Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Maret 2019

Belajar Mencintai

Belajar Mencintai;
Sebuah Ulasan Berbalut Curhatan


Menikah, adalah gerbang awal dari sebuah perjalanan panjang. Dan hampir lima bulan menjalankan ibadah tersebut, membaca buku ini, rasanya seperti semacam nostalgia (padahal baru otw lima bulan wkw), ditambah sedikit tamparan dan sayatan.


Judul Buku : Belajar Mencintai
Penulis        : Azhar Nurun Ala
Tahun          : 2019
Penerbit      : Azharologia Books

"Pasti ada seseorang disana, yang hatimu bergetar kala menatapnya, dan tersipu saat kamu memujinya.  Ia yang tak rela membiarkan sebelah tanganmu menepuk-nepuk udara. Ia menyambut sebelah tanganmu dengan tepukan, lalu terdengarlah suara cinta."
(Halaman terakhir "Belajar Mencintai")

Buku ini diawali dengan prolog dan diakhiri sebuah epilog. Berisi 10 bab yang menceritakan perjalanan sepanjang lima tahun pernikahan yang menyiratkan hikmah. Dalam satu bab terakhir, berisi tulisan mba Vidya, dari sudut pandang seorang istri.

Buku ini sangat relateable dengan apa yang saya jalani saat ini. Sehingga, ketika membacanya, meski agak terburu waktu dan kegiatan dan tugas cukup padat saat diklat, tidak mengurangi esensi dan luapan emosi yang, ya tadi, sesekali menimbulkan sayatan. Beberapa kali sempat menahan bahkan mengusap bulir air mata diantara orang-orang yang sibuk berbincang di sela makan siang atau sekedar rehat kopi.

Dibuka dengan perjalanan menuju pernikahan, yang tentu saja tidak mudah. Bahwa ya memang menuju ibadah yang panjang akan selalu mendatangkan godaan dari setan, baik berupa keraguan, ketakutan, atau yang lainnya. Bagaimana cerita mas Azhar dan mba Vidya yang ternyata junior-senior di kampus, kemudian menikah setelah beberapa waktu tidak sengaja terpisah jarak, tetapi karena dasar jodoh, tentu akan bertemu kembali. Bagaimana keduanya meyakinkan diri dan keluarga masing-masing, dengan keadaan yang bisa dibilang masih sangat dari 0 dan masa depan yang masih belum nampak jelas. 

Diikuti dengan bab-bab yang menggambarkan bagaimana kehidupan mas Azhar dan mba Vidya selama lima tahun pernikahan. Dari penyesuaian diri di awal pernikahan, tentang penantian akan kedatangan dan bagaimana mengelola emosi menjalani hari-hari yang penuh ketidakpastian. Bagaimana perjuangan menghadapi berbagai pertanyaan yang agaknya menyesakkan. Dan salah satu yang paling emosional adalah tentang  'perpindahan' dan 'pertengkaran'. Bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga pada saat yang sangat tidak disangka. Bagaimana menyesuaikan diri dengan keadaan yang tiba-tiba berubah drastis dan serba keterbatasan yang mengelilingi. Hal ini kemudian kembali mengingatkan saya tentang bagaimana kami akan menjalankan pernikahan ini selanjutnya, sambil mengingat-ingat dan mengaitkan tujuan dan visi-misi pernikahan sendiri. 

Barangkali untuk yang sudah pernah membaca buku-buku mas Azhar akan tidak asing dengan beberapa kutipan yang dicantumkan. Mungkin nampak berulang, tapi tidak mengurangi esensi karena memang sangat berkaitan dengan apa yang sedang menjadi topik pembahasan. Dan khas tulisan beliau, banyak kalimat atau kutipan yang sangat menyentuh.

Ohya, lagi, selain karena alur cerita yang relevan dengan kehidupan pernikahan muda, tentu membuat kita jadi berkaca kembali, sudah sampai mana kita menjadi sosok yang mencintai, bukan hanya jatuh cinta. Karena, ketika menikah, fokus kita bukan lagi jatuh cinta, yang hanya berkutat dengan perasaan saja, tetapi justru tentang mencintai,  dan bagaimana menumbuhkan bahagia pada pasangan kita. Cinta itu, kata kerja bukan?

