Tampilkan postingan dengan label Temajuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Temajuk. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Juli 2019

Menyusuri Jejak Rafflesia di Tanah Perbatasan

Tanjung Datu, Agustus 2015 (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
   Siapa yang tak mengenal bunga Rafflesia? Selain bunga Melati Putih (Jasminum sambac) sebagai Puspa Bangsa dan Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) sebagai Puspa Pesona, terdapat satu lagi bunga yang dinyatakan sebagai bunga nasional yang dapat mewakili karakteristik bangsa dan negara Indonesia. Melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional, bunga Rafflesia (dalam hal ini Rafflesia arnoldii) ditetapkan sebagai salah satu bunga nasional dan menjadi identitas bangsa Indonesia. Bunga Rafflesia arnoldii  dalam bahasa Indonesia disebut juga dengan bunga Padma Raksasa atau juga disebut sebagai Puspa Langka. Penetapan ketiga bunga nasional ini dilakukan sebagai wujud pemerintah untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan juga mewujudkan perlindungan serta pelestarian bagi satwa dan bunga nasional. Dalam rangka Hari Keanekaragaman Hayati 2019, kali ini saya akan membahas mengenai salah satu bunga nasional tersebut.

     Rafflesia; sebagian orang menyebut bunga bangkai sebagai nama ‘lokal; dari bunga Rafflesia ini. Akan tetapi, ternyata yang disebut "bunga bangkai" ini bukan hanya Rafflesia saja. Terdapat sedikit salah kaprah dalam penyebutan “bunga bangkai” di kalangan masyarakat Indonesia. Terminologi bunga bangkai di kalangan masyarakat ini lebih merujuk kepada fisik dari bunga tersebut yang diwakilkan dengan kata "bangkai". Menurut pemahaman masyarakat, bunga bangkai adalah bunga yang memiliki aroma busuk, seperti aroma bangkai. Padahal, meski kedua jenis bunga tersebut sama-sama memiliki bau busuk, keduanya merupakan bunga sama yang sama sekali berbeda.

Perbedaan Bunga Rafflesia (kiri) dan Bunga Bangkai (kanan). (Sumber: bobo.grid.id)
     Bunga bangkai yang 'sebenarnya' memiliki nama ilmiah Amorphophallus titanum atau juga disebut dengan Bunga Bangkai Raksasa atau Titan Arum atau juga disebut dengan Suweg Raksasa. Dari segi fisik, bunga ini tentu sangat berbeda dengan bunga Rafflesia. Bunga bangkai adalah tumbuhan sempurna yang memiliki akar, batang, daun, dan bunga. Ukuran tumbuhan ini juga sangat besar. Bunga bangkai bisa mencapai tinggi hingga 1-2 meter dengan lebar mahkota bunga bisa mencapai 1-5 meter. Meski ukuran bunga bangkai lebih besar dibandingkan dengan bunga Rafflesia, akan tetapi bunga bangkai bukan merupakan bunga terbesar. Bunga ini tersusun dari banyak bunga kecil yang berada pada satu batang yang sama atau disebut pula dengan bunga majemuk. Selain itu, siklus hidupnya pun berbeda. Bunga bangkai merupakan tumbuhan sempurna yang dapat berfotosintesis dan berkembang biak sendiri. Akan tetapi, saat ini bunga ini sudah sangat berkurang di alam. Salah satu lokasi dimana bunga ini dapat ditemukan adalah di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, dimana pada saat tertentu ketika bunga ini sedang mekar (umumnya 5-7 hari) maka akan banyak wisatawan atau peneliti yang berkunjung untuk sekedar melihat atau mempelajari bunga bangkai ini.

