Seperti air yang membawa kesegaran, seperti angin yang membawa kesejukan, dan seperti api yang membawa kehangatan.
Rabu, 01 Mei 2019
Hanya Sebuah Perasaan
Tadi pagi ke pasar, terus ada petugas yg sedang sibuk (menggusur) menertibkan PKL. Nggak tau gimana awalnya sih, jd nggak tau detail kasus atau siapa yg salah. Cuman jadi ngilu sendiri aja liatnya. Jadi kaya mikir, jangan sampai, orang diluar sana bersusah-susah menghidupi keluarganya, dan kita enak-enakan dg hidup kita tanpa peduli sedikitpun.
Iya hidup, dan segala perniknya adl pilihan. But please make sure, ketika kita memutuskan utk memilih atau melakukan sesuatu, bukan cuma utk kepentingan kita pribadi. Yaa gpp sih sebenernya, tapi tolong jangan menganggap bahwa semua orang itu hidup enak seperti kamu ~~ Banyak lho, yg hidupnya nggak tenang, makan nggak enak, tidur nggak nyenyak. Dan di atas itu semua, tanpa sadar, ternyata kita berkontribusi mewujudkan ketidakenakan (?) hidup orang tsb. Lalu apakah kita masih bisa nggak peduli sama sekali dg orang lain dan lingkungan di sekitar kita?
Ini bukan cuma ttg Pilpres atau filmnya Watchdoc. No.
Ini adl tentang kita sendiri, sebagai manusia, sebagai khalifah di Bumi ini. Apa iya kita bisa hidup tenang kalau tahu bamyak diluar sana yang tanpa kita sadari dirugikan karena ulah, KITA...
Dari dulu, orangtua selalu negur kalau ada listrik dibuang2, colokan dibiarin padahal udah nggak butuh. Buang sampah ke tempat sampah, dan sebisa mungkin pisahin organik dan anorganik. Matiin mesin motor kalo lampu merah masih lama. Sampai aku salut sm salah satu temen, yg belio kalo beli buah, akan pilih yg mendekati busuk alias kematengen, supaya nggak nambah food waste.
Jadi, apapun yg kita lakukan, itu IYA ngaruh ke lingkungan sekitar kita. So please, berhentilah untuk tidak peduli.Mau berkontribusi dg apapun, monggo, it's your choice.
Ini adalah tanggungjawab kita sebagai manusia, sebagai khalifah di Bumi ini. Allah sudah sangat baik memberikan kita kesempatan, lalu apakah begitu saja kita siakan?
Rabu, 15 Agustus 2018
Perspektif
Salah satu materi dari pelajaran Seni Budaya zaman SMP dan SMA adalah tentang Gambar Perspektif. Ada yang ingat?
Ialah ketika kita menggambar objek dari suatu titik pandang tertentu. Kalau digambar di atas kertas, titiknya bisa diambil dimana saja sih; kadang di tengah di pojok kiri, atau dimana saja. Suka-suka yang gambar. Gambarnya biasanya pake penggaris, karena gambar perspektif nih harus menggambar objek dengan menarik garis dari titik acuan.
*btw ini pelajarin seni yg cukup favorit bagi sy krn gambarnya pake penggaris jd lbh 'mudah' gak perlu mikir² amat wk
Hasilnya? Objek yang sama, tetapi dengan titik acuan berbeda, ya gambaran akhirnya akan berbeda.
Lho, tapi kan gambar awalnya sama? Yha. Tapi kan sudut pandangnya berbeda.
Sama seperti respon manusia ketika ada suatu kejadian. Pasti beda-beda, kan?
Ya, karena mereka melihat dari sudut pandang yang berbeda. Bahkan dari sudut yang sama pun, bisa jadi masih berbeda dalam menanggapi karena memang latar belakang pengetahuan yang berbeda.
Intinya,
Saling memahami.
No judgement.
Jangan lupa klarifikasi.
Karena hidup ini adalah seni untuk saling mengerti ~
Jakarta,
15 Agustus 2018
#iyainajalahyha
Senin, 25 Juni 2018
Allah itu Dekat
Pernah nggak, merasa, bahwa semesta terasa memusuhi kita?