Ada satu bab tentang Mencari Titik Temu. Dari judulnya, tentu terbayang bagaimana mas Azhar dan mba Vidya, dengan dua pemikiran dan sudut pandang berbeda, harus menuju satu titik yang sama untuk mempertahankan kebersamaan dan tidak berlarut dalam malam-malam penuh air mata. 

Buku ini juga membuat saya berkaca kembali, apakah sudah menjadi pasangan yang baik, istri yang baik. Juga, apakah diri ini sudah menjadi anak yang baik atau belum. Bagaimana membangun hubungan dengan pasangan, dan menikahi keluarganya. *kemudian kangen suami, heu, nasib LDM :" #tjoerhat colongan, monmaap. Saya sangat salut dengan bagaimana mba Vidya bisa menjadi seorang istri yang begitu dewasa, tidak pernah menjatuhkan dan selalu menghargai usaha suaminya.

Buku ini ditutup dengan epilog yang berbalut nasihat tersirat tentang persiapan untuk yang belum menikah. Isinya? Baca aja yaa, hehe. Bocorannya, menikah adalah penyatuan dua manusia berbeda, jadi sebaiknya memang kita selesai dengan diri sendiri terlebih dahulu, agar tidak menimbulkan banyak PR kemudian :) Juga, epilog berisi pengingat untuk yang sudah menikah tentang penguatan kembali ikatan pernikahan. Bahwa pernikahan adalah sebuah ibadah panjang yang telah diawali berdua, dan harus diperjuangkan bersama. 

Sekali lagi, bagi saya sendiri, menikah adalah sebuah ibadah panjang yang tentu membutuhkan persiapan yang tidak sedikit. Maka jangan hanya menikah karena suka, apalagi hanya karena ikut-ikutan. Carilah tujuan dan motivasi yang tidak akan pernah hilang atau berganti, sehingga apapun yang terjadi, berdua akan berjuang umtuk melewati dan mencapai kebahagiaan hakiki. Kalau mau lebih banyak mendapat hikmah dan pelajaran, beli dan baca sendiri yaa hihi :3


Bogor, 30 Maret 2019


Yang sedang belajar mencintai,
Andika Putri Firdausy


Minggu, 10 Februari 2019

Berjarak

"Distance means nothing, when someone means everything."

Sesungguhnya mau ngepost ini besok, iya, besok, tanggal Sebelas yang ketiga. Teringat bulan lalu, kamu bertanya, "Nggak nulis lagi?" hahaha aku cuma singkat menjawab; enggak. Kenapa? Karena maluuu kalau menulis tapi ada ybs di sebelah, heu.

Tapi, kuingat lagi, untuk apa lagi menunggu. Saat ini kamu juga sedang jauh disana. Kita tidak sedang bersama. Iya, kata orang, LDM - Long Distance Marriage. Hubungan pernikahan yang terbatas jarak.

Jarak, apakah kita sudah bersahabat dengan jarak? Hampir tiga bulan. Masih anak bawang. Tapi ya memang begini adanya. Aku yang harus berjibaku disini, dan kamu juga sedang berjuang disana. Kita sama, bukan? Dan kita pun sama-sama akan memperjuangkan jarak ini bersama.

Tiga bulan berjarak. Tentu tidak ada yang dengan sengaja menginginkan pernikahan seperti ini. Karena idealnya sebuah pernikahan adalah kebersamaan. Tapi tidak ada gunanya meratapi jarak, yang terpenting adalah bagaimana kita bersahabat dengannya.

Jarak.
Berkaitan erat dengan komunikasi. Iya, ketika sedang berjarak, perbanyaklah komunikasi. Mungkin akan banyak waktu, tenaga, tiket dan kuota (lol) yang tersita, tapi itu akan sangat membantu penyesuaian diri kita dengan yang bernama jarak. Apalagi, sebelumnya memang tidak ada apa-apa diantara kita, tidak saling tahu apapun, tidak mengerti apa yang disuka dan tidak disuka, tidak tahu bagaimana kebiasaannya, dan banyak hal lainnya. Pennyesuaian diri dengan jarak memang butuh waktu. Dan tentu saja kesabaran. Kesabaran diantara kita berdua. Saling memahami dan bergantian mengalah. Terima kasih telah bersabar dan berusaha dengan sebaik mungkin, Sayang..

