewe, kalau dijanjiin ga pernah lupa πŸ˜‚πŸ˜‚ #skip

Akhirnya, kita cerita kesana-kemari. Dari cerita 'sejarah' sholat sampai Khulafaur Rasyidin. Disitu, makin makin lah sadar kalau ilmunya masih dikiiit banget, masih kuraaang banget ya Allah.. Udahlah ilmunya cethek, belum lagi ilmu buat menjawab dan facing the kids, kan beda yaa caranya, heu. Harus belajar lagi, belajar terus!

Sepanjang cerita juga sebenarnya saya banyak speechlessnya. Setelah bingung mau cerita apa lagi yang bisa menarik perhatian wkwk, akhirnya gantian nanya kalau ada yang mau bertanya. Kadang, mereka nanya yang, sebenarnya saya tahu sih, tapi kompleks dan susah menjelaskan ke anak-anak. Coba, ada yang nanya: Bu, Dajjal itu apa? Atuh kumaha jawabnya di tengah kelas gede gt heu akhirnya cuma jawab Dajjal itu Iblis. Heu.. Maafkan nak, lain kali semoga bisa menjelaskan dengan baik dan benar, memuaskan rasa ingin tahu kalian :”

Juga, belajar bahwa emang beda yaa bahasa nak-anak sama mbak-mbak. Ketika sedang cerita hijrahnya Nabi, tersebutlah bocah kelas dua SD bertanya, bu, Hijrah itu apa? Lalu, pas bahas yang lain, ditanya juga: nego itu apa? Dakwah itu apa? Dkk dkk πŸ˜… Baru sadar, apa bahasanya ketinggian yaa.. Hmm. Perlu belajar menyederhanakan kalimat sepertinya. Ah, anak-anak..

Intinya kelas kemarin benar-benar mengajarkan banyak hal. Bukan hanya mereka yang belajar tentang sangat sedikit praktik dan sejarah shalat, justru gurunya lah yang belajar lebih banyak dari mereka, dari kepolosan dan keberanian mereka. Bahwa, apalah apalah ilmu yang baru nggak ada apa-apanya ini. Masih banyak yang harus dipelajari. Harus bedakan juga diksi ketika interaksi sama seumuran, lebih tua, dan lebih muda wabil khusus my bocils yang umurnya sangat beragam hihi.

Oiya satu lagii, kemarin pas entah cerita tentang apa, ada potongan sejarah yang saya lupa dan ada yang semisal tahun-tahun gitu yang emang ga saya hafalin, baca doang wkwk. Dan, salah satu anak bilang, Buu, kan itu ada di pelajaran SKI di sekolah (fyi dia sekolah di MI). Jleb, saya langsung merasa tercyduq dan tertohoq πŸ™ˆ langsung inget-inget jaman sekolah ((dulu)). Karena saya dari SD sampai SMA sekolah di sekolah negeri terus, jadi inputnya memang 'hanya' dari mata pelajaran PAI di kelas. (Tapi alhamdulillah sempat Madin jadi ada lah input lain selain di sekolah) Tapii, kok yo rasa-rasanya banyak banget yang saya lupa, apalagi tenyang tarikh 😭😭 Kalau ada pun, ga banyak, dan lebih banyak karena udah dipelajari ulang waktu saya ngaji di TPQ dulu, atau ketika udah gede baca dari buku atau dapat dari kajian :" Padahal ya, sebenarnya buku pelajaran kita pas sekolah tuh udah cerita banyak. Kalau kita mau baca. Kalau kita mau belajar. Heuu, jadi ngerasa berdosa gitu dulu sekolahnya kurang serius (?) dan ga beneran hafalin. Tapi, jadi mikir juga, apa jangan-jangan semua itu jadi cuma semacam formalitas yang setelah kita hafalkan lalu lupakan? Saking banyaknya yang harus dihafal? Jadi malah ya gitu, belajar hanyalah belajar ga sampe ke hati (?) Entahlah.

Yang jelas, pendidikan itu teramat sangat penting sekali. Utamanya lagi pendidikan agama. Agar, anak-anak kita kelak nggak buta arah dalam mengarungi kehidupan ini. Ada Islam, ada AlQuran, dan tentu saja ada Allah.