Pernah nggak, merasa, bahwa apa-apa yang kita lakukan salah di mata semua?
Pernah nggak, merasa, bahwa diri ini rasanya tiada guna? Hidup pun seperti percuma?
-----
Rasa-rasanya,
Allah lagi kangen...
Cuman,
Kitanya aja yang selama ini nggak peka, terlalu sibuk dengan urusan dunia.
-----
Allah SWT berfirman:
وَاِذَا سَاَلَـكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran." (QS 2:186)
-----
"Fa inni qariib, maka sesungguhnya Aku dekat.."
Namun sayangnya hambaMu ini ya Allah, yang tak pernah mau mendekat..
"Ujiibu da'wataddaa'i, Kukabulkan permohonan orang yang berdoa.."
Namun sungguh sayangnya hambaMu ini ya Allah, yang selalu enggan meminta..
-----
Jangan bosan-bosan untuk selalu mendekat. Karena Allah suka ❤ lalu apa yang kita cari di dunia ini selain ridhoNya, kan?
#ntms
Jumat, 24 November 2017
Sindrom Rajab (dan Syawal) ~
Nyamnyamm~ ada apa dengan bulan Rajab? ^o^
Dan saking lamanya saya menunda pos ini, sampai sudah mau memasuki bulan Rajab (lagi dan lagi). Subhanallah, betapa cepatnya waktu berlalu. ~
Senin, 05 Oktober 2015
Bukan Wanita Biasa
![]() |
| Malang, Maret 2015 |
Rabu, 25 Februari 2015
Menemukan Perbedaan
| Teras Masjid Istiqlal, Jakarta (6 Sept. 2013) |
Nyamm~ tulisan ini berawal dari waktu itu, ketika saya 'berkunjung' ke Masjid Mujahidin UNY, Yogyakarta.
Kamis, 13 November 2014
Memilih Takdir
| Kyoto, 15 December 2013 |
The one who decided your future is you | So keep moving forward and never look back | Don't listen what people are saying | They never care what you are doing about | They just wanna see the best of you
Pertanyaannya adalah, benarkah semua itu? Atau, jangan-jangan semua itu hanya prasangka kita. Hanya ilusi akan ketakutan-ketakutan kita menjalani hidup. Padahal, bukankah setiap sekecil apapun hal di dunia ini telah diatur oleh Sang Waktu?
Kamis, 11 September 2014
Terimakasih "Pak Ogah"
Nyil Unyil Unyil Usrok ~Mencoba menyelesaikan kalimat yang telah saya mulai berbulan-bulan yang lalu :D
Bismillah.~~~
Ada yang tahu Pak Ogah?
Benar, Pak Ogah yang ada di film Si Unyil.
Mungkin ada yang akrab dengan kalimat, "Gopek dulu dooong..."
Yap, itu adalah kalimat andalan Pak Ogah jika akan dimintai tolong.
Akan tetapi yang menjadi bahasan saya kali ini bukan Pak Ogah-nya Unyil, melainkan Pak Ogah yang lain. Siapakah gerangan???
Kamis, 08 Mei 2014
Tentang Indonesia
Akhir-akhir ini saya sering membaca tulisan yang cukup provokatif, yang satu, sebenarnya tidak menjelek-jelekkan Indonesia, tetapi memang menonjolkan kelebihan negeri tetangga, sedangkan tulisan satunya, seakan tak mau kalah, menulis mengenai betapa indahnya Indonesia, tanpa harus melirik negeri lain. Hm, menarik.Saya sendiri, tidak naif, memang menjadikan luar negeri menjadi salah satu tujuan saya, terutama untuk studi lanjut (insyaAllah). Dan bagi saya, itu sah-sah saja, maksudnya, dalam beberapa hal, luar negeri memang lebih unggul dari Indonesia.Tapi, Indonesia tetaplah tanah air saya. Sebagaimanapunnya saya nanti, saya ingin kembali ke tanah ini untuk mengembalikan apa yang telah saya dapatkan.Maksud saya, haruskah diperdebatkan kecintaan kita pada Indonesia? Apakah solusi hanya selesai hingga perdebatan? Tentu saja tidak.
