Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Februari 2019

Berjarak

"Distance means nothing, when someone means everything."

Sesungguhnya mau ngepost ini besok, iya, besok, tanggal Sebelas yang ketiga. Teringat bulan lalu, kamu bertanya, "Nggak nulis lagi?" hahaha aku cuma singkat menjawab; enggak. Kenapa? Karena maluuu kalau menulis tapi ada ybs di sebelah, heu.

Tapi, kuingat lagi, untuk apa lagi menunggu. Saat ini kamu juga sedang jauh disana. Kita tidak sedang bersama. Iya, kata orang, LDM - Long Distance Marriage. Hubungan pernikahan yang terbatas jarak.

Jarak, apakah kita sudah bersahabat dengan jarak? Hampir tiga bulan. Masih anak bawang. Tapi ya memang begini adanya. Aku yang harus berjibaku disini, dan kamu juga sedang berjuang disana. Kita sama, bukan? Dan kita pun sama-sama akan memperjuangkan jarak ini bersama.

Tiga bulan berjarak. Tentu tidak ada yang dengan sengaja menginginkan pernikahan seperti ini. Karena idealnya sebuah pernikahan adalah kebersamaan. Tapi tidak ada gunanya meratapi jarak, yang terpenting adalah bagaimana kita bersahabat dengannya.

Jarak.
Berkaitan erat dengan komunikasi. Iya, ketika sedang berjarak, perbanyaklah komunikasi. Mungkin akan banyak waktu, tenaga, tiket dan kuota (lol) yang tersita, tapi itu akan sangat membantu penyesuaian diri kita dengan yang bernama jarak. Apalagi, sebelumnya memang tidak ada apa-apa diantara kita, tidak saling tahu apapun, tidak mengerti apa yang disuka dan tidak disuka, tidak tahu bagaimana kebiasaannya, dan banyak hal lainnya. Pennyesuaian diri dengan jarak memang butuh waktu. Dan tentu saja kesabaran. Kesabaran diantara kita berdua. Saling memahami dan bergantian mengalah. Terima kasih telah bersabar dan berusaha dengan sebaik mungkin, Sayang..

"Distance means nothing, when someone means everything."

But then, when your spouse needs you and you're so far away, it's really hard and sad, tho..

But yes, it's okay, kita sudah berjanji untuk menjalaninya bersama-sama dengan baik.


Jarak, seperti di foto ini dimana kita sedang berjarak. Tapi kita tetap tersenyum kan meski tidak sedang berdekatan? (yaiyalah lagi poto wkwkw). Iya, begitulah seharusnya. Meski jauh, kita tetap tersenyum. Agar yang jauh, terasa dekat. Dan ketika dekat, tidak lupa tersenyum. 😊

"Ayo foto berduaaa"
"Katanya kalian nggak pernah foto berdua"
"Ih apasih alay" (tapi maju juga doi)
Terus foto dulu berempat.
Akhirnya foto berdua.
Iya, jauh-jauhan. Malu doi kayanya.
Sampai rumah.
"Lho, fotonya ini doang? Kok nggak ada yang deketan?"
"Cem mana lah pak, tadi siapa yang nggak mau foto, sekarang siapa yang protes, heu"

It's okay. Hanya foto. Yang penting, hati kita selalu dekat.

Sayang, thankyou for this three months. For every single thing you did, for every single thing we made. Let's fight for the journeys ahead together, till Jannah insyaaAllah. ❤


Jakarta, third month,

Mrs. Jihad

Selasa, 11 Desember 2018

Tiga Puluh Hari Bersamamu


Selamat satu bulan pernikahan, Sayang.
Tidak terasa hari terus berganti begitu cepat ketika kita bersama. Setengah dari perjalanan yang kita lalui bersama-sama. Menjadi manusia asing yang tiba-tiba adalah segalanya. Membuat kita sama-sama belajar bahwa hidup ini memang penuh perbedaan dan tentang bagaimana kita menjadikannya seirama dengan menemukan titik temunya.

Selamat satu bulan pernikahan, Sayang.
Waktu menjadi sedikit melambat ketika kita berpisah untuk sementara. Setengah dari perjalanan yang kita lalui bersama di tempat yang berbeda. Tak apa, selama kita masih di atas bumi dan di bawah langit yang sama. Menjadi manusia asing yang tiba-tiba harus saling memberikan perhatian dan pengertian. Menjadi manusia yang langkahnya menjadi sangat 'bergantung' pada layar enam inchi. Membuat kita sama-sama belajar bahwa jarak bukanlah penghalang yang berarti bagi orang-orang  yang sangat berarti.

Terima kasih, Sayang.
Telah datang dengan cara yang baik dan di waktu terbaik menurutNya. Terima kasih untuk satu bulan kebersamaan kita. Mungkin kita hanyalah dua manusia biasa yang dipertemukan takdirNya. Mari merawat cinta bersama, hingga bersama pula menuju surgaNya.

"Sakinah, tentram ketika bersama, juga tentram ketika berpisah", begitu katamu, bukan? Semoga Allah senantiasa memberkahi dan melimpahkan ketentraman pada keluarga kita.

Selamat satu bulan pernikahan, Sayang.
Semoga selamanya bersama.


