Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Juli 2019

Menyusuri Jejak Rafflesia di Tanah Perbatasan

Tanjung Datu, Agustus 2015 (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
   Siapa yang tak mengenal bunga Rafflesia? Selain bunga Melati Putih (Jasminum sambac) sebagai Puspa Bangsa dan Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) sebagai Puspa Pesona, terdapat satu lagi bunga yang dinyatakan sebagai bunga nasional yang dapat mewakili karakteristik bangsa dan negara Indonesia. Melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional, bunga Rafflesia (dalam hal ini Rafflesia arnoldii) ditetapkan sebagai salah satu bunga nasional dan menjadi identitas bangsa Indonesia. Bunga Rafflesia arnoldii  dalam bahasa Indonesia disebut juga dengan bunga Padma Raksasa atau juga disebut sebagai Puspa Langka. Penetapan ketiga bunga nasional ini dilakukan sebagai wujud pemerintah untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan juga mewujudkan perlindungan serta pelestarian bagi satwa dan bunga nasional. Dalam rangka Hari Keanekaragaman Hayati 2019, kali ini saya akan membahas mengenai salah satu bunga nasional tersebut.

     Rafflesia; sebagian orang menyebut bunga bangkai sebagai nama ‘lokal; dari bunga Rafflesia ini. Akan tetapi, ternyata yang disebut "bunga bangkai" ini bukan hanya Rafflesia saja. Terdapat sedikit salah kaprah dalam penyebutan “bunga bangkai” di kalangan masyarakat Indonesia. Terminologi bunga bangkai di kalangan masyarakat ini lebih merujuk kepada fisik dari bunga tersebut yang diwakilkan dengan kata "bangkai". Menurut pemahaman masyarakat, bunga bangkai adalah bunga yang memiliki aroma busuk, seperti aroma bangkai. Padahal, meski kedua jenis bunga tersebut sama-sama memiliki bau busuk, keduanya merupakan bunga sama yang sama sekali berbeda.

Perbedaan Bunga Rafflesia (kiri) dan Bunga Bangkai (kanan). (Sumber: bobo.grid.id)
     Bunga bangkai yang 'sebenarnya' memiliki nama ilmiah Amorphophallus titanum atau juga disebut dengan Bunga Bangkai Raksasa atau Titan Arum atau juga disebut dengan Suweg Raksasa. Dari segi fisik, bunga ini tentu sangat berbeda dengan bunga Rafflesia. Bunga bangkai adalah tumbuhan sempurna yang memiliki akar, batang, daun, dan bunga. Ukuran tumbuhan ini juga sangat besar. Bunga bangkai bisa mencapai tinggi hingga 1-2 meter dengan lebar mahkota bunga bisa mencapai 1-5 meter. Meski ukuran bunga bangkai lebih besar dibandingkan dengan bunga Rafflesia, akan tetapi bunga bangkai bukan merupakan bunga terbesar. Bunga ini tersusun dari banyak bunga kecil yang berada pada satu batang yang sama atau disebut pula dengan bunga majemuk. Selain itu, siklus hidupnya pun berbeda. Bunga bangkai merupakan tumbuhan sempurna yang dapat berfotosintesis dan berkembang biak sendiri. Akan tetapi, saat ini bunga ini sudah sangat berkurang di alam. Salah satu lokasi dimana bunga ini dapat ditemukan adalah di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, dimana pada saat tertentu ketika bunga ini sedang mekar (umumnya 5-7 hari) maka akan banyak wisatawan atau peneliti yang berkunjung untuk sekedar melihat atau mempelajari bunga bangkai ini.

