Tampilkan postingan dengan label Anak Rantau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak Rantau. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Desember 2017

Zona Waktu

Bukankah zona waktu yang kita alami sebenarnya amat bergantung pada diri kita sendiri?

Sadarkah ketika kita sedang sibuk-sibuknya, waktu terasa mengalir begitu saja. Baru berangkat tiba-tiba udah dhuhur. Baru kerja dikit udah ashar. Baru lanjut lagi udah maghrib, waktunya pulang. Masih di jalan udah isya'. Baru sampai rumah dan istirahat tiba-tiba udah shubuh aja dan harus mulai beraktivitas lagi.

Jenuh.

Dan terasa sekali bahwa waktu-waktu sholat itu menjadi jeda untuk beristirahat yang amat berharga. (Kemudian mikir, bener aja yang katanya sholat itu istirahat yang menenangkan dan ingin terus diulang :” *lagilurus*) Tidak ada alasan lain yang akan ditolerir dalam kerasnya dunia kerja. Kita juga tidak mau menjadikan sakit sebagai jeda bukan? Tentu saja. Siapa juga yang mau merasakan keletihan dan kesendirian di tanah rantauan? Rasanya, ingin segera mengakhiri semua keruwetan hidup ini. Pekerjaan yang tak henti menghampiri, tanggungjawab yang tak lepas menggelayuti. Bagaimana aku bisa menikmati hidup, Tuhan? Aku hanya butuh berhenti sejenak. Tolong lepas aku dari semua hiruk pikuk dunia ini...

Dan tak lama, Ia mengabulkan harapanmu.

Kau tiba di satu titik untuk berhenti, menjeda dari segala aktivitasmu, beristirahat sejenak dari segala beban hidupmu. Hari-harimu dipenuhi dengan istirahat-istirahat panjang. Kau bebas melakukan apapun yang kau suka. Tapi, lama-lama, kau bingung sendiri bagaimana cara membunuh waktu? Kenapa jeda antar sholat yang terasa singkat sekarang seakan berabad?

Kau bangun di shubuh hari dan membunuh waktu dengan berbagai pekerjaan rumah. Menyapu, mencuci, memasak, tapi tetap saja masih pagi. Apalagi yang harus aku lakukan? Teriakmu dalam hati. Akhirnya, tiba juga waktu dhuhur. Setelah kelelahan dengan berbagai pekerjaan rumah, sejenak kau mengistirahatkan diri, tapi tak bisa. Kau buka smartphone untuk berharap rasa kantuk hadir dan membunuh waktu. Gagal. Kau masih saja tenggelam dalam dunia maya, hingga tak sadar adzan ashar memanggil. Kau beranjak, tapi masih juga bingung, apa yang sebenarnya aku lakukan?, keluhmu lagi. Menunggu maghrib, kadang kau isi dengan membaca buku, atau sekedar membantu ibu di dapur menyiapkan hidangan makan malam. Tak lama, malam menjelang, sudah adzan isya. Sedikit bercengkrama, lalu kau merebahkan diri di ‘pulau impian’. Dan ketika terbangun di penghulu shubuh, akhirnya kau berkata, ah, aku bosan hidup seperti ini. tidak adakah kesibukan yang bisa aku selesaikan? Kau menggerutu. Lagi.

Memang begitu. Apa yang kita rasakan seringnya menjemukan. Kita seringnya lebih mensyukuri kehidupan yang telah kita lewati, bukan yang sedang kita jalani. Atau bahkan seringnya kita lebih mensyukuri kehidupan orang lain? Entahlah. Akan tetapi, sadarkah bahwa sebenarnya itu yang membuat hati menjadi lebih sempit? Terus merutuki diri dan keadaan yang tak terkendali. Memang, manusia bisa apa? padahal sebenarnya, kita hanya berada di zona yang berbeda saja. Tidak semua yang kita lakukan, harus dilakukan orang lain. Tidak juga yang menjadi tanggungjawab oranglain, harus juga menjadi urusan kita. Tidak begitu. Kita memiliki hidup kita masing-masing. Berhentilah membanding-bandingkan.