"Distance means nothing, when someone means everything."

But then, when your spouse needs you and you're so far away, it's really hard and sad, tho..

But yes, it's okay, kita sudah berjanji untuk menjalaninya bersama-sama dengan baik.


Jarak, seperti di foto ini dimana kita sedang berjarak. Tapi kita tetap tersenyum kan meski tidak sedang berdekatan? (yaiyalah lagi poto wkwkw). Iya, begitulah seharusnya. Meski jauh, kita tetap tersenyum. Agar yang jauh, terasa dekat. Dan ketika dekat, tidak lupa tersenyum. 😊

"Ayo foto berduaaa"
"Katanya kalian nggak pernah foto berdua"
"Ih apasih alay" (tapi maju juga doi)
Terus foto dulu berempat.
Akhirnya foto berdua.
Iya, jauh-jauhan. Malu doi kayanya.
Sampai rumah.
"Lho, fotonya ini doang? Kok nggak ada yang deketan?"
"Cem mana lah pak, tadi siapa yang nggak mau foto, sekarang siapa yang protes, heu"

It's okay. Hanya foto. Yang penting, hati kita selalu dekat.

Sayang, thankyou for this three months. For every single thing you did, for every single thing we made. Let's fight for the journeys ahead together, till Jannah insyaaAllah. ❤


Jakarta, third month,

Mrs. Jihad

Selasa, 11 Desember 2018

Tiga Puluh Hari Bersamamu


Selamat satu bulan pernikahan, Sayang.
Tidak terasa hari terus berganti begitu cepat ketika kita bersama. Setengah dari perjalanan yang kita lalui bersama-sama. Menjadi manusia asing yang tiba-tiba adalah segalanya. Membuat kita sama-sama belajar bahwa hidup ini memang penuh perbedaan dan tentang bagaimana kita menjadikannya seirama dengan menemukan titik temunya.

Selamat satu bulan pernikahan, Sayang.
Waktu menjadi sedikit melambat ketika kita berpisah untuk sementara. Setengah dari perjalanan yang kita lalui bersama di tempat yang berbeda. Tak apa, selama kita masih di atas bumi dan di bawah langit yang sama. Menjadi manusia asing yang tiba-tiba harus saling memberikan perhatian dan pengertian. Menjadi manusia yang langkahnya menjadi sangat 'bergantung' pada layar enam inchi. Membuat kita sama-sama belajar bahwa jarak bukanlah penghalang yang berarti bagi orang-orang  yang sangat berarti.

Terima kasih, Sayang.
Telah datang dengan cara yang baik dan di waktu terbaik menurutNya. Terima kasih untuk satu bulan kebersamaan kita. Mungkin kita hanyalah dua manusia biasa yang dipertemukan takdirNya. Mari merawat cinta bersama, hingga bersama pula menuju surgaNya.

"Sakinah, tentram ketika bersama, juga tentram ketika berpisah", begitu katamu, bukan? Semoga Allah senantiasa memberkahi dan melimpahkan ketentraman pada keluarga kita.

Selamat satu bulan pernikahan, Sayang.
Semoga selamanya bersama.


Jakarta, 11 Desember 2018
Ny. Jihad

Senin, 10 Desember 2018

Sholat Malam dan Rindu

Di malam yang dingin dan sesunyi ini, menarik kembali selimut tentu sangat menyenangkan. Bebas dari hawa dingin dan nyamuk ganas ~

"Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk sholat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, ..."

Bentar deh.. Lima menit lagi...

"Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang. ..."

Eh?

=====

Surat Muzzammil ini, sungguh mencabik-cabik perasaan kita. Bagaimana bisa kita terlalu sibuk dengan dunia di siang hari, lalu di malamnya pun tak kita sempatkan waktu untuk menuntaskan rindu dengan Sang Pencipta?