Pokoknya maah, thankyou for every single thing you unintentionally thought me. Love you to the moon and back, Kiddos! πŸ’ž

29 Oktober 2017/10 Shafar 1439

Love,

Your unperfect teacher

Jumat, 27 Oktober 2017

Khulafaur Rasyidin

πŸ“šπŸ“†Mari Belajar SirahπŸ•”πŸ’ž

Berawal dari keisengan ikut kuis di ig wkwk, jadilah tulisan kompilasi. Temanya adalah Khulafaur Rasyidin dan Karakter yang bisa Kita Teladani. Semoga manfaat, ya! 

•Khulafaur Rasyidin•

Khulafaur Rasyidin adalah khalifah pemimpin Islam sepeninggal Rasulullah saw yang terdiri dari empat orang: Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, Khalifah Utsman, dan Khalifah Ali bin Abi Thalib.

(1) Khalifah Abu Bakar As-Siddiq πŸ‘¬
Abu Bakar As-Siddiq adalah sahabat Nabi yang paling mulia. Beliau adalah salah satu sahabat yang tergolong sebagai assabiqunal awwalun, yaitu orang-orang pertama (awal) dalam memeluk Islam. Kecintaannya pada Allah dan RasulNya tidak diragukan lagi. Salah satu karakteristik paling menonjol dari beliau r.a. adalah beliau sangat PENYAYANG dan dermawan πŸ‘¬.  Beliau bersedia menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah hingga tak bersisa, bahkan hingga di masa pemboikotan oleh kaum Quraisy selama tiga tahun di Mekkah, beliau memiliki andil yang sangat besar. Pun hingga setelah hijrah ke Madinah, beliau senantiasa dermawan dan menginfakkan hartanya di jalan Allah. Selain itu, Abu Bakar As-Siddiq juga merupakan seorang yang bersahaja lagi tinggi ilmunya. Beliau juga dipercaya untuk menemani Rasulullah hijrah dan bersembunyi di dalam gua. Abu Bakar merupakan khalifah pertama setelah sepeninggal Rasulullah. Di akhir hayat beliau, Abu Bakar As-Siddiq merupakan satu-satunya diantara Khulafaur Rasyidin yang meninggal dalam keadaan berbaring atau sakit, sedangkan khalifah yang lain meninggal karena dibunuh.

(2) Umar bin Khattab πŸ”ͺ
Umar bin Khattab berasal dari salah satu rumpun suku terbesar Quraisy: Bani Adi. Sebelum masuk Islam, beliau adalah salah satu penentang Islam yang paling vokal, yang juga terkenal dengan ketegasannya. Salah satu sirah yang paling mengena mengenai Umar r.a. adalah ketika sebelum beliau masuk Islam, Rasulullah pernah berdoa agar Islam menjadi lebih mulia dengan salah satu dari dua 'Amr yang dicintai Allah: 'Amr bin Hisyam atau Abu Jahal, dan Umar bin Khattab. Beliau mendapat hidayah dan masuk Islam ketika mendengar bacaan surah Thoha oleh saudaranya. Beliau adalah salah satu sahabat 'favorit' saya, yang terkenal dengan keTEGASannya. πŸ”ͺ Bahkan sejak sebelum masuk Islam, Umar merupakan musuh yang diperhitungkan. Setelah masuk Islam, ketegasan Umar semakin 'menjadi' karena dilandasi keimanan dan kecintaan pada Allah dan RasulNya. Umar merupakan manusia yang ditakuti oleh setan, yang jika setan mendengar langkah beliau, setan akan merasa ketakutan dan memilih jalan lain yang tidak dilewati beliau r.a. Umar r.a. dijuluki sebagai Al-Faruq, yang berarti pemisah antara kebenaran dan kebathilan. πŸ”ͺ Umar tidak akan segan menghunus pedangnya di jalan Allah untuk membela kebenaran. Umar bin Khattab merupakan khalifah kedua sepeninggal Abu Bakar. Di masa kepemimpinan beliau Islam berhasil memperluas wilayah lebih banyak. Beliau meninggal ketika sedang melaksankan shalat karena ditusuk pedang beracun.

(3) Utsman bin Affan πŸƒ
Selain Abu Bakar As-Siddiq, Utsman bin Affan juga termasuk golongan Assabiqunal Awwalun yang pertama masuk Islam. Beliau adalah salah satu sahabat Nabi yang berkarakter sangat PEMALU, lemah lembut, serta dermawan yang menjadi ciri utama beliau πŸƒ. Bagaikan kutub utara dengan selatan jika dibandingkan dengan Umar r.a yang penuh ketegasan. Utsman bin Affan ialah seorang saudagar kaya raya yang sangat dermawan. Beliau juga dijuluki Dzunnurrain, atau pemilik dua cahaya, karena dinikahkan Nabi dengan dua putrinya: Ruqayyah dan Ummu Kultsum.
Beliau adalah khalifah ketiga sepeninggal Abu Bakar dan Umar. Utsman r.a. terbunuh ketika sedang membaca Al-Qur'an dan dalam keadaan berpuasa, dan seperti mimpi beliau, Utsman r.a. berbuka dengan Nabi di Surga karena telah meninggal sebelum waktu berbuka tiba.