    Berbeda dengan Bunga Bangkai yang termasuk kategori tumbuhan terbesar, Bunga Rafflesia termasuk ke dalam salah satu bunga terbesar di dunia. Rafflesia termasuk ke dalam tumbuhan endoparasit yang 'menggantungkan' hidupnya pada tumbuhan inang merambat yang disebut Tetrastigma. Karena termasuk parasit, maka Rafflesia adalah the real bunga” yang tidak memiliki batang, daun, dan serta akar layaknya tumbuhan sempurna. Bunga ini hanya memiliki bagian-bagian bunga yang berawal dari sebuah kelopak dan berakhir dengan lima mahkota bunga. Di bagian bawah bunga tersebut terdapat benang sari atau putik yang menunjukkan apakah bunga tersebut berjenis jantan atau betina. Karena bukan termasuk tumbuhan sempurna, Rafflesia tidak bisa melakukan fotosintesis sendiri. Perkembangbiakan bunga melalui penyerbukan Rafflesia dibantu oleh lalat yang tertarik dengan bau busuk atau menyengat dari bunga ini. Masa pertumbuhan bunga ini yang cukup panjang mencapai sembilan bulan tidak sebanding dengan masa mekarnya yang hanya berkisar 5-7 hari. Setelah itu, bunga ini akan layu dan mati.
Kelopak Rafflesia (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
     Rafflesia sendiri sebenarnya adalah nama sebuah genus. Pada genus Rafflesia tersebut, masih terbagi menjadi beberapa spesies. Hingga saat ini, terdapat 25 jenis atau spesies  Rafflesia yang dapat didefinisikan di seluruh dunia. Sebanyak 12 jenis Rafflesia tersebut dapat ditemukan di Indonesia. Beberapa nama spesies Rafflesia tersebut diantaranya adalah Rafflesia arnoldii (1818), Rafflesia patma (1825), Rafflesia rochussenii (1850), Rafflesia tuan-mudae (1868), Rafflesia hasseltii (1879),Rafflesia borneensis (1918), Rafflesia ciliata (1918), Rafflesia witkampii (1918), Rafflesia gadutensis (1984), Rafflesia keithii (1984), Rafflesia micropylora (1984), Rafflesia pricei (1984) dan Rafflesia tengku-adlinii (1989).

   Spesies Rafflesia pertama yang ditemukan adalah spesies Rafflesia arnoldii. Rafflesia arnoldii pertama kali ditemukan pada tahun 1818 di pedalaman Bengkulu Selatan. Bunga ini ditemukan oleh Dr. Joseph Arnold, seorang pemandu yang sedang mengikuti ekspedisi Thomas Stanford Raffles. Oleh karena itu, penamaan bunga ini disusun dari sejarah penggabungan antara Raffles dan Arnold. Habitat bunga ini umumnya tumbuh di hutan hujan tropis, sehingga di dunia hanya bisa ditemukan di beberapa negara tropis saja seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan tentu saja Indonesia. Di Indonesia sendiri, bunga ini endemik di beberapa wilayah, utamanya Sumatra, juga ditemukan di beberapa hutan di Kalimantan dan Jawa.

Potret Kebakaran Hutan di Hutan Kalimantan (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
      Rafflesia termasuk ke dalam jenis tumbuhan yang hampir punah. Beberapa faktor penyebab ancaman kepunahan tersebut ialah adanya faktor biologi Rafflesia itu sendiri yang dalam proses perkembangbiakannya tidak boleh ada gangguan manusia, mengandalkan inang untuk hidup, serta mengandalkan lalat untuk membantu penyerbukan. Padahal, waktu mekarnya benang sari dan putiknya sendiripun belum tentu bersamaan. Selain itu, habitat dari bunga ini yang hanya bisa tumbuh di hutan primer untuk dapat bertahan hidup juga menjadi salah satu ancaman dalam perkembangbiakannya. Maraknya pembalakan liar dan kebakaran hutan mempengaruhi laju deforestasti dari hutan-hutan primer di Indonesia. Hal ini tentu berpengaruh mengancam keberadaan habitat puspa langka tersebut. Akan tetapi, di balik itu permasalahan tersebut, masih terdapat berbagai keindahan alam di pelosok hutan yang rimbun seperti yang pernah kami alami tiga tahun silam.