    Berbeda dengan Bunga Bangkai yang termasuk kategori tumbuhan terbesar, Bunga Rafflesia termasuk ke dalam salah satu bunga terbesar di dunia. Rafflesia termasuk ke dalam tumbuhan endoparasit yang 'menggantungkan' hidupnya pada tumbuhan inang merambat yang disebut Tetrastigma. Karena termasuk parasit, maka Rafflesia adalah the real bunga” yang tidak memiliki batang, daun, dan serta akar layaknya tumbuhan sempurna. Bunga ini hanya memiliki bagian-bagian bunga yang berawal dari sebuah kelopak dan berakhir dengan lima mahkota bunga. Di bagian bawah bunga tersebut terdapat benang sari atau putik yang menunjukkan apakah bunga tersebut berjenis jantan atau betina. Karena bukan termasuk tumbuhan sempurna, Rafflesia tidak bisa melakukan fotosintesis sendiri. Perkembangbiakan bunga melalui penyerbukan Rafflesia dibantu oleh lalat yang tertarik dengan bau busuk atau menyengat dari bunga ini. Masa pertumbuhan bunga ini yang cukup panjang mencapai sembilan bulan tidak sebanding dengan masa mekarnya yang hanya berkisar 5-7 hari. Setelah itu, bunga ini akan layu dan mati.
Kelopak Rafflesia (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
     Rafflesia sendiri sebenarnya adalah nama sebuah genus. Pada genus Rafflesia tersebut, masih terbagi menjadi beberapa spesies. Hingga saat ini, terdapat 25 jenis atau spesies  Rafflesia yang dapat didefinisikan di seluruh dunia. Sebanyak 12 jenis Rafflesia tersebut dapat ditemukan di Indonesia. Beberapa nama spesies Rafflesia tersebut diantaranya adalah Rafflesia arnoldii (1818), Rafflesia patma (1825), Rafflesia rochussenii (1850), Rafflesia tuan-mudae (1868), Rafflesia hasseltii (1879),Rafflesia borneensis (1918), Rafflesia ciliata (1918), Rafflesia witkampii (1918), Rafflesia gadutensis (1984), Rafflesia keithii (1984), Rafflesia micropylora (1984), Rafflesia pricei (1984) dan Rafflesia tengku-adlinii (1989).

   Spesies Rafflesia pertama yang ditemukan adalah spesies Rafflesia arnoldii. Rafflesia arnoldii pertama kali ditemukan pada tahun 1818 di pedalaman Bengkulu Selatan. Bunga ini ditemukan oleh Dr. Joseph Arnold, seorang pemandu yang sedang mengikuti ekspedisi Thomas Stanford Raffles. Oleh karena itu, penamaan bunga ini disusun dari sejarah penggabungan antara Raffles dan Arnold. Habitat bunga ini umumnya tumbuh di hutan hujan tropis, sehingga di dunia hanya bisa ditemukan di beberapa negara tropis saja seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan tentu saja Indonesia. Di Indonesia sendiri, bunga ini endemik di beberapa wilayah, utamanya Sumatra, juga ditemukan di beberapa hutan di Kalimantan dan Jawa.

Potret Kebakaran Hutan di Hutan Kalimantan (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
      Rafflesia termasuk ke dalam jenis tumbuhan yang hampir punah. Beberapa faktor penyebab ancaman kepunahan tersebut ialah adanya faktor biologi Rafflesia itu sendiri yang dalam proses perkembangbiakannya tidak boleh ada gangguan manusia, mengandalkan inang untuk hidup, serta mengandalkan lalat untuk membantu penyerbukan. Padahal, waktu mekarnya benang sari dan putiknya sendiripun belum tentu bersamaan. Selain itu, habitat dari bunga ini yang hanya bisa tumbuh di hutan primer untuk dapat bertahan hidup juga menjadi salah satu ancaman dalam perkembangbiakannya. Maraknya pembalakan liar dan kebakaran hutan mempengaruhi laju deforestasti dari hutan-hutan primer di Indonesia. Hal ini tentu berpengaruh mengancam keberadaan habitat puspa langka tersebut. Akan tetapi, di balik itu permasalahan tersebut, masih terdapat berbagai keindahan alam di pelosok hutan yang rimbun seperti yang pernah kami alami tiga tahun silam.

     Sekitar pertengahan tahun 2015, kami (saya dan tim KKN PPM UGM KTB-03) berkesempatan melakukan pengabdian masyarakat di perbatasan Indonesia-Malaysia yang terdapat di Pulau Kalimantan, tepatnya di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Kami bertugas untuk mengabdi dan memberdayakan masyarakat di desa selama dua bulan (Juli-Agustus 2015). Singkat cerita di akhir masa pengabdian tersebut, tim kami berkesempatan untuk melakukan susur hutan di Tanjung Datu. Hutan ini terletak diantara dua negara: perbatasan Indonesia-Malaysia. Hutan ini termasuk hutan primer yang masih terjaga keindahan dan keasliannya.

