Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 April 2019

Bangil - Kota Sejuta Cerita

"Kamu asalnya darimana?"
"Orangtuaku aslinya Blitar. Aku juga lahir disana. Setelah menikah, orangtuaku kemudian merantau ke sebuah kota kecil bernama Bangil. Lalu kemudian aku dan adikku besar di sana. ..."

Barangkali begitu percakapan yang akan terjadi ketika ada yang bertanya kepadaku mengenai tempat tinggal. Aku akan repot-repot menjelaskan dulu bagaimana asal-muasal mengapa aku dan keluarga kami tinggal disana. Sampai akhir dunia kuliah pun, aku masih melakukannya. Sesederhana karena aku merasa belum memiliki alasan kuat kenapa harus 'menyombongkan' kota kecil itu.

Alun-Alun Kota Bangil (Sumber: pasuruankab.go.id)
1. Geografis dan Penduduk
Bangil merupakan nama sebuah kecamatan (saat ini menjadi ibukota kabupaten) di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Secara geografis kota kecil ini terletak di dataran rendah. Di bagian selatannya, terdapat beberapa gunung seperti Gunung Arjuna dan Gunung Welirang. Selain sumber air yang bagus dan tanah yang subur terutama di daerah yang lebih dekat dengan kaki gunung, salah satu yang menarik adalah pemandangan indah yang bisa dinikmati dari belakang rumah berlatar dua buah gunung seperti yang terlihat disini. Selain diapit pegunungan, di sisi timur laut kota kecil ini berhilir ke Laut Jawa. Tak jarang yang memiliki tambak di daerah pesisir pantai, baik tambak ikan maupun tambak udang.
Penduduk yang tinggal di Bangil berisi dari bermacam-macam suku, mulai dari Jawa, Madura, Arab, juga keturunan Tionghoa. Mata pencaharian mereka pun beragam, dari petani, nelayan, pedagang, hingga karyawan di industri-industri baik lokal maupun mancanegara yang tumbuh di daerah ini.

Lokasi Bangil di Google Maps (Sumber: maps.google.com)

2. Sejarah
Terdapat beberapa versi cerita tentang sejarah dari Kota Bangil ini sendiri. Dulu, aku sempat mendengar asal muasal yang sempat membuatku enggan menjadi bagian dari kota ini. Katanya, Bangil itu berasal dari kata Mbahe Angel (sulit), karena saking susahnya orang-orang sini diberitahu. Akan tetapi, setelah kubaca lagi, justru kata Bangil itu sendiri ada dua versi. Pertama, adalah Bangil dari kata Mbahe Angel, yang berarti dia teguh dengan prinsip Islamnya. Dan yang kedua, adalah Bangil yang berasal dari kata Mbahe Ngilmu. Keduanya, kemudian berkorelasi dengan banyaknya habaib atau ulama yang ada di kota ini. Hingga sekarangpun banyak pondok pesantren di Bangil sehingga kota ini pun memiliki julukan "Kota Santri".
Selain tentang dunia santri, salah satu sejarah yang terkenal dari Kota Bangil adalah tentang Sakera. Ia adalah seorang yang jujur dan membela orang kecil. Perjuangannya dalam membela kebenaran walaupun pada akhirnya tewas terbunuh karena pengkhiatan, menjadikan namanya dinobatkan menjadi nama suporter di kota ini: Sakera Mania.

