Tampilkan postingan dengan label ICAST2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ICAST2013. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Desember 2016

Three Years, Three Steps

Kyoto, 15 Desember 2013
It has been three years since that day ~
Saatnya kontemplasiii

Sejak perjalanan yang lalu, apa yang sudah didapatkan?
Apa yang sudah terlewati?
Mimpi bagian mana yang sudah tercapai?
Hmm rasa-rasanya diri ini masih terlalu jauh dari tujuan besar penciptaan :"

Jepang. Satu pengalaman yang menjadi buah dari berkumpulnya beberapa mimpi: naik pesawat, presentasi di luar negeri, jalan-jalan ke luar negeri, dan, of course, megang salju! Ehee. Agak kampungan? Biarin, daripada engga punya mimpi :p

Pulang dari Jepang, sama halnya dengan perjalanan jauh lainnya (katanya), membuat kita (saya) memiliki pandangan yang lebih luas tentang arti kehidupan. Pikiran jadi lebih terbuka, tidak hanya dalam tempurung Indonesia, terutama Jawa saja. Banyak pertanyaan-pertanyaan menemukan jawabannya. Banyak pula hikmah dari setiap kejadian yang terjadi, mulai dari tahap persiapan keberangkatan sampai kembalinya kami ke tanah air. Semoga bukan hikmah sesaat, ya. Tetapi benar-benar bisa menjadi pelajaran dalam menjalani kehidupan.
.

First, about partner.
Kyoto, 15 Desember 2013
Tau apa yang membuat saya bisa sampai di titik ini? Iya, orang-orang di sekitar saya. Kita tidak akan pernah bisa berjalan jauh jika sendirian. Memang sih, berjalan bersama-sama itu lamaaa banget. Sering gesekannya juga. Tapi, tujuan kita jelas. Dan ada sosok yang akan saling menguatkan dan mengingatkan kita di sepanjang perjalanan.

Dalam setiap tujuan dan pencapaian, saya lebih sering berpartner alias membentuk tim. Meski tidak selalu sama komponennya, tapi ada dua tim yang saya merasa sangat sejalan bersama mereka. Salah satunya, dan memang yang paling awal, adalah tim atau partner perjalanan saya ke Jepang.

Ke Jepang, zaman saya waktu itu (berasa udah berabad-abad aja :p), tidak semudah sekarang. Ngg, ini lebih ke perspektif dan euforia (?) siih. Dulu mah belum sebanyak sekarang informasi tentang dunia ke-luar-negeri-an baik yang konferensi atau exchange (atau sayanya yang dulu cupu banget yak? #eh). Dulu juga tidak segampang sekarang mencari sponsor, walaupun sekarang juga tidak bisa dibilang mudah. Dulu juga mah di tempat saya kuliah, apalagi mahasiswa muda-mudi ‘aneh’ banget kalau sampai ‘bertingkah’ ke luar negeri segala. Sesuatu deh. Makanya itu butuh perjuangan ekstra. Termasuk dalam menghadapi dinamika perkuliahan (baca: praktikum) di tahun kedua itu sesuatu syekalih. Dan dalam berjuang, sendiri itu engga enak. Serius. (Lain kali saya cerita bagian ini). That’s why we need journey’s partner. #tsaaah

Intinya mah, mencari partner yang sevisi itu sangat penting. Saya sangat bersyukur dipertemukan Allah sama partner yang luar biasa. Ima, Azza, Isna, dan Pipit, dengan segala kelebihan dan kekurangan, juga ke-luar-biasa-an mereka. Pengalaman pertama yang akan menjadi pelajaran bagi pencarian pengalaman-pengalaman selanjutnya. Meski pada akhirnya kita bersilang jalan #eaa, tapi aku yakin mimpi terbesar kita masih sama, fingers... :”) *tetibamellow.
.

Setelah partner, second is about work.
Kumamoto Univeristy, 13 Desember 2013
Setelah mempunyai ‘komposisi’ partner yang pas, pembagian kerja adalah hal yang sangat penting. Keduanya saling berkaitan. Kan ngga mungkin ya, kalau kita punya tujuan besar, tapi cuma diem-diem aja? Yah, itu mah sama aja ngga bakal dapat apa-apa. Kalau waktu itu sih, kami harus pandai-pandai ‘membelah diri’ dengan urusan paper, administratif ke Jepang, kuliah dan praktikum, organisasi, dan urusan pribadi kami masing-masing.