Jakarta, 11 Desember 2018
Ny. Jihad

Senin, 10 Desember 2018

Sholat Malam dan Rindu

Di malam yang dingin dan sesunyi ini, menarik kembali selimut tentu sangat menyenangkan. Bebas dari hawa dingin dan nyamuk ganas ~

"Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk sholat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, ..."

Bentar deh.. Lima menit lagi...

"Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang. ..."

Eh?

=====

Surat Muzzammil ini, sungguh mencabik-cabik perasaan kita. Bagaimana bisa kita terlalu sibuk dengan dunia di siang hari, lalu di malamnya pun tak kita sempatkan waktu untuk menuntaskan rindu dengan Sang Pencipta?

Sering, kita sudah diberikan tanda untuk terbangun di malam hari. Sayangnya, sinyal-sinyal itu sering kita abaikan. Menarik lagi selimut adalah hal yang nikmat dan tak pernah ragu kita lakukan. Alarm yang sudah meraung-raung pun kita matikan cuma-cuma. Tunda lagi, tunda lagi. Sampai adzan menyahut-nyahut, baru kita terkaget-kaget. Atau, malah masih asik berselimut?

Padahal, sudah jelas bahwa Allah sudah memilih kita untuk menjadi satu dari sekian yang 'dipanggil'. Kadang, melalui hawa dingin yang tetiba menyeruak dan membuat kita terbangun menggigil. Kadang, melalui nyamuk ganas yang menggigit tanpa ampun hingga kita terbangun gatal-gatal. Kadang, melalui alarm yang meraung-raung, suara tetangga yang berisik, selimut yang terjatuh, keinginan untuk berhajat ke kamar mandi, atau hal-hal kecil lainnya yang mungkin tidak kita sadari bahwa itu adalah tanda.

Tanda, bahwa Allah sedang merindukan hambaNya.

Lalu, apakah kita menyambut panggilan rindu itu? Atau hanya sebatas lalu saja? Bukankah, di setiap sepertiga malam itu, adalah waktu terbaik kita bertemu denganNya? Seberat itukah menuntaskan rindu dengan Sang Pencipta? Seberat itukah kita tundukkan diri sejenak melalui Qiyamul Lail dibandingkan apa yang telah Allah berikan kepada kita? Apa kita tidak rindu? Apa kita tidak ingin membalas rindu itu?

=====

Ah iya, tentang rindu.
Barangkali rindu itu berat. Eh, emang berat sih ya. Tapi, bukankah kita tetap senang merindu? Bukankah kita menikmati setiap saat kerinduan sampai kita menyapa temu? Bukankah, kita akan melakukan dan memperjuangkan apapun untuk mempersiapkan pertemuan itu sebaik mungkin? Baik dengannya, apalagi denganNya, bukan? Baik dengan ciptaanNya, apatah lagi dengan Penciptanya, kan?

=====

Kalau sholat malam dan rindu sama-sama berat, barangkali kolaborasi keduanya akan saling meringankan? Semoga keduanya berujung pertemuan membahagiakan. Mari kita buktikan. ❤

Jakarta, 10 Desember 2018
Di ujung pagi, diantara nyamuk ganas, dan berisik musik tetangga. It's okay, mari menuntaskan rindu, juga untuk mempersiapkan temu :3

Senin, 22 Januari 2018

Akumulasi

Beberapa hari ini, entah mengapa banyak orang senang sekali mengiris bawang dekat-dekat denganku. Meski aku berkacamata, tak ada jaminan akan bebas dari semerbak bawang. Jadi, jangan salahkan jika kelenjar air mataku bekerja lebih keras dari biasanya..

Sejak kemarin-kemarin, bahkan aku belum sempat pamit secara paripurna kepada semua (atau belum menyempatkan?). Sungguh bukan karena tak ingin pergi dengan cara yang baik, tapi apalah daya diri yang hatinya tak ingin berpamit.

Kata Dilan, "Rindu itu berat, biar aku saja."

Sayangnya, Dilan cuma bilang ke Milea, bukan ke aku. Jadinya, harus juga aku "menanggung" rindu, meski belum sehari.

Maafkan atas pesan-pesan yang belum berbalas, sungguh diri ini tak sanggup membaca semua pesan itu. Biarlah hujan yang mengiringi sepanjang perjalanan menjadi pengganti atas ucapan, doa, dan semuanyaaa selama ini, semoga Allah berkahi, semoga Allah balas dengan kebaikan yang lebih baik dan lebih banyak. Sungguh, hanya Allah sebaik-baik Pemberi Balasan.

Satu lagi, mohon maafkan. Untuk semuanya.

Entah apa lagi. Banyak. Tapi belum bisa berkata. Yang pasti, semoga iman dan doa menjadi penghubung senantiasa.

(sedang di) Bangil (dan agak pusing?),
22 Januari 2018 00:30

Andika Putri Firdausy

Kamis, 18 Januari 2018

Memupuk Kenangan

"Tidak baik menumpuk kenangan," bisikmu kala itu.

"Kenapa?" Aku, dengan wajah penasaran, tentu saja ingin tau alasanmu. Bukankah selama ini kita mencipta banyak sekali kenangan?

"Karena hati manusia tidak seluas itu, sebenarnya. Ada kalanya, kita perlu menyingkirkan yang telah usang, dan menggantinya dengan yang baru", ucapmu tanpa ragu.

"Jahat sekali..." jawabku mengambang, sambil tak mengerti apa yang ada di pikiranmu.

