Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Juli 2019

Menyusuri Jejak Rafflesia di Tanah Perbatasan

Tanjung Datu, Agustus 2015 (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
   Siapa yang tak mengenal bunga Rafflesia? Selain bunga Melati Putih (Jasminum sambac) sebagai Puspa Bangsa dan Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) sebagai Puspa Pesona, terdapat satu lagi bunga yang dinyatakan sebagai bunga nasional yang dapat mewakili karakteristik bangsa dan negara Indonesia. Melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional, bunga Rafflesia (dalam hal ini Rafflesia arnoldii) ditetapkan sebagai salah satu bunga nasional dan menjadi identitas bangsa Indonesia. Bunga Rafflesia arnoldii  dalam bahasa Indonesia disebut juga dengan bunga Padma Raksasa atau juga disebut sebagai Puspa Langka. Penetapan ketiga bunga nasional ini dilakukan sebagai wujud pemerintah untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan juga mewujudkan perlindungan serta pelestarian bagi satwa dan bunga nasional. Dalam rangka Hari Keanekaragaman Hayati 2019, kali ini saya akan membahas mengenai salah satu bunga nasional tersebut.

     Rafflesia; sebagian orang menyebut bunga bangkai sebagai nama ‘lokal; dari bunga Rafflesia ini. Akan tetapi, ternyata yang disebut "bunga bangkai" ini bukan hanya Rafflesia saja. Terdapat sedikit salah kaprah dalam penyebutan “bunga bangkai” di kalangan masyarakat Indonesia. Terminologi bunga bangkai di kalangan masyarakat ini lebih merujuk kepada fisik dari bunga tersebut yang diwakilkan dengan kata "bangkai". Menurut pemahaman masyarakat, bunga bangkai adalah bunga yang memiliki aroma busuk, seperti aroma bangkai. Padahal, meski kedua jenis bunga tersebut sama-sama memiliki bau busuk, keduanya merupakan bunga sama yang sama sekali berbeda.

Perbedaan Bunga Rafflesia (kiri) dan Bunga Bangkai (kanan). (Sumber: bobo.grid.id)
     Bunga bangkai yang 'sebenarnya' memiliki nama ilmiah Amorphophallus titanum atau juga disebut dengan Bunga Bangkai Raksasa atau Titan Arum atau juga disebut dengan Suweg Raksasa. Dari segi fisik, bunga ini tentu sangat berbeda dengan bunga Rafflesia. Bunga bangkai adalah tumbuhan sempurna yang memiliki akar, batang, daun, dan bunga. Ukuran tumbuhan ini juga sangat besar. Bunga bangkai bisa mencapai tinggi hingga 1-2 meter dengan lebar mahkota bunga bisa mencapai 1-5 meter. Meski ukuran bunga bangkai lebih besar dibandingkan dengan bunga Rafflesia, akan tetapi bunga bangkai bukan merupakan bunga terbesar. Bunga ini tersusun dari banyak bunga kecil yang berada pada satu batang yang sama atau disebut pula dengan bunga majemuk. Selain itu, siklus hidupnya pun berbeda. Bunga bangkai merupakan tumbuhan sempurna yang dapat berfotosintesis dan berkembang biak sendiri. Akan tetapi, saat ini bunga ini sudah sangat berkurang di alam. Salah satu lokasi dimana bunga ini dapat ditemukan adalah di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, dimana pada saat tertentu ketika bunga ini sedang mekar (umumnya 5-7 hari) maka akan banyak wisatawan atau peneliti yang berkunjung untuk sekedar melihat atau mempelajari bunga bangkai ini.

    Berbeda dengan Bunga Bangkai yang termasuk kategori tumbuhan terbesar, Bunga Rafflesia termasuk ke dalam salah satu bunga terbesar di dunia. Rafflesia termasuk ke dalam tumbuhan endoparasit yang 'menggantungkan' hidupnya pada tumbuhan inang merambat yang disebut Tetrastigma. Karena termasuk parasit, maka Rafflesia adalah the real bunga” yang tidak memiliki batang, daun, dan serta akar layaknya tumbuhan sempurna. Bunga ini hanya memiliki bagian-bagian bunga yang berawal dari sebuah kelopak dan berakhir dengan lima mahkota bunga. Di bagian bawah bunga tersebut terdapat benang sari atau putik yang menunjukkan apakah bunga tersebut berjenis jantan atau betina. Karena bukan termasuk tumbuhan sempurna, Rafflesia tidak bisa melakukan fotosintesis sendiri. Perkembangbiakan bunga melalui penyerbukan Rafflesia dibantu oleh lalat yang tertarik dengan bau busuk atau menyengat dari bunga ini. Masa pertumbuhan bunga ini yang cukup panjang mencapai sembilan bulan tidak sebanding dengan masa mekarnya yang hanya berkisar 5-7 hari. Setelah itu, bunga ini akan layu dan mati.
Kelopak Rafflesia (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
     Rafflesia sendiri sebenarnya adalah nama sebuah genus. Pada genus Rafflesia tersebut, masih terbagi menjadi beberapa spesies. Hingga saat ini, terdapat 25 jenis atau spesies  Rafflesia yang dapat didefinisikan di seluruh dunia. Sebanyak 12 jenis Rafflesia tersebut dapat ditemukan di Indonesia. Beberapa nama spesies Rafflesia tersebut diantaranya adalah Rafflesia arnoldii (1818), Rafflesia patma (1825), Rafflesia rochussenii (1850), Rafflesia tuan-mudae (1868), Rafflesia hasseltii (1879),Rafflesia borneensis (1918), Rafflesia ciliata (1918), Rafflesia witkampii (1918), Rafflesia gadutensis (1984), Rafflesia keithii (1984), Rafflesia micropylora (1984), Rafflesia pricei (1984) dan Rafflesia tengku-adlinii (1989).

   Spesies Rafflesia pertama yang ditemukan adalah spesies Rafflesia arnoldii. Rafflesia arnoldii pertama kali ditemukan pada tahun 1818 di pedalaman Bengkulu Selatan. Bunga ini ditemukan oleh Dr. Joseph Arnold, seorang pemandu yang sedang mengikuti ekspedisi Thomas Stanford Raffles. Oleh karena itu, penamaan bunga ini disusun dari sejarah penggabungan antara Raffles dan Arnold. Habitat bunga ini umumnya tumbuh di hutan hujan tropis, sehingga di dunia hanya bisa ditemukan di beberapa negara tropis saja seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan tentu saja Indonesia. Di Indonesia sendiri, bunga ini endemik di beberapa wilayah, utamanya Sumatra, juga ditemukan di beberapa hutan di Kalimantan dan Jawa.