     Sekitar pertengahan tahun 2015, kami (saya dan tim KKN PPM UGM KTB-03) berkesempatan melakukan pengabdian masyarakat di perbatasan Indonesia-Malaysia yang terdapat di Pulau Kalimantan, tepatnya di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Kami bertugas untuk mengabdi dan memberdayakan masyarakat di desa selama dua bulan (Juli-Agustus 2015). Singkat cerita di akhir masa pengabdian tersebut, tim kami berkesempatan untuk melakukan susur hutan di Tanjung Datu. Hutan ini terletak diantara dua negara: perbatasan Indonesia-Malaysia. Hutan ini termasuk hutan primer yang masih terjaga keindahan dan keasliannya.

Tim KTB-03 di Tanjung Datu - 2015 (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
         Perjalanan menuju Tanjung Datu kami awali dengan menaiki kapal dari dermaga Desa Temajuk menuju titik terluar perbatasan Tanjung Datu. Perjalanan menggunakan kapal kurang-lebih membutuhkan waktu sekitar 30-40 menit yang sangat menyenangkan. Dalam perjalanan kami menjumpai ikan-ikan yang berenang dan burung-burung yang riuh seakan menyambut kedatangan kami. Sesampainya di Tanjung Datu, rombongan kami segera bergegas naik menuju lokasi mercusuar untuk beristirahat. Meski siang hari, kami tetap bersemangat dengan sesekali mengabadikan momen dengan mengambil gambar.
   Sesampainya di lokasi mercusuar, kami dapat mengamati Laut Natuna dari atasnya. Kami juga sekilas memandangi hutan Tanjung Datu dan perbatasan Indonesia-Malaysia. For your information, selain berfungsi untuk membantu navigator untuk menentukan arah, mercusuar ini juga digunakan sebagai batas wilayah negara, termasuk mercusuar yang kami kunjungi di Tanjung Datu ini, sehingga memang ada petugas penjaga yang tinggal disini. Selesai kami melakukan rehat siang sejenak, kami melanjutkan perjalanan susur hutan. Sayangnya, tidak semua anggota tim ikut melakukan mini ekspedisi ini. Sebagian harus kembali ke desa untuk suatu urusan. Tinggallah kami bertujuh belas dan dua warga lokal yang mengantarkan kami melanjutkan perjalanan. Dan salah satu warga tersebut adalah Ayah angkat di rumah tinggalku selama KKN :)
Salam dari Tanjung Datu, Perbatasan Indonesia-Malaysia (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
   Di sepanjang perjalanan menyusuri hutan, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Mata kami dimanjakan oleh hutan primer yang berkanopi rapat dengan aroma tanah dan tanaman yang menyatu sempurna. Kami sangat menikmati perjalanan tersebut dengan sesekali bersenandung dan mengamati keadaan sekitar. Pohon yang menjulang, batu raksasa, dan sesekali kami harus menunduk melewati akar-akar raksasa. Tak lupa kami saling mengingatkan untuk menjaga sikap dan menjaga hutan supaya tetap alami dan lestari. Kami juga sesekali mendengar kicauan burung endemik enggano dan erangan dari kucing hutan yang menambah keseruan perjalanan kami dan tak sabar menghadapi hal-hal yang akan kami jumpai di depan.