"Bukan begitu. Tapi manusia memang berbatas bukan? Ada saatnya, dimana kita harus melangkah maju dengan tanpa ragu. Termasuk, jika harus memilah dan memilih mana hal-hal yang akan kita bawa terus berjalan, atau terpaksa kita singkirkan di tengah jalan".

"Apapun itu?"

 "Iya, apapun. Dan siapapun"

Kau menjawab dengan mudahnya, seakan tanpa beban. Sedangkan aku, waktu itu, masih dipenuhi banyak pertanyaan. Manusia sepertiku, yang terlalu banyak memupuk kenangan, yang terlalu banyak menyimpan harapan, sepertinya terlalu sulit untuk harus mengikhlaskan semua kenang.

Tapi, hari ini aku sadar. Perkataanmu, dulu, ada benarnya juga. Bukan, maksudku, benar sekali.

Ada kalanya, aku memang harus melepaskan sesuatu yang telah lama pergi, yang selama ini kubuat-buat saja seakan masih disisi. Aku harus terus hidup, dan belajar menerima keadaan. Bahwa yang ada di belakang hanyalah pelajaran, agar ke depan, aku bisa berjalan dengan tenang, memperbaiki yang akan datang.

Terima kasih atas nasihatmu kala itu. Kini kumasukkan namamu dengan baik dalam sekotak kardus yang akan kutinggalkan. Katamu, apapun dan siapapun, kan?



*ditulis ketika lagi milih baju, pindahan meninggalkan Jogja huhu, dan menemukan baju sejak SD waktu lomba tk prov hahaha.
Dasar manusia baper. Ayo berubah!!! >.<

(masih di) Y
ogyakarta, 
17 Januari 2018 11:40


Andika Putri Firdausy

Rabu, 17 Januari 2018

Nasi Kuning dan Ilham


Pagi ini, yang biasanya kulewatkan saja dengan merapel 'brunch' (if you know what I mean wkwk), qadarullah harus pergi keluar dan akhirnya pilihan (kembali) jatuh pada warung di pertigaan itu.

Ketika membeli nasi kuning di pertigaan itu, jadi inget dulu zaman masih maba tahun pertama-kedua, sering diajak kesana sama mbak kos karena dekat, dan murah!! Sampe hafal sama anak penjualnya yang kecil yang selalu ikut jualan, dan suka kugodain karena dia imyut nurut dan aku emang suka anak kecil hahaha.

Kemudian, keadaan mengharuskanku (?) berpindah berkali-kali, kaya siput wkwk. Dan ketika suatu saat kembali, aku mencoba mengurai memori dengan membeli nasi kuning dan/atau nasi pecel di tempat yang sama. Tapi yang kucoba cari ternyata sudah tiada.

Ku mencoba bertanya, "Ilham nggak ikut bu?". Iya, nama anak kecil itu Ilham. "Nggak mbak, Ilham sekolah". Kemudian aku tertegun, tercekat, dan entah apa lagi sebutannya. "Loh, udah sekolah?", setengah ku berbicara sendiri. Dia sudah SD sekarang. Pantas saja. Waktu sudah berlalu sampai sekarangpun aku sudah sarjana. Tentu saja bukan hanya aku yang melalui proses panjang, bukan? Seorang Ilham-pun jua.

Hari ini, ketika aku kesana lagi, aku sudah tidak mencari Ilham. Aku membeli nasi pecel seperti biasa. Harganya juga baru naik seribu rupiah sejak pertama kuliah. Ditambah gorengan yang dulu lima ratus rupiah dan sekarang seribu tiga.

Ah, Jogja.
Sebentar lagi, jika aku kembali, aku sudah bukan tuan rumah lagi. Tapi tamu. Kau mau suguhkan apa besok jika aku kembali?

(masih di) Yogyakarta,

17 Januari 2018

Andika Putri Firdausy

Selasa, 16 Januari 2018

Gembira Loka dan Pinguin

Saat-saat terakhir di Jogja kaya gini, yang well, sebenarnya sudah beberapa waktu lalu direncanakan, tetapi karena belum ada kepastian pada akhirnya menjadikan diri shantay-shantay manjah (?) hahaha dan, ketika tiba saatnya, kemudian menyadari bahwa masih sangat banyak yang belum dilakukan dan dikunjungi (dieksplor). Walaupun pada dasarnya, nggak cupu-cupu amat karena di Geografi kami sering diajak main ke tempat yang keren :D (yuk masuk Geografi wkwk #malahpromosi).


Ini Peta Gembira Loka Zoo, jadi kita bisa menentukan arah tujuan mengarungi kehidupan #eh
Singkat cerita, beberapa hari terakhir digunakan semaksimal untuk selain packing, juga pamit dan mengeksplor (?) tempat di Kota Sejuta Kenangan ini, heu. Dan terencanakanlah (?) main ke Gembira Loka, sebuah tempat wisata mini taman safari alias kebun binatang yang menurut brosur yang saya peroleh sewaktu membayar tiket, Gembira Loka ini ada karena waktu itu Sultan ingin mengembangkan “Kebon Rojo” atau tempat memelihara satwa raja menjadi tempat publik, kalau tidak salah baca, ada peran Belanda juga (?) *btw brosur dan petanya dibawa Nana jadi saya gabisa merujuk lagi hehe.