Dua kuncinya: sabar dan syukur. Sabar ketika sedang diuji masalah, dan syukur ketika sedang mendapat rezeki yang berlimpah. Keduanya, akan menjadikan diri lebih memahami arti hidup ini. Agar, tidak lelah dengan pengharapan dan pencapaian orang lain. Agar, kita bisa lebih memaknai dan menghargai diri dan hidup kita masing-masing.

Tapipun, kadang itu semua belum cukup untuk meredam gejolak diri untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Disini, ikhlas semestinya akan menjadi penawar dari segala keresahan hati yang tak terperi. Lakukanlah apa yang kamu mau, berikanlah yang terbaik yang kamu bisa. Jangan pernah ragu. Jangan pernah menyesal. Kunci dari keberhasilan adalah pantang menyerah. Jika kau gagal saat ini, bukankah itu justru membuka peluang untukmu berhasil lebih besar? Lalu apa lagi yang kamu cari?

Teruntuk kamu, yang pernah merasa begitu tertekan dengan kerasnya dunia... Juga kamu, yang pernah merasa dicampakkan dunia...

Teruslah melakukan yang terbaik. Lakukan apa yang membuatmu terus bertahan. Lakukan apa yang membuatmu bisa bermanfaat. Jangan berhenti. Jangan pernah berhenti sampai kamu tidak kuat berjalan lagi. Di ujung jalan, kamu akan menemukan bahwa kebahagiaan sejati memang pantas untuk diperjuankan.
Selamat berjuang!

Yogyakarta,
2 Desember 2017
Sesama teman berjuang,


#PutriPejuang

Sabtu, 17 Desember 2016

Three Years, Three Steps

Kyoto, 15 Desember 2013
It has been three years since that day ~
Saatnya kontemplasiii

Sejak perjalanan yang lalu, apa yang sudah didapatkan?
Apa yang sudah terlewati?
Mimpi bagian mana yang sudah tercapai?
Hmm rasa-rasanya diri ini masih terlalu jauh dari tujuan besar penciptaan :"

Jepang. Satu pengalaman yang menjadi buah dari berkumpulnya beberapa mimpi: naik pesawat, presentasi di luar negeri, jalan-jalan ke luar negeri, dan, of course, megang salju! Ehee. Agak kampungan? Biarin, daripada engga punya mimpi :p

Pulang dari Jepang, sama halnya dengan perjalanan jauh lainnya (katanya), membuat kita (saya) memiliki pandangan yang lebih luas tentang arti kehidupan. Pikiran jadi lebih terbuka, tidak hanya dalam tempurung Indonesia, terutama Jawa saja. Banyak pertanyaan-pertanyaan menemukan jawabannya. Banyak pula hikmah dari setiap kejadian yang terjadi, mulai dari tahap persiapan keberangkatan sampai kembalinya kami ke tanah air. Semoga bukan hikmah sesaat, ya. Tetapi benar-benar bisa menjadi pelajaran dalam menjalani kehidupan.
.

First, about partner.
Kyoto, 15 Desember 2013
Tau apa yang membuat saya bisa sampai di titik ini? Iya, orang-orang di sekitar saya. Kita tidak akan pernah bisa berjalan jauh jika sendirian. Memang sih, berjalan bersama-sama itu lamaaa banget. Sering gesekannya juga. Tapi, tujuan kita jelas. Dan ada sosok yang akan saling menguatkan dan mengingatkan kita di sepanjang perjalanan.

Dalam setiap tujuan dan pencapaian, saya lebih sering berpartner alias membentuk tim. Meski tidak selalu sama komponennya, tapi ada dua tim yang saya merasa sangat sejalan bersama mereka. Salah satunya, dan memang yang paling awal, adalah tim atau partner perjalanan saya ke Jepang.

