Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Mei 2019

Hanya Sebuah Perasaan

Sebuah perasaan seorang anak manusia yang muncul karena berbagai alasan sebenarnya, tapi kemudian sampai pada puncaknya ketika, ada seseorang yang berkata, "Kita ni masih bisa hidup enak, makan nikmat, kasur empuk, nyaman.. Kenapa masih pada gak nerima...?". Dalam hati ku berkata, Hellaaaw, di negara ini ada lebih dari 250 juta manusia yg bermacam², bukan cuma kamu aja, Ferguso!

Tadi pagi ke pasar, terus ada petugas yg sedang sibuk (menggusur) menertibkan PKL. Nggak tau gimana awalnya sih, jd nggak tau detail kasus atau siapa yg salah. Cuman jadi ngilu sendiri aja liatnya. Jadi kaya mikir, jangan sampai, orang diluar sana bersusah-susah menghidupi keluarganya, dan kita enak-enakan dg hidup kita tanpa peduli sedikitpun.

Iya hidup, dan segala perniknya adl pilihan. But please make sure, ketika kita memutuskan utk memilih atau melakukan sesuatu, bukan cuma utk kepentingan kita pribadi. Yaa gpp sih sebenernya, tapi tolong jangan menganggap bahwa semua orang itu hidup enak seperti kamu ~~ Banyak lho, yg hidupnya nggak tenang, makan nggak enak, tidur nggak nyenyak. Dan di atas itu semua, tanpa sadar, ternyata kita berkontribusi mewujudkan ketidakenakan (?) hidup orang tsb. Lalu apakah kita masih bisa nggak peduli sama sekali dg orang lain dan lingkungan di sekitar kita?

Ini bukan cuma ttg Pilpres atau filmnya Watchdoc. No.
Ini adl tentang kita sendiri, sebagai manusia, sebagai khalifah di Bumi ini. Apa iya kita bisa hidup tenang kalau tahu bamyak diluar sana yang tanpa kita sadari dirugikan karena ulah, KITA...

Dari dulu, orangtua selalu negur kalau ada listrik dibuang2, colokan dibiarin padahal udah nggak butuh. Buang sampah ke tempat sampah, dan sebisa mungkin pisahin organik dan anorganik. Matiin mesin motor kalo lampu merah masih lama. Sampai aku salut sm salah satu temen, yg belio kalo beli buah, akan pilih yg mendekati busuk alias kematengen, supaya nggak nambah food waste.

Jadi, apapun yg kita lakukan, itu IYA ngaruh ke lingkungan sekitar kita. So please, berhentilah untuk tidak peduli.Mau berkontribusi dg apapun, monggo, it's your choice.

Ini adalah tanggungjawab kita sebagai manusia, sebagai khalifah di Bumi ini. Allah sudah sangat baik memberikan kita kesempatan, lalu apakah begitu saja kita siakan?

Rabu, 15 Agustus 2018

Perspektif

Salah satu materi dari pelajaran Seni Budaya zaman SMP dan SMA adalah tentang Gambar Perspektif. Ada yang ingat?

Ialah ketika kita menggambar objek dari suatu titik pandang tertentu. Kalau digambar di atas kertas, titiknya bisa diambil dimana saja sih; kadang di tengah di pojok kiri, atau dimana saja. Suka-suka yang gambar. Gambarnya biasanya pake penggaris, karena gambar perspektif nih harus menggambar objek dengan menarik garis dari titik acuan.

*btw ini pelajarin seni yg cukup favorit bagi sy krn gambarnya pake penggaris jd lbh 'mudah' gak perlu mikir² amat wk

Hasilnya? Objek yang sama, tetapi dengan titik acuan berbeda, ya gambaran akhirnya akan berbeda.

Lho, tapi kan gambar awalnya sama? Yha. Tapi kan sudut pandangnya berbeda.

Sama seperti respon manusia ketika ada suatu kejadian. Pasti beda-beda, kan?