Potret Kebakaran Hutan di Hutan Kalimantan (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
      Rafflesia termasuk ke dalam jenis tumbuhan yang hampir punah. Beberapa faktor penyebab ancaman kepunahan tersebut ialah adanya faktor biologi Rafflesia itu sendiri yang dalam proses perkembangbiakannya tidak boleh ada gangguan manusia, mengandalkan inang untuk hidup, serta mengandalkan lalat untuk membantu penyerbukan. Padahal, waktu mekarnya benang sari dan putiknya sendiripun belum tentu bersamaan. Selain itu, habitat dari bunga ini yang hanya bisa tumbuh di hutan primer untuk dapat bertahan hidup juga menjadi salah satu ancaman dalam perkembangbiakannya. Maraknya pembalakan liar dan kebakaran hutan mempengaruhi laju deforestasti dari hutan-hutan primer di Indonesia. Hal ini tentu berpengaruh mengancam keberadaan habitat puspa langka tersebut. Akan tetapi, di balik itu permasalahan tersebut, masih terdapat berbagai keindahan alam di pelosok hutan yang rimbun seperti yang pernah kami alami tiga tahun silam.

     Sekitar pertengahan tahun 2015, kami (saya dan tim KKN PPM UGM KTB-03) berkesempatan melakukan pengabdian masyarakat di perbatasan Indonesia-Malaysia yang terdapat di Pulau Kalimantan, tepatnya di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Kami bertugas untuk mengabdi dan memberdayakan masyarakat di desa selama dua bulan (Juli-Agustus 2015). Singkat cerita di akhir masa pengabdian tersebut, tim kami berkesempatan untuk melakukan susur hutan di Tanjung Datu. Hutan ini terletak diantara dua negara: perbatasan Indonesia-Malaysia. Hutan ini termasuk hutan primer yang masih terjaga keindahan dan keasliannya.

Tim KTB-03 di Tanjung Datu - 2015 (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
         Perjalanan menuju Tanjung Datu kami awali dengan menaiki kapal dari dermaga Desa Temajuk menuju titik terluar perbatasan Tanjung Datu. Perjalanan menggunakan kapal kurang-lebih membutuhkan waktu sekitar 30-40 menit yang sangat menyenangkan. Dalam perjalanan kami menjumpai ikan-ikan yang berenang dan burung-burung yang riuh seakan menyambut kedatangan kami. Sesampainya di Tanjung Datu, rombongan kami segera bergegas naik menuju lokasi mercusuar untuk beristirahat. Meski siang hari, kami tetap bersemangat dengan sesekali mengabadikan momen dengan mengambil gambar.
   Sesampainya di lokasi mercusuar, kami dapat mengamati Laut Natuna dari atasnya. Kami juga sekilas memandangi hutan Tanjung Datu dan perbatasan Indonesia-Malaysia. For your information, selain berfungsi untuk membantu navigator untuk menentukan arah, mercusuar ini juga digunakan sebagai batas wilayah negara, termasuk mercusuar yang kami kunjungi di Tanjung Datu ini, sehingga memang ada petugas penjaga yang tinggal disini. Selesai kami melakukan rehat siang sejenak, kami melanjutkan perjalanan susur hutan. Sayangnya, tidak semua anggota tim ikut melakukan mini ekspedisi ini. Sebagian harus kembali ke desa untuk suatu urusan. Tinggallah kami bertujuh belas dan dua warga lokal yang mengantarkan kami melanjutkan perjalanan. Dan salah satu warga tersebut adalah Ayah angkat di rumah tinggalku selama KKN :)
Salam dari Tanjung Datu, Perbatasan Indonesia-Malaysia (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
   Di sepanjang perjalanan menyusuri hutan, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Mata kami dimanjakan oleh hutan primer yang berkanopi rapat dengan aroma tanah dan tanaman yang menyatu sempurna. Kami sangat menikmati perjalanan tersebut dengan sesekali bersenandung dan mengamati keadaan sekitar. Pohon yang menjulang, batu raksasa, dan sesekali kami harus menunduk melewati akar-akar raksasa. Tak lupa kami saling mengingatkan untuk menjaga sikap dan menjaga hutan supaya tetap alami dan lestari. Kami juga sesekali mendengar kicauan burung endemik enggano dan erangan dari kucing hutan yang menambah keseruan perjalanan kami dan tak sabar menghadapi hal-hal yang akan kami jumpai di depan.

  Di penghujung sore, Ayah sebagai penunjuk jalan mengajak kami ‘menepi’ di bawah batuan besar untuk kami bermalam. Saking besarnya, batuan tersebut menyerupai terowongan sehingga kami muat masuk di bawahnya. Sebagian dari kami menyiapkan peralatan memasak, sebagian yang lain melihat keadaan sekitar. Di ujung senja itu, kami menemukan akhirnya menemukan lokasi Batu Bajulang, salah satu spot ketika tracking di Tanjung Datu. Sesuai dengan namanya, Batu Bajulang adalah batu besar yang menjulang. Batu ini berada di sebuah tebing dengan kemiringan >45 derajat. Karena rasa penasaran, kami menaiki batu tersebut dengan sangat hati-hati. Salah sedikit, kami bisa terjun ke bawah tebing. Tapi, sungguh terbayar lunas. Pemandangan di Batu Bajulang yang menghadap ke barat mengantarkan kami pada senja yang sempurna berlatar lautan luas. Setelah matahari hari itu tunai tugasnya, kami bergegas turun, mengisi ulang energi untuk melanjutkan perjalanan esok hari.
Hutan Primer Temajuk (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
  Keesokan paginya, kami melanjutkan perjalanan menyusuri hutan Tanjung Datu. Kami masih dibuat takjub dengan berbagai pemandangan yang ada. Sesekali kami beristirahat untuk sekedar meneguk air atau mengunyah gula aren untuk mengisi ulang tenaga. Di sisa tenaga, Ayah angkatku menemukan jalan memisah. Di balik jalan yang sedikit berliku ini, terdapat semacam batu-batu besar untuk istirahat siang. Setelah melewati terowongan batu itu, ternyata kami menemukan harta karun. Ya, benar, kami bertemu dengan bunga Rafflesia! Sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Saking takjubnya, kami tidak beranjak dari tempat tersebut untuk beberapa waktu. Rafflesia yang kami temukan sepertinya sudah mekar beberapa hari dan masuk ke tahap layu atau hampir mati. Kalau ditilik dari sejarah dan lokasi serta kenampakan fisiknya, sepertinya yang kami temukan adalah spesies Rafflesia hasseltii yang memang lebih sering ditemukan di perbatasan Indonesia-Malaysia, termasuk di hutan Tanjung Datu. Selain itu, kondisi hutan yang masih alami dan tidak tercampur perilaku manusia membuat hutan ini menjadi habitat sempurna bagi beraneka hayati. Setelah kami puas memandangi, kami berjalan sedikit. Dan keajaiban selanjutnya, di balik tumpukan batu-batu besar, kami menemukan sumber mata air segar untuk melepas dahaga. Ah, surga dunia!
Bertemu Rafflesia di Tanjung Datu - 2015 (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
    Setelah puas beristirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan. Sedikit lagi kami akan mengakhiri trip menakjubkan ini. Sisa perjalanan kami isi dengan menyanyi, membuat video, dan bercerita mengamati hutan. Mulai dari lagu anak, lagu daerah, sampai lagu perjuangan tak henti kami dendangkan karena saking bersemangatnya kami. Hingga tidak terasa ketika sore menyapa dan kami mulai melihat rumah penduduk dari kejauhan. Mau tidak mau, berakhirlah petualangan kami menyusuri Tanjung Datu sampai disini. Tanjung Datu hanyalah salah satu surga dari keanekaragaman hayati yang ada di Pulau Kalimantan, dan itupun kami sudah dibuat takjub. Selain itu, Desa Temajuk sendiri adalah surga wisata di Kabupaten Sambas. Maka kembali kesini untuk mengulik berbagai rahasia alam adalah candu selain karena hati kami telah tertambat disini. Semoga, ada waktu untuk kembali mengunjungi ‘kampung kedua’ kami, dan juga untuk melanjutkan ekspedisi menyusuri berbagai keindahan alam di negeri ini. Tak lupa juga untuk senantiasa menanamkan dalam diri untuk menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari khalifah di Bumi Pertiwi.
Tim KKN KTB-03 2015