Kalau boleh jujur, IP saya semester tiga waktu itu adalah IP paling rendah selama saya kuliah :’D Kenapa? Karena saya sering bolos, hiks. Engga diing.. Sebenarnya itu hak saya siih, karena kan toleransi kehadiran 75%, jadi sayang aja gitu kalau disia-siakan #ngeles. Tapi jeleknya, saya jadi terlalu memaksimalkan, dan hampir di semua mata kuliah yang saya ikuti waktu itu saya absen 2-3 kali. Itu aja saya masih lari-lari mengejar berbagai tugas dan laporan praktikum, belum amanah organisasi juga. Seru lah pokoknya :3 Sampai saya yang paling tidak bisa begadang harus minum kopi dan masuk angin disusul demam karena harus menyelesaikan banyak hal.

Menyesal?  Oh, tentu tidak! Tapi tidak menyesal bukan berarti harus mengulanginya kan? Hehe.. Ambil hikmahnya aja: skala prioritas dan harus belajar mengurangi waktu tidur :) biar ngga kaya bayi yang banyak tidur wkwk (ini emang PR sejak lama dah -,-) Jadi, sebanyak apapun pekerjaan, tetap harus diselesaikan semua. Jika kita punya A, B, dan C yang harus diselesaikan, maka kita harus memberikan 100% ketika mengerjakan A, 100% ketika mengerjakan B, dan 100% juga ketika mengerjakan C. Karena, fokus itu sangat penting! Saya paling menghindari ketika kuliah disambi dengan mengerjakan yang lain. No! Selain itu tidak beradab (tidak sopan maksudnya ehee), itu juga mengganggu konsentrasi kita. Dan justru kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari yang kita lakukan. Saya juga sih mengejar keberkahannya aja. Toh kalau kita sedang berbicara di depan, juga pasti sedih kan kalau ada yang usrek  sendiri di belakang? Ini mah masalah lain lagi tentang bercermin, tapi penting juga dalam kehidupan :)

Cukup disitu? Hmm tidak juga. Sepulang kuliah dan menuntaskan amanah kampus, malam hari kami biasa berkumpul di ‘basecamp’ untuk membicarakan berbagai hal. Mulai dari persiapan keberangkatan sampai tentang mimpi-mimpi kami. Atau sekedar haha-hihi menghilangkan penat sejak sehari beraktivitas. Yang jelas, semua persiapan itu membutuhkan energi yang tidak sedikit. Menguras kantong sampe kering sekeringnya. Bahkan pernah menguras hati saking penatnya. *emang kamar mandi di kuras :D

Tapi kami yakin, semua lelah dan perjuangan kami akan terbayar lunas. Dan itu terbukti, bahkan surplus. :)
.

Last but not least, third is pray.
Kyoto, 15 Desember 2013

Pernah dengar pepatah ini: “If you work, you work. If you pray, God work.” ?

Yes, karena sebagai hambaNya, kita sudah barang tentu memiliki hubungan khusus yang tidak akan bisa diusik oleh sesiapapun jua. Tingkatan tertinggi setelah usaha adalah doa, baru setelah itu kita berserah diri. Doa adalah bagian yang sangat penting. Bukan hanya doa dari kita pribadi, tapi juga orang lain, terutama doa dan ridho dari orangtua kita. Terutama lagi, Ibu. Doa akan menjadi pembuka jalan yang akan melancarkan dan menguatkan usaha-usaha yang akan kita lakukan. Dan karena kita yakin bahwa jawaban dari setiap doa adalah “Iya”, maka berserah diri adalah ujungnya. Wis to, pokoknya mah, setelah usaha yang maksimal, doa maksimal, insyaAllah semua akan lancaaarrr dan hasilnya adalah yang terrbaiiik ;)
.