Ya, karena mereka melihat dari sudut pandang yang berbeda. Bahkan dari sudut yang sama pun, bisa jadi masih berbeda dalam menanggapi karena memang latar belakang pengetahuan yang berbeda.

Intinya,
Saling memahami.
No judgement.
Jangan lupa klarifikasi.

Karena hidup ini adalah seni untuk saling mengerti ~

Jakarta,
15 Agustus 2018

#iyainajalahyha

Senin, 25 Juni 2018

Allah itu Dekat

Pernah nggak, merasa, bahwa semesta terasa memusuhi kita?

Pernah nggak, merasa, bahwa apa-apa yang kita lakukan salah di mata semua?

Pernah nggak, merasa, bahwa diri ini rasanya tiada guna? Hidup pun seperti percuma?

-----

Rasa-rasanya,
Allah lagi kangen...

Cuman,
Kitanya aja yang selama ini nggak peka, terlalu sibuk dengan urusan dunia.

-----

Allah SWT berfirman:

وَاِذَا  سَاَلَـكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ  اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran." (QS 2:186)

-----

"Fa inni qariib, maka sesungguhnya Aku dekat.."

Namun sayangnya hambaMu ini ya Allah, yang tak pernah mau mendekat..

"Ujiibu da'wataddaa'i, Kukabulkan permohonan orang yang berdoa.."

Namun sungguh sayangnya hambaMu ini ya Allah, yang selalu enggan meminta..

-----

Jangan bosan-bosan untuk selalu mendekat. Karena Allah suka ❤ lalu apa yang kita cari di dunia ini selain ridhoNya, kan?

#ntms

Jumat, 24 November 2017

Sindrom Rajab (dan Syawal) ~

Fyi, ini sebenarnya tulisan yang saya tulis hampir setahun yang lalu, last save-nya 13-07-14. But yeah, saya punya kebiasaan buruk meninggalkan tulisan 'tercecer' dimana. Daripada nunggu setahun, lebih baik saya teruskan sekarang. :D *editeditdikit

Bismillah.
Nyamnyamm~ ada apa dengan bulan Rajab? ^o^
Dan saking lamanya saya menunda pos ini, sampai sudah mau memasuki bulan Rajab (lagi dan lagi). Subhanallah, betapa cepatnya waktu berlalu. ~


Senin, 05 Oktober 2015

Bukan Wanita Biasa

Tugas Resensi Buku



Judul Buku   : Bukan Wanita Biasa
Pengarang    : Hadi Dust Muhammadi
Penerjemah   : Ibn Alwi Bafaqih
Penerbit     : Cahaya
Tahun        : 2005

Malang, Maret 2015

Rabu, 25 Februari 2015

Menemukan Perbedaan

Bismillah.


COULD YOU FIND THE DIFFERENCE?

Teras Masjid Istiqlal, Jakarta (6 Sept. 2013)
Nyamm~ tulisan ini berawal dari waktu itu, ketika saya 'berkunjung' ke Masjid Mujahidin UNY, Yogyakarta. 
Saya sadar bahwa bahan yang saya tulis pernah marak akhir-akhir ini, termasuk di Yogyakarta: kemiskinan. Indonesia merupakan Negara dengan penduduk miskin sejumlah sekitar 11% dari total penduduk Indonesia yang 250an juta jiwa (bps.go.id). Nilai ini merupakan nilai yang cukup tinggi melihat dari banyaknya potensi yang dimiliki oleh Indonesia. Ah, saya tidak ingin membahas hal itu sekarang~

Kamis, 13 November 2014

Memilih Takdir

Memilih Takdir

oleh: Andika Putri Firdausy


Kyoto, 15 December 2013
The one who decided your future is you | So keep moving forward and never look back | Don't listen what people are saying | They never care what you are doing about | They just wanna see the best of you 
Terkadang kita terlalu naif menjalani kehidupan. Mampu berlari tapi hanya berjalan. Mampu berjalan tapi hanya merangkak. Mampu merangkak tapi hanya merayap. Mampu merayap tapi hanya duduk terdiam. Terbaring di dalam kursi pesakitan yang kita buat-buat sendiri. Meratapi takdir yang seakan tak pernah berpihak pada kita.