Sabtu, 27 April 2019

Bangil - Kota Sejuta Cerita

"Kamu asalnya darimana?"
"Orangtuaku aslinya Blitar. Aku juga lahir disana. Setelah menikah, orangtuaku kemudian merantau ke sebuah kota kecil bernama Bangil. Lalu kemudian aku dan adikku besar di sana. ..."

Barangkali begitu percakapan yang akan terjadi ketika ada yang bertanya kepadaku mengenai tempat tinggal. Aku akan repot-repot menjelaskan dulu bagaimana asal-muasal mengapa aku dan keluarga kami tinggal disana. Sampai akhir dunia kuliah pun, aku masih melakukannya. Sesederhana karena aku merasa belum memiliki alasan kuat kenapa harus 'menyombongkan' kota kecil itu.

Alun-Alun Kota Bangil (Sumber: pasuruankab.go.id)
1. Geografis dan Penduduk
Bangil merupakan nama sebuah kecamatan (saat ini menjadi ibukota kabupaten) di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Secara geografis kota kecil ini terletak di dataran rendah. Di bagian selatannya, terdapat beberapa gunung seperti Gunung Arjuna dan Gunung Welirang. Selain sumber air yang bagus dan tanah yang subur terutama di daerah yang lebih dekat dengan kaki gunung, salah satu yang menarik adalah pemandangan indah yang bisa dinikmati dari belakang rumah berlatar dua buah gunung seperti yang terlihat disini. Selain diapit pegunungan, di sisi timur laut kota kecil ini berhilir ke Laut Jawa. Tak jarang yang memiliki tambak di daerah pesisir pantai, baik tambak ikan maupun tambak udang.
Penduduk yang tinggal di Bangil berisi dari bermacam-macam suku, mulai dari Jawa, Madura, Arab, juga keturunan Tionghoa. Mata pencaharian mereka pun beragam, dari petani, nelayan, pedagang, hingga karyawan di industri-industri baik lokal maupun mancanegara yang tumbuh di daerah ini.

Lokasi Bangil di Google Maps (Sumber: maps.google.com)

2. Sejarah
Terdapat beberapa versi cerita tentang sejarah dari Kota Bangil ini sendiri. Dulu, aku sempat mendengar asal muasal yang sempat membuatku enggan menjadi bagian dari kota ini. Katanya, Bangil itu berasal dari kata Mbahe Angel (sulit), karena saking susahnya orang-orang sini diberitahu. Akan tetapi, setelah kubaca lagi, justru kata Bangil itu sendiri ada dua versi. Pertama, adalah Bangil dari kata Mbahe Angel, yang berarti dia teguh dengan prinsip Islamnya. Dan yang kedua, adalah Bangil yang berasal dari kata Mbahe Ngilmu. Keduanya, kemudian berkorelasi dengan banyaknya habaib atau ulama yang ada di kota ini. Hingga sekarangpun banyak pondok pesantren di Bangil sehingga kota ini pun memiliki julukan "Kota Santri".
Selain tentang dunia santri, salah satu sejarah yang terkenal dari Kota Bangil adalah tentang Sakera. Ia adalah seorang yang jujur dan membela orang kecil. Perjuangannya dalam membela kebenaran walaupun pada akhirnya tewas terbunuh karena pengkhiatan, menjadikan namanya dinobatkan menjadi nama suporter di kota ini: Sakera Mania.

3. Wisata dan Kuliner
Selain terkenal dengan berbagai kisah sejarah baik yang terjadi di Bangil maupun yang melatarbelakangi penamaan kota "Bangil", kota kecil ini tentu masih memiliki beragam pesona. Salah satunya adalah kuliner khas. Ialah Nasi Punel, yang menjadi andalan dari kota ini. Selain nasinya yang bersifat "punel" atau pulen, yang menjadi ciri khas dari Nasi Punel adalah isinya. Ada nasi, serundeng, daging (atau bisa pilih lauk lain), menjeng (semacam olahan kedelai), sate kerang, tahu bumbu bali, nangka muda, dan sebungkus kuah kelapa manis).
Kuliner lain yang menjadi khas di Bangil adalah Sate Kerang dan Kupang. Kupang adalah salah satu jenis makanan dari biota laut yang disajikan dengan lontong dan bumbu petis. Kedua makanan ini merupakan produk laut dikarenakan asosiasi lokasi yang dekat dengan laut.
Nasi Punel Khas Bangil (Sumber: gotravelly.com)
Selain makanan, Bangil juga terkenal dengan sebutan "Bangkodir" atau Bangil Kota Bordir. Banyak terdapat industri bordir yang tersebar di kota ini, dari skala rumahan hingga industri besar. Tidak sedikit bordir-bordir yang diekspor ke luar negeri, seperti pakaian, tas, hingga sepatu. Harga yang dibandrol juga bermacam-macam dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung kualitas bahan dan motif bordiran yang diinginkan.
_________________________________________________________________________________
Aku dan adikku di teras rumah, belasa tahun lalu
Waktu berlalu.
Sekitar satu tahun setelah lulus, aku diterima bekerja di salah satu instansi di Ibukota. Hal ini tentu membuatku meninggalkan tanah rantau kedua (yang pertama adalah Bangil) tempatku berkuliah dan belajar selama kurang-lebih lima tahun. Yang artinya, kini tempat rantauku adalah Jogja, dan bukan lagi Bangil, karena ia sudah menjadi tempat asal. Aku sering lupa, bahwa selama belasan kehidupanku jauh sebelum perkuliahan, ya kota ini -dengan segala isi dan ceritanya- yang membuatku bertumbuh, mengajarkan banyak hal, dan mencatat berbagai kejadian yang mengisi hari-hariku. Sekarang, aku tahu, bagaimana akan menceritakan daerah "asal" jika ada yang menanyakannya kembali kepadaku.
Selamat datang di Kota Bangil.
Bangil Kota Santri, Bangil Kota Bordir, Bangil Kota Sakera, dan,
Bangil, Kota Sejuta Cerita.