Gembira Loka, yang kemudian disingkat jadi GLZ alias Gembira Loka Zoo, ini terletak di lokasi yang cukup strategis, termasuk dalam kawasan Kota Yogyakarta, tapi sangat asri lingkungannya *iyalah ya, kebun binatang hehe. Tapi emang adem sih, walaupun kalau dibandingin sama Jatim Park 2 yang Zoo juga ga sebanding, *haha iya ini mah ga apple to apple siiih wkwk, tapi well recommend juga buat yang ke Batu dan sekitarnya #malah.
Foto ala-ala yang ngantrinya lama bbgit :D
GLZ tepatnya terletak di Desa Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta. Dari jalan utama Jogja-Solo, ada jalan layang namanya daerah Janti, pengunjung silakan mengambil arah ke selatan alias masuk ringroad timur (bisa lewat atas jembatan atau lewat bawah), kemudian pada perempatan pertama mengambil arah kanan (arah JEC), kalau tidak salah ada juga plang petunjuknya. Setelah itu ikutin jalan, dan di perempatan berikutnya ambil kanan lagi. Sampai deh, GLZ ada di sebelah kiri jalan :) Ohiya GLZ ini buka setiap hari dari pukul 07.30 – 17.30 dengan biaya retribusi Rp 25.000 di weekdays dan Rp 30.000 di weekend dan hari libur untuk usia 3 tahun ke atas.

Ohiya, kemarin saya kesana pas hari Ahad atau Minggu, jadi agak rame, heu, tapi cukup terkondisikan siih (dan alhamdulillah pengunjung lumayan sadar kebersihan).. Awalnya saya bilang ke Nana (saya kesini berdua sama Nana), kayanya enak kesini pas weekdays karena sepi tapi kata dia kalo weekdays ada beberapa hewan yang “disimpan” hehe. Jadi ada beberapa hewan (mostly burung siih) yang semacam dipajang (?) dan bisa buat foto bareng gitu sama pengunjung, yang kalau nggak hari libur sometimes nggak ada. 


Tapiii, tetep worth it sih karena ada banyaaaak banget hewan lainnya, mulai dari burung, musang, harimau, (sayangnya ga ada singaku sayang T.T), gajah, berbagai burung, elang :3, pinguiiin (nanti saya ceritain sendiri wkwk), rusa, beruang, sampai unta. Selain berbagai macam hewan, di GLZ juga ada beberapa wahana, dari naik sepeda (ini saya ga nemu siih hahaha tapi sempat liat dan dibilangin temen juga), kereta yang mengelilingi area GLZ, ada ATV untuk anak-anak, taman labirin, sampai bebek-bebekan (?) wkwk semacam wahana di air gitu, speed boat, sampai gethek wkwk. Seru pokoknya mah, sayang kemarin saya kurang fit, jadi jalan dikit udah pusing dan ngos-ngosan hahaha, tapi ga ada waktu lagi kalau mau nunggu badan fit wkwk. 


Si ganteng Pinguin Jackass yang kufoto sambil heboh sendiri wkwk
Ohiyaaa sebenarnya lebih seru lagi ke GLZ atau ke kebun binatang lain gitu bawa anak keciiil hehee karena sekalian mengenalkan mereka hewan-hewan ciptaan Allah yang luar biasa cem-macemnya masyaaAllah :”) pas ngeliat anak kecil lucu gitu kan sama orangtuanya, saya langsung inget sepupu yang masih TK sama bayik, terus bilang ke Nana, “aku pengen ngajakin sepupuku kesini deh”, eh terus dia bilang, “lah aku pengennya ngajak anakku”. Etdah nikah aja belum buukk ahahaha *okeskip. Ohiya btw ada satu kekurangan dari manajemennya yang menurut saya perlu dipikirkan ke depan: smoking area. Kaya sedih aja gitu, di tempat wisata yang pengunjung utamanya anak-anak, dan banyak hewan juga, eeh pada merokok dimana-mana :"( Kayanya untuk ke depannya perlu dibikin aturan khusus niih biar ga sembarangan gitu, paling enggak sediakan area khusus gitu kali yaa...hiks
Tentang Pinguin Jackass, dari Afrika
Ohiyaa (lagi wkwk)sebenernya hewan kesayangan saya (?) selama ini adalah singa, tapi entah kenapa kemarin tetiba jatuh cintrong sama pinguiiin :3 ya Allah dia lucu bangeeet syiiih beneraaan. Pinguin ternyata masuk ke kelas burung tapi yang gabisa terbang. Jadi habis dari Bird Park gitu, kita lewat di tempat Pinguin Jackass namanya, beneran dia imut banget ya Allaah :””) bisa kesit banget sampe saya motretnya heboh sendiri ngalahin anak kecil wkwk. Teruus, saya jadi inget cerita di Brazil yang ada seekor pinguin setiap tahun menempuh ribuan kilometer buat menemui seorang Kakek yang udah menyelamatkan hidupnya gitu, so sweet yaa :”) biasanya tau pinguin mah dari film kartun pinguin macem Madagascar wkwk. 

