Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Oktober 2018

Semoga Bertemu

Semalam, ada yang bilang rindu. Katanya, waktu mungkin tidak akan sama lagi seperti yang dulu.
Semalam, ada yang bilang rindu. Katanya, terbayang-bayang kisah bersama di masa lalu.
Hei, apakah sama?
Bukankah, waktu memang akan terus berjalan dengan atau tanpa kamu?
Maka jangan berhenti disitu..
Bergeraklah,
Berjalanlah,
Kalau perlu, berlarilah.
Kita susuri bersama mesin waktu yang kadang terkesan sedikit congkak itu, tak mau menunggu kita yang tertatih mengejarnya.
Tak apa, katamu, hidup bukan lomba lari bukan?
Pelan-pelan saja, asal kita terus bergerak. Asal kita tidak berdiam diri.
Nanti, pada saatnya, kita akan berhenti di tujuan akhir kita setelah pemberhentian-pemberhentian yang semoga menyenangkan.
Semoga kita bertemu lagi, ya!
Aku yakin akan banyak teman jalan yang datang silih berganti. Mungkin aku, atau orang lain, atau orang lain lagi.
Tak apa.
Asal tujuan kita masih sama, yakinlah esok kita akan berjumpa.

Jakarta,
8 Oktober 2018
Di penghulu shubuh.

Senin, 22 Januari 2018

Akumulasi

Beberapa hari ini, entah mengapa banyak orang senang sekali mengiris bawang dekat-dekat denganku. Meski aku berkacamata, tak ada jaminan akan bebas dari semerbak bawang. Jadi, jangan salahkan jika kelenjar air mataku bekerja lebih keras dari biasanya..

Sejak kemarin-kemarin, bahkan aku belum sempat pamit secara paripurna kepada semua (atau belum menyempatkan?). Sungguh bukan karena tak ingin pergi dengan cara yang baik, tapi apalah daya diri yang hatinya tak ingin berpamit.

Kata Dilan, "Rindu itu berat, biar aku saja."

Sayangnya, Dilan cuma bilang ke Milea, bukan ke aku. Jadinya, harus juga aku "menanggung" rindu, meski belum sehari.

Maafkan atas pesan-pesan yang belum berbalas, sungguh diri ini tak sanggup membaca semua pesan itu. Biarlah hujan yang mengiringi sepanjang perjalanan menjadi pengganti atas ucapan, doa, dan semuanyaaa selama ini, semoga Allah berkahi, semoga Allah balas dengan kebaikan yang lebih baik dan lebih banyak. Sungguh, hanya Allah sebaik-baik Pemberi Balasan.

Satu lagi, mohon maafkan. Untuk semuanya.

Entah apa lagi. Banyak. Tapi belum bisa berkata. Yang pasti, semoga iman dan doa menjadi penghubung senantiasa.

(sedang di) Bangil (dan agak pusing?),
22 Januari 2018 00:30

Andika Putri Firdausy

Kamis, 18 Januari 2018

Memupuk Kenangan

"Tidak baik menumpuk kenangan," bisikmu kala itu.

"Kenapa?" Aku, dengan wajah penasaran, tentu saja ingin tau alasanmu. Bukankah selama ini kita mencipta banyak sekali kenangan?

"Karena hati manusia tidak seluas itu, sebenarnya. Ada kalanya, kita perlu menyingkirkan yang telah usang, dan menggantinya dengan yang baru", ucapmu tanpa ragu.

"Jahat sekali..." jawabku mengambang, sambil tak mengerti apa yang ada di pikiranmu.

"Bukan begitu. Tapi manusia memang berbatas bukan? Ada saatnya, dimana kita harus melangkah maju dengan tanpa ragu. Termasuk, jika harus memilah dan memilih mana hal-hal yang akan kita bawa terus berjalan, atau terpaksa kita singkirkan di tengah jalan".

"Apapun itu?"