Jadi ini sih intinya, sesuatu yang besar didapatkan dengan pengorbanan yang besar jua.
Tidak bisa kita pengen ini-itu tapi yang dilakukan juga cuma itu-itu lagi, itu-itu doang. Mungkin bagi sebagian orang, konferensi mah gitu doang, sepele. Ke Jepang juga cuma situ doang, gampang. Tapi bagi kami, bagi saya utamanya, perjalanan ke Jepang memberikan hikmah yang luar biasa dalam diri saya. Tentu masih banyak hal yang harus saya perbaiki dari diri saya, tapi saya tidak bisa mengatakan bahwa tidak ada yang saya dapatkan sepulang dari Jepang, justru banyaak!

Soo, keep fighting on your dreams! Jaga diri (dan hati) supaya tetap on the track  dengan tujuan besar kehidupan *halah yang sudah kita bangun sejak awal. Penyesuaian dengan realita sedikit tidak masalah. Tapi bukan berarti kita akan menyerah dengan keadaan. Yang membuat kita berhenti hanya Allah, bukan kelemahan kita. Terlalu banyak alasan yang membuat kita harus lebih banyak bersyukur dan terus bekerja keras. Kalau kata Pak Dis sih; bersyukur dengan cara bekerja keras :D Selamat berjuaaang!
.
Semoga tulisan ini juga menjadi pengingat bagi diri agar senantiasa tegar dalam berjuang :’)

Selesai ditulis di Yogyakarta, 16 Desember 2016 23:52

Your Journey Partner,

Andika Putri Firdausy a.k.a #PutriPejuang a.a.k.a #FirdausyFighter

Senin, 18 Agustus 2014

Indonesia, ku? (2) : Kado Untuk Negeri

..IndonesiaKobarkan semangatmuKan ku bela sampai habis nafaskuJangan pernah menyerahSudah terlalu lama kita terlelapBangkit dan raih semua mimpi..
Dari Mata Sang Garuda - Pee Wee Gaskins
Sumber: tribunnews.com

Senin, 14 Juli 2014

Salah Musim

Angin segar bertiup riang
Menembus embun pagi yang malu-malu
Daun-daun yang berguguran
Ditemani percikan air hujan yang lembut
Indah 

Pagi yang terbalut oleh awan
Kelabu yang menari di angkasa
Berhimpun menyelimuti mentari
Mengajak hati bersemi-semi
Damai



Tujuh bulan yang lalu
Suasana yang sama, tempat yang berbeda
Aku berdiri terpaku menikmati ayat kauniyahNya
Sungguh, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


Sampaikanlah rindu ini, Rabb
Pada hawa sejuk di ujung sana
Sampaikanlah asa ini, Rab
Pada negeri tanduk di belahan sana
Kansai,
Kumamoto,
Kyoto
aku merindukanmu .



Yogyakarta,
14 Juli 2014 08.15


Andika Putri Firdausy


Jumat, 16 Mei 2014

#12: Shalat di Jepang (2) [Selamat datang di Fukuoka!]

..continued...

Mhihihi maaf post kemarin menggantung, akan saya lanjutkan disinih :3
(Bagi yang belum membaca, bisa membaca di post pertama: #10: Shalat di Jepang, ceritanya kami sedang berburu tempat shalat di Bandara Fukuoka).

Rabu, 07 Mei 2014

#11 : Kansai, We're Coming! (Part 3)

Kansai, the amazing airport. Nggg before I continue my story, let me share a link about Kansai Airport. Here it is. (Kansai Airport)

Yup, that's a picture through Kansai Airport. :3



Awalnya, sebelum kami belum benar-benar tahu akan ke Jepang, saya sendiri tidak ada bayangan Bandara Kansai itu seperti apa. Kata salah seorang teman saya yang sudah browsing, bandaranya ngapung, sudah diperlihatkan sih gambarnya, tapi saya tetap belum bisa membayangkan sampai saya sendiri yang membuktikan. Dan ternyata Kansai ini adalah bandara yang dibangun diatas tanah reklamasi pantai. Ya semacam Pantai Marina di Semarang lah.