(4) Ali bin Abi Thalib πŸ”‘
Ali r.a. merupakan pemeluk Islam pertama-tama yang juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah. Ali adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah. Ali memiliki postur yang tidak jauh berbeda dengan Nabi, hingga ketika Nabi berhijrah, Ali menggantikan posisi tidur Nabi dan kaum Quraisy terjebak dan mengira bahwa Ali r.a. adalah Rasulullah.
Jika Rasulullah merupakan pintu ilmu yang sangat luas, maka Ali adalah pemegang kunci pintu tersebut πŸ”‘. Kemuliaan Ali r.a. tidak diragukan lagi. Sejak kecil, Ali hidup bersama Rasulullah sehingga tidak sedikit sifat dan kebiasaan Nabi yang terekam dan terinternalisasi dalam diri Ali r.a. Beliau r.a. dipercaya oleh Nabi untuk menjadi suami dari anak kesayangan Nabi: Fatimah r.a. Kedudukan Ali disisi Rasulullah bagaikan Musa dan Harun. Ali merupakan khalifah keempat dan terakhir dari Khulafatur Rasyidin setelah Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Beliau meninggal karena dibunuh dengan pedang beracun.

**Dari berbagai sumber

Minggu, 26 Februari 2017

Betapapun hati tidak bisa jauh dengan Al-Quran

Berikut adalah tugas  serupa transkrip ringkasan kajian Ust. Syatori tentang Al-Qur'an.
Selalu merasa ada yang kurang jika tidak ditulis dengan lengkap :D jadi menulisnya terlalu bersemangat wkwk. Semoga menjadi pengingat ketika diri mulai ‘melemah’...

Akan selalu ada kerinduan terhadap Al-Quran

Mari kita awali dengan gambar yang menambah semangat :D
Keceriaanmu, nak, yang selalu bahagiakan hari-hariku :3

Senin, 22 Agustus 2016

Hakikat Karya

Suatu ketika...
===

“Amal yang paling ihsan,” demikian menurut Fudhail ibn ‘Iyadh, “adalah yang paling ikhlas niatnya dan paling benar mengikuti tuntunannya.”

Mari sejenak mentakjubi para pendahulu kita yang shalih, yang sebakda memenuhi ikhlas dan benarnya amal mereka, masih juga memberi kita pelajaran tentang bagaimana memanfaatkan sebesar-besarnya detak-detik hidup yang penuh makna. Terlebih hari ini, di kala amat mudah kita berbangga dengan perbuatan kecil yang dengan lancang kita sebut “karya”.

Apa yang hendak kita sombongkan, jika Imam An-Nawawi menulis Syarh Shahih Muslimyang setebal itu sedang beliau tak punya sejilid pun kitab Shahih Muslim? Hanyasanya beliau menulisnya berdasar hafalan atas Shahih Muslimyang diperoleh dari Gurunya, lengkap dengan sanad inti dan sanad tambahannya.

Sanad inti adalah perawi yang menyampaikan hadits antara Imam Muslim sampai Rasulullah. Adapun sanad tambahan yakni mata-rantai periwayatan dari An-Nawawi hingga Imam Muslim. Jadi kita dapat membayangkan; ketika menulis penjabarannya, An-Nawawi menghafal 5.326 hadits sekaligus sanadnya dari beliau ke Imam Muslim dengan sekira 9-13 tingkat gurunya; ditambah hafal sanad inti sekitar 4-7 mata rantai rawi. Yang menakjubkan lagi; penjabaran yang beliau anggit disertai perbandingan dengan hadits dari kitab lain, yang jelas dari hafalan sebab beliau tak mendapati naskahnya, penjelasan kata maupun maksud dengan atsar shahabat, tabi’in, dan ulama; munasabatnya dengan ayat dan tafsir, istinbath hukum fiqh yang diturunkan darinya; dan banyak hal lain lagi.

Hari ini kita menepuk dada; dengan karya yang hanya pantas jadi ganjal meja beliau, dengan kesulitan telaah yang tak ada seujung kukunya. Hari ini kita jemawa; dengan alat menulis yang megah, dengan rujukan yang daring, dan tak malu-sedikit-sedikit bertanya pada pada mesin pencari.

