Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Desember 2018

Sholat Malam dan Rindu

Di malam yang dingin dan sesunyi ini, menarik kembali selimut tentu sangat menyenangkan. Bebas dari hawa dingin dan nyamuk ganas ~

"Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk sholat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, ..."

Bentar deh.. Lima menit lagi...

"Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang. ..."

Eh?

=====

Surat Muzzammil ini, sungguh mencabik-cabik perasaan kita. Bagaimana bisa kita terlalu sibuk dengan dunia di siang hari, lalu di malamnya pun tak kita sempatkan waktu untuk menuntaskan rindu dengan Sang Pencipta?

Sering, kita sudah diberikan tanda untuk terbangun di malam hari. Sayangnya, sinyal-sinyal itu sering kita abaikan. Menarik lagi selimut adalah hal yang nikmat dan tak pernah ragu kita lakukan. Alarm yang sudah meraung-raung pun kita matikan cuma-cuma. Tunda lagi, tunda lagi. Sampai adzan menyahut-nyahut, baru kita terkaget-kaget. Atau, malah masih asik berselimut?

Padahal, sudah jelas bahwa Allah sudah memilih kita untuk menjadi satu dari sekian yang 'dipanggil'. Kadang, melalui hawa dingin yang tetiba menyeruak dan membuat kita terbangun menggigil. Kadang, melalui nyamuk ganas yang menggigit tanpa ampun hingga kita terbangun gatal-gatal. Kadang, melalui alarm yang meraung-raung, suara tetangga yang berisik, selimut yang terjatuh, keinginan untuk berhajat ke kamar mandi, atau hal-hal kecil lainnya yang mungkin tidak kita sadari bahwa itu adalah tanda.

Tanda, bahwa Allah sedang merindukan hambaNya.

Lalu, apakah kita menyambut panggilan rindu itu? Atau hanya sebatas lalu saja? Bukankah, di setiap sepertiga malam itu, adalah waktu terbaik kita bertemu denganNya? Seberat itukah menuntaskan rindu dengan Sang Pencipta? Seberat itukah kita tundukkan diri sejenak melalui Qiyamul Lail dibandingkan apa yang telah Allah berikan kepada kita? Apa kita tidak rindu? Apa kita tidak ingin membalas rindu itu?

=====

Ah iya, tentang rindu.
Barangkali rindu itu berat. Eh, emang berat sih ya. Tapi, bukankah kita tetap senang merindu? Bukankah kita menikmati setiap saat kerinduan sampai kita menyapa temu? Bukankah, kita akan melakukan dan memperjuangkan apapun untuk mempersiapkan pertemuan itu sebaik mungkin? Baik dengannya, apalagi denganNya, bukan? Baik dengan ciptaanNya, apatah lagi dengan Penciptanya, kan?

=====

Kalau sholat malam dan rindu sama-sama berat, barangkali kolaborasi keduanya akan saling meringankan? Semoga keduanya berujung pertemuan membahagiakan. Mari kita buktikan. ❤

Jakarta, 10 Desember 2018
Di ujung pagi, diantara nyamuk ganas, dan berisik musik tetangga. It's okay, mari menuntaskan rindu, juga untuk mempersiapkan temu :3

Selasa, 09 Oktober 2018

Tentang Takdir (2)

Doa hari ini, "Ya Allah, hindarkanlah hamba dr galau berkepanjangan tentang apapun yang sudah Engkau takdirkan."

Secukupnya aja yhaaa ~ 😗

Hidup manusia emang macem-macem, ya. Ternyata di luar sana banyak lho orang-orang 'galau'. Tentang banyak hal. Kenapa? Padahal kan Allah dah jamin semuanya to? Apakah mereka orang² yang keimanannya diragukan? Hmm enggak juga padahal.

Ya Allah...
Tawakkal tu, emang nggak mudah sih ya. Sama kaya istiqomah juga.
Keliatannya tinggal pasrah. Tapi, buntutnya panjang juga. Ya kita harus mau menerima segala ketentuan Allah, apapun itu. Dan, ini ada setelah ikhtiar, usaha-usaha yang kita lakukan.

Tapi, usaha yang kek mana?
Nah, itu lagi. Sering juga kita salah paham terkait usaha ini. Bukan hanya usaha yang berorientasi atau berskala dunia aja ya, tapi juga yang berorientasi akhirat. Usaha duniawi pasti dah pada paham lah ya. Usaha berorientasi akhirat? Sholat, puasa, doa, sedekah, sabar, ikhlas. Semuanya. Bukan hanya amalan yang dzahir terlihat aja, tapi yang nggak kelihatan juga.

Jangan pernah sepelekan amal usaha sekecil apapun. Allah Maha Melihat, gais. Dan, Allah Maha Tahu, mana yang terbaik buat kita.

Kalau kita sampai saat ini belum ditakdirkan sampai pada apa yang selama ini kita "tuju", sabar. Banyak jalan menuju Allah, to? Maksudku, janganlah kita ini menyempitkan karunia Allah yang sangat luas dengan menyempitkan takdir sesuai apa yang ada di pikiran kita aja. Cobalah buka sedikit pikiran kita. Pelan-pelan.

Coba rasakan, Allah tu, sebenarnya pengen kita kaya mana sih? Apa udah bener yang selama ini kita impi-impikan? Jangan-jangan, meski 'kelihatannya' baik, itu nggak baik buat kita? Jangan-jangan malah menjauhkan kita dari Allah? Atau jangan-jangan, emang kita belum siap sampai di titik itu?

Semua, pasti ada waktunya.
Sabar. Dan tetap lakukan yang terbaiks~

Pilih mana, sampai di titik atau mimpi yang kita inginkan, atau terus deket sama Allah?

Jakarta,
9 Oktober 2018

Kamis, 27 September 2018

Menumbuhkan Keyakinan

Tidak satu-dua malam
Bukan satu-dua hari
Tapi melalui malam-malam yang gelisah, bait-bait doa yang panjang, sampai tetes-tetes air mata
Terkadang, perasaan ragu itu seenaknya muncul kembali
Menggoda niatan diri apakah benar-benar mengharapkan ridho Ilahi
Kemudian keyakinan muncul kembali seiring keimanan yang terus diusahakan
Begitulah
Sesungguhnya keragu-raguan bukanlah sifat seorang mukmin
Kadang memang ia datang, tapi baiknya segera kita tepiskan
Berhenti, atau jalan kembali
Menumbuhkan keyakinan membutuhkan usaha yang tidak mudah
Tapi hei, bukankah akhir yang baik memang membutuhkan usaha yang lebih?