Tempat-tempat yang ada di Jepang memang sangat bersih, dan tertata, termasuk bandara ini. Kansai sendiri merupakan bandara internasional terbesar ke dua di Jepang setelah Tokyo. Bandara Kansai terdiri dari empat lantai. Lantai pertama, sesuai pengalaman, merupakan lantai yang cukup ramai. Berfungsi sebagai gate kedatangan, baik domestik maupun internasional. Di lantai pertama ini juga terdapat pusat informasi dan spot-spot tempat mengambil berbagai macam brosur, dari yang berbahasa Inggris sampai yang menggunakan huruf kanji. Selain itu juga terdapat tempat penitipan/pengiriman barang, dan tempat penjualan tiket shuttle bus dan shinkansen.

Rabu, 09 April 2014

#10: Shalat di Jepang

Tulisan berikut sedikit melompat dari tulisan yang sebelumnya. Saya akan membahas bagaimana kami bisa survive untuk sholat di Jepang dengan jumlah penduduk muslim yang minim. Inilah cuplikannya :)

Sebelum melanjutkan ke cerita perjalanan selanjutnya, saya akan menceritakan bagian cerita kami tentang sholat. Sebuah anugerah luar biasa bagi kami dapat menunaikan shalat di negeri orang. Apalagi di sini muslim sebagai minoritas. Alhamdulillah wa Allahuakbar. Semoga saya (kami) tetap istiqomah dan dapat menunaikan ibadah kami di negeri-negeri indah lainnya. Aamiin.

Shalat pertama di luar Indonesia adalah di Kuala Lumpur. Kami transit di KL sewaktu berangkat. Karena kami akan take off lagi masih siang dan akan melalui perjalanan yang cukup panjang, kami menjama' shalat dhuhur dan ashar di KL. Di bandara terdapat sebuah mushola yang tidak terlalu besar, mirip dengan mushola yang ada di mall di Indonesia. Kebersihannya juga kurang lebih sama, maklum masih serumpun. Cara berwudhu dan kesemuanya juga masih 11-12. Orang-orang yang sholat juga banyak yang masih serumpun, kalau tidak orang Indonesia, pasti orang Malaysia. Hanya beberapa yang memiliki ras yang berbeda, misalnya India.

Tempat sholat kedua telah berpindah ke negara selanjutnya, Jepang. Kami sampai di bandara Kansai tengah malam dan sudah masuk waktu shalat Isya. Setelah membersihkan diri dan merapikan barang-barang, kami mulai mencari tempat untuk shalat. Di dalam kawasan bandara sudah cukup sepi, hanya tampak beberapa orang yang sedang membersihkan ruangan dan di ujung lain sedang memasang semacam spanduk. Alhamdulillah di sekitar basecamp yang kami pilih tidak ada orang lain, sehingga kami bisa leluasa memilih tempat shalat. Setelah yakin dengan arah kiblat, kami menggelar sajadah, dan memulai shalat. Semilir angin menambah kekhusyukan shalat kami, di negeri orang. Alhamdulillah shalat Maghrib dan Isya selesai ditunaikan.


Kamis, 03 April 2014

ICAST 2013: "Nyelip" Part (Gallery)

PHOTO'S PART
-my gallery-
NB. mumpung ada koneksi :D
(ceritanya saya lagi nemu wifi yang superb kenceng kaya di Jepang, jadi harus dimanfaatkan mhihihi :3)

@Bandara Soekarno Hatta, seconds before take off with Ima's parents ^^

ICAST 2013 - Day 2 (Dec, 13th 2013) with Zhou Bingran from Shandong University, China

ICAST 2013 - Day 2 (Dec, 13th 2013) - After Closing Ceremony - US! :)

In front of the 100th Memorial Hall Building, Kumamoto University (GSC!)

ASO Farmland! ♥ Cool but cute :3 Dec, 14th 2013

Around ASO's temple ~

@Shrine (or temple?) :D Say "KUMAMOTOO!"