 "Iya, apapun. Dan siapapun"

Kau menjawab dengan mudahnya, seakan tanpa beban. Sedangkan aku, waktu itu, masih dipenuhi banyak pertanyaan. Manusia sepertiku, yang terlalu banyak memupuk kenangan, yang terlalu banyak menyimpan harapan, sepertinya terlalu sulit untuk harus mengikhlaskan semua kenang.

Tapi, hari ini aku sadar. Perkataanmu, dulu, ada benarnya juga. Bukan, maksudku, benar sekali.

Ada kalanya, aku memang harus melepaskan sesuatu yang telah lama pergi, yang selama ini kubuat-buat saja seakan masih disisi. Aku harus terus hidup, dan belajar menerima keadaan. Bahwa yang ada di belakang hanyalah pelajaran, agar ke depan, aku bisa berjalan dengan tenang, memperbaiki yang akan datang.

Terima kasih atas nasihatmu kala itu. Kini kumasukkan namamu dengan baik dalam sekotak kardus yang akan kutinggalkan. Katamu, apapun dan siapapun, kan?



*ditulis ketika lagi milih baju, pindahan meninggalkan Jogja huhu, dan menemukan baju sejak SD waktu lomba tk prov hahaha.
Dasar manusia baper. Ayo berubah!!! >.<

(masih di) Y
ogyakarta, 
17 Januari 2018 11:40


Andika Putri Firdausy

Rabu, 17 Januari 2018

Nasi Kuning dan Ilham


Pagi ini, yang biasanya kulewatkan saja dengan merapel 'brunch' (if you know what I mean wkwk), qadarullah harus pergi keluar dan akhirnya pilihan (kembali) jatuh pada warung di pertigaan itu.

Ketika membeli nasi kuning di pertigaan itu, jadi inget dulu zaman masih maba tahun pertama-kedua, sering diajak kesana sama mbak kos karena dekat, dan murah!! Sampe hafal sama anak penjualnya yang kecil yang selalu ikut jualan, dan suka kugodain karena dia imyut nurut dan aku emang suka anak kecil hahaha.

Kemudian, keadaan mengharuskanku (?) berpindah berkali-kali, kaya siput wkwk. Dan ketika suatu saat kembali, aku mencoba mengurai memori dengan membeli nasi kuning dan/atau nasi pecel di tempat yang sama. Tapi yang kucoba cari ternyata sudah tiada.

Ku mencoba bertanya, "Ilham nggak ikut bu?". Iya, nama anak kecil itu Ilham. "Nggak mbak, Ilham sekolah". Kemudian aku tertegun, tercekat, dan entah apa lagi sebutannya. "Loh, udah sekolah?", setengah ku berbicara sendiri. Dia sudah SD sekarang. Pantas saja. Waktu sudah berlalu sampai sekarangpun aku sudah sarjana. Tentu saja bukan hanya aku yang melalui proses panjang, bukan? Seorang Ilham-pun jua.

Hari ini, ketika aku kesana lagi, aku sudah tidak mencari Ilham. Aku membeli nasi pecel seperti biasa. Harganya juga baru naik seribu rupiah sejak pertama kuliah. Ditambah gorengan yang dulu lima ratus rupiah dan sekarang seribu tiga.

Ah, Jogja.
Sebentar lagi, jika aku kembali, aku sudah bukan tuan rumah lagi. Tapi tamu. Kau mau suguhkan apa besok jika aku kembali?