Kita baru menyebut satu karya dari seorang ‘Alim saja sudah bagai langit dan bumi rasanya. Bagaimana dengan kesemua karya dari satu orang ini yang jangan-jangan hingga umur kita tuntaspun takkan habis dibaca? Bagaimana pula para ulama lain yang kedahsyatan warisannya dan upayanya menyusun karya bahkan lebih dahsyat dari Imam An-Nawawi?
Bagaimana kita mengerti kepayahan seorang penyusun kitab Musnad, Sunan, Thabaqah, atau Jami’ush Shahih pada zaman yang untuk memndapat satu hadits saja para muallifnya harus berjalan berbulan-bulan? Bagaimana kita mencerna, bahwa dari nyaris satu juta hadits yang dikumpulkan dan dihafal seumur hidupnya; Al-Bukhari memilih sekira 7.008 saja? Atas ratusan ribu hadits yang digugurkan Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi misalnya; tidakkah kita renungi, bahwa hampir pasti semua ucap dan tulisan kita jauh lebih layak dibuang?

Detak-detik hidup macam apakah yang lapis-lapis berkahnya sepadat itu?

Senin, 26 Oktober 2015

Kebajikan vs Dosa

Hadits Arba'in 27: Antara Kebajikan dan Dosa

Nawwas bin Sam'an ra. berkata, Nabi saw. bersabda,
"Kebajikan adalah akhlak terpuji, sedangkan dosa adalah apa yang meresahkan jiwa dan kamu tidak suka bila dilihat orang lain." (h.r. Muslim)
Riwayat lain menyebutkan, Wabishah bin Ma'bad ra., berkata, Aku mendatangi Rasulullah saw., lalu beliau bertanya,
"Kamu datang untuk bertanya tentang kebajikan?" Aku menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Tanyakan kepada hatimu sendiri. Kebajikan adalah apa yang membuat jiwa dan hatimu tenteram, sedangkan dosa adalah apa yang membuat jiwa dan hatimu gelisah, meskipun orang lain berulang kali membenarkanmu." (h.r. Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darimi. Hadits ini hasan). 

Tiba-tiba, saya ingat materi kelas Tafsir Hadits malam itu. Rabu malam yang syahdu. Ustad sedang membahas tentang tafsir mengenai Hadits Arba'in yang ke-27.

Hadits ini cukup mak jleb-jleb buat saya, kyaaa. 
Kenapa?
Silahkan kembali dicermati redaksi haditsnya. Betapa manusia itu sungguh keterlaluan.....

Sebenarnya Allah telah menciptakan hati kita sedemikian rupa sehingga pasti kita bisa merasakan mana perbuatan yang termasuk kebajikan, dan mana yang termasuk dosa. Hati adalah organ yang sangat 'sensitif'. Bahkan, pikiran buruk 'saja' akan mempengaruhi keadaan hati kita, termasuk secara fisik. Seharusnya hati menjadi pengingat utama diri kita. Hati yang senantiasa bersih akan selalu peka dengan apa-apa yang disekitarnya.

Sayangnya, terkadang kita sendiri yang menolak kata hati kita. Kita lebih sering 'memaklumi' diri kita sendiri. Padahal sebenarnya Allah telah menunjukkan kebenaran yang sejati melalui hati kecil kita.

Kita menjadi terlalu sering memberi pemakluman terhadap perbuatan kita sendiri, padahal hati kecil kita sudah melarangnya. Kita menjadi lebih sering mencari-cari pembenaran dari orang lain; yang meskipun dianggap salah oleh orang lain, kita akan tetap merasa benar; atau bahkan, yang meskipun dibenarkan orang lain, sebenarnya hati kitapun sudah mengetahui mana yang benar dan salah. Hanya, mata kita yang tertutup; atau, hati kita sudah tak mampu membedakan yang haq dan bathil lagi? :')

Jadiii, jika kita sedang melakukan atau mengucapkan sesuatu yang membuat hati kita menjadi resah dan gelisah, dan kita was-was, tidak suka bila ada orang lain yang melihat. HATI-HATI! Jangan-jangan itu perbuatan dosa! Segera hindari dan beristighfar sebanyak mugkin! upset emotiko