  Di penghujung sore, Ayah sebagai penunjuk jalan mengajak kami ‘menepi’ di bawah batuan besar untuk kami bermalam. Saking besarnya, batuan tersebut menyerupai terowongan sehingga kami muat masuk di bawahnya. Sebagian dari kami menyiapkan peralatan memasak, sebagian yang lain melihat keadaan sekitar. Di ujung senja itu, kami menemukan akhirnya menemukan lokasi Batu Bajulang, salah satu spot ketika tracking di Tanjung Datu. Sesuai dengan namanya, Batu Bajulang adalah batu besar yang menjulang. Batu ini berada di sebuah tebing dengan kemiringan >45 derajat. Karena rasa penasaran, kami menaiki batu tersebut dengan sangat hati-hati. Salah sedikit, kami bisa terjun ke bawah tebing. Tapi, sungguh terbayar lunas. Pemandangan di Batu Bajulang yang menghadap ke barat mengantarkan kami pada senja yang sempurna berlatar lautan luas. Setelah matahari hari itu tunai tugasnya, kami bergegas turun, mengisi ulang energi untuk melanjutkan perjalanan esok hari.
Hutan Primer Temajuk (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
  Keesokan paginya, kami melanjutkan perjalanan menyusuri hutan Tanjung Datu. Kami masih dibuat takjub dengan berbagai pemandangan yang ada. Sesekali kami beristirahat untuk sekedar meneguk air atau mengunyah gula aren untuk mengisi ulang tenaga. Di sisa tenaga, Ayah angkatku menemukan jalan memisah. Di balik jalan yang sedikit berliku ini, terdapat semacam batu-batu besar untuk istirahat siang. Setelah melewati terowongan batu itu, ternyata kami menemukan harta karun. Ya, benar, kami bertemu dengan bunga Rafflesia! Sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Saking takjubnya, kami tidak beranjak dari tempat tersebut untuk beberapa waktu. Rafflesia yang kami temukan sepertinya sudah mekar beberapa hari dan masuk ke tahap layu atau hampir mati. Kalau ditilik dari sejarah dan lokasi serta kenampakan fisiknya, sepertinya yang kami temukan adalah spesies Rafflesia hasseltii yang memang lebih sering ditemukan di perbatasan Indonesia-Malaysia, termasuk di hutan Tanjung Datu. Selain itu, kondisi hutan yang masih alami dan tidak tercampur perilaku manusia membuat hutan ini menjadi habitat sempurna bagi beraneka hayati. Setelah kami puas memandangi, kami berjalan sedikit. Dan keajaiban selanjutnya, di balik tumpukan batu-batu besar, kami menemukan sumber mata air segar untuk melepas dahaga. Ah, surga dunia!
Bertemu Rafflesia di Tanjung Datu - 2015 (Dok. Pribadi Serambi Negeri)
    Setelah puas beristirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan. Sedikit lagi kami akan mengakhiri trip menakjubkan ini. Sisa perjalanan kami isi dengan menyanyi, membuat video, dan bercerita mengamati hutan. Mulai dari lagu anak, lagu daerah, sampai lagu perjuangan tak henti kami dendangkan karena saking bersemangatnya kami. Hingga tidak terasa ketika sore menyapa dan kami mulai melihat rumah penduduk dari kejauhan. Mau tidak mau, berakhirlah petualangan kami menyusuri Tanjung Datu sampai disini. Tanjung Datu hanyalah salah satu surga dari keanekaragaman hayati yang ada di Pulau Kalimantan, dan itupun kami sudah dibuat takjub. Selain itu, Desa Temajuk sendiri adalah surga wisata di Kabupaten Sambas. Maka kembali kesini untuk mengulik berbagai rahasia alam adalah candu selain karena hati kami telah tertambat disini. Semoga, ada waktu untuk kembali mengunjungi ‘kampung kedua’ kami, dan juga untuk melanjutkan ekspedisi menyusuri berbagai keindahan alam di negeri ini. Tak lupa juga untuk senantiasa menanamkan dalam diri untuk menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari khalifah di Bumi Pertiwi.
Tim KKN KTB-03 2015

Jumat, 20 September 2013

Mengapa Anak TK Tak Boleh Diajari Calistung?

Tulisan ini untuk para calon orangtua, calon ayah, dan juga calon ibu hebat masa depan.
Cuma co-pas siih, tetapi semoga bermanfaat :))

Mengapa Anak TK Tak Boleh Diajari Calistung?


Oleh: Yani Widianto

Pertanyaan bpk ANH:
Apa dengan tidak mengajarkan ke anak (Calistung) di usia emas nya itu berarti memanjakankan anak yang memiliki kemampuan akademisnya…..
Kita khan bisa menyelipkan huruf2 ato angka2 dalam proses bermain anak. Kalau mereka mampu kenapa tidak diteruskan (kemampuan otak anak juga berbeda-beda ada yang mudah nangkap dan ingatannya tajam dan ada juga yang tidak khan Bu…..)