Rabu, 22 Agustus 2018

Betapa Tidak Mudahnya

Betapa tidak mudahnya menjadi orang baik, yang ketika berusaha menyampaikan maksud dengan baikpun, terkadang masih ada yang menilai tidak baik.

Betapa tidak mudahnya menjadi orang baik, yang ketika melakukan kebaikanpun, masih ada orang yang menganggapnya hanya kepura-puraan yang disengaja.

Memang tidak mudah, mengabaikan persepsi manusia. Tetapi niat yang lurus, semoga menjadi timbangan tersendiri, bagi orang baik yang beramal baik.

Jangan takut menjadi orang baik.
Jangan ragu untuk berbuat baik.
Karena Allah tidak pernah menilai amal seorang hamba dari tanggapan orang lain, melainkan dari niat awalnya.

Lillaah.
Walaupun lelah, insyaaAllah berkah.

Tidak mudah.
Belajar ikhlas, supaya hidup lebih mudah.

Yes, it's a big note for myself.
Cheers! Cause everything's gonna be allright! 😉

Jakarta, 22 Agustus 2018

Ketika tetiba kepikiran (lagi) tentang hoax dan niat sharing informasi, heu. Anyway, Eid Mubarak! Semoga menjadi hamba dan pribadi yg lebih baik lagi! ❤

Jumat, 27 Juli 2018

Mencari Alasan

Ternyata, mencari-cari alasan itu, tidak selalu buruk. Tidak selalu berkonotasi negatif, seperti yang selama ini kupikirkan.

Misalnya, ketika kita mencari-cari alasan untuk tidak marah, mencari-cari alasan untuk tidak berprasangka, mencari-cari alasan untuk tidak malas dan seolah lupa. Ternyata, sangat tidak mudah, bukan? Dan, tentu saja tidak berkonotasi negatif.

Kata seorang kawan hari ini, "Tunggu, jangan buru-buru menyimpulkan. Kita harus mencari 70 alasan agar tidak berprasangka buruk."

Ah, benar juga rupanya.
Betapa awal dari berbagai bentuk kedzoliman salah satunya adalah ketidakkuasaan kita untuk mencari-cari alasan. Untuk tidak cepat-cepat marah, untuk tidak cepat-cepat suudzon, untuk tidak cepat-cepat menghakimi seseorang atau suatu hal.

Benar juga.
Kalau perlu, bukan 70, tapi seribu. Atau sejuta? Ah, baiknya memang tidak terbatas.

Bukankah kelapangan hati kita seharusnya seluas samudera? Agar menjadikan diri jauh dari berbagai keburukan, yang justru pada puncaknya akan mencelakakan diri sendiri.

Baiklah, hari ini belajar satu hal lagi. Tak selamanya yang terlihat buruk itu tidak baik. Ya "mencari alasan" ini misalnya. Tinggal bagaimana kita melihat dengan kacamata apa. Itu saja.

Sabtu, 30 Juni 2018

Hati-Hati dengan Hati

Betapa tidak mudahnya urusan seonggok daging ini, jika kita tak memasrahkannya pada Yang Membolak-balikkan Hati.

Urusan hati, salah sedikit, akan jadi kacau.

Perasaan-perasaan yang muncul dari hati, memang terkadang tidak bisa kita kuasai. Hanya, perilaku setelahnya yang patut bagi kita untuk berhati-hati.

Apakah benar semua yang kita lakukan berlandsakan taqwa?
Apakah benar semua yang kita lakukan berlandaskan iman?
Apakah benar semua yang kita lakukan hanya karena Allah?

Hanya hati kita yang tahu.
Seonggok daging yang mudah sekali berpaling, jika tak kita tautkan pada Allah.
Seonggok daging yang mudah sekali berprasangka, jika tak kita titipkan pada Sang Penjaga.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

"Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii 'alaa diinik"

Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

(HR. Tirmidzi no. 3522)

Senin, 25 Juni 2018

Allah itu Dekat

Pernah nggak, merasa, bahwa semesta terasa memusuhi kita?

Pernah nggak, merasa, bahwa apa-apa yang kita lakukan salah di mata semua?

Pernah nggak, merasa, bahwa diri ini rasanya tiada guna? Hidup pun seperti percuma?

-----

Rasa-rasanya,
Allah lagi kangen...

Cuman,
Kitanya aja yang selama ini nggak peka, terlalu sibuk dengan urusan dunia.

-----

Allah SWT berfirman:

وَاِذَا  سَاَلَـكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ  اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran." (QS 2:186)

-----

"Fa inni qariib, maka sesungguhnya Aku dekat.."

Namun sayangnya hambaMu ini ya Allah, yang tak pernah mau mendekat..

"Ujiibu da'wataddaa'i, Kukabulkan permohonan orang yang berdoa.."

Namun sungguh sayangnya hambaMu ini ya Allah, yang selalu enggan meminta..

-----

Jangan bosan-bosan untuk selalu mendekat. Karena Allah suka ❤ lalu apa yang kita cari di dunia ini selain ridhoNya, kan?

#ntms

Senin, 14 Mei 2018

Berawal dari Kipas Angin

Setelah sekitar 4 bulan bertahan tanpa kipas di ibukota yang nggak dingin ini, heu, akhirnya...

Bukan karena nggak mau beli sih, tapi emang nggak bisa pake kipas angin, or we call it 'masuk angin' dkk. Yang pernah tinggal bareng pasti tau, saya orangnya anti banget kipasan, atau yaa paling kepaksanya kipas dihadapkan ke arah lain.

Tapii, entah mengapa beberapa waktu terakhir panasnya Jakarta luar biasa sampe bikin baju literally basah, ditambah nyamuk yg bikin bentol-bentol, akhirnya diputuskanlah untuk membeli, K I P A S A N G I N .

Sesepele itu sebenernya..
Cumaan, kadang dalam hidup kita suka 'terlalu' kekeuh sama diri sendiri, dan nggak mau mencoba mengerti keadaan. Padahal udah tau sebenernya diri kita butuh, tapi tetep aja merasa sok kuat dengan apa yang ada.

Sama kaya iman.
Kita tuuh sebenernya tau kekuatan kita cuman 'segitu'. Kita juga tau di luar sana ada banyak sarana yang bisa mendukung dan memudahkan urusan kita. Sayangnya, kita terlalu asik di zona nyaman. Jadinya, yaa gitu-gitu aja deh hidup kita, susah naik kelas heuheu~

Pokoknya, kalau mau berubah ke arah yang lebih baik mah, harus mau keluar dari zona nyaman. Buat dapet sesuatu yg "worth it" itu, nggak akan bisa kalo usaha kita juga nggak "worth it" kan?