At Shrine ♥ nananina ~

ICAST 2013 ALL STARS ~ at ASO Daikanbou ♥

With Ms. Eriko Fuchino, the amazing one, thanks for everything! :)

View from Gate DOmestic (Jetstar), Kansai Airport

Alatas, the special one ♥

Finally arrive in Fukuoka, Dec, 10th 2013, with 9 celcius degrees :3

Cooking cooking ♥ Thanks Kumamoto Islamic Center and its people ♥

Kari Ayam made in Japan :D

Just beautiful!!! ♥

Say OOOOO!

ICAST 2013 - Day 1 - After Opening Ceremony 

In front of Kumamoto University Library ♥ Dec, 13th 2013

After shopping!

Deutschland ~ (in Japan? lol)

Kumamoto Castle with Ms. Nanik Anita :) Dec, 13th 2013

Kumamoto International Foundation (KIF Buliding)

SNOW! At Mount ASO! ♥

ASO's Farmland ^^

Rabu, 02 April 2014

#9 : Kansai, We're Coming! (Part 2)

...Continued...

Tengah malam mulai menyapa dan bandara sudah hampir tutup. Sedangkan kami dengan santainya berjalan. Haha, berasa artis yang sedang ditunggu penggemar, tapi bedanya ini ditunggu petugas imigrasi, greget! Karena kami membawa sejumlah barang yang butuh diperiksa, akhirnya kami berbelok terlebih dahulu. Yap, barang-barang hasil panen seperti sayur, beras, dan lain-lain harus diperiksa terlebih dahulu oleh petugas, karena di Jepang mereka sangat menghargai hasil panen petani.

Setelah diperiksa, kami bergegas ke tempat pemeriksaan selanjutnya: pemeriksaan dokumen. Satu per satu kami menghadap petugas. Pertanyaan yang diajukan seperti: berapa lama akan tinggal di Jepang, untuk keperluan apa, dan sebagainya. Petugas yang ada tinggal tiga karena sudah jam pulang, sehingga kami mengantri. Kerja mereka sungguh sangat efisien, cepat, namun tetap ramah. Jempol empat!

Setelah selesai, kami berlima melangkah keluar dengan tiga troli penuh barang-barang. Dan, yey, Welcome to Kansai!



Kemudian kami berkeliling, mencari tempat yang nyaman sebelum perjalanan panjang selanjutnya. Bandara yang sudah senyap membuat kami bebas memilih tempat. Akhirnya bagian paling utara bandara menjadi pilihan kami, lalu menggelar lapak. Benar-benar seperti milik sendiri. Sementara menata barang dan membersihkan diri, kami berkeliling sejenak. Karena jumlah kami ada lima, maka jadwal jalan-jalannya juga dibagi menjadi dua kloter: tiga orang dan dua orang.

Pagi menjelang. Karena udara cukup dingin dan memang sudah waktunya makan, akhirnya kami mengeluarkan seperangkat alat masak. As you know, selain kami membawa beras 5kg, masing-masing kami membawa 5 bungkus mi instan dan 5 bungkus mi instan cup. Kami juga membawa dua buah heater, dua kotak sosis, abon plastik per orang, dan entah apa lagi. Saya sendiri juga membawa lima batang coklat! Cukup menguras kantong siih, tapi lumayan untuk jaga-jaga ketika hawa dingin menyerang. Stok yang cukup lumayan menghemat biaya kami sebagai pelancong mahasiswa. Entah dapat disebut backpacker atau tidak, tapi kami menikmatinya.

Makanan pertama adalah popmie. Kami mengambil air dari drinking water yang ada di bandara. Bentuknya dari kran air, tapi bisa langsung diminum, mungkin semacam pureit disini. Kemudian berbekal colokan tranferan yang bisa digunakan untuk berbagai model colokan, kami memasak air dengan dua heater sekaligus. Dan alhamdulillah, breakfast is served! Dan kami harus cepat-cepat menghabiskannya. Jika tidak, maka hawa dingin akan merenggut kehangatan minya, mhihihi.

Kamis, 20 Februari 2014

#8 : Kansai, We're Coming!