(masih di) Yogyakarta,

17 Januari 2018

Andika Putri Firdausy

Minggu, 31 Juli 2016

Salok pada Biak

Niat awalnya, mau nulis ‘beneran’ tentang kalian. Tapi di tengah perjalanan, rindu sudah memuncak. Draft ditutup berganti dengan foto kalian yang melayang-layang. ~















Apa kabar kalian disana, dek? Baik-baik kah?
Kakak salok inyan dengan kalian :’)
Belajar yang rajin, ya. Jangan lupa sholatnya. Patuh sama orangtua di rumah.
Kelak kite nak jumpa agek ie... ^^

Yogyakarta, 31 Juli 2016 00:05
Yang sedang memilin rindu,

Andika Putri Firdausy

Senin, 18 April 2016

Senin Bersama Ayah

My first love, and my heroes ever after, I just hope He gimme chance to give my best for you. Not only in this Dunya, but also over there, in Akhirah. 
Sepagi ini, tepat Senin yang lalu, aku dan Ayah baru saja kembali ke rumah. Sejak matahari belum menyingsing, kami mulai menelusuri jalanan pantura yang memadat di senin pagi. Matahari terbit di atas Sungai Brantaspun menyapa kami. Kokohnya Arjuna dan Welirang juga mengiringi langkah kami.

Ayah mengajakku berkeliling. Menikmati sepoi angin dan rintik hujan di pagi hari. Pagi yang menyenangkan, bersama orang yang menenangkan.
Sebenarnya, tujuan utama kami berjalan-jalan adalah untuk survei pra lapangan scriptsweet. Ayah rela memotong jam kerjanya untuk mengantarkanku. Ya, hanya Ayah yang bisa mengantarku kesana-kemari. Satu-satunya lelaki yang sampai saat ini kujatuhkan hatiku padanya. Ia yang selalu memesona dan bersahaja.

Kami berjalan menyusuri Sungai Porong, anak Sungai Brantas, yang mengarah ke laut di Kecamatan Jabon. Sungai ini pula yang menjadi salah satu outket luapan lumpur Lapindo yang saat ini tengah menjadi subjek penelitianku. Ayah menunjukkan aku banyak hal, yang bahkan tidak aku temui di tumpukan buku di rak perpustakaan, atau lembaran-lembaran jurnal yang telah ku cetak. Ayah mengajarkan lebih dari semua itu.

Tempat kami berpijak memang sudah tidak asing lagi bagi Ayah. Dulu, hampir 26 tahun yang lalu saat Ayah masih bujang, Ayah pernah bekerja disini, menjadi juru administrasi di tambak milik Pak Malik. Namun sekarang, kantor Ayah sudah berubah menjadi warung. Akan tetapi, tambak-tambak ikan dan udang itu masih lestari sampai saat ini.
Kami berjalan mendekati sungai. Ayah menunjukkan Pulau Dem yang merupakan endapan sedimen sejak belasan atau mungkin puluhan tahun yang lalu. Saking luasnya, 'pulau' ini sudah ditumbuhi banyak mangrove dan bahkan banyak warga melakukan aktivitas disana. Beberapa perahu/sampan sengaja disewakan untuk menyeberang ke pulau ini. Kami juga bertemu dengan seorang bapak yang bekerja membangun dermaga disana. Dermaga lokal, mungkin milik salah seroang pemilik tambak disana, kata Ayah.

Matahari mulai meninggi. Kami tidak bisa berjalan terlalu jauh karena akses yang kurang memadai. Selain itu, Ayah sudah terlambat pergi bekerja. Semakin lama, akan mempengaruhi presensi kehadiran Ayah di kantor. Setelah dirasa cukup, kami kembali pulang. Melewati jalan kampung untuk memotong jarak agar lebih cepat.
Rintik hujan dan terik mentari mengiringi putaran roda motor kami. Sesekali kami menyapa warga yang sedang beraktivitas menuju tambak atau sawah. Kami menikmati saat-saat berharga ini. Aku, lebih tepatnya.
 
Kemarin Ibu mengabarkan bahwa Ayah sedang sakit, mungkin kelelahan karena hampir setiap pekan Ayah tidak pernah di rumah. Ada saja hal yang harus diselesaikan Ayah. Ah, Ayah selalu begitu. Tidak pernah merasa lelah dan tidak akan mau beristirahat meski hari libur sekalipun. Semua itu tidak pernah menghalangi Ayah untuk beraktifitas. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan nikmat iman dan sehat pada Ayah.