Eh, kok panjang? 😂😂😂

Dan tulisan ini sesungguhnya adalah pengingat bagi diri sendiri heuheu #ntms

Senin, 19 Maret 2018

Silhouette

SIL•HOU•ETTE :// (N) 

The dark shape and outline of someone or something visible against a lighter background, especially in dim light.

-

Anyway, kamu tau nggak kenapa 'siluet' itu mostly terlihat sangat bagus, eye-catching, lagi instragam-able?

Kenapa?

Karena siluet itu diambilnya dari samping, yang sebagian.

Hah? Maksudnya?

Iyaaa, siluet kan, hanya memperlihatkan sebagian dari objek, bukan keseluruhan.

Lalu?

Itu, sama seperti ketika kita melihat orang lain, atau orang lain melihat kita. Hanya sebagian. Enggak pernah utuh. Hanya orang-orang tertentu, semisal keluarga, yang tahu benar-benar tentang kita. Atau bahkan, merekapun enggak tahu. Hanya Allah yang tahu. Bahkan, bisa jadi lagi, diri kita sendiri, belum tentu memahami jati diri yang sesungguhnya.. Jadi, ya gitu. Kadang, prasangka orang hanyalah sebatas persepsi yang tidak terbukti. Karena, mereka cuma tau sebagian aja dari diri kita.

Hmm begitu rupanya. Lantas?

Benarnya sih, yaa kita enggak perlu lah menceritakan diri kita ke orang lain, apalagi sampai membagus-baguskan diri di depan orang lain. Sama sekali enggak perlu. Karena,

Karena yang menyukai kita nggak membutuhkan itu, dan yang nggak menyukai kita nggak akan percaya itu, kan?

Yak, benar sekali, layaknya quotes dari Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Sebentar, terus, kita kudu gimana?

Lakukan yang memang kita sadar ingin dan butuh kita lakukan. Bukan karena orang lain. Tapi karena Allah. Karena nilai dan prinsip yang kita pegang kuat-kuat.

Sanggup?

Mungkin kalau sendiri enggak, tapi kalau barengan, semoga lebih bisa deh~

-

Okey, percakapan yang agak absurd. No father-father. Yang penting kita sama-sama paham, kalau hidup bukan cuma ngalir, apalagi cuma demi orang lain. Ada masa depan lebih besar yang sedang kita perjuangkan. Let's hit the book! 😎


#ntms

Senin, 05 Maret 2018

Katanya Siap

Katanya, yang mengukur siap atau tidak itu, sebenarnya bukan diri kita sendiri, tetapi orang lain. Bahkan, bukan juga keduanya, melainkan Allah.

Ada, yang merasa siap, tapi tak berhenti meratap ketika yang ditunggu tak kunjung tiba. Ternyata, Allah rasa, dia belum cukup siap.

Ada, yang merasa belum siap, tapi tetiba ada yang datang menjemputnya dari persembunyian. Ternyata, Allah rasa, dia sudah pantas dikategorikan siap.

Lalu, apa parameternya?

Katanya, ia akan tiba ketika seseorang berada pada puncak ketaqwaan. Ketika tak ada lagi yang menjadi puncak harapan selain Allah, tak ada tujuan selain Allah, tak ada penghambaan selain kepada Allah.

Bukankah, yang lebih pasti adalah menemuiNya?

Semoga dalam keadaan terbaik, di puncak keimanan dan ketaqwaan.

Jumat, 09 Februari 2018

Titik Marginal

Salah satu teori dari pelajaran pelajaran ekonomi jaman SMA yang paling saya ingat adalah tentang "Titik Marginal".

Intinya dalam teori itu seingat saya adalah; ada titik ketika kepuasan manusia mencapai puncaknya. Alias terbatas.

Misalnya, kita lagi haus banget-banget. Terus, ada yang menawarkan kita es kelapa muda yang teramat sangat segar sekali. Minumlah kita tanpa pikir.

Satu gelas, rasanya tidak bisa dideskripsikan saking enak dan segarnya. Dua gelas, juga masih terasa segar dan masih kurang. Tiga gelas, cukup melegakan. Empat gelas, perut kita sudah kenyang dan tidak ingin minum lagi. Jika diteruskan lima gelas, bahkan mungkin air itu akan kita keluarkan lagi.

Begitulah. Titik marginal ada pada gelas keempat, ketika kita sudah "puas" dan tidak ingin lagi menambah porsi. Dan kita baru sadar bahwa yang tadi-tadi itu, sesungguhnya hanyalah nafsu belaka...

Begitulah manusia.
Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu, banyak sekaliii~

Keinginan kita mungkin tak berujung, lalu bisakah kita implementasikan pada rasa syukur?
Impian kita mungkin tak berbatas, lalu bisakah kita implementasikan pada stok sabar?

Sesungguhnya rahmatNya pula tak terbatas. Tapi sungguh kita lebih sering alpa tak mengingatnya. Padahal jika kita mau sedikit saja lebih bersabar dan bersyukur dalam setiap keadaan, tentu semuanya akan terasa lebih membahagiakan.

Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Jakarta, 9 Februari 2018

Selasa, 05 Desember 2017

Zona Waktu

Bukankah zona waktu yang kita alami sebenarnya amat bergantung pada diri kita sendiri?

Sadarkah ketika kita sedang sibuk-sibuknya, waktu terasa mengalir begitu saja. Baru berangkat tiba-tiba udah dhuhur. Baru kerja dikit udah ashar. Baru lanjut lagi udah maghrib, waktunya pulang. Masih di jalan udah isya'. Baru sampai rumah dan istirahat tiba-tiba udah shubuh aja dan harus mulai beraktivitas lagi.

Jenuh.

Dan terasa sekali bahwa waktu-waktu sholat itu menjadi jeda untuk beristirahat yang amat berharga. (Kemudian mikir, bener aja yang katanya sholat itu istirahat yang menenangkan dan ingin terus diulang :” *lagilurus*) Tidak ada alasan lain yang akan ditolerir dalam kerasnya dunia kerja. Kita juga tidak mau menjadikan sakit sebagai jeda bukan? Tentu saja. Siapa juga yang mau merasakan keletihan dan kesendirian di tanah rantauan? Rasanya, ingin segera mengakhiri semua keruwetan hidup ini. Pekerjaan yang tak henti menghampiri, tanggungjawab yang tak lepas menggelayuti. Bagaimana aku bisa menikmati hidup, Tuhan? Aku hanya butuh berhenti sejenak. Tolong lepas aku dari semua hiruk pikuk dunia ini...