Selasa, 29 April 2014
KIK: Kartu Identitas K...?
Sebenarnya, akhir-akhir ini sedang marak berita mengenai parkir kendaraan bermotor di sejumlah fakultas di UGM. Ya, mungkin mahasiswa UGM sudah demikian sugih, sehingga membutuhkan lahan berlebih untuk memarkirkan kendaraannya (baca: mobil).
![]() |
| Sumber Foto: FB Mas Dwiky PS |
Saya jadi teringat tulisan saya ini yang sudah lama terbaikan. Bahas tulisan saya ajadeh yaaa :D
Rabu, 16 April 2014
Dakwah Kampus Ideal
“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing” (HR. Muslim)
Rabu, 09 April 2014
e-KTP
e-KTPIni tulisan tidak ada hubungannya dengan pemilu, ya!
Hanya saja, di tengah hiruk-pikuk pemilu, mendengar cerita beberapa orang kawan mengenai pemindahan dapil saat pemilu dengan syarat yang terkadang belibet, kenapa kita tidak memanfaatkan “e-KTP” saja?Saya masih sering bertanya-tanya sampai sekarang: sebenarnya, tujuan pembuatan e-KTP itu apa sih?Maksud saya, jika e-KTP itu digunakan sesuai tujuan aslinya, saya rasa, proses birokrasi menjadi lebih mudah, misalnya dalam hal pemindahan domisili untuk PEMILU (sekali lagi ini hanya contoh).Setahu saya, pada awal digembor-gemborkannya e-KTP, sepertinya e-KTP ini menjadi hal yang ditunggu-tunggu kehadirannya dan sangat diperjuangkan. Kami sekeluarga sampai bela-belain pulang mudik cepat-cepat karena mengurus e-KTP yang katanya hanya bisa diurus pada waktu tertentu saja, dan akan segera diberlakukan. Konon kabarnya juga e-KTP mengandung semacam chip yang dapat melacak identitas pemilik.Benarkah?Kalau boleh, saya ingin membandingkan dengan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) UGM. KTM kami (mahasiswa UGM, red) merupakan kartu single card, yang bahkan sekarang semakin bertambah fungsinya. Selain sebagai tanda pengenal mahasiswa, kartu ini juga dapat digunakan sebagai kartu ATM, kartu pembayaran Trans Jogja, kartu peminjaman buku di Perpustakaan UGM, kartu GMC (Gadjah Mada Medical Center), dan entah apa lagi.Saya rasa ini fungsi yang cukup banyak dan sangat membantu. Kita tidak perlu menggunakan banyak kartu, akan tetapi hanya perlu satu kartu yang multifungsi.Lalu, e-KTP saya, apakah sudah demikian?Hm, saya rasa belum.Harapan saya untuk e-KTP sih tidak muluk-muluk. Tidak harus multifiungsi seperti KTM di UGM. Yang terpenting adalah identitas yang jelas dari tiap penduduk Indonesia. Sistemnya benar-benar elektronik dengan kode-kode tertentu begitu yang dapat dilacak melalui sistem yang sama di seluruh daerah di Indonesia, sehingga dapat memudahkan ketika mengalami mutasi dan kawan-kawannya. Saya rasa banyak ahli yang lebih mengerti dibandingkan saya.Ini hanya sekedar opini pribadi saya, terlepas dari bagaimana sistem di Indonesia saat ini. Semoga Indonesia menjadi negeri yang lebih bermartabat. Semoga Indonesia segera pulih, aamiin.
Senin, 24 Maret 2014
High Achiever
Sabtu, 22 Maret 2014
Esai: Kepemimpinan
Setiap kita adalah pemimpin, dan setiap kita memiliki tanggungjawab atas apa yang kita pimpin.
Kamis, 27 Februari 2014
Kesyukuran Dibalik Bencana
![]() |
| Foto Udara Sebagian Yogyakarta (sumber: Kota Yogyakarta [fb] ) |
Kamis, 13 Februari 2014
GR atau Ge-eR ?
GR (Ge-eR)
Ada yang bisa menjelaskan ke saya apa maksud dari GR?