Allah, jagalah Ayah, juga Ibu. Sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.

Desember, 2015 - Merapi
Like father like daughter. I love you from the moon to the sky, and back, Ayah.


Yogyakarta, 18 April 2016 08:00

Love,
Your copied-oldest-daughter


Minggu, 08 November 2015

Rindu pada Biak

Jendela Dunia - dari Ruang Belajar Sempadan, Agustus 2015
Sore ini, hujan gerimis mengguyur kota pelajar untuk pertama kalinya setelah lama kering kerontang. Beberapa hari terakhir mendung memang selalu mengiringi, namun bulir air langit belum juga turun. Hanya gerah semalaman yang terasa karena awan masih terus menggantung di atas langit, tetapi belum juga genap terkondensasi. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari kampus menuju rumah. Sore hari begini, akan terasa lebih nikmat dengan menyeduh teh panas ditemani sekaleng biskuit dan sebuah buku di rumah. Bayang-bayang teh manis panas segera menyeruak memenuhi kepalaku, kerongkongan yang kering kemudian mengaminkan otakku.

Aku ingin segera sampai di rumah. Lampu merah ini sungguh menghambat perjalanan. Sebenarnya tidak, mungkin kendaraan di depanku saja yang begitu. Berjalan teramat pelan dan menutupi jalan, sedangkan di depannya tidak ada satupun kendaraan yang merintanginya. Ah, yasudahlah, mungkin ia sedang ingin bermesra dengan rintik hujan sore ini.

Kupacu motorku sedikit lebih kencang, enggan jika tubuhku basah kuyup. Terlalu banyak benda yang tidak boleh terkena air di dalam tasku. Dan aku sendiri enggan kedinginan, lalu masuk angin yang justru akan menggagalkan semua agenda yang telah disusun. Aku memainkan gas motor dengan sangat lincah. Sedikit kencang, lalu kemudian pelan. Meliuk ke kanan, kencang sedikit, lalu kembali perlahan. Begitu seterusnya. Aku menikmati perjalananku sore ini, dengan rintik hujan dan angin sepoi yang menemani.