Sering, kita sudah diberikan tanda untuk terbangun di malam hari. Sayangnya, sinyal-sinyal itu sering kita abaikan. Menarik lagi selimut adalah hal yang nikmat dan tak pernah ragu kita lakukan. Alarm yang sudah meraung-raung pun kita matikan cuma-cuma. Tunda lagi, tunda lagi. Sampai adzan menyahut-nyahut, baru kita terkaget-kaget. Atau, malah masih asik berselimut?

Padahal, sudah jelas bahwa Allah sudah memilih kita untuk menjadi satu dari sekian yang 'dipanggil'. Kadang, melalui hawa dingin yang tetiba menyeruak dan membuat kita terbangun menggigil. Kadang, melalui nyamuk ganas yang menggigit tanpa ampun hingga kita terbangun gatal-gatal. Kadang, melalui alarm yang meraung-raung, suara tetangga yang berisik, selimut yang terjatuh, keinginan untuk berhajat ke kamar mandi, atau hal-hal kecil lainnya yang mungkin tidak kita sadari bahwa itu adalah tanda.

Tanda, bahwa Allah sedang merindukan hambaNya.

Lalu, apakah kita menyambut panggilan rindu itu? Atau hanya sebatas lalu saja? Bukankah, di setiap sepertiga malam itu, adalah waktu terbaik kita bertemu denganNya? Seberat itukah menuntaskan rindu dengan Sang Pencipta? Seberat itukah kita tundukkan diri sejenak melalui Qiyamul Lail dibandingkan apa yang telah Allah berikan kepada kita? Apa kita tidak rindu? Apa kita tidak ingin membalas rindu itu?

=====

Ah iya, tentang rindu.
Barangkali rindu itu berat. Eh, emang berat sih ya. Tapi, bukankah kita tetap senang merindu? Bukankah kita menikmati setiap saat kerinduan sampai kita menyapa temu? Bukankah, kita akan melakukan dan memperjuangkan apapun untuk mempersiapkan pertemuan itu sebaik mungkin? Baik dengannya, apalagi denganNya, bukan? Baik dengan ciptaanNya, apatah lagi dengan Penciptanya, kan?

=====

Kalau sholat malam dan rindu sama-sama berat, barangkali kolaborasi keduanya akan saling meringankan? Semoga keduanya berujung pertemuan membahagiakan. Mari kita buktikan. ❤

Jakarta, 10 Desember 2018
Di ujung pagi, diantara nyamuk ganas, dan berisik musik tetangga. It's okay, mari menuntaskan rindu, juga untuk mempersiapkan temu :3

Minggu, 15 Juli 2018

Sibling(s)

Someone who knows you well, sometimes more than your ownself. Someone who gives you much attention, but dont want you to know. Someone who treats you, although its the last coin. Someone who randomly getting mad to you, but contains love inside. 🍁

Kata orang, kita kembar. Saking miripnya, cuma beda dua tahun. Dari prinsip dan kesukaan juga nggak beda jauh, tapi bukan karakter, haha. Kalau nggak dibilang kembar, kadang orang bilang kamu kakaknya. Sepertinya karena kedewasaanmu, dan kebocahanku, haha. But yes, sometimes aku merasa lebih bocah darimu, heu.

Dek, I'm not the best sister, but I tried to be, and I will always be. Pesen Ayah sama Ibuk sebelum pergi, katanya, "nitip adek." I hope I can do it well..

Kata ayah lagi, "mbak yang dewasa, ya,". I know sometimes I am more childish than you. I hope I can play this role better.

Meski dunia masa kecil kita penuh "ketidakharmonisan", yang sering kuungkit2 karena aku lebih sering kalah haha, but I will always be thankful cause Allah gives me you. Yes, you.

Maybe this world is not as small as your hand which you can control. But you have Allah which is "Bigger" than everything you can imagine. All the things in this life is not ours, but we can ask Him to make it easier. Calm, life is only life. We "only" have a task to be better one, not a perfect one. Keep going, girl! 💅

Keep shining my little-with-the-big-heart star 💫

Sorry for being annoying and 'gengsian' Mbak. Maybe I will always be like that, but it will never decrease my love and pray to you 💕

Gumarang, 15 July 2018
Unperfect sister.