Pernah suatu ketika saya masih kecil, saya bertanya kepada orangtua saya, “Buk, Ge-eR itu apa sih?”. Lalu beliau menjawab, “GR itu kepanjangan dari Gedhe Rumangsa”.
Oooh, begitu rupanya.Suatu ketika, saya membaca “Berjuta Rasanya”nya Tere Liye. Di salah satu cerita di dalamnya (saya lupa judulnya), terdapat sebuah kisah menarik tentang Ge-eR ini. Betapa seorang perempuan merasa Ge-eR karena terus dilihat oleh teman laki-lakinya. Dia merasa bahwa temannya tersebut menyukainya karena selalu mencuri pandang dan sering menanyakan sesuatu kepadanya. Padahal temannya tersebut tidak bermaksud seperti yang ia harapkan, karena teman laki-lakinya tersebut justru menyukai teman si perempuan ini. Hahaa. Geli juga membacanya, karena saya seakan ditohok dengan cerita yang ada. [?]Saya rasa, semua orang pernah merasa ke-Ge-eR-an, entah disadari atau tidak. Hal itu merupakan suatu sifat alami manusia yang merasa ingin diperhatikan. Jika dikelola dengan baik dan sesuai porsinya, saya rasa perasaan Ge-eR itu sah-sah saja. Akan tetapi, semua yang berlebihan akan berujung pada kemudharatan, termasuk sikap Ge-eR ini. Semakin dewasa kita, seharusnya kita lebih bisa mengontrol emosi kita.Ge-eR, merupakan suatu perasaan berlebihan yang merasa bahwa dirinya diperhatikan, bahwa dirinyalah objek suatu pembicaraan, bahwa dirinyalah yang sedang diperbincangkan. Ge-eR lebih mirip dengan rasa kepercayaan diri yang terlalu tinggi, kePDan.Boleh, bahwa kita merasa mempunyai sesuatu yang lebih dari yang lain. Boleh, bahwa kita merasa ingin diperhatikan. Tapi ingat, semua harus dilakukan dalam batas kewajaran. Karena semua hal yang berlebihan tidak pernah berujung dengan baik. Cukupkanlah dengan cukup itu sendiri.
12 Februari 2014 10:53
Rabu, 12 Februari 2014
Sindrom 20
Yap. Pernikahan.
Entah siapa pencetus pertamanya, pembahasan tentang pernikahan saat ini begitu marak di sekitar saya, terutama di kampus. Mungkin, dan memang kata sebagian orang, memang sudah saatnya seumuran kami (menginjak 20 tahun) membahas mengenai hal-hal tersebut. Bukanlah sebuah hal yang tabu jika membicarakan hal-hal positif dan jelas hukumnya ini. Akan tetapi pembahasan yang terus-menerus, rasanya dirasa risih juga. Mungkin bukan risih, tapi...
"Lagi apa, mblo?"
"Ciyee jones"
"Truk aja gandengan, masa kamu engga?"
"Tahu aja ada isinya, masa hatimu kosong?"
"Ondel-ondel aja punya pasangan"
"Wisuda cuma didampingi ortu aja, itu wisuda apa ambil rapor?"
Dan sederet kata-kata sejenis lain yang beterbangan di sekeliling kita.
What do you feel, guys?
Kebakaran jenggot?
Woles aja?
Atau, bingung harus merasa bagaimana?
Hahaha, keep calm! :)
Oke, pertama, mari kita duduk dengan tenang dan membicarakannya baik-baik.
-
Tanjung Datu, Agustus 2015 (Dok. Pribadi Serambi Negeri ) Siapa yang tak mengenal bunga Rafflesia? Selain bunga Melati Putih ( Jasm...
-
Ghaaziy; Duta Sabar dan Syukur Bunda Ketika sudah lama ditimang-timang lalu tertidur dan mau ditaruh di kasur. Belum sampai kepa...
-
Assalamu'alaikum Ibukku sayang, sedang apa disana? Biasanya pagi-pagi Ibuk udah absen nanyain Ghaaziy udah bangun apa belum. Udah dibaca...


.jpg)