Ke Jepang, zaman saya waktu itu (berasa udah berabad-abad aja :p), tidak semudah sekarang. Ngg, ini lebih ke perspektif dan euforia (?) siih. Dulu mah belum sebanyak sekarang informasi tentang dunia ke-luar-negeri-an baik yang konferensi atau exchange (atau sayanya yang dulu cupu banget yak? #eh). Dulu juga tidak segampang sekarang mencari sponsor, walaupun sekarang juga tidak bisa dibilang mudah. Dulu juga mah di tempat saya kuliah, apalagi mahasiswa muda-mudi ‘aneh’ banget kalau sampai ‘bertingkah’ ke luar negeri segala. Sesuatu deh. Makanya itu butuh perjuangan ekstra. Termasuk dalam menghadapi dinamika perkuliahan (baca: praktikum) di tahun kedua itu sesuatu syekalih. Dan dalam berjuang, sendiri itu engga enak. Serius. (Lain kali saya cerita bagian ini). That’s why we need journey’s partner. #tsaaah

Intinya mah, mencari partner yang sevisi itu sangat penting. Saya sangat bersyukur dipertemukan Allah sama partner yang luar biasa. Ima, Azza, Isna, dan Pipit, dengan segala kelebihan dan kekurangan, juga ke-luar-biasa-an mereka. Pengalaman pertama yang akan menjadi pelajaran bagi pencarian pengalaman-pengalaman selanjutnya. Meski pada akhirnya kita bersilang jalan #eaa, tapi aku yakin mimpi terbesar kita masih sama, fingers... :”) *tetibamellow.
.

Setelah partner, second is about work.
Kumamoto Univeristy, 13 Desember 2013
Setelah mempunyai ‘komposisi’ partner yang pas, pembagian kerja adalah hal yang sangat penting. Keduanya saling berkaitan. Kan ngga mungkin ya, kalau kita punya tujuan besar, tapi cuma diem-diem aja? Yah, itu mah sama aja ngga bakal dapat apa-apa. Kalau waktu itu sih, kami harus pandai-pandai ‘membelah diri’ dengan urusan paper, administratif ke Jepang, kuliah dan praktikum, organisasi, dan urusan pribadi kami masing-masing.

Kalau boleh jujur, IP saya semester tiga waktu itu adalah IP paling rendah selama saya kuliah :’D Kenapa? Karena saya sering bolos, hiks. Engga diing.. Sebenarnya itu hak saya siih, karena kan toleransi kehadiran 75%, jadi sayang aja gitu kalau disia-siakan #ngeles. Tapi jeleknya, saya jadi terlalu memaksimalkan, dan hampir di semua mata kuliah yang saya ikuti waktu itu saya absen 2-3 kali. Itu aja saya masih lari-lari mengejar berbagai tugas dan laporan praktikum, belum amanah organisasi juga. Seru lah pokoknya :3 Sampai saya yang paling tidak bisa begadang harus minum kopi dan masuk angin disusul demam karena harus menyelesaikan banyak hal.

Menyesal?  Oh, tentu tidak! Tapi tidak menyesal bukan berarti harus mengulanginya kan? Hehe.. Ambil hikmahnya aja: skala prioritas dan harus belajar mengurangi waktu tidur :) biar ngga kaya bayi yang banyak tidur wkwk (ini emang PR sejak lama dah -,-) Jadi, sebanyak apapun pekerjaan, tetap harus diselesaikan semua. Jika kita punya A, B, dan C yang harus diselesaikan, maka kita harus memberikan 100% ketika mengerjakan A, 100% ketika mengerjakan B, dan 100% juga ketika mengerjakan C. Karena, fokus itu sangat penting! Saya paling menghindari ketika kuliah disambi dengan mengerjakan yang lain. No! Selain itu tidak beradab (tidak sopan maksudnya ehee), itu juga mengganggu konsentrasi kita. Dan justru kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari yang kita lakukan. Saya juga sih mengejar keberkahannya aja. Toh kalau kita sedang berbicara di depan, juga pasti sedih kan kalau ada yang usrek  sendiri di belakang? Ini mah masalah lain lagi tentang bercermin, tapi penting juga dalam kehidupan :)

Cukup disitu? Hmm tidak juga. Sepulang kuliah dan menuntaskan amanah kampus, malam hari kami biasa berkumpul di ‘basecamp’ untuk membicarakan berbagai hal. Mulai dari persiapan keberangkatan sampai tentang mimpi-mimpi kami. Atau sekedar haha-hihi menghilangkan penat sejak sehari beraktivitas. Yang jelas, semua persiapan itu membutuhkan energi yang tidak sedikit. Menguras kantong sampe kering sekeringnya. Bahkan pernah menguras hati saking penatnya. *emang kamar mandi di kuras :D

Tapi kami yakin, semua lelah dan perjuangan kami akan terbayar lunas. Dan itu terbukti, bahkan surplus. :)
.