Dan tak lama, Ia mengabulkan harapanmu.

Kau tiba di satu titik untuk berhenti, menjeda dari segala aktivitasmu, beristirahat sejenak dari segala beban hidupmu. Hari-harimu dipenuhi dengan istirahat-istirahat panjang. Kau bebas melakukan apapun yang kau suka. Tapi, lama-lama, kau bingung sendiri bagaimana cara membunuh waktu? Kenapa jeda antar sholat yang terasa singkat sekarang seakan berabad?

Kau bangun di shubuh hari dan membunuh waktu dengan berbagai pekerjaan rumah. Menyapu, mencuci, memasak, tapi tetap saja masih pagi. Apalagi yang harus aku lakukan? Teriakmu dalam hati. Akhirnya, tiba juga waktu dhuhur. Setelah kelelahan dengan berbagai pekerjaan rumah, sejenak kau mengistirahatkan diri, tapi tak bisa. Kau buka smartphone untuk berharap rasa kantuk hadir dan membunuh waktu. Gagal. Kau masih saja tenggelam dalam dunia maya, hingga tak sadar adzan ashar memanggil. Kau beranjak, tapi masih juga bingung, apa yang sebenarnya aku lakukan?, keluhmu lagi. Menunggu maghrib, kadang kau isi dengan membaca buku, atau sekedar membantu ibu di dapur menyiapkan hidangan makan malam. Tak lama, malam menjelang, sudah adzan isya. Sedikit bercengkrama, lalu kau merebahkan diri di ‘pulau impian’. Dan ketika terbangun di penghulu shubuh, akhirnya kau berkata, ah, aku bosan hidup seperti ini. tidak adakah kesibukan yang bisa aku selesaikan? Kau menggerutu. Lagi.

Memang begitu. Apa yang kita rasakan seringnya menjemukan. Kita seringnya lebih mensyukuri kehidupan yang telah kita lewati, bukan yang sedang kita jalani. Atau bahkan seringnya kita lebih mensyukuri kehidupan orang lain? Entahlah. Akan tetapi, sadarkah bahwa sebenarnya itu yang membuat hati menjadi lebih sempit? Terus merutuki diri dan keadaan yang tak terkendali. Memang, manusia bisa apa? padahal sebenarnya, kita hanya berada di zona yang berbeda saja. Tidak semua yang kita lakukan, harus dilakukan orang lain. Tidak juga yang menjadi tanggungjawab oranglain, harus juga menjadi urusan kita. Tidak begitu. Kita memiliki hidup kita masing-masing. Berhentilah membanding-bandingkan.

Dua kuncinya: sabar dan syukur. Sabar ketika sedang diuji masalah, dan syukur ketika sedang mendapat rezeki yang berlimpah. Keduanya, akan menjadikan diri lebih memahami arti hidup ini. Agar, tidak lelah dengan pengharapan dan pencapaian orang lain. Agar, kita bisa lebih memaknai dan menghargai diri dan hidup kita masing-masing.

Tapipun, kadang itu semua belum cukup untuk meredam gejolak diri untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Disini, ikhlas semestinya akan menjadi penawar dari segala keresahan hati yang tak terperi. Lakukanlah apa yang kamu mau, berikanlah yang terbaik yang kamu bisa. Jangan pernah ragu. Jangan pernah menyesal. Kunci dari keberhasilan adalah pantang menyerah. Jika kau gagal saat ini, bukankah itu justru membuka peluang untukmu berhasil lebih besar? Lalu apa lagi yang kamu cari?

Teruntuk kamu, yang pernah merasa begitu tertekan dengan kerasnya dunia... Juga kamu, yang pernah merasa dicampakkan dunia...

Teruslah melakukan yang terbaik. Lakukan apa yang membuatmu terus bertahan. Lakukan apa yang membuatmu bisa bermanfaat. Jangan berhenti. Jangan pernah berhenti sampai kamu tidak kuat berjalan lagi. Di ujung jalan, kamu akan menemukan bahwa kebahagiaan sejati memang pantas untuk diperjuankan.
Selamat berjuang!

Yogyakarta,
2 Desember 2017
Sesama teman berjuang,


#PutriPejuang

Minggu, 29 Oktober 2017

Teacher’s Diary: Saat Belajar Praktik Sholat

Ceritanya lagi perpisahan sama bu Ais karena mau ditinggal nikah, heu :"
Ketika Ramadhan 1438 hampir usai, setelah 'pelarian' panjang wqwq
Sesore kemarin, ga ada kelas seperti biasa karena gurunya banyak yang izin dan ada keperluan. Jadi kelasnya adalah belajar praktik sholat. I got jilid 4 keatas, jadi lumayan lah yaaa ga bocil2 banget wkwk. Sekolahnya pada kelas 2-6 SD, Cuma satu bocah yang masih TK. After a long practice, ya gitu lah, sebagian udah baik, sebagian masih perlu dibenahin dikit, sebagian lagi ogah-ogahan 😂 Capek kali yaa praktik sholat maghrib 3 rakaat dan dengan bacaan jahr jadinya lama. Belum lagi kalo gurunya 'iseng' pause dulu buat benerin gerakan temennya yang masih salah, dan jadilah makin lama wkwkwk.

Setelah selesai tiga rakaat, saya sadar kalo ini bocah2 pasti bakalan bosen kalo disuruh praktik lagi dkk, akhirnya, kesempatan emas datang: cerita 😂 Di TPQ yang kelasnya formal abis (?) karena udah ada pattern dari pusat, jadi agak susah menyelipkan cerita agak panjang. Singkat aja juga agak maksa, karena waktu yang ada emang pas banget buat ngaji 'doang'. Kalo dulu di TPQ waktu saya masih kecil, emang ada kelas sendiri Madrasah Diniyah namanya, setelah ngaji jilid dan Quran, dan pas banget kelas saya adalah kelas teratas alias assabiqunal awwalun wkwk jadi langsung diajar sm Ustadz 😍 Disitu ada pelajaran tarikh, fiqh, aqidah, bahasa arab, hadits, dkk. Full of knowledge banget! Sayang saya baru sadar pas udah agak gede dan udah gak ngaji lagi hahaha jadinya yaa gitu, ada yang masih nyantol banget, ada yang byar, heu.. Barakallahufiik Ustadz dan Ustadzah :”)

Balik ke kids jaman now, akhirnya saya nyeritain sedikit tentang 'sejarah' sholat. Terus, ceritalah kita tentang Isra' Mi'raj. Bahwa, perintah shalat lima waktu itu datang saat Isra' Mi'raj. Apa itu Isra Miraj? Isra adalah perjalanan Rasulullah dari Mekkah ke..mana hayoo? Madinah! Bukaan, itu mah hijrah, nak 😅 (Eh, kata Pandji ga boleh langsung disalahin yaak, bilang 'hampir', biar anaknya tetep semangat 😁).