Benar. Terkadang perasaan was-was ketika (akan) merasakan, mengucapkan, atau melakukan sesuatu itu hal yang wajar, baik malah. Disitulah hati kita bekerja; ia akan memberikan sinyal-sinyal apakah yang akan kita pilih itu suatu kebajikan atau justru sebaliknya. Akan tetapi, jika hati kita sudah tidak merasakan perasaan was-was ketika sudah jelas-jelas akan melakukan perbuatan dosa, maka kita sudah berada di ambang batas dimana diri kita sudah tak mau dan tak mampu membedakan yang haq dan bathil. Segera bertobat dan kembali pada jalan yang benar.
"Yaa muqollibal quluub, tsabbit quluubana 'alaa diinik. Yaa mushorrifal quluub, shorrif quluubana 'alaa thoo'atik. Nawwir quluubanaa ya Allah, kaqolbi Rasulika ya Allah"
Semoga kita Allah senantiasa memantapkan hati-hati kita pada kebajikan. Semangat berhijrah! 

-Muharram, bulan ketika kita 'berhijrah' :)

Yogyakarta, (selesai diedit 26 Oktober 2015 16:46)

Senin, 05 Oktober 2015

Bukan Wanita Biasa

Tugas Resensi Buku



Judul Buku   : Bukan Wanita Biasa
Pengarang    : Hadi Dust Muhammadi
Penerjemah   : Ibn Alwi Bafaqih
Penerbit     : Cahaya
Tahun        : 2005

Malang, Maret 2015

Minggu, 21 September 2014

Secuil Cinta dari Jogja

Putri’s Ramadhan Diary: Secuil Cinta dari Jogja

Bismillah. Alhamdulillah, its Ramadhan! ^o^

Hari ini, saya merasa menjadi manusia yang paling lemah. Paling berdosa. Paling hina. BETAPA TIDAK? Hari ini masih di dalam bulan suci Ramadhan, dimana amal baik dilipatgandakan pahalanya, dimana pintu Surga dibuka selebar-lebarnya, dimana Neraka ditutup serapat-rapatnya, juga, dimana setan dan iblis dibelenggu. TAPI... Masih sempat-sempatnya saya bermalas-malasan dalam melakukan kebajikan? Astaghfirullah, ampunilah kami Rabb. Sungguh hanya Engkaulah Pembolak-balik hati kami...

RAMADHAN MASIH MALES2AN??? TERLALU! -,-“

***
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...

Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
***

Minggu, 13 Juli 2014

Catatan Ramadhan #1

28 Juni 2014 | Maskam | Ba’da Isya’ | Prof. Dr. H. M. Amien Rais | Golongan Manusia

Di akhirat kelak, terdapat dua golongan besar manusia: ashabul jannah dan ashabul an-naar, atau penghuni surga dan penghuni neraka. Akan tetapi diantara keduanya juga, ternyata ada satu golongan lagi, yaitu ashabul a’raf (Q.S. Al-A’raf).

Al-a’raf sendiri berarti tempat yang tinggi. Di akhirat kelak, ashabul a’raf ini akan berada pada tempat yang tinggi diantara surga dan neraka, yang akan diisi oleh orang-orang yang berimbang amal baik dan buruknya.

Mereka akan turut bahagia ketika melihat orang-orang di surga dimuliakan. Juga, akan turut teriris melihat orang-orang di neraka di siksa. Begitu seterusnya hingga Allah menetapkan padanya apa yang dikehendaki oleh Allah.

Mereka melihat. Penghuni neraka meminta bantuan dan air kepada penghuni surga, kemudian penghuni surga tersebut menjawab, bahwa kedua hal tersebut diharamkan oleh Allah diberikan pada orang-orang kafir, yaitu orang yang terlihat beragama akan tetapi bermain-main dan bersenda gurau dengannya.

Kafir sendiri terbagi menjadi dua macam. Kafir pertama, merupakan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya, orang-orang yang syirik. Sungguh tidak akan masuk surga orang-orang yang tidak beriman* Γ  adzabul ‘adziim.

Lalu, siapakah golongan kafir kedua ini? Yaitu orang yang terlihat beragama akan tetapi bermain-main dan bersenda gurau dengannya. Orang yang beragama, akan tetapo hanya menjadikan agamanya sebagai topeng untuk dunianya. Na’udzubillah.


Semoga Allah senantiasa menjaga kita di jalanNya. 

Jumat, 16 Mei 2014

#12: Shalat di Jepang (2) [Selamat datang di Fukuoka!]

..continued...

Mhihihi maaf post kemarin menggantung, akan saya lanjutkan disinih :3
(Bagi yang belum membaca, bisa membaca di post pertama: #10: Shalat di Jepang, ceritanya kami sedang berburu tempat shalat di Bandara Fukuoka).