Pinguin :")
Dan pinguin adalah hewan yang setia, pantes aja yaa :””) dia marah dan pasti langsung berantem kalo anaknya ada yang ngambil atau dimangsa gitu. Dan, yang keren, tubuh pinguin itu mostly dua warna: putih di bagian dalam untuk melindungi mangsa dari dalam air waktu dia berenang, sedangkan warna gelap atau hitam untuk melindungi dari serangan mangsa dari atas atau darat, masyaaAllah yaaa :”) pokoknya love youuu pinguin pingin peluuukkk :”
Ini kita naik bebek-bebek-an yang dikayuh gitu lupa namanya hahaha heboh sendiri juga wkwk
Apalagi yaaa, pokoknya mah beneran seneng main kesiniii hehe. Dan asique-nya lagi, kita boleh bawa makanan pas masuk hehe jadi ga banyak jajan dan hemat :D menurut kemarin yang saya liat juga bakal ada beberapa spot baru seperti adanya SINGA dkk hehe tapi entah kapan :”) Ohiyaa selain pinguin yang menarik perhatian itu gajah huhu suka kasian gitu ga sih ngeliat gajah kaya udah sepuh (?) wkwk entah kenapa ada desiran (?) tersendiri kalo liat gajah :”) terus pas di Bird Park kita heboh sendiri ngeliatin dan berusaha capture burung Nuri yang lagi berduaan hahaha. Terus di akhir, kita heboh sendiri di wahana bebek di air (?) yang kita mancal sendiri itu wkwk.

Ini burung yang kita liatin terus wkwkwk
Pokoknya gitu, senaaang alhamdulillaah. Walaupun pulangnya tepar sampe besoknya :v ahaha (karena emang sebelumnya udah sakit siih wkwk). Tep yaa impian besar ke depan salah satunya punya tempat konservasi fauna (dan flora?) nanti kita cicil dulu beli tanahnya berhektar-hektar heu, aamiin, doakan gengs >.< segitu aja feature kita kali ini jalan-jalan ke Gembira Loka Zoo. Pan-kapan kita jalan-jalan lagi ke tempat yang lain, insyaaAllah. See ya!



(masih di) Yogyakarta,
16 Januari 2018

Andika Putri Firdausy

Minggu, 29 Oktober 2017

Teacher’s Diary: Saat Belajar Praktik Sholat

Ceritanya lagi perpisahan sama bu Ais karena mau ditinggal nikah, heu :"
Ketika Ramadhan 1438 hampir usai, setelah 'pelarian' panjang wqwq
Sesore kemarin, ga ada kelas seperti biasa karena gurunya banyak yang izin dan ada keperluan. Jadi kelasnya adalah belajar praktik sholat. I got jilid 4 keatas, jadi lumayan lah yaaa ga bocil2 banget wkwk. Sekolahnya pada kelas 2-6 SD, Cuma satu bocah yang masih TK. After a long practice, ya gitu lah, sebagian udah baik, sebagian masih perlu dibenahin dikit, sebagian lagi ogah-ogahan 😂 Capek kali yaa praktik sholat maghrib 3 rakaat dan dengan bacaan jahr jadinya lama. Belum lagi kalo gurunya 'iseng' pause dulu buat benerin gerakan temennya yang masih salah, dan jadilah makin lama wkwkwk.

Setelah selesai tiga rakaat, saya sadar kalo ini bocah2 pasti bakalan bosen kalo disuruh praktik lagi dkk, akhirnya, kesempatan emas datang: cerita 😂 Di TPQ yang kelasnya formal abis (?) karena udah ada pattern dari pusat, jadi agak susah menyelipkan cerita agak panjang. Singkat aja juga agak maksa, karena waktu yang ada emang pas banget buat ngaji 'doang'. Kalo dulu di TPQ waktu saya masih kecil, emang ada kelas sendiri Madrasah Diniyah namanya, setelah ngaji jilid dan Quran, dan pas banget kelas saya adalah kelas teratas alias assabiqunal awwalun wkwk jadi langsung diajar sm Ustadz 😍 Disitu ada pelajaran tarikh, fiqh, aqidah, bahasa arab, hadits, dkk. Full of knowledge banget! Sayang saya baru sadar pas udah agak gede dan udah gak ngaji lagi hahaha jadinya yaa gitu, ada yang masih nyantol banget, ada yang byar, heu.. Barakallahufiik Ustadz dan Ustadzah :”)

Balik ke kids jaman now, akhirnya saya nyeritain sedikit tentang 'sejarah' sholat. Terus, ceritalah kita tentang Isra' Mi'raj. Bahwa, perintah shalat lima waktu itu datang saat Isra' Mi'raj. Apa itu Isra Miraj? Isra adalah perjalanan Rasulullah dari Mekkah ke..mana hayoo? Madinah! Bukaan, itu mah hijrah, nak 😅 (Eh, kata Pandji ga boleh langsung disalahin yaak, bilang 'hampir', biar anaknya tetep semangat 😁).

Jadi, Isra adalah perjalanan Rasulullah dari Mekkah ke Negeri Syam atau Palestina. Disana, Rasulullah shalat bersama Nabi-Nabi yang lain dan malaikat Jibril juga di Masjidil Aqsa. Naah setelah itu, barulah peristiwa Mi'raj terjadi. Apa itu Mi'raj? Perjalanan dari bumi ke langit, dari Masjidil Aqsa ke Langit ke tujuh 😱😱😱 (disini mulai takut kalo salah menjelaskan karena kurangnya ilmu, tapi terlanjur karena udah di tengah jalan dan nak-anak udah pada curious overload heu).