Jadi, Isra adalah perjalanan Rasulullah dari Mekkah ke Negeri Syam atau Palestina. Disana, Rasulullah shalat bersama Nabi-Nabi yang lain dan malaikat Jibril juga di Masjidil Aqsa. Naah setelah itu, barulah peristiwa Mi'raj terjadi. Apa itu Mi'raj? Perjalanan dari bumi ke langit, dari Masjidil Aqsa ke Langit ke tujuh 😱😱😱 (disini mulai takut kalo salah menjelaskan karena kurangnya ilmu, tapi terlanjur karena udah di tengah jalan dan nak-anak udah pada curious overload heu).

Jadi, waktu naik kesana tuh, Nabi naik Buroq. Buu, buroq itu apa? Becak? 😳😅 Buroq adalah rrrrr mikir dulu wkwk. Kadang, bukan, seringnya, saya takuutt banget salah ngomong ke anak-anak. Karena, mereka daya ingatnya lebih kuat. Kalau salah ngomong, nanti bahaya jadi atsar, alias kesalahan yang bertumpuk kemudian. Juga, kalau 'salah berjanji', nanti ditagihnya ga berhenti2. Anak-anak kan, kaya cewe, kalau dijanjiin ga pernah lupa 😂😂 #skip

Akhirnya, kita cerita kesana-kemari. Dari cerita 'sejarah' sholat sampai Khulafaur Rasyidin. Disitu, makin makin lah sadar kalau ilmunya masih dikiiit banget, masih kuraaang banget ya Allah.. Udahlah ilmunya cethek, belum lagi ilmu buat menjawab dan facing the kids, kan beda yaa caranya, heu. Harus belajar lagi, belajar terus!

Sepanjang cerita juga sebenarnya saya banyak speechlessnya. Setelah bingung mau cerita apa lagi yang bisa menarik perhatian wkwk, akhirnya gantian nanya kalau ada yang mau bertanya. Kadang, mereka nanya yang, sebenarnya saya tahu sih, tapi kompleks dan susah menjelaskan ke anak-anak. Coba, ada yang nanya: Bu, Dajjal itu apa? Atuh kumaha jawabnya di tengah kelas gede gt heu akhirnya cuma jawab Dajjal itu Iblis. Heu.. Maafkan nak, lain kali semoga bisa menjelaskan dengan baik dan benar, memuaskan rasa ingin tahu kalian :”

Juga, belajar bahwa emang beda yaa bahasa nak-anak sama mbak-mbak. Ketika sedang cerita hijrahnya Nabi, tersebutlah bocah kelas dua SD bertanya, bu, Hijrah itu apa? Lalu, pas bahas yang lain, ditanya juga: nego itu apa? Dakwah itu apa? Dkk dkk 😅 Baru sadar, apa bahasanya ketinggian yaa.. Hmm. Perlu belajar menyederhanakan kalimat sepertinya. Ah, anak-anak..

Intinya kelas kemarin benar-benar mengajarkan banyak hal. Bukan hanya mereka yang belajar tentang sangat sedikit praktik dan sejarah shalat, justru gurunya lah yang belajar lebih banyak dari mereka, dari kepolosan dan keberanian mereka. Bahwa, apalah apalah ilmu yang baru nggak ada apa-apanya ini. Masih banyak yang harus dipelajari. Harus bedakan juga diksi ketika interaksi sama seumuran, lebih tua, dan lebih muda wabil khusus my bocils yang umurnya sangat beragam hihi.

Oiya satu lagii, kemarin pas entah cerita tentang apa, ada potongan sejarah yang saya lupa dan ada yang semisal tahun-tahun gitu yang emang ga saya hafalin, baca doang wkwk. Dan, salah satu anak bilang, Buu, kan itu ada di pelajaran SKI di sekolah (fyi dia sekolah di MI). Jleb, saya langsung merasa tercyduq dan tertohoq 🙈 langsung inget-inget jaman sekolah ((dulu)). Karena saya dari SD sampai SMA sekolah di sekolah negeri terus, jadi inputnya memang 'hanya' dari mata pelajaran PAI di kelas. (Tapi alhamdulillah sempat Madin jadi ada lah input lain selain di sekolah) Tapii, kok yo rasa-rasanya banyak banget yang saya lupa, apalagi tenyang tarikh 😭😭 Kalau ada pun, ga banyak, dan lebih banyak karena udah dipelajari ulang waktu saya ngaji di TPQ dulu, atau ketika udah gede baca dari buku atau dapat dari kajian :" Padahal ya, sebenarnya buku pelajaran kita pas sekolah tuh udah cerita banyak. Kalau kita mau baca. Kalau kita mau belajar. Heuu, jadi ngerasa berdosa gitu dulu sekolahnya kurang serius (?) dan ga beneran hafalin. Tapi, jadi mikir juga, apa jangan-jangan semua itu jadi cuma semacam formalitas yang setelah kita hafalkan lalu lupakan? Saking banyaknya yang harus dihafal? Jadi malah ya gitu, belajar hanyalah belajar ga sampe ke hati (?) Entahlah.

Yang jelas, pendidikan itu teramat sangat penting sekali. Utamanya lagi pendidikan agama. Agar, anak-anak kita kelak nggak buta arah dalam mengarungi kehidupan ini. Ada Islam, ada AlQuran, dan tentu saja ada Allah.

Pokoknya maah, thankyou for every single thing you unintentionally thought me. Love you to the moon and back, Kiddos! 💞

29 Oktober 2017/10 Shafar 1439

Love,

Your unperfect teacher

Sabtu, 17 Desember 2016

Three Years, Three Steps

Kyoto, 15 Desember 2013
It has been three years since that day ~
Saatnya kontemplasiii

Sejak perjalanan yang lalu, apa yang sudah didapatkan?
Apa yang sudah terlewati?
Mimpi bagian mana yang sudah tercapai?
Hmm rasa-rasanya diri ini masih terlalu jauh dari tujuan besar penciptaan :"

Jepang. Satu pengalaman yang menjadi buah dari berkumpulnya beberapa mimpi: naik pesawat, presentasi di luar negeri, jalan-jalan ke luar negeri, dan, of course, megang salju! Ehee. Agak kampungan? Biarin, daripada engga punya mimpi :p

Pulang dari Jepang, sama halnya dengan perjalanan jauh lainnya (katanya), membuat kita (saya) memiliki pandangan yang lebih luas tentang arti kehidupan. Pikiran jadi lebih terbuka, tidak hanya dalam tempurung Indonesia, terutama Jawa saja. Banyak pertanyaan-pertanyaan menemukan jawabannya. Banyak pula hikmah dari setiap kejadian yang terjadi, mulai dari tahap persiapan keberangkatan sampai kembalinya kami ke tanah air. Semoga bukan hikmah sesaat, ya. Tetapi benar-benar bisa menjadi pelajaran dalam menjalani kehidupan.
.