Rabu, 16 April 2014

Dakwah Kampus Ideal

Dakwah Kampus Ideal
Oleh: Andika Putri Firdausy
JMG (Jamaah Muslim Geografi) UGM

“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing” (HR. Muslim)
Mahasiswa merupakan status sosial istimewa yang dapat disandang hanya sebagian kecil penduduk di negeri ini. Mahasiswa merupakan kaum elit terpelajar yang di pundaknyalah kemajuan negeri ini dibebankan. Mahasiswa merupakan agent of change, agen perubahan yang diharapkan dapat mengubah negeri ini menjadi lebih baik ke depannya. Status ‘mahasiswa’ bukanlah suatu hal yang patut untuk disia-siakan. Sebaliknya, keadaan ini merupakan suatu hal yang patut dimanfaatkan sebaik-baiknya.
 Saat ini Indonesia masih berada pada tahap berbenah. Pengaruh kehidupan luar terutama bangsa asing banyak yang jauh bahkan tidak mencerminkan budaya timur. Nilai-nilai Islam tergerus oleh yang disebut perkembangan zaman. Di satu sisi, masa ini merupakan zaman modern – globalisasi – dimana sains dan teknologi dapat berkembang dengan pesat. Akan tetapi di sisi lain banyak orang yang menyalahartikan hal kemajuan tersebut, utamanya orang-orang yang masih kurang dalam hal pemahaman.
Indonesia terdiri dari masyarakat yang heterogen. Adanya pengaruh globalisasi dari berbagai pihak membawa dampak yang berbeda-beda bagi setiap orang, termasuk umat muslim. Terlampau banyak media yang menjejali kita dengan tayangan-tayangan yang tidak layak dan cenderung merusak moral bangsa. Minimnya da’i yang pantas, atau adanya perbedaan kepantasan da’i bagi orang awam justru dapat semakin memperburuk keadaan.  Tentu saja kita sebagai hamba Allah yang telah diberi kesempatan menimba ilmu tidak boleh membiarkannya begitu saja. Tugas memperbaiki akhlak bangsa ini pada akhirnya juga menjadi tanggungjawab kita.
Lembaga Dakwah Kampus (LDK) merupakan salah satu tempat untuk menyampaikan ajaran Allah. Sasaran atau target dakwah adalah mahasiswa yang dianggap sudah cukup mengerti dan dapat mengambil nilai-nilai dari kehidupan. LDK menjadi ujung tombak pergerakan dakwah Islam melawan nilai-nilai globalisasi yang menjebak, dengan tetap berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di dalamnya kelak diharapkan dapat menerapkan dan menyebarkan nilai-nilai Islam dalam setiap lini kehidupan. Serta mengajak saudara-saudara kita seiman untuk bersama berbenah memperbaiki akhlak bangsa ini, agar kemudian dapat bersama melangkah ke jannahNya.
Akan tetapi dalam perwujudannya tidak dapat semudah membalik telapak tangan. Tentu saja tidak ada hal yang sempurna – ideal – di dunia ini, kecuali Allah. Tetapi selalu ada batasan-batasan untuk membuat suatu hal menjadi mendekati sempurna, limit satu. Begitu juga dengan dakwah kampus ini. Dakwah kampus yang ideal bukan hanya dakwah kampus dengan da’i yang kesemuanya telah zuhud, atau yang kesemua da’inya telah memiliki ilmu yang sangat tinggi – ulama’ – tentu saja bukan. Dakwah kampus yang ideal menurut pandangan saya adalah dimana dakwah kampus tersebut dapat bergerak menyeluruh ke seluruh aspek kehidupan kampus, dapat mengajak yang siapapun untuk bergerak mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya, dapat menjangkau semua kalangan.
Dakwah kampus membutuhkan orang-orang yang dapat maksimal tidak hanya dalam hal beribadah, akan tetapi juga berjamaah. Dalam beramal kita dianjurkan untuk berjamaah, sehingga amalan kita dapat lebih terasa manfaatnya. Selain itu dalam berjamaah kita juga dapat meningkatkan ukhuwah islam antar saudara kita. Kekuatan kita selanjutnya terdapat dalam jalinan ukhuwah yang terjalin, sehingga dalam berdakwah kita tetap dapat saling mengingatkan dan menguatkan ketika iman sedang naik-turun. Selama Allah adalah satu-satunya tujuan, insyaAllah kita tidak akan pernah salah, dan tidak akan pernah kecewa. Semoga Allah senantiasa menjaga keistiqomahan kita. Mari berfastabiqul khairaat!