Pertanyaannya adalah, benarkah semua itu? Atau, jangan-jangan semua itu hanya prasangka kita. Hanya ilusi akan ketakutan-ketakutan kita menjalani hidup. Padahal, bukankah setiap sekecil apapun hal di dunia ini telah diatur oleh Sang Waktu?

Kamis, 11 September 2014

Terimakasih "Pak Ogah"

Nyil Unyil Unyil Usrok ~ 
Mencoba menyelesaikan kalimat yang telah saya mulai berbulan-bulan yang lalu :D
Bismillah.
~~~
Ada yang tahu Pak Ogah?

Pak Ogah, salah satu tokoh dalam Si Unyil

Benar, Pak Ogah yang ada di film Si Unyil.
Mungkin ada yang akrab dengan kalimat, "Gopek dulu dooong..."
Yap, itu adalah kalimat andalan Pak Ogah jika akan dimintai tolong.
Akan tetapi yang menjadi bahasan saya kali ini bukan Pak Ogah-nya Unyil, melainkan Pak Ogah yang lain. Siapakah gerangan???

Kamis, 08 Mei 2014

Tentang Indonesia

Indonesia
Dengarlah suaraku
Kan kubawa sampai akhir langkahku
Jangan pernah menyerah
Sudah terlalu lama kita terlelap
Merah putih kan selalu di hati
(Dari Mata Sang Garuda - Pee Wee Gaskins)
Akhir-akhir ini saya sering membaca tulisan yang cukup provokatif, yang satu, sebenarnya tidak menjelek-jelekkan Indonesia, tetapi memang menonjolkan kelebihan negeri tetangga, sedangkan tulisan satunya, seakan tak mau kalah, menulis mengenai betapa indahnya Indonesia, tanpa harus melirik negeri lain. Hm, menarik.
Saya sendiri, tidak naif, memang menjadikan luar negeri menjadi salah satu tujuan saya, terutama untuk studi lanjut (insyaAllah). Dan bagi saya, itu sah-sah saja, maksudnya, dalam beberapa hal, luar negeri memang lebih unggul dari Indonesia.
Tapi, Indonesia tetaplah tanah air saya. Sebagaimanapunnya saya nanti, saya ingin kembali ke tanah ini untuk mengembalikan apa yang telah saya dapatkan.
Maksud saya, haruskah diperdebatkan kecintaan kita pada Indonesia? Apakah solusi hanya selesai hingga perdebatan? Tentu saja tidak.

Selasa, 29 April 2014

KIK: Kartu Identitas K...?

KIK ?


Sebenarnya, akhir-akhir ini sedang marak berita mengenai parkir kendaraan bermotor di sejumlah fakultas di UGM. Ya, mungkin mahasiswa UGM sudah demikian sugih, sehingga membutuhkan lahan berlebih untuk memarkirkan kendaraannya (baca: mobil).




Sumber Foto: FB Mas Dwiky PS

Saya jadi teringat tulisan saya ini yang sudah lama terbaikan. Bahas tulisan saya ajadeh yaaa :D 

KIK.

Ada yang tahu apa itu KIK?
Kalau mahasiswa UGM mustinya sudah tau lah, ya. ^^
Kali ini saya ingin membahas KIK, dalam perspektif diri saya sendiri. Jadi ini hanyalah sebuah tulisan/opini pribadi saya. Saya meminta maaf atas kata-kata yang kurang berkenan kemudian.

Oke, pertama, mari kita tengok apa itu KIK dari perspektif kami (Mahasiswa UGM 2012).

Rabu, 16 April 2014

Dakwah Kampus Ideal

Dakwah Kampus Ideal
Oleh: Andika Putri Firdausy
JMG (Jamaah Muslim Geografi) UGM

“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing” (HR. Muslim)
Mahasiswa merupakan status sosial istimewa yang dapat disandang hanya sebagian kecil penduduk di negeri ini. Mahasiswa merupakan kaum elit terpelajar yang di pundaknyalah kemajuan negeri ini dibebankan. Mahasiswa merupakan agent of change, agen perubahan yang diharapkan dapat mengubah negeri ini menjadi lebih baik ke depannya. Status ‘mahasiswa’ bukanlah suatu hal yang patut untuk disia-siakan. Sebaliknya, keadaan ini merupakan suatu hal yang patut dimanfaatkan sebaik-baiknya.