Tim KTB-03 di Tanjung Datu - 2015 (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
         Perjalanan menuju Tanjung Datu kami awali dengan menaiki kapal dari dermaga Desa Temajuk menuju titik terluar perbatasan Tanjung Datu. Perjalanan menggunakan kapal kurang-lebih membutuhkan waktu sekitar 30-40 menit yang sangat menyenangkan. Dalam perjalanan kami menjumpai ikan-ikan yang berenang dan burung-burung yang riuh seakan menyambut kedatangan kami. Sesampainya di Tanjung Datu, rombongan kami segera bergegas naik menuju lokasi mercusuar untuk beristirahat. Meski siang hari, kami tetap bersemangat dengan sesekali mengabadikan momen dengan mengambil gambar.
   Sesampainya di lokasi mercusuar, kami dapat mengamati Laut Natuna dari atasnya. Kami juga sekilas memandangi hutan Tanjung Datu dan perbatasan Indonesia-Malaysia. For your information, selain berfungsi untuk membantu navigator untuk menentukan arah, mercusuar ini juga digunakan sebagai batas wilayah negara, termasuk mercusuar yang kami kunjungi di Tanjung Datu ini, sehingga memang ada petugas penjaga yang tinggal disini. Selesai kami melakukan rehat siang sejenak, kami melanjutkan perjalanan susur hutan. Sayangnya, tidak semua anggota tim ikut melakukan mini ekspedisi ini. Sebagian harus kembali ke desa untuk suatu urusan. Tinggallah kami bertujuh belas dan dua warga lokal yang mengantarkan kami melanjutkan perjalanan. Dan salah satu warga tersebut adalah Ayah angkat di rumah tinggalku selama KKN :)
Salam dari Tanjung Datu, Perbatasan Indonesia-Malaysia (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
   Di sepanjang perjalanan menyusuri hutan, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Mata kami dimanjakan oleh hutan primer yang berkanopi rapat dengan aroma tanah dan tanaman yang menyatu sempurna. Kami sangat menikmati perjalanan tersebut dengan sesekali bersenandung dan mengamati keadaan sekitar. Pohon yang menjulang, batu raksasa, dan sesekali kami harus menunduk melewati akar-akar raksasa. Tak lupa kami saling mengingatkan untuk menjaga sikap dan menjaga hutan supaya tetap alami dan lestari. Kami juga sesekali mendengar kicauan burung endemik enggano dan erangan dari kucing hutan yang menambah keseruan perjalanan kami dan tak sabar menghadapi hal-hal yang akan kami jumpai di depan.