First, about partner.
Kyoto, 15 Desember 2013
Tau apa yang membuat saya bisa sampai di titik ini? Iya, orang-orang di sekitar saya. Kita tidak akan pernah bisa berjalan jauh jika sendirian. Memang sih, berjalan bersama-sama itu lamaaa banget. Sering gesekannya juga. Tapi, tujuan kita jelas. Dan ada sosok yang akan saling menguatkan dan mengingatkan kita di sepanjang perjalanan.

Dalam setiap tujuan dan pencapaian, saya lebih sering berpartner alias membentuk tim. Meski tidak selalu sama komponennya, tapi ada dua tim yang saya merasa sangat sejalan bersama mereka. Salah satunya, dan memang yang paling awal, adalah tim atau partner perjalanan saya ke Jepang.

Ke Jepang, zaman saya waktu itu (berasa udah berabad-abad aja :p), tidak semudah sekarang. Ngg, ini lebih ke perspektif dan euforia (?) siih. Dulu mah belum sebanyak sekarang informasi tentang dunia ke-luar-negeri-an baik yang konferensi atau exchange (atau sayanya yang dulu cupu banget yak? #eh). Dulu juga tidak segampang sekarang mencari sponsor, walaupun sekarang juga tidak bisa dibilang mudah. Dulu juga mah di tempat saya kuliah, apalagi mahasiswa muda-mudi ‘aneh’ banget kalau sampai ‘bertingkah’ ke luar negeri segala. Sesuatu deh. Makanya itu butuh perjuangan ekstra. Termasuk dalam menghadapi dinamika perkuliahan (baca: praktikum) di tahun kedua itu sesuatu syekalih. Dan dalam berjuang, sendiri itu engga enak. Serius. (Lain kali saya cerita bagian ini). That’s why we need journey’s partner. #tsaaah

Intinya mah, mencari partner yang sevisi itu sangat penting. Saya sangat bersyukur dipertemukan Allah sama partner yang luar biasa. Ima, Azza, Isna, dan Pipit, dengan segala kelebihan dan kekurangan, juga ke-luar-biasa-an mereka. Pengalaman pertama yang akan menjadi pelajaran bagi pencarian pengalaman-pengalaman selanjutnya. Meski pada akhirnya kita bersilang jalan #eaa, tapi aku yakin mimpi terbesar kita masih sama, fingers... :”) *tetibamellow.
.

Setelah partner, second is about work.
Kumamoto Univeristy, 13 Desember 2013
Setelah mempunyai ‘komposisi’ partner yang pas, pembagian kerja adalah hal yang sangat penting. Keduanya saling berkaitan. Kan ngga mungkin ya, kalau kita punya tujuan besar, tapi cuma diem-diem aja? Yah, itu mah sama aja ngga bakal dapat apa-apa. Kalau waktu itu sih, kami harus pandai-pandai ‘membelah diri’ dengan urusan paper, administratif ke Jepang, kuliah dan praktikum, organisasi, dan urusan pribadi kami masing-masing.

Kalau boleh jujur, IP saya semester tiga waktu itu adalah IP paling rendah selama saya kuliah :’D Kenapa? Karena saya sering bolos, hiks. Engga diing.. Sebenarnya itu hak saya siih, karena kan toleransi kehadiran 75%, jadi sayang aja gitu kalau disia-siakan #ngeles. Tapi jeleknya, saya jadi terlalu memaksimalkan, dan hampir di semua mata kuliah yang saya ikuti waktu itu saya absen 2-3 kali. Itu aja saya masih lari-lari mengejar berbagai tugas dan laporan praktikum, belum amanah organisasi juga. Seru lah pokoknya :3 Sampai saya yang paling tidak bisa begadang harus minum kopi dan masuk angin disusul demam karena harus menyelesaikan banyak hal.

Menyesal?  Oh, tentu tidak! Tapi tidak menyesal bukan berarti harus mengulanginya kan? Hehe.. Ambil hikmahnya aja: skala prioritas dan harus belajar mengurangi waktu tidur :) biar ngga kaya bayi yang banyak tidur wkwk (ini emang PR sejak lama dah -,-) Jadi, sebanyak apapun pekerjaan, tetap harus diselesaikan semua. Jika kita punya A, B, dan C yang harus diselesaikan, maka kita harus memberikan 100% ketika mengerjakan A, 100% ketika mengerjakan B, dan 100% juga ketika mengerjakan C. Karena, fokus itu sangat penting! Saya paling menghindari ketika kuliah disambi dengan mengerjakan yang lain. No! Selain itu tidak beradab (tidak sopan maksudnya ehee), itu juga mengganggu konsentrasi kita. Dan justru kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari yang kita lakukan. Saya juga sih mengejar keberkahannya aja. Toh kalau kita sedang berbicara di depan, juga pasti sedih kan kalau ada yang usrek  sendiri di belakang? Ini mah masalah lain lagi tentang bercermin, tapi penting juga dalam kehidupan :)

Cukup disitu? Hmm tidak juga. Sepulang kuliah dan menuntaskan amanah kampus, malam hari kami biasa berkumpul di ‘basecamp’ untuk membicarakan berbagai hal. Mulai dari persiapan keberangkatan sampai tentang mimpi-mimpi kami. Atau sekedar haha-hihi menghilangkan penat sejak sehari beraktivitas. Yang jelas, semua persiapan itu membutuhkan energi yang tidak sedikit. Menguras kantong sampe kering sekeringnya. Bahkan pernah menguras hati saking penatnya. *emang kamar mandi di kuras :D

Tapi kami yakin, semua lelah dan perjuangan kami akan terbayar lunas. Dan itu terbukti, bahkan surplus. :)
.

Last but not least, third is pray.
Kyoto, 15 Desember 2013

Pernah dengar pepatah ini: “If you work, you work. If you pray, God work.” ?

