Tampilkan postingan dengan label FlashFiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FlashFiction. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Anak Malang

Hari mulai gelap
Cahaya lampu satu per satu mulai menerangi sudut-sudut kota yang riuh
Hiruk-pikuk manusia yang membuat ruang semakin penuh
Hilir mudik mencari sesuatu pengganti peluh

Di sudut lain yang lebih jauh
Seorang anak kecil baru saja beranjak dari hutan yang teduh
Kaki kecilnya melangkah dengan cepat, beradu dengan langit yang berawan jenuh
Ia cepatkan lagi langkahnya, agar seikat kayu di panggulnya tak basah oleh runtuhan air yang tak sabar terjun dari langit

Sesampainya di gubuk kecil beratap jerami, segera ia susun kayu demi kayu yang telah ia kumpulkan di tepi hutan tadi
Tinggal satu masakan lagi, batinnya
Berasnya habis
Tak ada pula makanan yang lain
Biarlah, yang pasti, mamak dan ketiga adiknya malam ini bisa tidur nyenyak
Besok, biar ia cari ubi jalar di hutan
Syukur jika ia mendapatkan ikan di danau tengah hutan
Atau, barangkali membantu pak haji mengangkut pasir saja?

Ah,
Dia memang anak yang kuat
Setiap hari tak pernah lelah bekerja demi menghidupi mamak dan adik-adiknya
Sejak hulu subuh, terbit-tenggelam fajar dan mentari, hingga rembulan yang menggantikannya lagi
Semoga, nasib baik segera menghampirinya
Anak malang di ujung pedalaman

Kamis, 18 Januari 2018

Memupuk Kenangan

"Tidak baik menumpuk kenangan," bisikmu kala itu.

"Kenapa?" Aku, dengan wajah penasaran, tentu saja ingin tau alasanmu. Bukankah selama ini kita mencipta banyak sekali kenangan?

"Karena hati manusia tidak seluas itu, sebenarnya. Ada kalanya, kita perlu menyingkirkan yang telah usang, dan menggantinya dengan yang baru", ucapmu tanpa ragu.

"Jahat sekali..." jawabku mengambang, sambil tak mengerti apa yang ada di pikiranmu.

"Bukan begitu. Tapi manusia memang berbatas bukan? Ada saatnya, dimana kita harus melangkah maju dengan tanpa ragu. Termasuk, jika harus memilah dan memilih mana hal-hal yang akan kita bawa terus berjalan, atau terpaksa kita singkirkan di tengah jalan".

"Apapun itu?"

 "Iya, apapun. Dan siapapun"

Kau menjawab dengan mudahnya, seakan tanpa beban. Sedangkan aku, waktu itu, masih dipenuhi banyak pertanyaan. Manusia sepertiku, yang terlalu banyak memupuk kenangan, yang terlalu banyak menyimpan harapan, sepertinya terlalu sulit untuk harus mengikhlaskan semua kenang.

Tapi, hari ini aku sadar. Perkataanmu, dulu, ada benarnya juga. Bukan, maksudku, benar sekali.

Ada kalanya, aku memang harus melepaskan sesuatu yang telah lama pergi, yang selama ini kubuat-buat saja seakan masih disisi. Aku harus terus hidup, dan belajar menerima keadaan. Bahwa yang ada di belakang hanyalah pelajaran, agar ke depan, aku bisa berjalan dengan tenang, memperbaiki yang akan datang.

Terima kasih atas nasihatmu kala itu. Kini kumasukkan namamu dengan baik dalam sekotak kardus yang akan kutinggalkan. Katamu, apapun dan siapapun, kan?



*ditulis ketika lagi milih baju, pindahan meninggalkan Jogja huhu, dan menemukan baju sejak SD waktu lomba tk prov hahaha.
Dasar manusia baper. Ayo berubah!!! >.<

(masih di) Y
ogyakarta, 
17 Januari 2018 11:40


Andika Putri Firdausy

Berkumpul di Jannah