Senin, 05 Maret 2018

Katanya Siap

Katanya, yang mengukur siap atau tidak itu, sebenarnya bukan diri kita sendiri, tetapi orang lain. Bahkan, bukan juga keduanya, melainkan Allah.

Ada, yang merasa siap, tapi tak berhenti meratap ketika yang ditunggu tak kunjung tiba. Ternyata, Allah rasa, dia belum cukup siap.

Ada, yang merasa belum siap, tapi tetiba ada yang datang menjemputnya dari persembunyian. Ternyata, Allah rasa, dia sudah pantas dikategorikan siap.

Lalu, apa parameternya?

Katanya, ia akan tiba ketika seseorang berada pada puncak ketaqwaan. Ketika tak ada lagi yang menjadi puncak harapan selain Allah, tak ada tujuan selain Allah, tak ada penghambaan selain kepada Allah.

Bukankah, yang lebih pasti adalah menemuiNya?

Semoga dalam keadaan terbaik, di puncak keimanan dan ketaqwaan.

Senin, 05 Februari 2018

Tentang Memasangkan

Seneng nggak siih kalian melihat pasangan muda-mudi aktivis-progresif gitu yang meniqa? Hahaha, kalau aku bukan senang, tapi bahagiaaa, sambil doain yang baik-baik 😍

Entah mengapa, sadar atau enggak, kita seringkali memasangkan (?) mbak yang satu dengan mas yang lain, yang menurut kita "cocok" dengan segala kelebihan dan tipikal mereka, entah bidangnya atau apapun yang ada pada diri mereka. Sejak jaman sekolah dulu, atau awal kuliah lah, seringkali mendoakan diam-diam (?) "pasangan" mbak-mas yang kita anggap cocok. Sama-sama pintar, aktif, kontributif, keren, de el el pokoknya mah berharap mereka (dan kita adalah regenerasinya) adalah sosok harapan Bangsa ini yang akan menjadi bagian dari perunahan Indonesia yang lebih baik. Hahaha rada lebay, ya?

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ternyata dunia nggak sesempit itu. Atau malah sesempit itu? Wkwk. Boleh jadi, mbak-mas yang kita pasangkan tadi "kebetulan" cocok. Atau, bisa jadi, mbak-mas tadi ternyata nggak cocok. Mereka hanya kita cocok-cocokan saja. Mereka, ternyata, memiliki pasangan mereka masing-masing yang "tidak kalah cocok" dengan yang selama ini coba kita pasang-pasangkan.

Hahaha, lucu ya? Memangnya kita ini siapa berani memasang-masangkan yang orangnya sendiri aja belum tentu melakukan hal yang sama. Tapi, kenyataannya, apapun yang terjadi pada mereka, siapapun yang bersama mereka sekarang (atau kelak), tentu mereka bahagia, bukan? Mereka menemukan partner-berjuang-selamanya dengan caranya masing-masing, dengan cara yang baik.

Jadi, berhentilah wahai kalian-kalian (dan aku hahaha) sang ahli nujum (?) yang hobi memasangkan manusia. Bukankah Allah sudah menjamin (54:21) bahwa setiap makhlukNya macam kita ini memang diciptakan berpasang-pasangan? Termasuk mbak-mbak dan mas-mas itu.

Berhentilah, sebelum mereka terpengaruh oleh candaan kalian, walaupun prinsip teguh mereka bisa jadi tak goyah hanya untuk meladeni candaanmu. Tapi, bukankah sebaik-baik penghantar perasaan adalah doa? Doakanlah.