Jakarta, 27 April 2019

Wong mBangil



Referensi:
1. https://budayajawa.id/asal-usul-bangil-pasuruan/
2. https://www.pasuruankab.go.id/cerita-43-cerita-sakera.html

Rabu, 21 Februari 2018

Berkelana di Ibukota

Haaai akhirnya aku sampai kosan meski lewat maghrib wkwk. Sebenernya mau nulis yang lain tapi gapapa lah ini terlalu seru untuk dilewatkan 😂

Jadi ceritanyaaa, selasa kemarin motorku datang dari Jogja. Sebenarnya udah dari hari jumat, tapi karena ku harus pergi ke Serang dlsb, jadi baru diambil di sekitar Senen hari selasa pulang kerja. Pertama kali ketemu si "Abang", kageeet hahaha. Kotor banget lah dia parah, blethokan gitu. Itu sekitar jam 5an waktu ibukota, tau lah yaaa macet2nya kek mana wkwk. Bermodalkan gmaps, akhirnya ku pulang dengan selamat hehe alhamdulillah jalannya familiar dan ga ribet karena kayanya siih pernah lewat.. Daan langsung sore itu juga ku cuci bersih biar dia sehat dan siap mengarungi kerasnya (?) ibukota ~

Beberapa hari bawa motor ke kantor. Kesannya? Enak siih wkwk karena lebih murah. Banget. Which is biasanya ngegojek kalo pake gopay dan harga normal (bukan peak hour) kena 12ribu PP, pernah lebih. Sedangkan bensin full sekitar 25ribu bisa dipake lamaaa, seminggu lebih sih kayanya karena jarak kantor-kosan sekitar 3km lebih dikit. Selain itu lebih fleksibel juga kalo mau mampir entah beli makan atau yang lain. Cuma ya beda yaaa, tinggal duduk di ojek sm bawa motor sendiri. Tapi karena udah biasa juga di Jogja dulu jadi pembalap jadi malah lebih suka bawa motor sendiri wkwk. Cumaaan, ada satu hal sih yang sedih hahaha, stasiun deket sini ga ada parkiran jadi tetep harus gojek, dan harganya naik, biasa 8ribu kemarin 11ribu :((

Rasanya motoran di Jakarta?
Seru siiih hahaha melatih kesabaran bener dah 😂 karena sebenarnya macet bukan cuma di Jakarta sih yaa, dan alhamdulillah di daerah antara kos-kantor macetnya ga banyak, bahkan ga ngelewatin lampu merah sama sekali. Enaaakk alhamdulillah hihi. Cuma ya selain kitanya yang harus sabar, banyakin dzikir juga hehe, terus juga harus sigap dan ga boleh ragu. Karena selain bakal lama sampe, kita juga bakal diklaksonin teruuuss ama yang belakang hahaha. Bahkan nih ya, kita udah bener aja tetep di klakson, saking mereka pengen cepet -___- padahal mah ya, kalau mau sesuai aturan, harusnya bisa lebih tertib dan enak buat semua pengguna jalan, dan ga ngerugiin siapa2. Jadi ingat betapa kzl nya diriku di ringroad pas di Jogja, kalau ada mobil yang jalan di jalur lambat, tapi bikin dua lajur, which is sebenernya cuma muat satu mobil dan satu motor. Allahuakbar, rasanya kalo boleh pengen aku tabrak aja biar baret hahahaha jahat kali gue astaghfirullah :( tapi yaaa gimana yaaa, buat motor aja ngepas lhooo, malah dipaksa buat dua mobil. Njuk motornya suruh lewat atas mobil gitu ta? :(

Malah bahas di Jogja wkwk. Skip.

Oiyaaa selain yang tadi-tadi, yang penting juga dalam berkendara adalah, istiqomah wkwk. Elah , berkendara aja butuh istiqomah yeee 😅 Etapi bener lhoo, maksudnya tep istiqomah dalam menaati aturan. Semacam peraturan standar berkendara kek helm, lampu, surat dlsb, juga termasuk jalannya motor sebelah mana (ga masuk jalan busway -.-), lampu merah, dkk. Syusyah euy ternyata. Yaaa emang namanya istiqomah mah daridulu juga ga gampang yaaa :( tapi perlu dilatih euy. Semangat, Put! Kudu kuaaat.

Jadi, ceritanya, (calon) mamak-mamak satu ini, lagi galau abeeezzz gegara, belum nemu tempat belanja yang tepat gituh -,- Tepat means, murah hahahaha, dan lengkaap.. Karenaaa, entahlah orang2 ini suka kali belanja di mart-mart-an yang muahaaallll eeee gak ketulungan itu astaghfirullah T.T kalo dulu di Jogja mah (Jogja lagi Jogja lagi) buanyaakk yang murah hehe dan itupun masih sering kubanding2kan harganya, karena mereka deket juga kan, jadi hayuk aja cari yg diskon dlsb 🙈 500 yang berulang sangat berarti euy, apalagi anak kosan kan yaaa wkwk #mamakmamaklyfe

Singkat cerita ada keperluan mendesak yang harus segera dibeli gitu, dan udah sempet nanya ke beberapa orang dimanakah wakamsi (warga kampung sini) biasa berbelanja hehe. Awalnya mau ke Omi (koperasi kantor) aja dulu, seadanya, tapi karena tadi ada acara sampe agak sore gitu, Omi dah tutup. Dan pas udah belok keluar kantor langsung menyadari, eh sekarang ajadeh perginya, mumpung masih terang, dan sekalian aja gitu. Lalu ku searching lah di gmaps..

Nama tempatnya "Days" (alias Hari-Hari) di bahasa Indo-in wkwk (biar ga sebut merk, tapi naon bgt sih yak haha). Setelah melewati keganasan jalanan ibukota yang subhanallah banget yak jam lima sore, ditambah gatau jalan dan mengandalkan gmaps wkwk, ditambah pula letaknya yang unpredictable di dalam mall yang udah agak sepuh (?) dan menurutku agak ngeri sih sendiri (biasanya ga punya takut padahal hahaha cm ngerinya tuh lebih ke kriminal siih, bukan yg kek gitu..tau kan?).