Yogyakarta, 28 Februari 2014

Andika Putri Firdausy

Rabu, 09 April 2014

#10: Shalat di Jepang

Tulisan berikut sedikit melompat dari tulisan yang sebelumnya. Saya akan membahas bagaimana kami bisa survive untuk sholat di Jepang dengan jumlah penduduk muslim yang minim. Inilah cuplikannya :)

Sebelum melanjutkan ke cerita perjalanan selanjutnya, saya akan menceritakan bagian cerita kami tentang sholat. Sebuah anugerah luar biasa bagi kami dapat menunaikan shalat di negeri orang. Apalagi di sini muslim sebagai minoritas. Alhamdulillah wa Allahuakbar. Semoga saya (kami) tetap istiqomah dan dapat menunaikan ibadah kami di negeri-negeri indah lainnya. Aamiin.

Shalat pertama di luar Indonesia adalah di Kuala Lumpur. Kami transit di KL sewaktu berangkat. Karena kami akan take off lagi masih siang dan akan melalui perjalanan yang cukup panjang, kami menjama' shalat dhuhur dan ashar di KL. Di bandara terdapat sebuah mushola yang tidak terlalu besar, mirip dengan mushola yang ada di mall di Indonesia. Kebersihannya juga kurang lebih sama, maklum masih serumpun. Cara berwudhu dan kesemuanya juga masih 11-12. Orang-orang yang sholat juga banyak yang masih serumpun, kalau tidak orang Indonesia, pasti orang Malaysia. Hanya beberapa yang memiliki ras yang berbeda, misalnya India.

Tempat sholat kedua telah berpindah ke negara selanjutnya, Jepang. Kami sampai di bandara Kansai tengah malam dan sudah masuk waktu shalat Isya. Setelah membersihkan diri dan merapikan barang-barang, kami mulai mencari tempat untuk shalat. Di dalam kawasan bandara sudah cukup sepi, hanya tampak beberapa orang yang sedang membersihkan ruangan dan di ujung lain sedang memasang semacam spanduk. Alhamdulillah di sekitar basecamp yang kami pilih tidak ada orang lain, sehingga kami bisa leluasa memilih tempat shalat. Setelah yakin dengan arah kiblat, kami menggelar sajadah, dan memulai shalat. Semilir angin menambah kekhusyukan shalat kami, di negeri orang. Alhamdulillah shalat Maghrib dan Isya selesai ditunaikan.


Jumat, 28 Februari 2014

Saya, FLP, dan Dakwah Kepenulisan

PDKT FLP XV - April 2013

Esai: Saya, FLP, dan Dakwah Kepenulisan

Kehidupan di dunia adalah suatu tahap untuk melangkah ke kehidupan selanjutnya di akhirat. Kehidupan abadi yang tak akan ada habisnya. Adalah suatu rahasia Allah kapan kita akan melangkah ke tahap tersebut. Tetapi juga merupakan kewajiban kita untuk melakukan yang terbaik bagi kehidupan kita selanjutnya.

Manusia, layaknya makhluk yang lain, memiliki kewajiban untuk beribadah kepada Allah. Bahkan, satu-satunya tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Secara luas, beribadah tidak hanya tentang sholat, puasa, zakat atau haji saja, melainkan juga pengaplikasian dan penjabaran dari nilai-nilai islam di dalam kehidupan sehari-hari. Seperti menuntut ilmu, berbakti kepada kedua orangtua, bahkan sekedar tersenyumpun termasuk dalam aspek beribadah.

Salah satu aspek beribadah yang membutuhkan kekuatan ekstra adalah berdakwah. Bagi orang awam, berdakwah lebih diartikan dengan ceramah atau kajian oleh para da’i, ustad lebih tepatnya. Padahal sebenarnya, dakwah itu tak hanya melulu dengan ceramah atau kajian di masjid-masjid saja. Di era berteknologi ini, dakwah justru harus ditekankan pada segala aspek dan lini kehidupan, termasuk dalam media. Media-media massa yang lebih banyak dikuasai oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab hanya menyajikan informasi yang dianggap ‘aman’ untuk dikonsumsi khalayak, terutama umat muslim. Terlampau banyak informasi yang ditutup-tutupi, bahkan dimanipulasi. Untuk itulah kita sebagai umat muslim harus bisa menguasai media sebagai ajang dakwah, juga penunjuk kebenaran. Sudah terlalu banyak kita ditindas, dan ini saatnya kita tunjukkan bahwa kejayaan Islam yang dulu pernah terjadi tidak hilang begitu saja, Islam masih hidup, dan selamanya akan tetap ada.