Last but not least, third is pray.
Kyoto, 15 Desember 2013

Pernah dengar pepatah ini: “If you work, you work. If you pray, God work.” ?

Yes, karena sebagai hambaNya, kita sudah barang tentu memiliki hubungan khusus yang tidak akan bisa diusik oleh sesiapapun jua. Tingkatan tertinggi setelah usaha adalah doa, baru setelah itu kita berserah diri. Doa adalah bagian yang sangat penting. Bukan hanya doa dari kita pribadi, tapi juga orang lain, terutama doa dan ridho dari orangtua kita. Terutama lagi, Ibu. Doa akan menjadi pembuka jalan yang akan melancarkan dan menguatkan usaha-usaha yang akan kita lakukan. Dan karena kita yakin bahwa jawaban dari setiap doa adalah “Iya”, maka berserah diri adalah ujungnya. Wis to, pokoknya mah, setelah usaha yang maksimal, doa maksimal, insyaAllah semua akan lancaaarrr dan hasilnya adalah yang terrbaiiik ;)
.

Jadi ini sih intinya, sesuatu yang besar didapatkan dengan pengorbanan yang besar jua.
Tidak bisa kita pengen ini-itu tapi yang dilakukan juga cuma itu-itu lagi, itu-itu doang. Mungkin bagi sebagian orang, konferensi mah gitu doang, sepele. Ke Jepang juga cuma situ doang, gampang. Tapi bagi kami, bagi saya utamanya, perjalanan ke Jepang memberikan hikmah yang luar biasa dalam diri saya. Tentu masih banyak hal yang harus saya perbaiki dari diri saya, tapi saya tidak bisa mengatakan bahwa tidak ada yang saya dapatkan sepulang dari Jepang, justru banyaak!

Soo, keep fighting on your dreams! Jaga diri (dan hati) supaya tetap on the track  dengan tujuan besar kehidupan *halah yang sudah kita bangun sejak awal. Penyesuaian dengan realita sedikit tidak masalah. Tapi bukan berarti kita akan menyerah dengan keadaan. Yang membuat kita berhenti hanya Allah, bukan kelemahan kita. Terlalu banyak alasan yang membuat kita harus lebih banyak bersyukur dan terus bekerja keras. Kalau kata Pak Dis sih; bersyukur dengan cara bekerja keras :D Selamat berjuaaang!
.
Semoga tulisan ini juga menjadi pengingat bagi diri agar senantiasa tegar dalam berjuang :’)

Selesai ditulis di Yogyakarta, 16 Desember 2016 23:52

Your Journey Partner,

Andika Putri Firdausy a.k.a #PutriPejuang a.a.k.a #FirdausyFighter

Sabtu, 30 Juli 2016

Tiga Perlima Indonesia

Indonesia ini, luaaas sekali. Terbentang dari Sabang sampai Merauke yang jaraknya 5428 km, lebih dari 75% jari-jari Bumi. Terdiri lebih dari 17.000 pulau sehingga menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Garis pantainya, terpanjang nomor empat di dunia. membentang lebih dari 80.000 km. Kalau yang saya lihat dari video di GNFI nih, kita sampai butuh waktu 37 tahun (tiga puluh tahun meeen!!!) untuk genap menjelajahi seluruh pulau di Indonesia jika setiap hari kita berpindah pulau (linknya disini). Lantas, jika Indonesia aja seluas itu, Bumi ini apa? Lalu Saturnus? Jupiter? Bagaimana dengan Matahari? Bima Sakti? Ooh baiklah, semua itu membuat kita semakin kecil. Kecil hingga tak terhingga. Sungguh Allah Maha Besar.

Oleh karena kita ini sudah kecil, boleh lah ya punya mimpi-mimpi besar. And yes, one of my big dream is Keliling Indonesia! At least, ke lima pulau besar di Indonesia lah~

Saya ini orang Jawa asli, dan tinggal di Jawa. Sekolah juga di Jawa dari TK sampai kuliah. Lalu, apakah berhenti sampai disitu? Penak men, jelas tidak. :D Tentu saya tidak akan membiarkan mimpi saya keliling Indonesia menguap begitu saja. Satu-satunya yang terlihat nyata adalah program di UGM yaitu KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sebentuk program pengabdian masyarakat yang bisa dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. And yes, pastilah saya memilih ke luar Jawa.
*abaikanjudulnya*

Kenapa?