Sampai dalam semacam jumbo mart nya, eeh bener ajaaa, harganya jauuuh bangeet sama yang di mart-mart-an deket kosan huhu. Langsuuung deh ngecek list barang2 yang dibutuhkan dan berkeliling. Alhamdulillaah mayaaan bangets, kusenang bisa menghemat puluhan ribu kali yaa kalo belanja segitu di sono :" tapi tetep ada yang belum kebeli siiih karena selain belum butuh banget, masih bisa diskip atau substitusi dengan barang lain, juga karena budget terbatas wkwk. Dan karena hari beranjak malam, mari kita segera pulang~

Jalanan ibukota setelah maghrib sekitar 18.30 kek mana? Hmm yhaaa gitu lah. Like, klakson everywhere, dude.! 😆 alhamdulillah mental map cukup aman lah yaa, jadi liat gmapsnya cuma sekali aja pas pulang. Yhaa udah cocok lah daftar driver ojol .-. Sebenernya masalahnya itu-itu aja sih, kesabaran menahan ego, karena lampu merah aja diterabas kan, apalagi yang ga ada traffic lightnya. Kebayang kan, kek mana orang2 rebutan biar dapat jalan duluan? Saya mah ngikut alur aja, karena kalo enggak, siap2 aja di klakson terus dr belakang haha.. Macet dikit juga di jalan arah Sunter-Kemayoran, biassaaa siih, setelah jalan besar tetiba jadi cuma satu lajur, jadi yhaa gitu, rebutan lagi wkwk.

Intinya mah, selama masih bisa jalan, jalan we lah. Asal ada tujuannya *yaiyalah. Dan yang jelas kudu bersabar polll. Ku jadi ingat di Jogja hampir selalu kzl sama mobil plat B karena mostly ngawur #eh hahaha, walau ada juga siih yang enggak. Eeh ternyata sekarang malah jadi orang sini (?) wkwk. Takdir Allah emang nggak ada yang tau yaa :"") malah kemana hahaha. Intinya sabar dan perbanyak dzikir di jalan, daripada di pake yang lain kan?

"Karena hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."

Sekian tjoerhad kali ini. Seeya.

Ditulis, 12 Februari 2018
Selesai diedit seminggu lebih kemudian, wk.

Selasa, 16 Januari 2018

Gembira Loka dan Pinguin

Saat-saat terakhir di Jogja kaya gini, yang well, sebenarnya sudah beberapa waktu lalu direncanakan, tetapi karena belum ada kepastian pada akhirnya menjadikan diri shantay-shantay manjah (?) hahaha dan, ketika tiba saatnya, kemudian menyadari bahwa masih sangat banyak yang belum dilakukan dan dikunjungi (dieksplor). Walaupun pada dasarnya, nggak cupu-cupu amat karena di Geografi kami sering diajak main ke tempat yang keren :D (yuk masuk Geografi wkwk #malahpromosi).


Ini Peta Gembira Loka Zoo, jadi kita bisa menentukan arah tujuan mengarungi kehidupan #eh
Singkat cerita, beberapa hari terakhir digunakan semaksimal untuk selain packing, juga pamit dan mengeksplor (?) tempat di Kota Sejuta Kenangan ini, heu. Dan terencanakanlah (?) main ke Gembira Loka, sebuah tempat wisata mini taman safari alias kebun binatang yang menurut brosur yang saya peroleh sewaktu membayar tiket, Gembira Loka ini ada karena waktu itu Sultan ingin mengembangkan “Kebon Rojo” atau tempat memelihara satwa raja menjadi tempat publik, kalau tidak salah baca, ada peran Belanda juga (?) *btw brosur dan petanya dibawa Nana jadi saya gabisa merujuk lagi hehe.

Gembira Loka, yang kemudian disingkat jadi GLZ alias Gembira Loka Zoo, ini terletak di lokasi yang cukup strategis, termasuk dalam kawasan Kota Yogyakarta, tapi sangat asri lingkungannya *iyalah ya, kebun binatang hehe. Tapi emang adem sih, walaupun kalau dibandingin sama Jatim Park 2 yang Zoo juga ga sebanding, *haha iya ini mah ga apple to apple siiih wkwk, tapi well recommend juga buat yang ke Batu dan sekitarnya #malah.
Foto ala-ala yang ngantrinya lama bbgit :D
GLZ tepatnya terletak di Desa Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta. Dari jalan utama Jogja-Solo, ada jalan layang namanya daerah Janti, pengunjung silakan mengambil arah ke selatan alias masuk ringroad timur (bisa lewat atas jembatan atau lewat bawah), kemudian pada perempatan pertama mengambil arah kanan (arah JEC), kalau tidak salah ada juga plang petunjuknya. Setelah itu ikutin jalan, dan di perempatan berikutnya ambil kanan lagi. Sampai deh, GLZ ada di sebelah kiri jalan :) Ohiya GLZ ini buka setiap hari dari pukul 07.30 – 17.30 dengan biaya retribusi Rp 25.000 di weekdays dan Rp 30.000 di weekend dan hari libur untuk usia 3 tahun ke atas.

Ohiya, kemarin saya kesana pas hari Ahad atau Minggu, jadi agak rame, heu, tapi cukup terkondisikan siih (dan alhamdulillah pengunjung lumayan sadar kebersihan).. Awalnya saya bilang ke Nana (saya kesini berdua sama Nana), kayanya enak kesini pas weekdays karena sepi tapi kata dia kalo weekdays ada beberapa hewan yang “disimpan” hehe. Jadi ada beberapa hewan (mostly burung siih) yang semacam dipajang (?) dan bisa buat foto bareng gitu sama pengunjung, yang kalau nggak hari libur sometimes nggak ada. 


Tapiii, tetep worth it sih karena ada banyaaaak banget hewan lainnya, mulai dari burung, musang, harimau, (sayangnya ga ada singaku sayang T.T), gajah, berbagai burung, elang :3, pinguiiin (nanti saya ceritain sendiri wkwk), rusa, beruang, sampai unta. Selain berbagai macam hewan, di GLZ juga ada beberapa wahana, dari naik sepeda (ini saya ga nemu siih hahaha tapi sempat liat dan dibilangin temen juga), kereta yang mengelilingi area GLZ, ada ATV untuk anak-anak, taman labirin, sampai bebek-bebekan (?) wkwk semacam wahana di air gitu, speed boat, sampai gethek wkwk. Seru pokoknya mah, sayang kemarin saya kurang fit, jadi jalan dikit udah pusing dan ngos-ngosan hahaha, tapi ga ada waktu lagi kalau mau nunggu badan fit wkwk. 