 Saat ini Indonesia masih berada pada tahap berbenah. Pengaruh kehidupan luar terutama bangsa asing banyak yang jauh bahkan tidak mencerminkan budaya timur. Nilai-nilai Islam tergerus oleh yang disebut perkembangan zaman. Di satu sisi, masa ini merupakan zaman modern – globalisasi – dimana sains dan teknologi dapat berkembang dengan pesat. Akan tetapi di sisi lain banyak orang yang menyalahartikan hal kemajuan tersebut, utamanya orang-orang yang masih kurang dalam hal pemahaman.
Indonesia terdiri dari masyarakat yang heterogen. Adanya pengaruh globalisasi dari berbagai pihak membawa dampak yang berbeda-beda bagi setiap orang, termasuk umat muslim. Terlampau banyak media yang menjejali kita dengan tayangan-tayangan yang tidak layak dan cenderung merusak moral bangsa. Minimnya da’i yang pantas, atau adanya perbedaan kepantasan da’i bagi orang awam justru dapat semakin memperburuk keadaan.  Tentu saja kita sebagai hamba Allah yang telah diberi kesempatan menimba ilmu tidak boleh membiarkannya begitu saja. Tugas memperbaiki akhlak bangsa ini pada akhirnya juga menjadi tanggungjawab kita.
Lembaga Dakwah Kampus (LDK) merupakan salah satu tempat untuk menyampaikan ajaran Allah. Sasaran atau target dakwah adalah mahasiswa yang dianggap sudah cukup mengerti dan dapat mengambil nilai-nilai dari kehidupan. LDK menjadi ujung tombak pergerakan dakwah Islam melawan nilai-nilai globalisasi yang menjebak, dengan tetap berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di dalamnya kelak diharapkan dapat menerapkan dan menyebarkan nilai-nilai Islam dalam setiap lini kehidupan. Serta mengajak saudara-saudara kita seiman untuk bersama berbenah memperbaiki akhlak bangsa ini, agar kemudian dapat bersama melangkah ke jannahNya.
Akan tetapi dalam perwujudannya tidak dapat semudah membalik telapak tangan. Tentu saja tidak ada hal yang sempurna – ideal – di dunia ini, kecuali Allah. Tetapi selalu ada batasan-batasan untuk membuat suatu hal menjadi mendekati sempurna, limit satu. Begitu juga dengan dakwah kampus ini. Dakwah kampus yang ideal bukan hanya dakwah kampus dengan da’i yang kesemuanya telah zuhud, atau yang kesemua da’inya telah memiliki ilmu yang sangat tinggi – ulama’ – tentu saja bukan. Dakwah kampus yang ideal menurut pandangan saya adalah dimana dakwah kampus tersebut dapat bergerak menyeluruh ke seluruh aspek kehidupan kampus, dapat mengajak yang siapapun untuk bergerak mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya, dapat menjangkau semua kalangan.
Dakwah kampus membutuhkan orang-orang yang dapat maksimal tidak hanya dalam hal beribadah, akan tetapi juga berjamaah. Dalam beramal kita dianjurkan untuk berjamaah, sehingga amalan kita dapat lebih terasa manfaatnya. Selain itu dalam berjamaah kita juga dapat meningkatkan ukhuwah islam antar saudara kita. Kekuatan kita selanjutnya terdapat dalam jalinan ukhuwah yang terjalin, sehingga dalam berdakwah kita tetap dapat saling mengingatkan dan menguatkan ketika iman sedang naik-turun. Selama Allah adalah satu-satunya tujuan, insyaAllah kita tidak akan pernah salah, dan tidak akan pernah kecewa. Semoga Allah senantiasa menjaga keistiqomahan kita. Mari berfastabiqul khairaat!

Yogyakarta, 28 Februari 2014

Andika Putri Firdausy

Rabu, 09 April 2014

e-KTP



e-KTP
Ini tulisan tidak ada hubungannya dengan pemilu, ya!
Hanya saja, di tengah hiruk-pikuk pemilu, mendengar cerita beberapa orang kawan mengenai pemindahan dapil saat pemilu dengan syarat yang terkadang belibet, kenapa kita tidak memanfaatkan “e-KTP” saja?