Rabu, 16 September 2015

Kupanggil Ia Umak

| Bahagia itu sederhana, bukan?
Pagi ini, sama seperti pagi biasanya. Berkutat dengan rutinitas seperti biasa. 
Tiba-tiba, saat mata masih terpaku pada sebuah layar 14 inch, sebuah pesan singkat masuk ke dalam telepon genggamku. Dari Umak, Temajuk. Perasaan bahagia seketika menyergap. Setelah sekian lama, akhirnya aku mendapatkan kabar.
Orangtua angkatku memang tidak termasuk yang sering bepergian ke kecamatan. Berita mengenai keberadaan sinyal yang 'tiba-tiba' ada di Temajuk juga sampai kepadaku, namun hal tersebut belum berpengaruh begitu banyak tampaknya. Belum ada tanda-tanda sinyal di rumah.
Aku menjawab pesan dengan cepat, takut kalau-kalau sinyal akan segera menghilang. Semalam memang ada satu pesan dari Umak. Akan tetapi setelah aku menjawab pesannya nampaknya sinyal kembali menghilang. Pesanku tidak terkirim.Tidak berapa lama aku sibuk mencari pinjaman headset untuk kugunakan menelepon. Maklum, speaker HP tuaku sudah tidak bisa digunakan lagi.
Aku memencet deretan angka dengan cepat. Waktu benar-benar terbatas. Tidak ada yang tahu kapan sinyal akan datang dan pergi. Aku duduk dengan gusar. Layar 14 inch itu sudah tidak lagi mendapat perhatianku. Kufokuskan pandangan pada sebuah layar yang lebih kecil: layar telepon genggamku.
Tut..tut..tut...
Nada sambung terus berdering.
Tut...tut...tut...
Masih nihil. 
Aku mencoba berulang kali sampai akhirnya petugas yang menjawab.
'Maaf, nomor yang Anda telepon sedang berada di luar servis area. Silahkan mencoba beberapa saat lagi.'
Ah, benar saja. Waktuku belum cukup untuk berburu sinyal. Tapi aku tidak menyerah. Aku mencobanya lagi dan lagi.
Sembari menunggu telepon diangkat, aku membuka folder album foto di laptopku. Foto yang tidak seberapa jumlahnya itu kutatap lamat-lamat. Tampak sebuah foto berlatarkan sebuah ruang keluarga.

Galih, Umak, dan Aku. Sesaat sebelum pulang. (28 Agustus 2015)
Ada aku, Galih, dan Umak disana. Kami saling berpelukan. Kutamatkan lagi paras Umak. Paras yang teduh dan menenangkan. Ah, Umak. Seorang wanita tangguh dan luar biasa. Tidak pernah banyak bicara dan terus bekerja.
Tes... 
Cairan hangat mulai memenuhi kelopak mataku. Hangat.

Aku masih terus mencoba perburuan sinyal. Kemudian aku mengetik sebuah pesan, barangkali Umak tidak menjawab nomor tidak dikenal karena aku menggunakan nomor lain.
'Ibu, ini putri :) bisa teleponkah?'
Aku masih menunggu dengan gusar.
Akhirnya, tidak berapa lama, pesan singkatku terkirim. Aku segera mencoba kembali menelepon. Barangkali sinyal telah menghantarkan pesanku.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Teleponku diangkat, dan di saat yang bersamaan Umak menjawab smsku: 'Bisa'.

Rabu, 22 April 2015

Lost in Bangkok

It has been a long time since I realize that my heart is left behind in Bangkok! OMG!!!

Btw, post kali ini akan agak sedikit alay, maafkeun ><
Oke, saya akan menceritakan sesingkat mungkin serangkaian perjalanan saya ke Bangkok bulan lalu (karena kalau detail pasti nggak akan selesai :p). And the story began here...