Di lampu merah kesekian aku berhenti. Pas sekali, setiap aku hampir sampai di persimpangan, rona hijau di deretan traffic light itu segera berubah menjad merah. Sepertinya Allah ingin menguji kesabaranku, atau mungkin hujan sedang rindu denganku. Aku segera berhenti dan merapikan barisan motorku. Tak lama segera kumatikan mesin motorku karena durasi menuju lampu hijau masih cukup lama. Sambil mengamati sekeliling, sayup-sayup terkedang suara dari pengeras masjid/mushola terdekat. Suara anak-anak kecil yang sedang memanggil temannya untuk mengaji di surau – TPA. “Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh. Teman-teman yang mau mengaji sudah ditunggu oleh teman-temannya..Yu..da Fa..jar, I..na, Me..ga,.... “. Dan tiba-tiba pikiranku melayang ke suatu sore di ujung sana...
~~~
Di Kota Pelajar ini, mereka – anak-anak TPA—selalu perlu untuk memanggil terlebih dahulu teman-teman mereka yang mau mengaji di surau melalui pengeras suara surau. Entah karena semangat mereka yang menggebu, atau karena belum ada yang datang. Aku juga tidak tahu pasti. Hanya saja, ini cukup berbeda dengan keadaan di luar sana.

Terkadang aku merasa semua ini cukup membingungkan; kalau aku tak boleh menyebutnya tidak adil. Betapa tidak? Bahkan di pelosok sana, sebagaimanapun cuaca, mereka bahkan selalu datang tepat waktu, bahkan lebih awal dibandingkan kami. Mereka rela menunggu berjam-jam, yang bahkan kami baru datang ketika waktu sudah hampir habis. Mereka rela menunggu, berlama-lama, ‘hanya’ untuk sedikit ilmu yang akan mereka dapatkan. Entah itupun apa. Rasanya, hati ini seperti teriris. Di Jogja, banyak sekali majelis ilmu dan TPA untuk anak-anak. Banyak sekali asatidz yang ‘rela’ menunggu anak-anak untuk mengaji, tetapi tidak sedikit yang enggan. Sedangkan jauh di luar sana, sadarkah, bahwa banyak anak-anak yang mau dan sangat ingin, bahkan sangat membutuhkan, tetapi tidak ada yang bisa mereka dapatkan? Fasilitas sangat terbatas disana, bahkan seorang gurupun sangat berharga.

 Di satu dusunku, terdapat puluhan anak keil, tetapi hanya ada satu surau aktif yang digunakan untuk belajar mengaji. Akan tetapi keadaan di dusun ini cukup baik karena ada Pak Haji yang bersedia mengajarkan mengaji kepada anak-anak. Hampir setiap hari mereka mengaji, tidak terbatas hanya di bulan Ramadhan saja. Saat kami berada di sana, mengaji mereka berubah menjadi dengan kami, bukan dengan Pak Haji disana. Mereka adalah anak-anak yang semangat dan ceria. Mereka selalu menebarkan kebahagiaan di muka-muka lelah kami setelah seharian mengerjakan program yang lain. Mereka juga biak-biak yang setia. Setia menunggu kami yang entah kapan datangnya. Kadang kami lupa, atau bahkan kadang kami sengaja pergi karena kelelahan. Tetapi mereka senantiasa sabar menunggu kami demi sesuap ilmu dan berkah yang mereka harapkan.

Ah, kalian dek. Senyum yang begitu tulus. Mata yang begitu berbinar. Maafkan kakak iie belum bisa menjadi kakak yang baik. Kakak sayang dan rindu kalian, dek... :’)


[7 November 2015 - To be continue...]

Rabu, 16 September 2015

Kupanggil Ia Umak

| Bahagia itu sederhana, bukan?
Pagi ini, sama seperti pagi biasanya. Berkutat dengan rutinitas seperti biasa. 
Tiba-tiba, saat mata masih terpaku pada sebuah layar 14 inch, sebuah pesan singkat masuk ke dalam telepon genggamku. Dari Umak, Temajuk. Perasaan bahagia seketika menyergap. Setelah sekian lama, akhirnya aku mendapatkan kabar.
Orangtua angkatku memang tidak termasuk yang sering bepergian ke kecamatan. Berita mengenai keberadaan sinyal yang 'tiba-tiba' ada di Temajuk juga sampai kepadaku, namun hal tersebut belum berpengaruh begitu banyak tampaknya. Belum ada tanda-tanda sinyal di rumah.