Saya masih sering bertanya-tanya sampai sekarang: sebenarnya, tujuan pembuatan e-KTP itu apa sih? 
Maksud saya, jika e-KTP itu digunakan sesuai tujuan aslinya, saya rasa, proses birokrasi menjadi lebih mudah, misalnya dalam hal pemindahan domisili untuk PEMILU (sekali lagi ini hanya contoh).
Setahu saya, pada awal digembor-gemborkannya e-KTP, sepertinya e-KTP ini menjadi hal yang ditunggu-tunggu kehadirannya dan sangat diperjuangkan. Kami sekeluarga  sampai bela-belain pulang mudik cepat-cepat karena mengurus e-KTP yang katanya hanya bisa diurus pada waktu tertentu saja, dan akan segera diberlakukan. Konon kabarnya juga e-KTP mengandung semacam chip yang dapat melacak identitas pemilik.
Benarkah?
Kalau boleh, saya ingin membandingkan dengan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) UGM. KTM kami (mahasiswa UGM, red) merupakan kartu single card, yang bahkan sekarang semakin bertambah fungsinya. Selain sebagai tanda pengenal mahasiswa, kartu ini juga dapat digunakan sebagai kartu ATM, kartu pembayaran Trans Jogja, kartu peminjaman buku di Perpustakaan UGM, kartu GMC (Gadjah Mada Medical Center), dan entah apa lagi.
Saya rasa ini fungsi yang cukup banyak dan sangat membantu. Kita tidak perlu menggunakan banyak kartu, akan tetapi hanya perlu satu kartu yang multifungsi.
Lalu, e-KTP saya, apakah sudah demikian?
Hm, saya rasa belum. 
Harapan saya untuk e-KTP sih tidak muluk-muluk. Tidak harus multifiungsi seperti KTM di UGM. Yang terpenting adalah identitas yang jelas dari tiap penduduk Indonesia. Sistemnya benar-benar elektronik dengan kode-kode tertentu begitu yang dapat dilacak melalui sistem yang sama di seluruh daerah di Indonesia, sehingga dapat memudahkan ketika mengalami mutasi dan kawan-kawannya. Saya rasa banyak ahli yang lebih mengerti dibandingkan saya.
Ini hanya sekedar opini pribadi saya, terlepas dari bagaimana sistem di Indonesia saat ini. Semoga Indonesia menjadi negeri yang lebih bermartabat. Semoga Indonesia segera pulih, aamiin.

Yogyakarta, 9 April 2014 01:00
Andika Putri Firdausy

Senin, 24 Maret 2014

High Achiever

Essay: High Achiever
Andika Putri Firdausy
Cartography and Remote Sensing, Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

First, let me introduce my self. My name is Andika Putri Firdausy, a student of Cartography and Remote Sensing UGM. Now I’m on my second grade. I do not really deserve to be outstanding students, but I will do my best.  To be an outstanding one is not easy. It is not just about how many times you have defeat the others, but it is about how far you can beat yourself, control yourself.
There are so many person that can be so gorgeous around us. They are all out in everything they have done. They can be a winner of a competiton, moderator or speaker in a seminar, have a summa-cumlaude GPA, get a scholarship and have chance to studying abroad, and many more. Sometimes we think about how can they get such a great thing. And sometimes we just forget, that they just do more than we think. Struggle.
Frequently, people think that an outstanding one is the one who have summa-cumlaude GPA, more than 6,5 IELTS score, get a scholarship, have a chance to exchange and study aboard; and an activists in organization, have a good faith and confidence, and many more. Perfect. But no body’s perfect. We always have our own strength and weakness.