Jadi, waktu naik kesana tuh, Nabi naik Buroq. Buu, buroq itu apa? Becak? 😳😅 Buroq adalah rrrrr mikir dulu wkwk. Kadang, bukan, seringnya, saya takuutt banget salah ngomong ke anak-anak. Karena, mereka daya ingatnya lebih kuat. Kalau salah ngomong, nanti bahaya jadi atsar, alias kesalahan yang bertumpuk kemudian. Juga, kalau 'salah berjanji', nanti ditagihnya ga berhenti2. Anak-anak kan, kaya cewe, kalau dijanjiin ga pernah lupa 😂😂 #skip

Akhirnya, kita cerita kesana-kemari. Dari cerita 'sejarah' sholat sampai Khulafaur Rasyidin. Disitu, makin makin lah sadar kalau ilmunya masih dikiiit banget, masih kuraaang banget ya Allah.. Udahlah ilmunya cethek, belum lagi ilmu buat menjawab dan facing the kids, kan beda yaa caranya, heu. Harus belajar lagi, belajar terus!

Sepanjang cerita juga sebenarnya saya banyak speechlessnya. Setelah bingung mau cerita apa lagi yang bisa menarik perhatian wkwk, akhirnya gantian nanya kalau ada yang mau bertanya. Kadang, mereka nanya yang, sebenarnya saya tahu sih, tapi kompleks dan susah menjelaskan ke anak-anak. Coba, ada yang nanya: Bu, Dajjal itu apa? Atuh kumaha jawabnya di tengah kelas gede gt heu akhirnya cuma jawab Dajjal itu Iblis. Heu.. Maafkan nak, lain kali semoga bisa menjelaskan dengan baik dan benar, memuaskan rasa ingin tahu kalian :”

Juga, belajar bahwa emang beda yaa bahasa nak-anak sama mbak-mbak. Ketika sedang cerita hijrahnya Nabi, tersebutlah bocah kelas dua SD bertanya, bu, Hijrah itu apa? Lalu, pas bahas yang lain, ditanya juga: nego itu apa? Dakwah itu apa? Dkk dkk 😅 Baru sadar, apa bahasanya ketinggian yaa.. Hmm. Perlu belajar menyederhanakan kalimat sepertinya. Ah, anak-anak..

Intinya kelas kemarin benar-benar mengajarkan banyak hal. Bukan hanya mereka yang belajar tentang sangat sedikit praktik dan sejarah shalat, justru gurunya lah yang belajar lebih banyak dari mereka, dari kepolosan dan keberanian mereka. Bahwa, apalah apalah ilmu yang baru nggak ada apa-apanya ini. Masih banyak yang harus dipelajari. Harus bedakan juga diksi ketika interaksi sama seumuran, lebih tua, dan lebih muda wabil khusus my bocils yang umurnya sangat beragam hihi.

Oiya satu lagii, kemarin pas entah cerita tentang apa, ada potongan sejarah yang saya lupa dan ada yang semisal tahun-tahun gitu yang emang ga saya hafalin, baca doang wkwk. Dan, salah satu anak bilang, Buu, kan itu ada di pelajaran SKI di sekolah (fyi dia sekolah di MI). Jleb, saya langsung merasa tercyduq dan tertohoq 🙈 langsung inget-inget jaman sekolah ((dulu)). Karena saya dari SD sampai SMA sekolah di sekolah negeri terus, jadi inputnya memang 'hanya' dari mata pelajaran PAI di kelas. (Tapi alhamdulillah sempat Madin jadi ada lah input lain selain di sekolah) Tapii, kok yo rasa-rasanya banyak banget yang saya lupa, apalagi tenyang tarikh 😭😭 Kalau ada pun, ga banyak, dan lebih banyak karena udah dipelajari ulang waktu saya ngaji di TPQ dulu, atau ketika udah gede baca dari buku atau dapat dari kajian :" Padahal ya, sebenarnya buku pelajaran kita pas sekolah tuh udah cerita banyak. Kalau kita mau baca. Kalau kita mau belajar. Heuu, jadi ngerasa berdosa gitu dulu sekolahnya kurang serius (?) dan ga beneran hafalin. Tapi, jadi mikir juga, apa jangan-jangan semua itu jadi cuma semacam formalitas yang setelah kita hafalkan lalu lupakan? Saking banyaknya yang harus dihafal? Jadi malah ya gitu, belajar hanyalah belajar ga sampe ke hati (?) Entahlah.

Yang jelas, pendidikan itu teramat sangat penting sekali. Utamanya lagi pendidikan agama. Agar, anak-anak kita kelak nggak buta arah dalam mengarungi kehidupan ini. Ada Islam, ada AlQuran, dan tentu saja ada Allah.

Pokoknya maah, thankyou for every single thing you unintentionally thought me. Love you to the moon and back, Kiddos! 💞

29 Oktober 2017/10 Shafar 1439

Love,

Your unperfect teacher

Minggu, 08 November 2015

Rindu pada Biak

Jendela Dunia - dari Ruang Belajar Sempadan, Agustus 2015
Sore ini, hujan gerimis mengguyur kota pelajar untuk pertama kalinya setelah lama kering kerontang. Beberapa hari terakhir mendung memang selalu mengiringi, namun bulir air langit belum juga turun. Hanya gerah semalaman yang terasa karena awan masih terus menggantung di atas langit, tetapi belum juga genap terkondensasi. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari kampus menuju rumah. Sore hari begini, akan terasa lebih nikmat dengan menyeduh teh panas ditemani sekaleng biskuit dan sebuah buku di rumah. Bayang-bayang teh manis panas segera menyeruak memenuhi kepalaku, kerongkongan yang kering kemudian mengaminkan otakku.