Aku menjawab pesan dengan cepat, takut kalau-kalau sinyal akan segera menghilang. Semalam memang ada satu pesan dari Umak. Akan tetapi setelah aku menjawab pesannya nampaknya sinyal kembali menghilang. Pesanku tidak terkirim.Tidak berapa lama aku sibuk mencari pinjaman headset untuk kugunakan menelepon. Maklum, speaker HP tuaku sudah tidak bisa digunakan lagi.
Aku memencet deretan angka dengan cepat. Waktu benar-benar terbatas. Tidak ada yang tahu kapan sinyal akan datang dan pergi. Aku duduk dengan gusar. Layar 14 inch itu sudah tidak lagi mendapat perhatianku. Kufokuskan pandangan pada sebuah layar yang lebih kecil: layar telepon genggamku.
Tut..tut..tut...
Nada sambung terus berdering.
Tut...tut...tut...
Masih nihil. 
Aku mencoba berulang kali sampai akhirnya petugas yang menjawab.
'Maaf, nomor yang Anda telepon sedang berada di luar servis area. Silahkan mencoba beberapa saat lagi.'
Ah, benar saja. Waktuku belum cukup untuk berburu sinyal. Tapi aku tidak menyerah. Aku mencobanya lagi dan lagi.
Sembari menunggu telepon diangkat, aku membuka folder album foto di laptopku. Foto yang tidak seberapa jumlahnya itu kutatap lamat-lamat. Tampak sebuah foto berlatarkan sebuah ruang keluarga.

Galih, Umak, dan Aku. Sesaat sebelum pulang. (28 Agustus 2015)
Ada aku, Galih, dan Umak disana. Kami saling berpelukan. Kutamatkan lagi paras Umak. Paras yang teduh dan menenangkan. Ah, Umak. Seorang wanita tangguh dan luar biasa. Tidak pernah banyak bicara dan terus bekerja.
Tes... 
Cairan hangat mulai memenuhi kelopak mataku. Hangat.

Aku masih terus mencoba perburuan sinyal. Kemudian aku mengetik sebuah pesan, barangkali Umak tidak menjawab nomor tidak dikenal karena aku menggunakan nomor lain.
'Ibu, ini putri :) bisa teleponkah?'
Aku masih menunggu dengan gusar.
Akhirnya, tidak berapa lama, pesan singkatku terkirim. Aku segera mencoba kembali menelepon. Barangkali sinyal telah menghantarkan pesanku.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Teleponku diangkat, dan di saat yang bersamaan Umak menjawab smsku: 'Bisa'.

Senin, 14 Juli 2014

Salah Musim

Angin segar bertiup riang
Menembus embun pagi yang malu-malu
Daun-daun yang berguguran
Ditemani percikan air hujan yang lembut
Indah 

Pagi yang terbalut oleh awan
Kelabu yang menari di angkasa
Berhimpun menyelimuti mentari
Mengajak hati bersemi-semi
Damai



Tujuh bulan yang lalu
Suasana yang sama, tempat yang berbeda
Aku berdiri terpaku menikmati ayat kauniyahNya
Sungguh, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


Sampaikanlah rindu ini, Rabb
Pada hawa sejuk di ujung sana
Sampaikanlah asa ini, Rab
Pada negeri tanduk di belahan sana
Kansai,
Kumamoto,
Kyoto
aku merindukanmu .



Yogyakarta,
14 Juli 2014 08.15


Andika Putri Firdausy


Selasa, 15 Januari 2013

A Memory [poem]

A Memory 
Friendship teaches us a gatherness
Friendship teaches us the meaning of life
In sadness, sometimes there's a happiness
In happiness, sometimes there's sadness

      Persahabatan mengajarkan kebersamaan
      Persahabatan mengajarkan arti kehidupan
     Dalam duka terkadang ada kebahagiaan
     Dalam kebahagiaan terkadang ada duka


Here they come
Human beings who are always remembered
Who won't be forgotten
In our life they are FRIENDSHIP

     Disini mereka datang
     Makhluk yang selalu terkenang
     Yang takkan pernah terlupakan
     Dalam kehidupan mereka bernama SAHABAT


Friends, dou you remember our gatherness?
Laughing, criying, and happy together
But today, that gatherness will go away soon
It will go and leave many memories

     Sahabat, ingatkah kau akan kebersamaan kita
     Tertawa, menangis, dan bahagia bersama
     Tapi hari ini, kebersamaan itu akan segera pergi
     Pergi meninggalkan begitu banyak kenangan


I wanna stop the time
In other that I can take longer time with our gatherness