FLP atau Forum Lingkar Pena merupakan sebuah forum dimana orang-orang yang berkehendak merdeka berkumpul: merdeka dalam mengemukakan pendapat, merdeka dalam menyalurkan ilmu lewat nada-nada indah dari bait-bait dan syair yang ada. Forum ini tak hanya diperuntukkan untuk mereka yang telah menambatkan hatinya pada bait-bait roman atau puisi saja, akan tetapi juga pada jiwa-jiwa yang haus akan adanya kekuatan dakwah dalam ukhuwah yang terjalin dengan indah. Kekuatan untuk saling mengingatkan dan menguatkan di jalanNya. Tentu butuh waktu dan tenaga yang tidak sedikit untuk terus menguatkan dakwah dan ikatannya dalam ukhuwah, yang tidak hanya berkarya untuk diri sendiri akan tetapi juga memberi manfaat kepada umat – khairunnas anfa’uhum linnas.

Lagi, forum ini saya yakin tak hanya diperuntukkan bagi pujangga-pujangga yang telah dengan sangat indah merangkai kata. Tetapi juga untuk para pemula seperti saya. Yang masih belajar mengeja, yang jangankan kemampuan untuk mengeksplorasi makna dalam kata, ide saja tak kunjung tiba, bertebaran tapi entah dimana. Tapi sungguh Allah tidak akan menghalangi makhlukNya untuk terus belajar dan melakukan hal yang baik, insyaAllah pasti ada jalan. Banyak jalan menuju Roma, dan tentu saja banyak cara untuk belajar dan berkarya.

FLP merupakan sarana yang sangat tepat, tidak hanya untuk belajar dan berkarya, tetapi juga untuk berdakwah dan tentu saja menjalin ukhuwah. Dalam perjalanannya kelak, dalam forum ini tentu saja kita akan belajar banyak hal, tak hanya tentang bagaimana menghasilkan karya yang hebat, tetapi juga menjadi orang yang bermanfaat, juga sebagai ajang untuk saling ber-fastabiqulkhairat, insyaAllah.

Dunia, menyajikan berjuta pesona. Sayangnya, semua itu hanyalah sementara. Tak pernah ada yang abadi di dunia ini. Tak pernah ada yang sempurna di dunia ini. Karena, orang yang terkuatpun juga bisa lemah. Orang tercerdaspun juga bisa lupa. Untuk itu butuh orang lain, untuk saling menguatkan dan mengingatkan. Dan itulah tujuan utama berdakwah. Berdakwah tak selamanya disampaikan melalui ucapan yang tertutur dari lisan. Namun melalui bait-bait indah kita juga dapat bercerita, mengingatkan ketika lupa, menguatkan ketika lemah. Melalui sajak-sajak yang diharap dapat menyejukkan kalbu, me-recharge iman yang sewaktu-waktu dapat melemah, mengembalikan semangat juang para mujahid untuk menegakkan kalimat tauhid, juga, mengisi relung hati yang haus dan rindu akan pertemuan denganNya.

Pada akhirnya, kelak di yaumil akhir semua akan diperhitungkan, dimintai pertanggungjawaban. Semua kata yang terucap dari lisan ini, semua tempat yang telah tertuju oleh kaki ini,  juga, semua yang telah tertulis oleh tangan ini. Maka sebagai pengikatnya adalah lingkungan kondusif yang selalu berada dalam koridorNya. Sebagai penjaga dikala jiwa sedang gundah atas kekhawatiran dunia yang tidak seharusnya. Sebagai penyejuk dikala hati sedang haus akan penantian untuk bertemu denganNya. Sebagai penyemangat dikala raga mulai termakan aktivitas dunia. Sungguh, hanya lingkungan yang baik yang dapat mengikat semuanya. Dan di FLP ini saya berharap dapat menemukan lingkungan itu. Keluarga yang akan mengantarkan saya pada keindahan dan keagungan cintaNya, insyaAllah.  


 

Ditulis dalam rangka memenuhi syarat seleksi FLP Wilayah Yogyakarta XV

Andika Putri Firdausy,
23 April 2013


ps. saya sedang rindu FLP. maaf untuk semua yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa bergabung di FLP XV tapi belum saya maksimalkan. saya ingin belajar lebih banyak lagi. apapun. izinkanlah, Rabb..

Berkumpul di Jannah