Yes, karena sebagai hambaNya, kita sudah barang tentu memiliki hubungan khusus yang tidak akan bisa diusik oleh sesiapapun jua. Tingkatan tertinggi setelah usaha adalah doa, baru setelah itu kita berserah diri. Doa adalah bagian yang sangat penting. Bukan hanya doa dari kita pribadi, tapi juga orang lain, terutama doa dan ridho dari orangtua kita. Terutama lagi, Ibu. Doa akan menjadi pembuka jalan yang akan melancarkan dan menguatkan usaha-usaha yang akan kita lakukan. Dan karena kita yakin bahwa jawaban dari setiap doa adalah “Iya”, maka berserah diri adalah ujungnya. Wis to, pokoknya mah, setelah usaha yang maksimal, doa maksimal, insyaAllah semua akan lancaaarrr dan hasilnya adalah yang terrbaiiik ;)
.

Jadi ini sih intinya, sesuatu yang besar didapatkan dengan pengorbanan yang besar jua.
Tidak bisa kita pengen ini-itu tapi yang dilakukan juga cuma itu-itu lagi, itu-itu doang. Mungkin bagi sebagian orang, konferensi mah gitu doang, sepele. Ke Jepang juga cuma situ doang, gampang. Tapi bagi kami, bagi saya utamanya, perjalanan ke Jepang memberikan hikmah yang luar biasa dalam diri saya. Tentu masih banyak hal yang harus saya perbaiki dari diri saya, tapi saya tidak bisa mengatakan bahwa tidak ada yang saya dapatkan sepulang dari Jepang, justru banyaak!

Soo, keep fighting on your dreams! Jaga diri (dan hati) supaya tetap on the track  dengan tujuan besar kehidupan *halah yang sudah kita bangun sejak awal. Penyesuaian dengan realita sedikit tidak masalah. Tapi bukan berarti kita akan menyerah dengan keadaan. Yang membuat kita berhenti hanya Allah, bukan kelemahan kita. Terlalu banyak alasan yang membuat kita harus lebih banyak bersyukur dan terus bekerja keras. Kalau kata Pak Dis sih; bersyukur dengan cara bekerja keras :D Selamat berjuaaang!
.
Semoga tulisan ini juga menjadi pengingat bagi diri agar senantiasa tegar dalam berjuang :’)

Selesai ditulis di Yogyakarta, 16 Desember 2016 23:52

Your Journey Partner,

Andika Putri Firdausy a.k.a #PutriPejuang a.a.k.a #FirdausyFighter

Senin, 22 Agustus 2016

Hakikat Karya

Suatu ketika...
===

“Amal yang paling ihsan,” demikian menurut Fudhail ibn ‘Iyadh, “adalah yang paling ikhlas niatnya dan paling benar mengikuti tuntunannya.”

Mari sejenak mentakjubi para pendahulu kita yang shalih, yang sebakda memenuhi ikhlas dan benarnya amal mereka, masih juga memberi kita pelajaran tentang bagaimana memanfaatkan sebesar-besarnya detak-detik hidup yang penuh makna. Terlebih hari ini, di kala amat mudah kita berbangga dengan perbuatan kecil yang dengan lancang kita sebut “karya”.

Apa yang hendak kita sombongkan, jika Imam An-Nawawi menulis Syarh Shahih Muslimyang setebal itu sedang beliau tak punya sejilid pun kitab Shahih Muslim? Hanyasanya beliau menulisnya berdasar hafalan atas Shahih Muslimyang diperoleh dari Gurunya, lengkap dengan sanad inti dan sanad tambahannya.

Sanad inti adalah perawi yang menyampaikan hadits antara Imam Muslim sampai Rasulullah. Adapun sanad tambahan yakni mata-rantai periwayatan dari An-Nawawi hingga Imam Muslim. Jadi kita dapat membayangkan; ketika menulis penjabarannya, An-Nawawi menghafal 5.326 hadits sekaligus sanadnya dari beliau ke Imam Muslim dengan sekira 9-13 tingkat gurunya; ditambah hafal sanad inti sekitar 4-7 mata rantai rawi. Yang menakjubkan lagi; penjabaran yang beliau anggit disertai perbandingan dengan hadits dari kitab lain, yang jelas dari hafalan sebab beliau tak mendapati naskahnya, penjelasan kata maupun maksud dengan atsar shahabat, tabi’in, dan ulama; munasabatnya dengan ayat dan tafsir, istinbath hukum fiqh yang diturunkan darinya; dan banyak hal lain lagi.

Hari ini kita menepuk dada; dengan karya yang hanya pantas jadi ganjal meja beliau, dengan kesulitan telaah yang tak ada seujung kukunya. Hari ini kita jemawa; dengan alat menulis yang megah, dengan rujukan yang daring, dan tak malu-sedikit-sedikit bertanya pada pada mesin pencari.

Kita baru menyebut satu karya dari seorang ‘Alim saja sudah bagai langit dan bumi rasanya. Bagaimana dengan kesemua karya dari satu orang ini yang jangan-jangan hingga umur kita tuntaspun takkan habis dibaca? Bagaimana pula para ulama lain yang kedahsyatan warisannya dan upayanya menyusun karya bahkan lebih dahsyat dari Imam An-Nawawi?
Bagaimana kita mengerti kepayahan seorang penyusun kitab Musnad, Sunan, Thabaqah, atau Jami’ush Shahih pada zaman yang untuk memndapat satu hadits saja para muallifnya harus berjalan berbulan-bulan? Bagaimana kita mencerna, bahwa dari nyaris satu juta hadits yang dikumpulkan dan dihafal seumur hidupnya; Al-Bukhari memilih sekira 7.008 saja? Atas ratusan ribu hadits yang digugurkan Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi misalnya; tidakkah kita renungi, bahwa hampir pasti semua ucap dan tulisan kita jauh lebih layak dibuang?

Detak-detik hidup macam apakah yang lapis-lapis berkahnya sepadat itu?

Senin, 26 Oktober 2015

Kebajikan vs Dosa

Hadits Arba'in 27: Antara Kebajikan dan Dosa

Nawwas bin Sam'an ra. berkata, Nabi saw. bersabda,
"Kebajikan adalah akhlak terpuji, sedangkan dosa adalah apa yang meresahkan jiwa dan kamu tidak suka bila dilihat orang lain." (h.r. Muslim)
Riwayat lain menyebutkan, Wabishah bin Ma'bad ra., berkata, Aku mendatangi Rasulullah saw., lalu beliau bertanya,
"Kamu datang untuk bertanya tentang kebajikan?" Aku menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Tanyakan kepada hatimu sendiri. Kebajikan adalah apa yang membuat jiwa dan hatimu tenteram, sedangkan dosa adalah apa yang membuat jiwa dan hatimu gelisah, meskipun orang lain berulang kali membenarkanmu." (h.r. Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darimi. Hadits ini hasan). 