Minggu, 21 September 2014

Secuil Cinta dari Jogja

Putri’s Ramadhan Diary: Secuil Cinta dari Jogja

Bismillah. Alhamdulillah, its Ramadhan! ^o^

Hari ini, saya merasa menjadi manusia yang paling lemah. Paling berdosa. Paling hina. BETAPA TIDAK? Hari ini masih di dalam bulan suci Ramadhan, dimana amal baik dilipatgandakan pahalanya, dimana pintu Surga dibuka selebar-lebarnya, dimana Neraka ditutup serapat-rapatnya, juga, dimana setan dan iblis dibelenggu. TAPI... Masih sempat-sempatnya saya bermalas-malasan dalam melakukan kebajikan? Astaghfirullah, ampunilah kami Rabb. Sungguh hanya Engkaulah Pembolak-balik hati kami...

RAMADHAN MASIH MALES2AN??? TERLALU! -,-“

***
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...

Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
***

Senin, 14 Juli 2014

Salah Musim

Angin segar bertiup riang
Menembus embun pagi yang malu-malu
Daun-daun yang berguguran
Ditemani percikan air hujan yang lembut
Indah 

Pagi yang terbalut oleh awan
Kelabu yang menari di angkasa
Berhimpun menyelimuti mentari
Mengajak hati bersemi-semi
Damai



Tujuh bulan yang lalu
Suasana yang sama, tempat yang berbeda
Aku berdiri terpaku menikmati ayat kauniyahNya
Sungguh, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


Sampaikanlah rindu ini, Rabb
Pada hawa sejuk di ujung sana
Sampaikanlah asa ini, Rab
Pada negeri tanduk di belahan sana
Kansai,
Kumamoto,
Kyoto
aku merindukanmu .



Yogyakarta,
14 Juli 2014 08.15


Andika Putri Firdausy


Minggu, 13 Juli 2014

Catatan Ramadhan #1

28 Juni 2014 | Maskam | Ba’da Isya’ | Prof. Dr. H. M. Amien Rais | Golongan Manusia

Di akhirat kelak, terdapat dua golongan besar manusia: ashabul jannah dan ashabul an-naar, atau penghuni surga dan penghuni neraka. Akan tetapi diantara keduanya juga, ternyata ada satu golongan lagi, yaitu ashabul a’raf (Q.S. Al-A’raf).

Al-a’raf sendiri berarti tempat yang tinggi. Di akhirat kelak, ashabul a’raf ini akan berada pada tempat yang tinggi diantara surga dan neraka, yang akan diisi oleh orang-orang yang berimbang amal baik dan buruknya.

Mereka akan turut bahagia ketika melihat orang-orang di surga dimuliakan. Juga, akan turut teriris melihat orang-orang di neraka di siksa. Begitu seterusnya hingga Allah menetapkan padanya apa yang dikehendaki oleh Allah.

Mereka melihat. Penghuni neraka meminta bantuan dan air kepada penghuni surga, kemudian penghuni surga tersebut menjawab, bahwa kedua hal tersebut diharamkan oleh Allah diberikan pada orang-orang kafir, yaitu orang yang terlihat beragama akan tetapi bermain-main dan bersenda gurau dengannya.

Kafir sendiri terbagi menjadi dua macam. Kafir pertama, merupakan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya, orang-orang yang syirik. Sungguh tidak akan masuk surga orang-orang yang tidak beriman* à adzabul ‘adziim.

Lalu, siapakah golongan kafir kedua ini? Yaitu orang yang terlihat beragama akan tetapi bermain-main dan bersenda gurau dengannya. Orang yang beragama, akan tetapo hanya menjadikan agamanya sebagai topeng untuk dunianya. Na’udzubillah.


Semoga Allah senantiasa menjaga kita di jalanNya. 

Jumat, 06 Juni 2014

Ibu...


Mungkin aku akan terus mendewasa
Menjadi sosok yang terlihat bijak di hadapan banyak orang
Tapi
Aku tetaplah anak kecil Ibu
Anak kecil ibu yang manis dan manja
Anak kecil yang akan selalu membutuhkan Ibu...

Ibu, terima kasih....


Di tengah gelapnya malam dan keringnya air mata,
Yogyakarta, 5 Juni 2014  18:37


 
 
 
 

Minggu, 09 Februari 2014

Sebuah Percakapan

Lagi-lagi hanya bisa memberikan air mata. Dan kata maaf. Allah, maafkan hamba. Ibuk, ayah, maafkan anak bandelmu satu ini, ya. Utii, lekas sehat, nggih. Jogja, semester empat, mari bersahabat!