For me, to be a great one is not too complicated. Someone who can be a better one every single time is more gorgeous. I respect everyone who have a big spirit to be a better one. To be the best we have a limit when we arrived in that ‘best’. But to be a better one, we have no limit, we just have to do something better than yesterday.

Besides, as a young and educated person, or maybe everyone, we supposed to have kind of dream. Dream about everything to make our better future. We should fight for our dream, temporary dream in this world, and everlasting dream in akhirat. Make any useful thing in every single step. Always be a better one everytime besides doing the best for your dream, than you will automatically be a high achiever. And don’t forget to be a humble one. May Allah bless us and give us chance to reach our dream. Keep spirit!

Sabtu, 22 Maret 2014

Esai: Kepemimpinan


Manusia adalah makhluk individu dan juga makhluk sosial. Pada dasarnya setiap manusia adalah seorang pemimpin, entah bagi orang lain ataupun bagi dirinya sendiri. Penciptaan manusia sebagai pemimpin atau khalifah di bumi ini juga merupakan titahNya. Akan tetapi terkadang kita tidak sadar bahwa kita sedang memimpin, entah itu memimpin suatu forum, kelompok, atau bahkan memimpin diri kita sendiri.
Seorang pemimpin dianggap sebagai ‘kepala suku’ atas apa atau siapa yang dipimpinnya. Ia berhak dan bertanggung jawab atas apa-apa yang dipimpinnya. Ia adalah satu-satunya orang yang harus menjadi paling rela meluangkan waktunya atas apa yang dipimpinnya. Ia adalah singa diantara domba-domba, boleh jadi yang dipimpin tidak tahu apa-apa, tetapi sang pemimpin harus tetap memposisikan dirinya.
Pemimpin bukanlah orang yang sempurna. Ia juga manusia seperti layaknya kita. Terkadang salah itu biasa, akan tetapi tanggung jawabnyalah yang diminta. Menjadi seorang pemimpin pun bukanlah perkara mudah, bukan suatu hal instan dan dapat begitu saja didapat. Jiwa pemimpin itu terlahir dan diasah, dan dibutuhkan piranti untuk mengasah.
Kepemimpinan merupakan skill dan jiwa yang wajib diupgrade. Kepanitiaan dan organisasi adalah salah satu tempat mengasah skill tersebut. Jiwa kepemimpinan pun memiliki jam terbang, semakin sering kita mengasah, semakin jiwa tersebut terbentuk dengan baik. Lingkungan yang baik juga dapat mendukung tumbuh-kembang jiwa kepemimpinan ini.
Setiap kita adalah pemimpin, dan setiap kita memiliki tanggungjawab atas apa yang kita pimpin. 

Andika Putri Firdausy,
Fakultas Geografi UGM 2012  

Kamis, 27 Februari 2014

Kesyukuran Dibalik Bencana

Kesyukuran Dibalik Bencana: Memandang dan Menyikapi Bencana

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” Q.S 94:5

Foto Udara Sebagian Yogyakarta (sumber: Kota Yogyakarta [fb] )

Definisi bencana menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (bnpb.go.id). Bencana, terkadang dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Bencana dianggap selalu membawa dampak negatif yang merugikan manusia. Akan tetapi kita telah lupa, bahwa dibalik setiap kejadian atau bencana tersebut, selalu terkandung sebuah hikmah.