Si ganteng Pinguin Jackass yang kufoto sambil heboh sendiri wkwk
Ohiyaaa sebenarnya lebih seru lagi ke GLZ atau ke kebun binatang lain gitu bawa anak keciiil hehee karena sekalian mengenalkan mereka hewan-hewan ciptaan Allah yang luar biasa cem-macemnya masyaaAllah :”) pas ngeliat anak kecil lucu gitu kan sama orangtuanya, saya langsung inget sepupu yang masih TK sama bayik, terus bilang ke Nana, “aku pengen ngajakin sepupuku kesini deh”, eh terus dia bilang, “lah aku pengennya ngajak anakku”. Etdah nikah aja belum buukk ahahaha *okeskip. Ohiya btw ada satu kekurangan dari manajemennya yang menurut saya perlu dipikirkan ke depan: smoking area. Kaya sedih aja gitu, di tempat wisata yang pengunjung utamanya anak-anak, dan banyak hewan juga, eeh pada merokok dimana-mana :"( Kayanya untuk ke depannya perlu dibikin aturan khusus niih biar ga sembarangan gitu, paling enggak sediakan area khusus gitu kali yaa...hiks
Tentang Pinguin Jackass, dari Afrika
Ohiyaa (lagi wkwk)sebenernya hewan kesayangan saya (?) selama ini adalah singa, tapi entah kenapa kemarin tetiba jatuh cintrong sama pinguiiin :3 ya Allah dia lucu bangeeet syiiih beneraaan. Pinguin ternyata masuk ke kelas burung tapi yang gabisa terbang. Jadi habis dari Bird Park gitu, kita lewat di tempat Pinguin Jackass namanya, beneran dia imut banget ya Allaah :””) bisa kesit banget sampe saya motretnya heboh sendiri ngalahin anak kecil wkwk. Teruus, saya jadi inget cerita di Brazil yang ada seekor pinguin setiap tahun menempuh ribuan kilometer buat menemui seorang Kakek yang udah menyelamatkan hidupnya gitu, so sweet yaa :”) biasanya tau pinguin mah dari film kartun pinguin macem Madagascar wkwk. 

Pinguin :")
Dan pinguin adalah hewan yang setia, pantes aja yaa :””) dia marah dan pasti langsung berantem kalo anaknya ada yang ngambil atau dimangsa gitu. Dan, yang keren, tubuh pinguin itu mostly dua warna: putih di bagian dalam untuk melindungi mangsa dari dalam air waktu dia berenang, sedangkan warna gelap atau hitam untuk melindungi dari serangan mangsa dari atas atau darat, masyaaAllah yaaa :”) pokoknya love youuu pinguin pingin peluuukkk :”
Ini kita naik bebek-bebek-an yang dikayuh gitu lupa namanya hahaha heboh sendiri juga wkwk
Apalagi yaaa, pokoknya mah beneran seneng main kesiniii hehe. Dan asique-nya lagi, kita boleh bawa makanan pas masuk hehe jadi ga banyak jajan dan hemat :D menurut kemarin yang saya liat juga bakal ada beberapa spot baru seperti adanya SINGA dkk hehe tapi entah kapan :”) Ohiyaa selain pinguin yang menarik perhatian itu gajah huhu suka kasian gitu ga sih ngeliat gajah kaya udah sepuh (?) wkwk entah kenapa ada desiran (?) tersendiri kalo liat gajah :”) terus pas di Bird Park kita heboh sendiri ngeliatin dan berusaha capture burung Nuri yang lagi berduaan hahaha. Terus di akhir, kita heboh sendiri di wahana bebek di air (?) yang kita mancal sendiri itu wkwk.

Ini burung yang kita liatin terus wkwkwk
Pokoknya gitu, senaaang alhamdulillaah. Walaupun pulangnya tepar sampe besoknya :v ahaha (karena emang sebelumnya udah sakit siih wkwk). Tep yaa impian besar ke depan salah satunya punya tempat konservasi fauna (dan flora?) nanti kita cicil dulu beli tanahnya berhektar-hektar heu, aamiin, doakan gengs >.< segitu aja feature kita kali ini jalan-jalan ke Gembira Loka Zoo. Pan-kapan kita jalan-jalan lagi ke tempat yang lain, insyaaAllah. See ya!



(masih di) Yogyakarta,
16 Januari 2018

Andika Putri Firdausy

Jumat, 06 Oktober 2017

A Sudden Escape

Stasiun Bandung Kota

Pagi itu, akhirnya sampai juga di Kota Kembang. Alhamdulillaah. Impian (?) yang sudah lama terpendam dan juga direncanakan, pada akhirnya terlaksana tanpa rencana. Kadang Allah suka kasih kita surprise gitu. Jadi, jangan khawatir kalau rencana atau mimpi kita belum tampak batang hidungnya. Keep going. Suatu saat, Allah pasti sampaikan. 😎
Si dia lelah menunggu :P
Balik lagi, setelah hari kamisnya, di tengah2 riweuh (?) acara simposium sampai sore, si adek tetiba mengajak cabut ke Bdg. Singkat cerita, dg segala kemendadakan (?), akhirnya kita putuskan berangkat. Now or Never, heu. Malam itu, di tengah gerimis Jogja, berangkatlah ke Kota Kembang.

Jumat pagi di Bandung.
Alhamdulillah setelah chit-chat, dipertemukan dengan kawan lama yg skrg tinggal di Bandung. Arum dan pak suaminya, mas Endrian. Kita bertiga pertama bertemu tahun 2008
, saat lomba OSIS Award Kabupaten dan Kota Pasuruan. Tim saya waktu itu ada Pak Ketua (Faisol) dan Pak Wakil (Husni), bis kuning menjadi saksi perjuangan kami yang tiap minggu (?) PP Bangil-Pasuruan wkwk.
Me-Arum-Mas Endri, after 9 years separated *berasa apaan wkwk :v
Saat itu Arum dan saya (Faisol dan Husni juga) kelas 3 SMP, dan mas Endri kelas 3 SMK. Kami berhubungan tidak lama setelah acara itu saja, dan post-agenda membuat semacam pelatihan (?). Setelah itu lost contact. Ketemu lagi sama Arum tahun 2011, di Lomba Siswa Berprestasi Jatim waktu kita mau tampil seni wkwk. Udah itu aja. Then time flies. Arum dan mas Endri menikah 2015 dan sekarang tinggal di Bandung. Facebook lah perantara saya berhubungan lagi dengan Arum. Disitulah merasakan kebermanfaatan teknologi dan sosmed: mendekatkan yang jauh. Heuheu.

Full team. Dari depan: Me, Adek, Shanti/Shinta :D, Arum, mas Endri (@Farm House)
Singkat cerita, Arum dan keluarga (mas Endri, SinSan, dan Oing wkwk) menjadi guide terbaik kami hwaaa 😭 direpotin dadakan banget, dan udah baik banget 'nampung' kita berdua. Yakinlah gais, silaturahim itu penting, sodara juga. Mereka akan selalu bantu kita kalo kita butuh. Jangan lupa bantu juga orang lain, apalagi sodara dan kerabat, meski belum diminta :" Jazakumullahu khairan katsiran Arum dan keluarga :") Kata-kata terakhir di staisun: kalo kesini lagi udah bawa pasangan yaaa. Zzzzz. 

Adek, Me, Arum @Alun-ALun Bdg
Tak lama kami berdua berada di Bandung. Dua hari semalam, karena Sabtu sore sudah beranjak meninggalkan. Masih banyak kerabat yang belum ditemui, masih banyak tempat yang belum dikunjungi. Semoga Allah izinkan untuk kembali.

Hanya semalam di Bandung memberikan banyak kesan dan hikmah. Tentang takdir, ikhlas, dan jodoh wkwk.