3. Wisata dan Kuliner
Selain terkenal dengan berbagai kisah sejarah baik yang terjadi di Bangil maupun yang melatarbelakangi penamaan kota "Bangil", kota kecil ini tentu masih memiliki beragam pesona. Salah satunya adalah kuliner khas. Ialah Nasi Punel, yang menjadi andalan dari kota ini. Selain nasinya yang bersifat "punel" atau pulen, yang menjadi ciri khas dari Nasi Punel adalah isinya. Ada nasi, serundeng, daging (atau bisa pilih lauk lain), menjeng (semacam olahan kedelai), sate kerang, tahu bumbu bali, nangka muda, dan sebungkus kuah kelapa manis).
Kuliner lain yang menjadi khas di Bangil adalah Sate Kerang dan Kupang. Kupang adalah salah satu jenis makanan dari biota laut yang disajikan dengan lontong dan bumbu petis. Kedua makanan ini merupakan produk laut dikarenakan asosiasi lokasi yang dekat dengan laut.
Nasi Punel Khas Bangil (Sumber: gotravelly.com)
Selain makanan, Bangil juga terkenal dengan sebutan "Bangkodir" atau Bangil Kota Bordir. Banyak terdapat industri bordir yang tersebar di kota ini, dari skala rumahan hingga industri besar. Tidak sedikit bordir-bordir yang diekspor ke luar negeri, seperti pakaian, tas, hingga sepatu. Harga yang dibandrol juga bermacam-macam dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung kualitas bahan dan motif bordiran yang diinginkan.
_________________________________________________________________________________
Aku dan adikku di teras rumah, belasa tahun lalu
Waktu berlalu.
Sekitar satu tahun setelah lulus, aku diterima bekerja di salah satu instansi di Ibukota. Hal ini tentu membuatku meninggalkan tanah rantau kedua (yang pertama adalah Bangil) tempatku berkuliah dan belajar selama kurang-lebih lima tahun. Yang artinya, kini tempat rantauku adalah Jogja, dan bukan lagi Bangil, karena ia sudah menjadi tempat asal. Aku sering lupa, bahwa selama belasan kehidupanku jauh sebelum perkuliahan, ya kota ini -dengan segala isi dan ceritanya- yang membuatku bertumbuh, mengajarkan banyak hal, dan mencatat berbagai kejadian yang mengisi hari-hariku. Sekarang, aku tahu, bagaimana akan menceritakan daerah "asal" jika ada yang menanyakannya kembali kepadaku.
Selamat datang di Kota Bangil.
Bangil Kota Santri, Bangil Kota Bordir, Bangil Kota Sakera, dan,
Bangil, Kota Sejuta Cerita.



Jakarta, 27 April 2019

Wong mBangil



Referensi:
1. https://budayajawa.id/asal-usul-bangil-pasuruan/
2. https://www.pasuruankab.go.id/cerita-43-cerita-sakera.html

Minggu, 15 Juli 2018

Sibling(s)

Someone who knows you well, sometimes more than your ownself. Someone who gives you much attention, but dont want you to know. Someone who treats you, although its the last coin. Someone who randomly getting mad to you, but contains love inside. 🍁

Kata orang, kita kembar. Saking miripnya, cuma beda dua tahun. Dari prinsip dan kesukaan juga nggak beda jauh, tapi bukan karakter, haha. Kalau nggak dibilang kembar, kadang orang bilang kamu kakaknya. Sepertinya karena kedewasaanmu, dan kebocahanku, haha. But yes, sometimes aku merasa lebih bocah darimu, heu.

Dek, I'm not the best sister, but I tried to be, and I will always be. Pesen Ayah sama Ibuk sebelum pergi, katanya, "nitip adek." I hope I can do it well..

Kata ayah lagi, "mbak yang dewasa, ya,". I know sometimes I am more childish than you. I hope I can play this role better.

Meski dunia masa kecil kita penuh "ketidakharmonisan", yang sering kuungkit2 karena aku lebih sering kalah haha, but I will always be thankful cause Allah gives me you. Yes, you.

Maybe this world is not as small as your hand which you can control. But you have Allah which is "Bigger" than everything you can imagine. All the things in this life is not ours, but we can ask Him to make it easier. Calm, life is only life. We "only" have a task to be better one, not a perfect one. Keep going, girl! 💅

Keep shining my little-with-the-big-heart star 💫

Sorry for being annoying and 'gengsian' Mbak. Maybe I will always be like that, but it will never decrease my love and pray to you 💕

Gumarang, 15 July 2018
Unperfect sister.