Erupsi Gunung Kelud pada tanggal 13 Februari 2014 kemarin merupakan salah satu contoh. Gunung Kelud mengalami erupsi terakhir pada tahun 2007. Akan tetapi erupsi yang terjadi pada tahun tersebut merupakan erupsi yang tidak biasa. Erupsi Gunung Kelud biasanya merupakan erupsi yang eksplosif dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Akan tetapi pada tahun 2007, Gunung Kelud tidak mengalami erupsi eksplosif melainkan memunculkan kubah lava yang cukup besar di kawah Kelud. Akibatnya, aktivitas gunung tersebut menjadi berubah. Hal inilah yang mengindikasikan terjadinya erupsi yang cukup besar pada tahun 2014.
Erupsi Gunung Kelud pada tahun 2014 ini merupakan erupsi yang cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari material yang terlempar saat erupsi hingga sejauh 17 kilometer. Selain itu, akibat arah angin pada ketinggian tertentu lebih banyak mengarah ke barat-barat daya, sebaran abu vulkanik hasil erupsi Kelud juga lebih banyak mengarah ke bagian barat Kelud dubanding daerah lainnya. Menurut pemberitaan bahkan abu tersebut mencapai daerah Bandung, Jawa Barat dan mengakibatkan penundaan penerbangan di seluruh bandara di Pulau Jawa. Salah satu kota yyang terkena dampak dari abu vulkanik Kelud yan cukup besar adalah Yogyakarta.
Matahari pagi pada tanggal 14 Februari seakan enggan menyapa. Jam menunjukkan hampir pukul enam pagi, tetapi suasana masih sangat gelap seperti belum shubuh. Dari berita di televisi saya baru mengetahui bahwa hal tersebut terjadi akibat dampak abu vulkanik hasil erupsi Gunung Kelud semalam. Hari mulai terlihat lebih terang sekitar pukul tujuh. Langit berwarna jingga seperti senja, tetapi membawa hawa yang sedikit pengap. Berdasarkan instruksi, kami akhirnya menggunakan masker meski di dalam ruangan agar terhindar dari abu vulkanik yang memiliki bagian runcing sehingga dapat merusak organ pernapasan.
Kota Jogja seperti kota mati saat saya berkeliling untuk mencari makan di sore harinya. Hampur tidak ada warung yang buka membuat kami – anak kos – kelaparan. Dengan adanya hujan abu banyak pedagang enggan berjualan karena terganggu dengan debu yang beterbangan. Selain itu memang kondisi lingkungan belum kondusif sehingga justru akan emmbahayakan jika menjual makanan pada kondisi seperti ini. Dari sudut pandang negatif lainnya, kita dapat melihat banyak kejadian. Hujan krakal, krikil, hingga hujan abu yang mengguyur bahkan sebagian dari Pulau Jawa, lahar dingin dan material erupsi lainnya, serta beragam dampak negatif lain yang dapat kita lihat dari siaran-siaran berita di media. Akan tetapi, Allah tidak pernah menguji melebihi kemampuan hambaNya, maka dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan.




Selain dampak negatif, kita juga dapat melihat adanya dampak positif dari bencana ini. Sebuah gunung berapi dipastikan memiliki siklus erupsi sebagai bentuk peremajaan, sehingga gunung tersebut dapat terus memberi manfaat. Selain itu, material-material hasil erupsi juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan juga media tanam. Bagi para pedagang, tentulah hal ini menjadi suatu keberkahan untuk mendapatkan rezeki lebih. Jiwa sosial kita sebgai manusia juga diuji, apa yang dapat kita berikan kepada saudara kita yang sedang diuji dengan musibah. Salah satu contoh nyata kegiatan yang dapat meningkatkan rasa kekeluargaan adlah yang terjadi di Fakultas Geografi UGM. Kami bekerja bakti untuk membersihkan sisa abu vulkanik yang masih ada di sekitar kampus. Alhamdulillah, hujan telah mengguyur kampus semalam. Bukti akan kebesaran Allah akan ada, dan selalu ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Selalu siratkan syukur dibalik apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, agar semua kejadian lebih terasa nikmatnya. InsyaAllah.