"Bukankah yang terpenting dalam sebuah perjalanan asalah mengambil pelajaran?"


See you when I see you, Bandung.
💞

Thousands thanks for my best-travelmate si Adek sayangs 
😘
Bosscha, finally!
Nantikan kelanjutan kisahnya wkwk #naonsi

Yogyakarta, 6 Oktober 2017
Love,

Andika Putri Firdausy

#ExploreBandung #PutriPejuang

Sabtu, 18 Maret 2017

Tentang si Kakak dan Sixteen

Ceritanya pagi itu saya sudah siap-siap pergi menjemput rizqi (?) *apasih. Kemudian, qadarullah, si Kakak ditemukan gembos oleh tetangga kamar. What??? Kakak, apa yang kamu makan nak, perasaan semalam pulang masih sehat-sehat aja. Ada-ada aja hihi. xD

Seakan tau banget saya udah lama engga olahraga :p, akhirnya pagi-pagi harus menuntun si Kakak ke tambal ban terdekat. Karena sepertinya sudah sejak semalam bocor, jadi digeserpun sudah cukup berat, apalagi dituntun yak. Baru beberapa belas meter, saya sudah cukup merasa ‘menggeh-menggeh’ alias terengah-engah. *tariknapas*

Saking ‘panik’nya karena sebelumnya pernah bocor dan malah velg motornya penceng dan ngga enak dipake, saya bersemangat sekali menuntun si Kakak. Sampai akhirnya ketemu Ibu-Bapak yang ngeliatin saya aneh, seakan bilang: we lha ngopo embak ndadak dituntun barang, kurang gawean po piye  ._.  dan akhirnya menyarankan saya untuk ‘dinyalain aja mbak mesinnya’. Deg, baru sadar, kan bisa yaa nyalain mesin aja meski ga dinaikin yaa, kok tadi engga kepikiran kyaaa. Alhamdulillaah. Jrenggg, akhirnya perjuangan berlanjut xD

Pas jalan lagi, kebetulan menuju tambal ban saya dan Kakak harus melawan arus di jalan ringroad utara, subhanallah sekali.Aapalagi di arah berlawanan lampu hijau menyala, yak, semangat diliatin banyak orang :p mana si Kakak berat juga ya ternyataaa. Di tengah ‘perjuangan’ bersama si Kakak, kemudian saya jadi ingat sesuatu...

Perjuangan menyusuri pantai Sixteen di Temajuk :3 puasa2 siang bolong diantara pasir ya Allaah :’) 

Sabtu, 17 Desember 2016

Three Years, Three Steps

Kyoto, 15 Desember 2013
It has been three years since that day ~
Saatnya kontemplasiii

Sejak perjalanan yang lalu, apa yang sudah didapatkan?
Apa yang sudah terlewati?
Mimpi bagian mana yang sudah tercapai?
Hmm rasa-rasanya diri ini masih terlalu jauh dari tujuan besar penciptaan :"

Jepang. Satu pengalaman yang menjadi buah dari berkumpulnya beberapa mimpi: naik pesawat, presentasi di luar negeri, jalan-jalan ke luar negeri, dan, of course, megang salju! Ehee. Agak kampungan? Biarin, daripada engga punya mimpi :p

Pulang dari Jepang, sama halnya dengan perjalanan jauh lainnya (katanya), membuat kita (saya) memiliki pandangan yang lebih luas tentang arti kehidupan. Pikiran jadi lebih terbuka, tidak hanya dalam tempurung Indonesia, terutama Jawa saja. Banyak pertanyaan-pertanyaan menemukan jawabannya. Banyak pula hikmah dari setiap kejadian yang terjadi, mulai dari tahap persiapan keberangkatan sampai kembalinya kami ke tanah air. Semoga bukan hikmah sesaat, ya. Tetapi benar-benar bisa menjadi pelajaran dalam menjalani kehidupan.
.

First, about partner.
Kyoto, 15 Desember 2013
Tau apa yang membuat saya bisa sampai di titik ini? Iya, orang-orang di sekitar saya. Kita tidak akan pernah bisa berjalan jauh jika sendirian. Memang sih, berjalan bersama-sama itu lamaaa banget. Sering gesekannya juga. Tapi, tujuan kita jelas. Dan ada sosok yang akan saling menguatkan dan mengingatkan kita di sepanjang perjalanan.

Dalam setiap tujuan dan pencapaian, saya lebih sering berpartner alias membentuk tim. Meski tidak selalu sama komponennya, tapi ada dua tim yang saya merasa sangat sejalan bersama mereka. Salah satunya, dan memang yang paling awal, adalah tim atau partner perjalanan saya ke Jepang.

Ke Jepang, zaman saya waktu itu (berasa udah berabad-abad aja :p), tidak semudah sekarang. Ngg, ini lebih ke perspektif dan euforia (?) siih. Dulu mah belum sebanyak sekarang informasi tentang dunia ke-luar-negeri-an baik yang konferensi atau exchange (atau sayanya yang dulu cupu banget yak? #eh). Dulu juga tidak segampang sekarang mencari sponsor, walaupun sekarang juga tidak bisa dibilang mudah. Dulu juga mah di tempat saya kuliah, apalagi mahasiswa muda-mudi ‘aneh’ banget kalau sampai ‘bertingkah’ ke luar negeri segala. Sesuatu deh. Makanya itu butuh perjuangan ekstra. Termasuk dalam menghadapi dinamika perkuliahan (baca: praktikum) di tahun kedua itu sesuatu syekalih. Dan dalam berjuang, sendiri itu engga enak. Serius. (Lain kali saya cerita bagian ini). That’s why we need journey’s partner. #tsaaah

Intinya mah, mencari partner yang sevisi itu sangat penting. Saya sangat bersyukur dipertemukan Allah sama partner yang luar biasa. Ima, Azza, Isna, dan Pipit, dengan segala kelebihan dan kekurangan, juga ke-luar-biasa-an mereka. Pengalaman pertama yang akan menjadi pelajaran bagi pencarian pengalaman-pengalaman selanjutnya. Meski pada akhirnya kita bersilang jalan #eaa, tapi aku yakin mimpi terbesar kita masih sama, fingers... :”) *tetibamellow.
.

Setelah partner, second is about work.
Kumamoto Univeristy, 13 Desember 2013
Setelah mempunyai ‘komposisi’ partner yang pas, pembagian kerja adalah hal yang sangat penting. Keduanya saling berkaitan. Kan ngga mungkin ya, kalau kita punya tujuan besar, tapi cuma diem-diem aja? Yah, itu mah sama aja ngga bakal dapat apa-apa. Kalau waktu itu sih, kami harus pandai-pandai ‘membelah diri’ dengan urusan paper, administratif ke Jepang, kuliah dan praktikum, organisasi, dan urusan pribadi kami masing-masing.