Aku ingin segera sampai di rumah. Lampu merah ini sungguh menghambat perjalanan. Sebenarnya tidak, mungkin kendaraan di depanku saja yang begitu. Berjalan teramat pelan dan menutupi jalan, sedangkan di depannya tidak ada satupun kendaraan yang merintanginya. Ah, yasudahlah, mungkin ia sedang ingin bermesra dengan rintik hujan sore ini.

Kupacu motorku sedikit lebih kencang, enggan jika tubuhku basah kuyup. Terlalu banyak benda yang tidak boleh terkena air di dalam tasku. Dan aku sendiri enggan kedinginan, lalu masuk angin yang justru akan menggagalkan semua agenda yang telah disusun. Aku memainkan gas motor dengan sangat lincah. Sedikit kencang, lalu kemudian pelan. Meliuk ke kanan, kencang sedikit, lalu kembali perlahan. Begitu seterusnya. Aku menikmati perjalananku sore ini, dengan rintik hujan dan angin sepoi yang menemani.

Di lampu merah kesekian aku berhenti. Pas sekali, setiap aku hampir sampai di persimpangan, rona hijau di deretan traffic light itu segera berubah menjad merah. Sepertinya Allah ingin menguji kesabaranku, atau mungkin hujan sedang rindu denganku. Aku segera berhenti dan merapikan barisan motorku. Tak lama segera kumatikan mesin motorku karena durasi menuju lampu hijau masih cukup lama. Sambil mengamati sekeliling, sayup-sayup terkedang suara dari pengeras masjid/mushola terdekat. Suara anak-anak kecil yang sedang memanggil temannya untuk mengaji di surau – TPA. “Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh. Teman-teman yang mau mengaji sudah ditunggu oleh teman-temannya..Yu..da Fa..jar, I..na, Me..ga,.... “. Dan tiba-tiba pikiranku melayang ke suatu sore di ujung sana...
~~~
Di Kota Pelajar ini, mereka – anak-anak TPA—selalu perlu untuk memanggil terlebih dahulu teman-teman mereka yang mau mengaji di surau melalui pengeras suara surau. Entah karena semangat mereka yang menggebu, atau karena belum ada yang datang. Aku juga tidak tahu pasti. Hanya saja, ini cukup berbeda dengan keadaan di luar sana.

Terkadang aku merasa semua ini cukup membingungkan; kalau aku tak boleh menyebutnya tidak adil. Betapa tidak? Bahkan di pelosok sana, sebagaimanapun cuaca, mereka bahkan selalu datang tepat waktu, bahkan lebih awal dibandingkan kami. Mereka rela menunggu berjam-jam, yang bahkan kami baru datang ketika waktu sudah hampir habis. Mereka rela menunggu, berlama-lama, ‘hanya’ untuk sedikit ilmu yang akan mereka dapatkan. Entah itupun apa. Rasanya, hati ini seperti teriris. Di Jogja, banyak sekali majelis ilmu dan TPA untuk anak-anak. Banyak sekali asatidz yang ‘rela’ menunggu anak-anak untuk mengaji, tetapi tidak sedikit yang enggan. Sedangkan jauh di luar sana, sadarkah, bahwa banyak anak-anak yang mau dan sangat ingin, bahkan sangat membutuhkan, tetapi tidak ada yang bisa mereka dapatkan? Fasilitas sangat terbatas disana, bahkan seorang gurupun sangat berharga.

 Di satu dusunku, terdapat puluhan anak keil, tetapi hanya ada satu surau aktif yang digunakan untuk belajar mengaji. Akan tetapi keadaan di dusun ini cukup baik karena ada Pak Haji yang bersedia mengajarkan mengaji kepada anak-anak. Hampir setiap hari mereka mengaji, tidak terbatas hanya di bulan Ramadhan saja. Saat kami berada di sana, mengaji mereka berubah menjadi dengan kami, bukan dengan Pak Haji disana. Mereka adalah anak-anak yang semangat dan ceria. Mereka selalu menebarkan kebahagiaan di muka-muka lelah kami setelah seharian mengerjakan program yang lain. Mereka juga biak-biak yang setia. Setia menunggu kami yang entah kapan datangnya. Kadang kami lupa, atau bahkan kadang kami sengaja pergi karena kelelahan. Tetapi mereka senantiasa sabar menunggu kami demi sesuap ilmu dan berkah yang mereka harapkan.

Ah, kalian dek. Senyum yang begitu tulus. Mata yang begitu berbinar. Maafkan kakak iie belum bisa menjadi kakak yang baik. Kakak sayang dan rindu kalian, dek... :’)


[7 November 2015 - To be continue...]

Kamis, 11 Desember 2014

Live and Passion

Well, sebenarnya awalnya tadi saya mau buat status. Tapi setelah ditulis kok ternyata panjang banget. Yaudin deh saya buat note aja di feacebook. :p

Setelah responsi ini tadi, saya mampir ke salah satu burjo terbesar se-Asia Tenggara *halah* untuk membeli makan. Sambil menunggu pesanan, tidak lama terdengar bunyi alunan gitar yang dipadu dengan harmonika. Berhubung saya menghadap ke dalam dan lagi merhatiin TV (nggak juga sih), saya males nengok ke belakang. Tapi dari suara musiknya sih, sepertinya saya kenal. 