  Di penghujung sore, Ayah sebagai penunjuk jalan mengajak kami ‘menepi’ di bawah batuan besar untuk kami bermalam. Saking besarnya, batuan tersebut menyerupai terowongan sehingga kami muat masuk di bawahnya. Sebagian dari kami menyiapkan peralatan memasak, sebagian yang lain melihat keadaan sekitar. Di ujung senja itu, kami menemukan akhirnya menemukan lokasi Batu Bajulang, salah satu spot ketika tracking di Tanjung Datu. Sesuai dengan namanya, Batu Bajulang adalah batu besar yang menjulang. Batu ini berada di sebuah tebing dengan kemiringan >45 derajat. Karena rasa penasaran, kami menaiki batu tersebut dengan sangat hati-hati. Salah sedikit, kami bisa terjun ke bawah tebing. Tapi, sungguh terbayar lunas. Pemandangan di Batu Bajulang yang menghadap ke barat mengantarkan kami pada senja yang sempurna berlatar lautan luas. Setelah matahari hari itu tunai tugasnya, kami bergegas turun, mengisi ulang energi untuk melanjutkan perjalanan esok hari.
Hutan Primer Temajuk (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
  Keesokan paginya, kami melanjutkan perjalanan menyusuri hutan Tanjung Datu. Kami masih dibuat takjub dengan berbagai pemandangan yang ada. Sesekali kami beristirahat untuk sekedar meneguk air atau mengunyah gula aren untuk mengisi ulang tenaga. Di sisa tenaga, Ayah angkatku menemukan jalan memisah. Di balik jalan yang sedikit berliku ini, terdapat semacam batu-batu besar untuk istirahat siang. Setelah melewati terowongan batu itu, ternyata kami menemukan harta karun. Ya, benar, kami bertemu dengan bunga Rafflesia! Sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Saking takjubnya, kami tidak beranjak dari tempat tersebut untuk beberapa waktu. Rafflesia yang kami temukan sepertinya sudah mekar beberapa hari dan masuk ke tahap layu atau hampir mati. Kalau ditilik dari sejarah dan lokasi serta kenampakan fisiknya, sepertinya yang kami temukan adalah spesies Rafflesia hasseltii yang memang lebih sering ditemukan di perbatasan Indonesia-Malaysia, termasuk di hutan Tanjung Datu. Selain itu, kondisi hutan yang masih alami dan tidak tercampur perilaku manusia membuat hutan ini menjadi habitat sempurna bagi beraneka hayati. Setelah kami puas memandangi, kami berjalan sedikit. Dan keajaiban selanjutnya, di balik tumpukan batu-batu besar, kami menemukan sumber mata air segar untuk melepas dahaga. Ah, surga dunia!
Bertemu Rafflesia di Tanjung Datu - 2015 (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
    Setelah puas beristirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan. Sedikit lagi kami akan mengakhiri trip menakjubkan ini. Sisa perjalanan kami isi dengan menyanyi, membuat video, dan bercerita mengamati hutan. Mulai dari lagu anak, lagu daerah, sampai lagu perjuangan tak henti kami dendangkan karena saking bersemangatnya kami. Hingga tidak terasa ketika sore menyapa dan kami mulai melihat rumah penduduk dari kejauhan. Mau tidak mau, berakhirlah petualangan kami menyusuri Tanjung Datu sampai disini. Tanjung Datu hanyalah salah satu surga dari keanekaragaman hayati yang ada di Pulau Kalimantan, dan itupun kami sudah dibuat takjub. Selain itu, Desa Temajuk sendiri adalah surga wisata di Kabupaten Sambas. Maka kembali kesini untuk mengulik berbagai rahasia alam adalah candu selain karena hati kami telah tertambat disini. Semoga, ada waktu untuk kembali mengunjungi ‘kampung kedua’ kami, dan juga untuk melanjutkan ekspedisi menyusuri berbagai keindahan alam di negeri ini. Tak lupa juga untuk senantiasa menanamkan dalam diri untuk menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari khalifah di Bumi Pertiwi.
Tim KKN KTB-03 2015

Sabtu, 18 Maret 2017

Tentang si Kakak dan Sixteen

Ceritanya pagi itu saya sudah siap-siap pergi menjemput rizqi (?) *apasih. Kemudian, qadarullah, si Kakak ditemukan gembos oleh tetangga kamar. What??? Kakak, apa yang kamu makan nak, perasaan semalam pulang masih sehat-sehat aja. Ada-ada aja hihi. xD

Seakan tau banget saya udah lama engga olahraga :p, akhirnya pagi-pagi harus menuntun si Kakak ke tambal ban terdekat. Karena sepertinya sudah sejak semalam bocor, jadi digeserpun sudah cukup berat, apalagi dituntun yak. Baru beberapa belas meter, saya sudah cukup merasa ‘menggeh-menggeh’ alias terengah-engah. *tariknapas*

Saking ‘panik’nya karena sebelumnya pernah bocor dan malah velg motornya penceng dan ngga enak dipake, saya bersemangat sekali menuntun si Kakak. Sampai akhirnya ketemu Ibu-Bapak yang ngeliatin saya aneh, seakan bilang: we lha ngopo embak ndadak dituntun barang, kurang gawean po piye  ._.  dan akhirnya menyarankan saya untuk ‘dinyalain aja mbak mesinnya’. Deg, baru sadar, kan bisa yaa nyalain mesin aja meski ga dinaikin yaa, kok tadi engga kepikiran kyaaa. Alhamdulillaah. Jrenggg, akhirnya perjuangan berlanjut xD

Pas jalan lagi, kebetulan menuju tambal ban saya dan Kakak harus melawan arus di jalan ringroad utara, subhanallah sekali.Aapalagi di arah berlawanan lampu hijau menyala, yak, semangat diliatin banyak orang :p mana si Kakak berat juga ya ternyataaa. Di tengah ‘perjuangan’ bersama si Kakak, kemudian saya jadi ingat sesuatu...