Tiba-tiba, saya ingat materi kelas Tafsir Hadits malam itu. Rabu malam yang syahdu. Ustad sedang membahas tentang tafsir mengenai Hadits Arba'in yang ke-27.

Hadits ini cukup mak jleb-jleb buat saya, kyaaa. 
Kenapa?
Silahkan kembali dicermati redaksi haditsnya. Betapa manusia itu sungguh keterlaluan.....

Sebenarnya Allah telah menciptakan hati kita sedemikian rupa sehingga pasti kita bisa merasakan mana perbuatan yang termasuk kebajikan, dan mana yang termasuk dosa. Hati adalah organ yang sangat 'sensitif'. Bahkan, pikiran buruk 'saja' akan mempengaruhi keadaan hati kita, termasuk secara fisik. Seharusnya hati menjadi pengingat utama diri kita. Hati yang senantiasa bersih akan selalu peka dengan apa-apa yang disekitarnya.

Sayangnya, terkadang kita sendiri yang menolak kata hati kita. Kita lebih sering 'memaklumi' diri kita sendiri. Padahal sebenarnya Allah telah menunjukkan kebenaran yang sejati melalui hati kecil kita.

Kita menjadi terlalu sering memberi pemakluman terhadap perbuatan kita sendiri, padahal hati kecil kita sudah melarangnya. Kita menjadi lebih sering mencari-cari pembenaran dari orang lain; yang meskipun dianggap salah oleh orang lain, kita akan tetap merasa benar; atau bahkan, yang meskipun dibenarkan orang lain, sebenarnya hati kitapun sudah mengetahui mana yang benar dan salah. Hanya, mata kita yang tertutup; atau, hati kita sudah tak mampu membedakan yang haq dan bathil lagi? :')

Jadiii, jika kita sedang melakukan atau mengucapkan sesuatu yang membuat hati kita menjadi resah dan gelisah, dan kita was-was, tidak suka bila ada orang lain yang melihat. HATI-HATI! Jangan-jangan itu perbuatan dosa! Segera hindari dan beristighfar sebanyak mugkin! upset emotiko

Benar. Terkadang perasaan was-was ketika (akan) merasakan, mengucapkan, atau melakukan sesuatu itu hal yang wajar, baik malah. Disitulah hati kita bekerja; ia akan memberikan sinyal-sinyal apakah yang akan kita pilih itu suatu kebajikan atau justru sebaliknya. Akan tetapi, jika hati kita sudah tidak merasakan perasaan was-was ketika sudah jelas-jelas akan melakukan perbuatan dosa, maka kita sudah berada di ambang batas dimana diri kita sudah tak mau dan tak mampu membedakan yang haq dan bathil. Segera bertobat dan kembali pada jalan yang benar.
"Yaa muqollibal quluub, tsabbit quluubana 'alaa diinik. Yaa mushorrifal quluub, shorrif quluubana 'alaa thoo'atik. Nawwir quluubanaa ya Allah, kaqolbi Rasulika ya Allah"
Semoga kita Allah senantiasa memantapkan hati-hati kita pada kebajikan. Semangat berhijrah! 

-Muharram, bulan ketika kita 'berhijrah' :)

Yogyakarta, (selesai diedit 26 Oktober 2015 16:46)

Senin, 05 Oktober 2015

Bukan Wanita Biasa

Tugas Resensi Buku



Judul Buku   : Bukan Wanita Biasa
Pengarang    : Hadi Dust Muhammadi
Penerjemah   : Ibn Alwi Bafaqih
Penerbit     : Cahaya
Tahun        : 2005

Malang, Maret 2015

Rabu, 25 Februari 2015

Menemukan Perbedaan

Bismillah.


COULD YOU FIND THE DIFFERENCE?

Teras Masjid Istiqlal, Jakarta (6 Sept. 2013)
Nyamm~ tulisan ini berawal dari waktu itu, ketika saya 'berkunjung' ke Masjid Mujahidin UNY, Yogyakarta. 
Saya sadar bahwa bahan yang saya tulis pernah marak akhir-akhir ini, termasuk di Yogyakarta: kemiskinan. Indonesia merupakan Negara dengan penduduk miskin sejumlah sekitar 11% dari total penduduk Indonesia yang 250an juta jiwa (bps.go.id). Nilai ini merupakan nilai yang cukup tinggi melihat dari banyaknya potensi yang dimiliki oleh Indonesia. Ah, saya tidak ingin membahas hal itu sekarang~

Kamis, 13 November 2014

Memilih Takdir

Memilih Takdir

oleh: Andika Putri Firdausy


Kyoto, 15 December 2013
The one who decided your future is you | So keep moving forward and never look back | Don't listen what people are saying | They never care what you are doing about | They just wanna see the best of you 
Terkadang kita terlalu naif menjalani kehidupan. Mampu berlari tapi hanya berjalan. Mampu berjalan tapi hanya merangkak. Mampu merangkak tapi hanya merayap. Mampu merayap tapi hanya duduk terdiam. Terbaring di dalam kursi pesakitan yang kita buat-buat sendiri. Meratapi takdir yang seakan tak pernah berpihak pada kita.

Pertanyaannya adalah, benarkah semua itu? Atau, jangan-jangan semua itu hanya prasangka kita. Hanya ilusi akan ketakutan-ketakutan kita menjalani hidup. Padahal, bukankah setiap sekecil apapun hal di dunia ini telah diatur oleh Sang Waktu?

Minggu, 26 Oktober 2014

Bunga, Burung, dan Kupu-kupu

Bunga, Burung, dan Kupu-kupu

“Bunga tidak pernah tahu bahwa dirinya harum. Burung tidak pernah tahu kalau suaranya merdu. Dan kupu-kupu tidak pernah tahu kalau dirinya indah.”

Bukankah Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna?

Seringnya kita lupa, bahwa penciptaan manusia pada dasarnya memiliki tujuan yang besar. Sebagai hamba Allah, dan tentu saja sebagai khalifah di muka bumiNya. Allah menciptakan kita di dunia, bukan hanya untuk bersenang-senang, apalagi bersantai ria, tetapi lebih dalam yaitu memakmurkan bumi ini, beramar ma’ruf nahi munkar. Banyak sekali hal yang bisa kita lakukan untuk melaksanakan amanah tersebut. Jangan pernah berpikir bahwa itu hal yang sulit, karena bukankah setelah kesulitan ada kemudahan? Dan hei, Allah tidak akan menguji melebihi kemampuan hambaNya, kan? So, lets do it, dude!

Berkumpul di Jannah