Pasti bapak itu, batin saya. Waktu itu tadi, pas banget saya lagi nggak bawa uang, cuma selembar dua puluh ribuan buat bayar makan, jadinya emang nggak ada yang bisa diberikan. Ya kali minta kembalian ke pengamen ._. Pas orangnya lewat, ternyata tebakan saya benar.
Bapak yang itu, pengamen jalan, juga seniman yang sesungguhnya. Beliau begitu menikmati permainannya. Saya semakin nggak enak pas ngibas-ngibasin tangan tanda nggak bisa ngasih uang, eh malah si bapak mangggut-manggut dan tetap asik memainkan musiknya. Merduu banget. Sambil terus berjalan dari satu meja ke meja yang lain. Ternyata emang beliau sengaja nggak mengambil dulu ‘saweran’ yang diberikan karena ingin memainkan musiknya dengan nikmat terlebih dahulu.

Setelah lagunya selesai, baru bapak tersebut bilang, “Terima kasih mas, mbak. John Lennon, Imagine”. 

Itu mas-mbak yang ada disitu mukanya pada wah-wah ke arah bapaknya. Keren sih emang. Well, saya sendiri sudah pernah bertemu sebelumnya dengan beliau. Itulah mengapa saya berani menyebut beliau seniman yang sesungguhnya. Berkarya, tanpa menuntut apresiasi. Maksudnya, main ya main aja gituh, semacam ‘emang gue pikirin’ sama yang lain. Dan kalau boleh tebakan, ketikapun nggak ada yang ngasih, bapaknya pasti tetep seneng-seneng aja, hehe. Tapinya sih menurut saya pasti ada yang ngasih, soalnya emang bagus mainnya.

Anyway, poin pentingnya disini adalah, bahwa ketika kita melakukan sesuatu yang sesuai dengan passion kita, kita tidak akan merasa capek, lelah, atau bahkan terpaksa. Bahkan kita akan merasa bahagia telah melakukannya. Setidaknya, kita tidak membutuhkan apresiasi apapun dari orang lain karena kita ikhlas. And well, yang perlu kita lakukan sekarang adalah mencari apa sebenarnya passion kita. Kalau sudah ketemu, bagus!, tinggal bagaimana kita mengeksplor dan mengembangkannya. Jika belum? Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Lets found our passion and be great with it!

Selamat bersenang-senang!
Selamat mensyukuri setiap hal yang telah dianugerahkan kepada kita. Lets do the best, and let Allah do the rest~ 💕

Yogyakarta, 
11 Desember 2014

Minggu, 26 Oktober 2014

Bunga, Burung, dan Kupu-kupu

Bunga, Burung, dan Kupu-kupu

“Bunga tidak pernah tahu bahwa dirinya harum. Burung tidak pernah tahu kalau suaranya merdu. Dan kupu-kupu tidak pernah tahu kalau dirinya indah.”

Bukankah Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna?

Seringnya kita lupa, bahwa penciptaan manusia pada dasarnya memiliki tujuan yang besar. Sebagai hamba Allah, dan tentu saja sebagai khalifah di muka bumiNya. Allah menciptakan kita di dunia, bukan hanya untuk bersenang-senang, apalagi bersantai ria, tetapi lebih dalam yaitu memakmurkan bumi ini, beramar ma’ruf nahi munkar. Banyak sekali hal yang bisa kita lakukan untuk melaksanakan amanah tersebut. Jangan pernah berpikir bahwa itu hal yang sulit, karena bukankah setelah kesulitan ada kemudahan? Dan hei, Allah tidak akan menguji melebihi kemampuan hambaNya, kan? So, lets do it, dude!

Minggu, 21 September 2014

Secuil Cinta dari Jogja

Putri’s Ramadhan Diary: Secuil Cinta dari Jogja

Bismillah. Alhamdulillah, its Ramadhan! ^o^

Hari ini, saya merasa menjadi manusia yang paling lemah. Paling berdosa. Paling hina. BETAPA TIDAK? Hari ini masih di dalam bulan suci Ramadhan, dimana amal baik dilipatgandakan pahalanya, dimana pintu Surga dibuka selebar-lebarnya, dimana Neraka ditutup serapat-rapatnya, juga, dimana setan dan iblis dibelenggu. TAPI... Masih sempat-sempatnya saya bermalas-malasan dalam melakukan kebajikan? Astaghfirullah, ampunilah kami Rabb. Sungguh hanya Engkaulah Pembolak-balik hati kami...

RAMADHAN MASIH MALES2AN??? TERLALU! -,-“

***
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...

Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
***

Senin, 18 Agustus 2014

Indonesia, ku? (2) : Kado Untuk Negeri

..IndonesiaKobarkan semangatmuKan ku bela sampai habis nafaskuJangan pernah menyerahSudah terlalu lama kita terlelapBangkit dan raih semua mimpi..
Dari Mata Sang Garuda - Pee Wee Gaskins
Sumber: tribunnews.com

Berkumpul di Jannah