Perjuangan menyusuri pantai Sixteen di Temajuk :3 puasa2 siang bolong diantara pasir ya Allaah :’) 

Minggu, 31 Juli 2016

Salok pada Biak

Niat awalnya, mau nulis ‘beneran’ tentang kalian. Tapi di tengah perjalanan, rindu sudah memuncak. Draft ditutup berganti dengan foto kalian yang melayang-layang. ~















Apa kabar kalian disana, dek? Baik-baik kah?
Kakak salok inyan dengan kalian :’)
Belajar yang rajin, ya. Jangan lupa sholatnya. Patuh sama orangtua di rumah.
Kelak kite nak jumpa agek ie... ^^

Yogyakarta, 31 Juli 2016 00:05
Yang sedang memilin rindu,

Andika Putri Firdausy

Sabtu, 30 Juli 2016

Tiga Perlima Indonesia

Indonesia ini, luaaas sekali. Terbentang dari Sabang sampai Merauke yang jaraknya 5428 km, lebih dari 75% jari-jari Bumi. Terdiri lebih dari 17.000 pulau sehingga menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Garis pantainya, terpanjang nomor empat di dunia. membentang lebih dari 80.000 km. Kalau yang saya lihat dari video di GNFI nih, kita sampai butuh waktu 37 tahun (tiga puluh tahun meeen!!!) untuk genap menjelajahi seluruh pulau di Indonesia jika setiap hari kita berpindah pulau (linknya disini). Lantas, jika Indonesia aja seluas itu, Bumi ini apa? Lalu Saturnus? Jupiter? Bagaimana dengan Matahari? Bima Sakti? Ooh baiklah, semua itu membuat kita semakin kecil. Kecil hingga tak terhingga. Sungguh Allah Maha Besar.

Oleh karena kita ini sudah kecil, boleh lah ya punya mimpi-mimpi besar. And yes, one of my big dream is Keliling Indonesia! At least, ke lima pulau besar di Indonesia lah~

Saya ini orang Jawa asli, dan tinggal di Jawa. Sekolah juga di Jawa dari TK sampai kuliah. Lalu, apakah berhenti sampai disitu? Penak men, jelas tidak. :D Tentu saya tidak akan membiarkan mimpi saya keliling Indonesia menguap begitu saja. Satu-satunya yang terlihat nyata adalah program di UGM yaitu KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sebentuk program pengabdian masyarakat yang bisa dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. And yes, pastilah saya memilih ke luar Jawa.
*abaikanjudulnya*

Kenapa?

Minggu, 08 November 2015

Rindu pada Biak

Jendela Dunia - dari Ruang Belajar Sempadan, Agustus 2015
Sore ini, hujan gerimis mengguyur kota pelajar untuk pertama kalinya setelah lama kering kerontang. Beberapa hari terakhir mendung memang selalu mengiringi, namun bulir air langit belum juga turun. Hanya gerah semalaman yang terasa karena awan masih terus menggantung di atas langit, tetapi belum juga genap terkondensasi. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari kampus menuju rumah. Sore hari begini, akan terasa lebih nikmat dengan menyeduh teh panas ditemani sekaleng biskuit dan sebuah buku di rumah. Bayang-bayang teh manis panas segera menyeruak memenuhi kepalaku, kerongkongan yang kering kemudian mengaminkan otakku.

Aku ingin segera sampai di rumah. Lampu merah ini sungguh menghambat perjalanan. Sebenarnya tidak, mungkin kendaraan di depanku saja yang begitu. Berjalan teramat pelan dan menutupi jalan, sedangkan di depannya tidak ada satupun kendaraan yang merintanginya. Ah, yasudahlah, mungkin ia sedang ingin bermesra dengan rintik hujan sore ini.