Perjalanan kami memang tidak sepanjang itu. Sekitar 9-10 jam, kurang lebih sama seperti naik kereta api pulang ke rumah. Hanya saja memang ini perjalanan yang berbeda. Perjalanan dengan pesawat pertama kali, bisa dibayangkan bagaimana antusiasme kami. Hehe. Perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Kansai dimulai sekitar pukul sembilan lewat waktu setempat. Hari yang cerah, dan kami sangat bersemangat. :D

Setelah duduk dengan tenang di dalam pesawat, kami mencari-cari kegiatan. Mulanya membaca buku dan brosur yang ada di saku kursi pesawat, ngobrol, melihat pemandangan dari jendela pesawat bergantian. Hihi, subhanallah, terimakasih Allah telah memberikan kesempatan yang indah ini kepada kami. ^^
Lalu makanan pesanan kami datang, alhamdulillah. Chicken Teriyaki! \m/

Malam mulai menyapa. Senja yang indah. Kami semakin takjub dengan keagunganNya.

Mulai bosan, akhirnya kami main UNO. Saya yang bandel mengajari teman-teman saya. Awalnya sih saya tidak terkalahkan, eh, ujung-ujungnya kalah juga. Hehe, yaa namanya juga permainan, ada kalah, ada menang. Sama seperti hidup kita, ada saatnya kita diatas, juga ada saatnya kita berada di bawah. Nikmati saja, dan tetap bersyukur.

Setelah puas bermain, kantuk mulai menyapa kami. Akhirnya kami mengakhiri permainan dan mulai menata diri untuk memejamkan mata. Bersiap dengan perubahan suhu dari daerah tropis ke subtropis. Bersemangat menyambut mimpi yang menjadi nyata. Esok, adalah hari yang paling kami nantikan. Bismillah, semoga semua lancar.

Jumat, 14 Februari 2014

#7 : Berkenalan dengan Orang Jepang

Kali ini saya akan bercerita tentang beberapa sosok orang Jepang yang pernah kami temui di negeri matahari terbit tersebut. 
Pada awalnya, saya tidak pernah sekalipun terpikirkan tentang Jepang, apalagi untuk pergi kesana. Saya tau bahwa beberapa bahkan banyak dari teman saya yang menggandrungi dunia Jepang, termasuk ingin pergi kesana, seperti film, komik, anime, manga, dan lain-lain. Saya sendiri entah mengapa tidak begitu tertarik. Salah satu orang terdekat saya bekerja di pabrik milik orang Jepang yang tinggal di Indonesia. Dari banyak ceritanya tidak ada satupun yang membuat saya berpikiran untuk pergi kesana. Bahkan saya pernah berpikir, ooh jadi gini orang Jepang, kok beda ya sama yang diceritain orang-orang? Selain itu sewaktu SMA saya juga pernah  menonton video "les senyum" di Jepang. Iya. Jadi orang-orang Jepang tersebut mungkin saking kerasnya hidup atau bagaimana saya juga tidak tahu, sampai susah senyum dan harus belajar senyum. Di dalam video tersebut tergambar bahwa mereka melatih tersenyum dengan menggunakan sumpit atau alat lain yang membuat mulut mereka terbuka. Hihi, lucu juga ya. ^^

Tetapi, memang apa yang terlihat belum tentu mewakili semuanya.

Mari saya ceritakan beberapa orang Jepang yang pernah kami temui.

Pertama, di pesawat. 9 Desember 2013.
Waktu itu kami akan take off dari Kuala Lumpur menuju Kansai, sekitar pukul sembilan lewat waktu setempat. Dengan barang yang ampun-ampun (haha, salah perkiraan), meski bagasi sudah penuh, maka tas yang dibawa ke kabin juga tidak terlalu enteng. Akhirnya kami masuk ke pesawat. Nah, belum apa-apa saya sudah dibantu sama orang Jepang yang belum saya kenal. Ceritanya saya sedang duduk di bagian ujung dekat jalan diantara teman saya, jadi saya yang paling terakhir duduk dan memasukkan tas ke kabin. Ketika hendak memasukkan tas, ups, tasnya berat sekali dan hampir ngga muat di kabin. Huaaa saya hampir nangis ngejer (*lebay). Akhirnya, dengan sekuat tenaga saya mendorong tas saya, dan eh, dari belakang muncul pahlwan kesiangan, hehe. Seorang pemuda Jepang tiba-tiba membantu saya meletakkan tas tersebut di kabin. Ah, alhamdulillah. "Thank you :)"