Jawaban:
Jd begini Pak, kami menyadari bahwa mayoritas orang Indonesia itu tdk memahami perkembangan otak anak, hal itu mengakibatkan para ortu salah mengasuh dan para guru salah mendidik. Dan apa akibatnya dr salah2 itu?

Kita bisa lihat orang tua yg seharusnya sdh dewasa bertingkah spt anak2. Banyak. Contoh gampangnya anggota DPR kita yth. Tingkahnya persis anak TK. Kerja nggak bener tp minta imbalan lebih, nggak dikasih ma rakyat tp malah ngelunjak.

Contoh ke-2, kita lebih banyak mencetak insan2 bermental pegawai bukan visioner, bukan pakar/ahli dibidang masing2, bukan orang2 yg bermental pengusaha pembuka lowongan kerja. Rakyat Indonesia tdk suka mengambil resiko kegagalan, pilih jd pegawai krn tenang mendapat gaji bulanan tp ketika di PHK kelabakan nggak punya keterampilan.

Contoh ke-3, kita terbiasa mengapresiasi rangking teratas (5/10 besar), nilai sempurna (80-100) kita jarang mengapresiasi kerja keras mereka dalam belajar. Padahal ada anak yg sudah belajar mati2an tapi mereka tetep gak dpt nilai bagus gak dapet rangking krn kemampuan mereka tdk sama dan bakat mereka pun beda2. Akibatnya? ketika UN sekolah melakukan kecurangan diamini oleh ortu (sdh terjadi bukan?) Kalau anak2 kita terbiasa dihargai kerja kerasnya bukan angka atau nilainya semata, mereka pasti menolak disuruh curang, karena mereka PD dengan hasil usaha belajarnya sendiri, tapi nyatanya…buanyakkk anak2 itu yg melaksanakan perintah memalukan itu. Dan kita sekarang pun memiliki pahlawan cilik kejujuran segala.

Para ahli otak di dunia termasuk di Indonesia semacam Indonesian Neuroscience Society sdh lama melakukan penelitian bahwa: otak anak2 itu belum berkembang sempurna(matang) hingga dia berusia 20-25th! stlh sempurna baru mereka dianggap yg namanya “Dewasa”. Bayangkan!

Senin, 15 Juli 2013

"The Lost Java"




[Maaf Numpang Promosi]

NOVEL : "The Lost Java"

Sinopsis:
“Kehancuran dunia kian dekat, namun kematian sudah
mengintai jauh lebih dekat lagi!”
Bencana mengincar setiap nyawa. Iklim sempurna tak
lagi bersinergi dengan bumi. Banjir-banjir mulai berubah
status menjadi permanen. Ratusan pulau perlahan tenggelam
ditelan luapan air laut. Puluhan juta manusia digiring paksa
oleh bencana untuk mengungsi. Terlampau menyeramkan saat
menunggu detik-detik mencairnya es di kutub utara dan kutub
selatan yang notabene sebagai penyimpan 90% cadangan air di
bumi ini. Apakah dunia sudah mengetahui kengerian yang akan
terjadi setelahnya?


Petualangan novel bergenre science-thriller fiction ini
menyajikan tiga komponen yang digarap dengan serius berupa
“sisi keilmuan” yang dipadukan dengan adegan-adegan “pemicu adrenalin” yang menyedot habis “rasa penasaran” pembaca di
setiap akhir babnya. Dan tentu saja disempurnakan dengan
“romantika cinta” yang dibingkai apik dalam konflik yang
bertubi-tubi. The Lost Java lebih dari sekedar novel Sci-Fi.
Ceritanya dipersiapkan dengan matang. Jadilah alur dalam buku
ini penuh dengan jalinan yang syarat ketegangan, menyuguhkan
kepuasan tersendiri bagi para pemburu bacaan thriller.

Harga: Rp 63.000

*Stok di pasaran sudah habis. Ayo jangan sampai kehabisan! :D
Minat? Silahkan komen/PM:)

Berkumpul di Jannah