Sembari menanti senja, dudukku tidak tenang. Akhirnya kutekan tanda panggil di telepon genggamku. Tut...tuuut. 
*Halo? 
Suara seorang lelaki agak berat di seberang sana. 
**Om, ini putri, hehe. 
*Ooh, mau ngomong sama ibuk? 
**Nggih, om. 
Lalu terdengar percakapan nun di seberang sana. 
*Iki, kekno ibuk e. 
Aaaa, tiba-tiba, suara mendayu, seakan menolak tapi patuh, suara anak kecil yang kurindu. Adik sholih, apa kabarmu, sayang? Ah, manisnya suaranya. Mbak put rindu kamu, dek. :’)

Lalu yang dilakukannya adalah mengoperkan telepon genggam tersebut kepada orang lain.
Kali ini seorang wanita, yang kukira... 
*Nduk? 
**Halo, nggih
*Ngomong karo ibuk to
**Oh, hehe nggih. 
Dalam hati: mirip sekali suaranya. Ah, namanya juga saudara. Bulik tangguh satu ini. Kuat ya, bulik, cobaan itu darimana saja, insyaAllah kalau kuat dan sabar balasannya surga. Ah, maaf ponakan yang waktu kecil kau rawat belum bisa membalas apa-apa selain doa. Semoga engkau selalu dikuatkan.

*Ning kosan nduk? 
**Hehe, nggih, senin besok pun masuk. 
*Oalaah, ho’oh. Sehat to? 
**Alhamdulillah. Jenengan datheng rumah to? 
*Ora, iki wis nyampe rumah e uti. Iki lo ibukmu.

**Halo, assalamu’alaykum. Buk. 
*Nduk, ning ndi iki? Ning kosan? 
**Nggih, ning kosan. 
*Mau dienteni kok ra telpon-telpon, lali ta? 
**Hehe, mboten, tadi mbenerin speedy, internetnya mboten saged. 
*Oalaah la sing mbayar 50ribu iku? 
**Nggih, sik dibenerin. Ada siapa aja buk? 
*Iki ana uti, bl ulin, bl utik, jare bl ida mrene kok ga teko2. 
**Loh, bl ida? Mbolos berarti adek2? 
*Iyo. Iki lo, ngomong karo uti ta? 
**Hehee, ngomong apa? 
*Lo, kok ngomong apa, ya tanya sehat ta apa ta. 
**Hehe. 
*Sik.

*Halo, assalamu’alaukyum. 
**Wa’alaykumsalam. Ti? 
*Nduk, sehat? 
**Alhamdulillah. Uti pripun, sehat? 
*He, ya alhamdulillah wis mendingan. 
**Sampun berobat, ti? 
*Wis, sabtu ndek ingi. 
**Dianter sinten ti? 
*Karo bl ulin. Ning rumah sakit e pas rame, dadi ra iso ngontrol gula e. ..... Sampean jerek e tas pulang nduk? 
**Hehe, nggih ti, ngapunten mboten ke blitar. 
*Iyo ra popo, brp hari? 
**10 hari ti di rumah. 
Antara sedih, nyesel, ngerasa bersalah. 
Hening. 

**Hmm ti, nggih sampu ti ngoten mawon, mugi2 uti diparingi seger waras. 
*Aamiin, dunga dinunga ya, nduk. 
**Nggih ti. Nggih sampun, assalamu'alaykum. 
*Wa'alaykumsalam.

Nyoh.

Tes...


**Buk? 
*Halo, nduk. ..... Sampean nangis ta?
** (sesenggukan) Ha? Mboten.
*Kok suarane bindeng. 
**Mboten. Buk, alamat e smp 3 apa? 
*Jalan dr. Soetomo no 1 bangil 67153
**Nek pabriknya ayah?
*Yo gak apa nduk, engko ben di sms ayah. 
**Ooh nggih, lupa blm ditulis ternyata ada di form. 
*Lha kapan dikirim e? 
**Besok buk, jenengan doakan nggih. 
*Lha sing daftar kaya sing wingi ikut ta?
**Mboten, yang kemarin dari pemerintah, ini dari perusahaan, kaya Sampoerna, gitu.
*Oalaah, lha sing kae?
**Pesimis buk. Nilainya turun. (mulai lagi)
*Lha pira nilaine?
**Sik ada yang belum keluar.
*Lha tapi kan ana nilaine, pira nduk?
**Turun, buk, 3,xx (sambil sesenggukan tapi ditahan)
*Oh ya wis gpp, iku wis apik kok, pean ya wis berusaha, kegiatan e ancen akeh, saiki kan wis ngerti prioritas e. Gpp, ibuk biyen ya ga sampe sak mono, wis to, ibuk ga kecewa, ibuk lo gpp,  apa meneh ayah, wis gausah dipikir. 