Kedua, di saat yang sama, dua teman saya duduk terpisah. Mereka berdua duduk di sebelah seorang bapak asli Jepang, saya lupa namanya. Singkat cerita mereka berkenalan, ngobrol ngalor-ngidul. And, guess what? Si bapak memberikan kartu nama beserta alamat lengkap, serta menawarkan bantuan jika kami membutuhkannya. MasyaAllah, baik sekali, padahal kenalpun tidak. Hm, kemudian bapak tersebut berpindah tempat duduk di depannya karena ada yang kosong. Terima kasih, pak! Setidaknya kami tahu bahwa Engkau orang baik-baik yang mungkin bisa kami cari saat kami butuh bantuan disana, hehe :D

Sampai di Kansai hampir tengah malam. Ada kejadian yang sangat menarik. Tetapi akan saya ceritakan di bagian terpisah saja :D

Beberapa foto sepanjang perjalanan dari Jakarta hingga tiba di Kansai:

Sesaat sebelum transit, di Bandara Kuala Lumpur 

Sekitaran Sumatera, sepertinya

Senja yang indah :)

UNO!!! Ngajarin ima sama azza main UNO :p

Minggu, 09 Februari 2014

#6 : The 'Kawai' Children

I just miss Japan. The fact that I failed to go there (again in the near time cause of somethin amazing haha) make me feels so.... (can't explain >.<)
Here are some picture, kawai picture of children in Japan.
^^



The first named Alatas. He is the one who sit besides me in the plane to Fukuoka. What a kawaaaai! He always lookin at me, deeply, with his cute smile. God, I can't stop smiling all the time, and he did too. Ah, thanks Alatas! ;)

 The second, I dunno what her name. We just see her when we went around Kyoto. She left her mother and I took her picture behind the scene, hihi. ^^

What a sweeet! I thought they are family, maybe. Walking around the town after school. Nice :))

Kamis, 09 Januari 2014

#5



Malam mulai menyapa. Dingin mulai merasuki sekujur tubuhku. Ini masih di Indonesia, put, gerutuku dalam hati. Saat ini bagianku menjaga barang-barang kami. Dua temanku sedang mengerjakan tugas di dalam, dan satu lagi sedang mendapat jatah tidur. Ya, kami sedang menanti fajar datang agar segera masuk dan terhindar dari gemerlapnya dunia malam ibukota. Kami baru akan menaiki pesawat besok pagi sehingga belum boleh melakukan check in dengan barang segudang. Baiklah, menggelandang dimulai disini!

Lengkap dengan laporan yang masih tersegel, aku duduk di pelataran bandara. Di hadapan sejumlah koper-koper luar biasa besar (dan berat). Malam ini luar biasa. Perjalanan yang tidak akan dilupa, karena kali pertama. Namun belum banyak yang berbeda karena masih di Indonesia. Bunyi klakson yang bersahut-sahutan sedari tadi di stasiun hingga sekarang di bandara, seakan bunyi-bunyian yang biasa. Tidak ada yang mau kalah, apalagi mengalah. Ah, manusia.

Ada beberapa orang yang juga sedang menggelandang seperti kami. Mereka menghabiskan malam ditemani segelas kopi, hangat di malam yang dingin. Sedangkan aku yang sendiri, hanya bisa gigit jari. Entahlah, sepertinya ada beberapa barang yang tertinggal, tapi semoga tetap bisa bertahan. Akhirnya aku membuka slayer yang awalnya kugunakan sebagai tanda pengenal koper sebagai syal dadakan. Cukup hangat, rupanya.

Sembari menulis aku mengamati sekitar. Sesekali menegok ke tumpukan koper-koper di hadapan, melihat sekilas keadaan orang-orang sekitar, berusaha menangkap raut baik dari setiap orang yang melihat ke arah kami. Dingin mulai menyapa lagi. Tetesan air hujan tidak terasa menemani. Segar, bau tanah. Namun kesegaran itu pada akhirnya harus kalah dengan aroma sengak asap rokok di sekitar. Ah, lagi-lagi manusia, semoga bisa jera dan mengambil hikmahnya.