Doakanlah mereka-mereka yang belum Allah pertemukan dengan jodohnya itu, supaya saling menemukan di waktu yang tepat. Ketika, sudah sama-sama siap mengarungi bahtera yang sesungguhnya. Sekarang, kita dulu yang perlu bercermin; memang, sudah apa kita dibandingkan ke-keren-an mereka-mereka? Baiknya kita perbaiki diri dulu saja dengan benar~

(masih di) Yogyakarta,
18 Januari 2018 02:38

Andika Putri Firdausy

#latepost wkwk baru inget sewaktu kemarin berdiskusi tentang suatu hal wkwk. Yhaaa intinya mah gitu. Jodoh adalah keputusan Allah. Kita boleh minta cem-macem, tapi hasil akhir tetap: hak prerogatif Allah. Soo, sebagai hamba yang baik, yang penting tujuan kita lurus, yang lain bakal ngikut aja~ 😉

Jakarta, lagi di ruang rapat yang kita kuasai  (08:06)

Jumat, 24 November 2017

Sindrom Rajab (dan Syawal) ~

Fyi, ini sebenarnya tulisan yang saya tulis hampir setahun yang lalu, last save-nya 13-07-14. But yeah, saya punya kebiasaan buruk meninggalkan tulisan 'tercecer' dimana. Daripada nunggu setahun, lebih baik saya teruskan sekarang. :D *editeditdikit

Bismillah.
Nyamnyamm~ ada apa dengan bulan Rajab? ^o^
Dan saking lamanya saya menunda pos ini, sampai sudah mau memasuki bulan Rajab (lagi dan lagi). Subhanallah, betapa cepatnya waktu berlalu. ~


Minggu, 26 Februari 2017

Betapapun hati tidak bisa jauh dengan Al-Quran

Berikut adalah tugas  serupa transkrip ringkasan kajian Ust. Syatori tentang Al-Qur'an.
Selalu merasa ada yang kurang jika tidak ditulis dengan lengkap :D jadi menulisnya terlalu bersemangat wkwk. Semoga menjadi pengingat ketika diri mulai ‘melemah’...

Akan selalu ada kerinduan terhadap Al-Quran

Mari kita awali dengan gambar yang menambah semangat :D
Keceriaanmu, nak, yang selalu bahagiakan hari-hariku :3

Senin, 18 April 2016

Senin Bersama Ayah

My first love, and my heroes ever after, I just hope He gimme chance to give my best for you. Not only in this Dunya, but also over there, in Akhirah. 
Sepagi ini, tepat Senin yang lalu, aku dan Ayah baru saja kembali ke rumah. Sejak matahari belum menyingsing, kami mulai menelusuri jalanan pantura yang memadat di senin pagi. Matahari terbit di atas Sungai Brantaspun menyapa kami. Kokohnya Arjuna dan Welirang juga mengiringi langkah kami.

Ayah mengajakku berkeliling. Menikmati sepoi angin dan rintik hujan di pagi hari. Pagi yang menyenangkan, bersama orang yang menenangkan.
Sebenarnya, tujuan utama kami berjalan-jalan adalah untuk survei pra lapangan scriptsweet. Ayah rela memotong jam kerjanya untuk mengantarkanku. Ya, hanya Ayah yang bisa mengantarku kesana-kemari. Satu-satunya lelaki yang sampai saat ini kujatuhkan hatiku padanya. Ia yang selalu memesona dan bersahaja.

Kami berjalan menyusuri Sungai Porong, anak Sungai Brantas, yang mengarah ke laut di Kecamatan Jabon. Sungai ini pula yang menjadi salah satu outket luapan lumpur Lapindo yang saat ini tengah menjadi subjek penelitianku. Ayah menunjukkan aku banyak hal, yang bahkan tidak aku temui di tumpukan buku di rak perpustakaan, atau lembaran-lembaran jurnal yang telah ku cetak. Ayah mengajarkan lebih dari semua itu.

Tempat kami berpijak memang sudah tidak asing lagi bagi Ayah. Dulu, hampir 26 tahun yang lalu saat Ayah masih bujang, Ayah pernah bekerja disini, menjadi juru administrasi di tambak milik Pak Malik. Namun sekarang, kantor Ayah sudah berubah menjadi warung. Akan tetapi, tambak-tambak ikan dan udang itu masih lestari sampai saat ini.
Kami berjalan mendekati sungai. Ayah menunjukkan Pulau Dem yang merupakan endapan sedimen sejak belasan atau mungkin puluhan tahun yang lalu. Saking luasnya, 'pulau' ini sudah ditumbuhi banyak mangrove dan bahkan banyak warga melakukan aktivitas disana. Beberapa perahu/sampan sengaja disewakan untuk menyeberang ke pulau ini. Kami juga bertemu dengan seorang bapak yang bekerja membangun dermaga disana. Dermaga lokal, mungkin milik salah seroang pemilik tambak disana, kata Ayah.