Kupacu motorku sedikit lebih kencang, enggan jika tubuhku basah kuyup. Terlalu banyak benda yang tidak boleh terkena air di dalam tasku. Dan aku sendiri enggan kedinginan, lalu masuk angin yang justru akan menggagalkan semua agenda yang telah disusun. Aku memainkan gas motor dengan sangat lincah. Sedikit kencang, lalu kemudian pelan. Meliuk ke kanan, kencang sedikit, lalu kembali perlahan. Begitu seterusnya. Aku menikmati perjalananku sore ini, dengan rintik hujan dan angin sepoi yang menemani.

Di lampu merah kesekian aku berhenti. Pas sekali, setiap aku hampir sampai di persimpangan, rona hijau di deretan traffic light itu segera berubah menjad merah. Sepertinya Allah ingin menguji kesabaranku, atau mungkin hujan sedang rindu denganku. Aku segera berhenti dan merapikan barisan motorku. Tak lama segera kumatikan mesin motorku karena durasi menuju lampu hijau masih cukup lama. Sambil mengamati sekeliling, sayup-sayup terkedang suara dari pengeras masjid/mushola terdekat. Suara anak-anak kecil yang sedang memanggil temannya untuk mengaji di surau – TPA. “Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh. Teman-teman yang mau mengaji sudah ditunggu oleh teman-temannya..Yu..da Fa..jar, I..na, Me..ga,.... “. Dan tiba-tiba pikiranku melayang ke suatu sore di ujung sana...
~~~
Di Kota Pelajar ini, mereka – anak-anak TPA—selalu perlu untuk memanggil terlebih dahulu teman-teman mereka yang mau mengaji di surau melalui pengeras suara surau. Entah karena semangat mereka yang menggebu, atau karena belum ada yang datang. Aku juga tidak tahu pasti. Hanya saja, ini cukup berbeda dengan keadaan di luar sana.

Terkadang aku merasa semua ini cukup membingungkan; kalau aku tak boleh menyebutnya tidak adil. Betapa tidak? Bahkan di pelosok sana, sebagaimanapun cuaca, mereka bahkan selalu datang tepat waktu, bahkan lebih awal dibandingkan kami. Mereka rela menunggu berjam-jam, yang bahkan kami baru datang ketika waktu sudah hampir habis. Mereka rela menunggu, berlama-lama, ‘hanya’ untuk sedikit ilmu yang akan mereka dapatkan. Entah itupun apa. Rasanya, hati ini seperti teriris. Di Jogja, banyak sekali majelis ilmu dan TPA untuk anak-anak. Banyak sekali asatidz yang ‘rela’ menunggu anak-anak untuk mengaji, tetapi tidak sedikit yang enggan. Sedangkan jauh di luar sana, sadarkah, bahwa banyak anak-anak yang mau dan sangat ingin, bahkan sangat membutuhkan, tetapi tidak ada yang bisa mereka dapatkan? Fasilitas sangat terbatas disana, bahkan seorang gurupun sangat berharga.

 Di satu dusunku, terdapat puluhan anak keil, tetapi hanya ada satu surau aktif yang digunakan untuk belajar mengaji. Akan tetapi keadaan di dusun ini cukup baik karena ada Pak Haji yang bersedia mengajarkan mengaji kepada anak-anak. Hampir setiap hari mereka mengaji, tidak terbatas hanya di bulan Ramadhan saja. Saat kami berada di sana, mengaji mereka berubah menjadi dengan kami, bukan dengan Pak Haji disana. Mereka adalah anak-anak yang semangat dan ceria. Mereka selalu menebarkan kebahagiaan di muka-muka lelah kami setelah seharian mengerjakan program yang lain. Mereka juga biak-biak yang setia. Setia menunggu kami yang entah kapan datangnya. Kadang kami lupa, atau bahkan kadang kami sengaja pergi karena kelelahan. Tetapi mereka senantiasa sabar menunggu kami demi sesuap ilmu dan berkah yang mereka harapkan.

Ah, kalian dek. Senyum yang begitu tulus. Mata yang begitu berbinar. Maafkan kakak iie belum bisa menjadi kakak yang baik. Kakak sayang dan rindu kalian, dek... :’)


[7 November 2015 - To be continue...]

Berkumpul di Jannah