Tapi, semua suara itu seakan terbang. Aku tidak bisa merasakannya. Hanya sesunggukan menahan peluh.
Ah.

Rabbi, sungguh hanya Engkau yang tahu apa yang terbaik bagi kami. Hanya, izinkanlah kami menjadi manusia yang bermanfaat, dan manusia yang selalu lebih baik dari sebelumnya.
Bismillah.

Yogyakarta, 9 Februari 2014
 
 

Selasa, 11 Juni 2013

Hidup dan Roti Bakar

Kau tahu roti bakar?
Pernah memakannya?
Bagaimanakah rasanya?
Enak, bukan?


Tapi tahukah, dibalik kenikmatan rasanya, terdapat hikmah yang mendalam. Tak hanya diujung lidah dapat dirasa, tetapi juga di lubuk hati.
How? Here's the story.. #eh :D


Minggu, 10 Maret 2013

Waspadalah ! (Tolong, aku 'diculik' !)



Kejahatan terjadi bukan karena niat pelakunya,  tetapi kejahatan terjadi karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah ! (Bang Napi)


         Di zaman yang katanya semakin modern dan canggih ini, modus-modus kejahatan pun tak kalah canggih meski cara-cara lama belum sepenuhnya ditinggalkan. Dari mulai mencopet, merampok, pembobolan atm, gendham, sampai modus-modus dengan menggunakan media seperti penipuan-penipuan yang sering terjadi akibat sms atau telepon dari orang yang tidak dikenal. Ada pula sindikat pelaku kejahatan yang telah tersusun rapi sampai-sampai intelpun tak bisa melacak keberadaannya.
        Terkadang heran juga melihat perkembangan kejahatan di negeri ini yang bahkan mengalahkan perkembangan perekonomian (mungkin). Tapi jikalau saya salah, toh jumlah kejahatan di negeri ini memang tidak dapat diremehkan. Tidak hanya kejahatan yang menimbulkan kerugian material, tetapi juga kejahatan kemanusiaan. Kalau saja sistem di negeri ini adalah kekhilafahan, insyaAllah semua itu tidak akan ada lagi. Semoga secepatnya.

Kamis, 24 Januari 2013

Jogja...


19 Januari 2013. Tak terasa telah hampir 5 bulan tak melakukan perjalanan sejauh ini. Jogja, kota sejuta kenangan. Berat rasanya meninggalkan keluarga baru disana, namun kerinduan pada kehangatan keluarga lamaku sudah tak bisa dibendung lagi. Jogja. Satu kata yang membuatku berdesir pada awalnya. Kota yang sangat sulit untuk kujamah. Teringat akan  perjuangan panjang yang telah kulalui sebelum akhirnya benar-benar berada disana. Jogja. Entah mengapa hatiku telah kutambatkan padamu, jauh sebelum aku benar-benar mengetahui dirimu yang sebenarnya. Jogja. Awalnya aku merasa disini akan sedikit berat. Ilmu yang belum pernah kupelajari, bahkan tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya, kota pelajar yang terkenal dengan 'sarkem'nya, kota penuh budaya, dari yang paling baik sampai yang paling tidak, itu semua sudah cukup untuk membuatku takut melangkah. Tetapi tekadku tetap bulat. Jogja. Bilamana ku ingat, betapa besar perjuangan orang-orang yang ku sayang. Ayah, ibu, dan semuanya. Entah bagaimana aku akan mengucapkan rasa terima kasihku kepada mereka. Sungguh, hanya Allah lah yang akan membalas semua kebaikan dan kasih sayang kalian.

Berkumpul di Jannah