Butuh beberapa penyesuaian dimulai dari sini, terutama kamar mandi. Haha, terlalu ndeso, mungkin. Kran airnya terlalu simpel hingga membuatku basah kuyup dan harus rela sedikit bersapa dengan dingin ketika angin menerpa. Anggap saja latihan, sebelum hawa musim dingin 5 derajat benar-benar menyapa. Gimme strength, Rabb.

Cukup. Aku ingin melanjutkan malam dengan menatap langit, dan menengadah. Sepertinya esok akan menjadi hari yang lebih indah. Ya, aku siap. Namun aku harus menyelesaikan tugasku, LAPORAN. Face the sleepy yeah!

Bandara Soekarno Hatta,
Jakarta, 8 Desember 2013 22:18
Andika Putri Firdausy

Rabu, 08 Januari 2014

#4



Sudah lama tak bersua. Sedang banyak cerita, padahal. Meski UAS di depan mata, dan tugas pun belum rampung. Bukan Saya namanya kalau tidak sesantai ini menghadapi keduanya. Haha, maafkan saya Ayah, Ibuk. :3

Ceritanya tadi siang saya kebetulan mendengarkan kajian dengan tema tertentu (*uhuk). Di tengah kajian tersebut, Ustadz menjelaskan bahwa sebuah hubungan (pernikahan, red) itu seperti sebuah persahabatan, dimana keduanya memiliki ikatan yang hangat dan saling melengkapi. Kurang lebih begitu redaksinya. Kemudian beliau menceritakan sebuah kisah dari seorang rekan beliau ketika di Jepang.

Ceritanya, rekan beliau tersebut sedang melakukan perjalanan dengan sepeda di salah satu sudut kota Jepang. Beliau (sang rekan), sedang mengendarai sepeda di jalanan kota Jepang. Beliau sendiri pada saat itu menyadari bahwa cara beliau bersepeda agak sedikit menyalahi atura. Dan entah bagaimana ceritanya, sepeda beliau terserempet oleh sebuah mobil milik orang Jepang sehingga roda sepeda lepas.

Bisa Anda bayangkan bagaimana keadaannya?

Ya, pengendara mobil yang orang Jepang asli tersebut turun, dan meminta maaf kepada beliau. Meminta maaf dengan sangat dan tulus tentu saja. Meski beliau telah menjelaskan duduk perkaranya bahwa memang beliau yang salah, tetapi tetap saja orang Jepang tersebut meminta maaf dengan sangat. Alhasil beberapa waktu kemudian, datanglah sebuah sepeda baru kepada beliau. Subhanallah.
Lalu, yang menjadi pertanyaan Ustadz adalah : Bagaimana jika, kejadian tersebut terjadi di Indonesia, dan diperankan oleh orang Indonesia pula pada kedua belah pihak?

Hm, yang ada ya saling menyalahkan, tidak ada yang mau mengakui kesalahan. Kurang lebih begitu kata Ustadz.

Inti yang saya tangkap berkaitan dengan materi adalah, dalam sebuah hubungan dibutuhkan semacam chemistry, hubungan yang sehat, saling menyadari, saling memaafkan, saling membantu, dan tentu saja saling melengkapi. Tidak ada manusia yang sempurna, dan justru hal itulah yang pada akhirnya membuat sebuah pernikahan itu menarik. Ketika kita berbeda dengan pasangan kita, tetapi tetap memiliki tujuan yang sama.

050114 22:45

Senin, 23 Desember 2013

#3 - It's all about the First Flight

It's all about the first flight!
Perjuangan pertama dimulai di Stasiun Pasar Senen.

Mengangkat koper melewati tangga-tangga kehidupan. Ya, perjuangan.

Dan, pada akhirnya sampai.
 
First flight. Alhamdulillah. Thanks, Air Asi*!


Indahnya senja di pesawat (KL-KIX) (1)

Indahnya senja di pesawat (KL-KIX) (2)

And welcome to Kansai, Japan. Alhamdulillah.

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Berkumpul di Jannah