Dibuat untuk melengkapi tugas mata kuliah Penginderaan Jauh untuk Vegetasi dan Penggunaan Lahan
Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh
Fakultas Geografi
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2014

Andika Putri Firdausy,
27 Februari 2014

Kamis, 13 Februari 2014

GR atau Ge-eR ?

GR (Ge-eR)
Ada yang bisa menjelaskan ke saya apa maksud dari GR?
Pernah suatu ketika saya masih kecil, saya bertanya kepada orangtua saya, “Buk, Ge-eR itu apa sih?”. Lalu beliau menjawab, “GR itu kepanjangan dari Gedhe Rumangsa”.
Oooh, begitu rupanya.
Suatu ketika, saya membaca “Berjuta Rasanya”nya Tere Liye. Di salah satu cerita di dalamnya (saya lupa judulnya), terdapat sebuah kisah menarik tentang Ge-eR ini. Betapa seorang perempuan merasa Ge-eR karena terus dilihat oleh teman laki-lakinya. Dia merasa bahwa temannya tersebut menyukainya karena selalu mencuri pandang dan sering menanyakan sesuatu kepadanya. Padahal temannya tersebut tidak bermaksud seperti yang ia harapkan, karena teman laki-lakinya tersebut justru menyukai teman si perempuan ini. Hahaa. Geli juga membacanya, karena saya seakan ditohok dengan cerita yang ada. [?]
Saya rasa, semua orang pernah merasa ke-Ge-eR-an, entah disadari atau tidak. Hal itu merupakan suatu sifat alami manusia yang merasa ingin diperhatikan. Jika dikelola dengan baik dan sesuai porsinya, saya rasa perasaan Ge-eR itu sah-sah saja. Akan tetapi, semua yang berlebihan akan berujung pada kemudharatan, termasuk sikap Ge-eR ini. Semakin dewasa kita, seharusnya kita lebih bisa mengontrol emosi kita.
Ge-eR, merupakan suatu perasaan berlebihan yang merasa bahwa dirinya diperhatikan, bahwa dirinyalah objek suatu pembicaraan, bahwa dirinyalah yang sedang diperbincangkan. Ge-eR lebih mirip dengan rasa kepercayaan diri yang terlalu tinggi, kePDan.
Boleh, bahwa kita merasa mempunyai sesuatu yang lebih dari yang lain. Boleh, bahwa kita merasa ingin diperhatikan. Tapi ingat, semua harus dilakukan dalam batas kewajaran. Karena semua hal yang berlebihan tidak pernah berujung dengan baik. Cukupkanlah dengan cukup itu sendiri.
Yogyakarta,
12 Februari 2014 10:53

Rabu, 12 Februari 2014

Sindrom 20

Orang-orang di sekitar saya sih lebih sering menyebutnya dengan "Sindrom 20" atau "Sindrom 20+". Artinya, sindrom ini hanya berlaku pada orang-orang yang akan-sedang-telah berumur 20 tahun. Sindrom apakah itu?

Yap. Pernikahan.


Entah siapa pencetus pertamanya, pembahasan tentang pernikahan saat ini begitu marak di sekitar saya, terutama di kampus. Mungkin, dan memang kata sebagian orang, memang sudah saatnya seumuran kami (menginjak 20 tahun) membahas  mengenai hal-hal tersebut. Bukanlah sebuah hal yang tabu jika membicarakan hal-hal positif dan jelas hukumnya ini. Akan tetapi pembahasan yang terus-menerus, rasanya dirasa risih juga. Mungkin bukan risih, tapi...

"Lagi apa, mblo?"
"Ciyee jones"
"Truk aja gandengan, masa kamu engga?" 
"Tahu aja ada isinya, masa hatimu kosong?" 
"Ondel-ondel aja punya pasangan" 
"Wisuda cuma didampingi ortu aja, itu wisuda apa ambil rapor?"

Dan sederet kata-kata sejenis lain yang beterbangan di sekeliling kita.

What do you feel, guys?
Kebakaran jenggot?
Woles aja?
Atau, bingung harus merasa bagaimana?
Hahaha, keep calm! :)

Oke, pertama, mari kita duduk dengan tenang dan membicarakannya baik-baik.

Berkumpul di Jannah