Matahari mulai meninggi. Kami tidak bisa berjalan terlalu jauh karena akses yang kurang memadai. Selain itu, Ayah sudah terlambat pergi bekerja. Semakin lama, akan mempengaruhi presensi kehadiran Ayah di kantor. Setelah dirasa cukup, kami kembali pulang. Melewati jalan kampung untuk memotong jarak agar lebih cepat.
Rintik hujan dan terik mentari mengiringi putaran roda motor kami. Sesekali kami menyapa warga yang sedang beraktivitas menuju tambak atau sawah. Kami menikmati saat-saat berharga ini. Aku, lebih tepatnya.
 
Kemarin Ibu mengabarkan bahwa Ayah sedang sakit, mungkin kelelahan karena hampir setiap pekan Ayah tidak pernah di rumah. Ada saja hal yang harus diselesaikan Ayah. Ah, Ayah selalu begitu. Tidak pernah merasa lelah dan tidak akan mau beristirahat meski hari libur sekalipun. Semua itu tidak pernah menghalangi Ayah untuk beraktifitas. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan nikmat iman dan sehat pada Ayah.

Allah, jagalah Ayah, juga Ibu. Sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.

Desember, 2015 - Merapi
Like father like daughter. I love you from the moon to the sky, and back, Ayah.


Yogyakarta, 18 April 2016 08:00

Love,
Your copied-oldest-daughter


Senin, 18 Agustus 2014

Indonesia, ku? (2) : Kado Untuk Negeri

..IndonesiaKobarkan semangatmuKan ku bela sampai habis nafaskuJangan pernah menyerahSudah terlalu lama kita terlelapBangkit dan raih semua mimpi..
Dari Mata Sang Garuda - Pee Wee Gaskins
Sumber: tribunnews.com

Jumat, 06 Juni 2014

Ibu...


Mungkin aku akan terus mendewasa
Menjadi sosok yang terlihat bijak di hadapan banyak orang
Tapi
Aku tetaplah anak kecil Ibu
Anak kecil ibu yang manis dan manja
Anak kecil yang akan selalu membutuhkan Ibu...

Ibu, terima kasih....


Di tengah gelapnya malam dan keringnya air mata,
Yogyakarta, 5 Juni 2014  18:37


 
 
 
 

Rabu, 12 Februari 2014

Sindrom 20

Orang-orang di sekitar saya sih lebih sering menyebutnya dengan "Sindrom 20" atau "Sindrom 20+". Artinya, sindrom ini hanya berlaku pada orang-orang yang akan-sedang-telah berumur 20 tahun. Sindrom apakah itu?

Yap. Pernikahan.


Entah siapa pencetus pertamanya, pembahasan tentang pernikahan saat ini begitu marak di sekitar saya, terutama di kampus. Mungkin, dan memang kata sebagian orang, memang sudah saatnya seumuran kami (menginjak 20 tahun) membahas  mengenai hal-hal tersebut. Bukanlah sebuah hal yang tabu jika membicarakan hal-hal positif dan jelas hukumnya ini. Akan tetapi pembahasan yang terus-menerus, rasanya dirasa risih juga. Mungkin bukan risih, tapi...

"Lagi apa, mblo?"
"Ciyee jones"
"Truk aja gandengan, masa kamu engga?" 
"Tahu aja ada isinya, masa hatimu kosong?" 
"Ondel-ondel aja punya pasangan" 
"Wisuda cuma didampingi ortu aja, itu wisuda apa ambil rapor?"

Dan sederet kata-kata sejenis lain yang beterbangan di sekeliling kita.

What do you feel, guys?
Kebakaran jenggot?
Woles aja?
Atau, bingung harus merasa bagaimana?
Hahaha, keep calm! :)

Oke, pertama, mari kita duduk dengan tenang dan membicarakannya baik-baik.

Senin, 26 Agustus 2013

Rabu, 23 Januari 2013

Berkumpul di Jannah