Kalau boleh jujur, IP saya semester tiga waktu itu adalah IP paling rendah selama saya kuliah :’D Kenapa? Karena saya sering bolos, hiks. Engga diing.. Sebenarnya itu hak saya siih, karena kan toleransi kehadiran 75%, jadi sayang aja gitu kalau disia-siakan #ngeles. Tapi jeleknya, saya jadi terlalu memaksimalkan, dan hampir di semua mata kuliah yang saya ikuti waktu itu saya absen 2-3 kali. Itu aja saya masih lari-lari mengejar berbagai tugas dan laporan praktikum, belum amanah organisasi juga. Seru lah pokoknya :3 Sampai saya yang paling tidak bisa begadang harus minum kopi dan masuk angin disusul demam karena harus menyelesaikan banyak hal.

Menyesal?  Oh, tentu tidak! Tapi tidak menyesal bukan berarti harus mengulanginya kan? Hehe.. Ambil hikmahnya aja: skala prioritas dan harus belajar mengurangi waktu tidur :) biar ngga kaya bayi yang banyak tidur wkwk (ini emang PR sejak lama dah -,-) Jadi, sebanyak apapun pekerjaan, tetap harus diselesaikan semua. Jika kita punya A, B, dan C yang harus diselesaikan, maka kita harus memberikan 100% ketika mengerjakan A, 100% ketika mengerjakan B, dan 100% juga ketika mengerjakan C. Karena, fokus itu sangat penting! Saya paling menghindari ketika kuliah disambi dengan mengerjakan yang lain. No! Selain itu tidak beradab (tidak sopan maksudnya ehee), itu juga mengganggu konsentrasi kita. Dan justru kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari yang kita lakukan. Saya juga sih mengejar keberkahannya aja. Toh kalau kita sedang berbicara di depan, juga pasti sedih kan kalau ada yang usrek  sendiri di belakang? Ini mah masalah lain lagi tentang bercermin, tapi penting juga dalam kehidupan :)

Cukup disitu? Hmm tidak juga. Sepulang kuliah dan menuntaskan amanah kampus, malam hari kami biasa berkumpul di ‘basecamp’ untuk membicarakan berbagai hal. Mulai dari persiapan keberangkatan sampai tentang mimpi-mimpi kami. Atau sekedar haha-hihi menghilangkan penat sejak sehari beraktivitas. Yang jelas, semua persiapan itu membutuhkan energi yang tidak sedikit. Menguras kantong sampe kering sekeringnya. Bahkan pernah menguras hati saking penatnya. *emang kamar mandi di kuras :D

Tapi kami yakin, semua lelah dan perjuangan kami akan terbayar lunas. Dan itu terbukti, bahkan surplus. :)
.

Last but not least, third is pray.
Kyoto, 15 Desember 2013

Pernah dengar pepatah ini: “If you work, you work. If you pray, God work.” ?

Yes, karena sebagai hambaNya, kita sudah barang tentu memiliki hubungan khusus yang tidak akan bisa diusik oleh sesiapapun jua. Tingkatan tertinggi setelah usaha adalah doa, baru setelah itu kita berserah diri. Doa adalah bagian yang sangat penting. Bukan hanya doa dari kita pribadi, tapi juga orang lain, terutama doa dan ridho dari orangtua kita. Terutama lagi, Ibu. Doa akan menjadi pembuka jalan yang akan melancarkan dan menguatkan usaha-usaha yang akan kita lakukan. Dan karena kita yakin bahwa jawaban dari setiap doa adalah “Iya”, maka berserah diri adalah ujungnya. Wis to, pokoknya mah, setelah usaha yang maksimal, doa maksimal, insyaAllah semua akan lancaaarrr dan hasilnya adalah yang terrbaiiik ;)
.

Jadi ini sih intinya, sesuatu yang besar didapatkan dengan pengorbanan yang besar jua.
Tidak bisa kita pengen ini-itu tapi yang dilakukan juga cuma itu-itu lagi, itu-itu doang. Mungkin bagi sebagian orang, konferensi mah gitu doang, sepele. Ke Jepang juga cuma situ doang, gampang. Tapi bagi kami, bagi saya utamanya, perjalanan ke Jepang memberikan hikmah yang luar biasa dalam diri saya. Tentu masih banyak hal yang harus saya perbaiki dari diri saya, tapi saya tidak bisa mengatakan bahwa tidak ada yang saya dapatkan sepulang dari Jepang, justru banyaak!

Soo, keep fighting on your dreams! Jaga diri (dan hati) supaya tetap on the track  dengan tujuan besar kehidupan *halah yang sudah kita bangun sejak awal. Penyesuaian dengan realita sedikit tidak masalah. Tapi bukan berarti kita akan menyerah dengan keadaan. Yang membuat kita berhenti hanya Allah, bukan kelemahan kita. Terlalu banyak alasan yang membuat kita harus lebih banyak bersyukur dan terus bekerja keras. Kalau kata Pak Dis sih; bersyukur dengan cara bekerja keras :D Selamat berjuaaang!
.
Semoga tulisan ini juga menjadi pengingat bagi diri agar senantiasa tegar dalam berjuang :’)

Selesai ditulis di Yogyakarta, 16 Desember 2016 23:52

Your Journey Partner,

Andika Putri Firdausy a.k.a #PutriPejuang a.a.k.a #FirdausyFighter

Sabtu, 30 Juli 2016

Tiga Perlima Indonesia

Indonesia ini, luaaas sekali. Terbentang dari Sabang sampai Merauke yang jaraknya 5428 km, lebih dari 75% jari-jari Bumi. Terdiri lebih dari 17.000 pulau sehingga menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Garis pantainya, terpanjang nomor empat di dunia. membentang lebih dari 80.000 km. Kalau yang saya lihat dari video di GNFI nih, kita sampai butuh waktu 37 tahun (tiga puluh tahun meeen!!!) untuk genap menjelajahi seluruh pulau di Indonesia jika setiap hari kita berpindah pulau (linknya disini). Lantas, jika Indonesia aja seluas itu, Bumi ini apa? Lalu Saturnus? Jupiter? Bagaimana dengan Matahari? Bima Sakti? Ooh baiklah, semua itu membuat kita semakin kecil. Kecil hingga tak terhingga. Sungguh Allah Maha Besar.

Oleh karena kita ini sudah kecil, boleh lah ya punya mimpi-mimpi besar. And yes, one of my big dream is Keliling Indonesia! At least, ke lima pulau besar di Indonesia lah~

Saya ini orang Jawa asli, dan tinggal di Jawa. Sekolah juga di Jawa dari TK sampai kuliah. Lalu, apakah berhenti sampai disitu? Penak men, jelas tidak. :D Tentu saya tidak akan membiarkan mimpi saya keliling Indonesia menguap begitu saja. Satu-satunya yang terlihat nyata adalah program di UGM yaitu KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sebentuk program pengabdian masyarakat yang bisa dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. And yes, pastilah saya memilih ke luar Jawa.
*abaikanjudulnya*

Kenapa?

Berkumpul di Jannah