I wanna walk in the past time
I wanna carry that gatherness,
till the end of my life

     Ingin rasanya kuhentikan waktu ini
     Agar kita bisa lebih lama dengan kebersamaan kita
    Ingin rasanya ku berjalan ke waktu lalu
    Ingin rasanya kubawa kebersamaan ini,
     hingga akhir hidup menjelang


In other, that our gatherness will be forever
In a memory, that we won't ever forget it

     Namun, kebersamaan kita akan tetap abadi
     Dalam sebuah kenangan, yang takkan terlupakan


Friends, please be here in a memory
May our success come soon
In the end of the gatherness

     Sahabat, tetaplah disini dalam sebuah kenangan
     Semoga kesuksesan kita akan segera menghampiri
     Di akhir sebuah kebersamaan ini



Pare, 31 Januari 2010
Nice to know you all, guys. Thanks for the your smiles, spirits, inspiration, and memories.. :)

Fee Center, Pare, Kediri - January, 31st 2010

Senin, 31 Desember 2012

Story about friend (ship)


Sometimes I just dunno why, I just missing you as a part of my life, friends...

Foto bersama teman-teman UNICEF sewaktu pernikahan ibunda tercinta, bu Puspita dengan suaminya ^^
 So nice memory!

Minggu, 26 Juni 2011

"NYANDANG TRESNA"

Dhika jauh du le'
Bula jauh
Nyandhang tresna dule’
Berre’ ongghu

Siang malem du ka
Bula moji
Moga dhika ban bula
Duli tapangghi

Barinto ,.. rasana nyandhang tresna
Ate’ bingong
Tak karowwa ker pekkerran


Lagu Daerah Madura :)
*maaf rakyat Madura kalau ada yang salah tulisannyaa
love this song, much ! hihi

-A3-

Minggu, 13 Februari 2011

Selamat Ulang Tahun :))

tanggal 9 Februari 2011, alias kemarin, hari yang, yaa termasuk dalam hari2 ga jelas di kelas STEVEN (Science Three eleVEN) :D awal mulanya sih, hari senin kmrn w tau klo hari itu salah satu guru w ultah. ide usil w muncul ! *jeng jeng jeeenngg* , akhirnya ide w diterima khalayak ramai yang emg rada gila dan suka gila2an . *ting* ide tersebut baru bs terlaksana hari rabu kmrn , karna di hari itulah kami baru bs bertatap muka (apa dah?) lgsg dgn "do'i" hehe *piss*
Falah Failani . nama guru kami . sebenernya beliau baru semester dua ini siih, ngajar di kls kami, kelas yang terkenal dengan TERAMAT SANGAT rame SEKALI !! mohon dicatat itu, saudara-saudara ! ckck oke balik lagi, beliau itu guru kimia yang menggantikan bu Anjar yang pindah ngajar ke Mojokerto yang sebenernya w udah pernah siih diajar (bukan dihajar) pas w msh kls 1 yang juga cuman semester 2 nya aja yang *halah kebanyakan YANG* - - "
oke, hari rabu akhirnya tiba . hampiir aja kita gak jadi ngerayainnya , tapi alhamdulillah jadi :))
dengan persiapan yang, yaa . . . (jangan dibocorin disini deh :P) w dan tmen2 w sampai pada penantian berujung kami *ting* pas bu falah baru masuk, keributan pun dimulai. yang biasanya diem jadi rada mbleset, yang biasanya udah mbleset jadi tambah ga keruan, hahaa
setelah semakin lama membuat keributan yang benar membuat suasana kelas yang kacau menjadi lebih suram *loh* akhirnya sampailah pada titik akhir titrasi , adanya perubahan warna pada larutan (perubahan raut muka bu falah maksudnyaa hehe) dan, jengjeeng, pertempuran dimulai *loh*
begitulah, akhirnya kita berhasil ngebuat bu falah marah hihi *piss* awalnya kita takut bu falah marah beneran, tapi kita langsung diem seribu bahasa dan bu falah ngelanjutin peajaran bentar . abis gitu, *jengjeeng* "Selamat Ulang Tahun, kami ucapkan ... blablabla" :D w sampe terharu :'( kita berdoa bersama, nyanyi2, tiup lilin, bagi kue, de el el !! seru tw ih :D dan tak lupa, take a lot of pict !! :))

akhirnya jam terakhir hari itu diisi dengan kebahagiaan, yang semoga saja bisa terus berlanjut di kelas bersejarah kami, STEVEN :) love ya friends, love ya mam, love STEVEN, love yaa :*

Berkumpul di Jannah