Sabtu, 30 Juli 2016

Tiga Perlima Indonesia

Indonesia ini, luaaas sekali. Terbentang dari Sabang sampai Merauke yang jaraknya 5428 km, lebih dari 75% jari-jari Bumi. Terdiri lebih dari 17.000 pulau sehingga menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Garis pantainya, terpanjang nomor empat di dunia. membentang lebih dari 80.000 km. Kalau yang saya lihat dari video di GNFI nih, kita sampai butuh waktu 37 tahun (tiga puluh tahun meeen!!!) untuk genap menjelajahi seluruh pulau di Indonesia jika setiap hari kita berpindah pulau (linknya disini). Lantas, jika Indonesia aja seluas itu, Bumi ini apa? Lalu Saturnus? Jupiter? Bagaimana dengan Matahari? Bima Sakti? Ooh baiklah, semua itu membuat kita semakin kecil. Kecil hingga tak terhingga. Sungguh Allah Maha Besar.

Oleh karena kita ini sudah kecil, boleh lah ya punya mimpi-mimpi besar. And yes, one of my big dream is Keliling Indonesia! At least, ke lima pulau besar di Indonesia lah~

Saya ini orang Jawa asli, dan tinggal di Jawa. Sekolah juga di Jawa dari TK sampai kuliah. Lalu, apakah berhenti sampai disitu? Penak men, jelas tidak. :D Tentu saya tidak akan membiarkan mimpi saya keliling Indonesia menguap begitu saja. Satu-satunya yang terlihat nyata adalah program di UGM yaitu KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sebentuk program pengabdian masyarakat yang bisa dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. And yes, pastilah saya memilih ke luar Jawa.
*abaikanjudulnya*

Kenapa?

Senin, 18 April 2016

Senin Bersama Ayah

My first love, and my heroes ever after, I just hope He gimme chance to give my best for you. Not only in this Dunya, but also over there, in Akhirah. 
Sepagi ini, tepat Senin yang lalu, aku dan Ayah baru saja kembali ke rumah. Sejak matahari belum menyingsing, kami mulai menelusuri jalanan pantura yang memadat di senin pagi. Matahari terbit di atas Sungai Brantaspun menyapa kami. Kokohnya Arjuna dan Welirang juga mengiringi langkah kami.

Ayah mengajakku berkeliling. Menikmati sepoi angin dan rintik hujan di pagi hari. Pagi yang menyenangkan, bersama orang yang menenangkan.
Sebenarnya, tujuan utama kami berjalan-jalan adalah untuk survei pra lapangan scriptsweet. Ayah rela memotong jam kerjanya untuk mengantarkanku. Ya, hanya Ayah yang bisa mengantarku kesana-kemari. Satu-satunya lelaki yang sampai saat ini kujatuhkan hatiku padanya. Ia yang selalu memesona dan bersahaja.

Kami berjalan menyusuri Sungai Porong, anak Sungai Brantas, yang mengarah ke laut di Kecamatan Jabon. Sungai ini pula yang menjadi salah satu outket luapan lumpur Lapindo yang saat ini tengah menjadi subjek penelitianku. Ayah menunjukkan aku banyak hal, yang bahkan tidak aku temui di tumpukan buku di rak perpustakaan, atau lembaran-lembaran jurnal yang telah ku cetak. Ayah mengajarkan lebih dari semua itu.

Tempat kami berpijak memang sudah tidak asing lagi bagi Ayah. Dulu, hampir 26 tahun yang lalu saat Ayah masih bujang, Ayah pernah bekerja disini, menjadi juru administrasi di tambak milik Pak Malik. Namun sekarang, kantor Ayah sudah berubah menjadi warung. Akan tetapi, tambak-tambak ikan dan udang itu masih lestari sampai saat ini.
Kami berjalan mendekati sungai. Ayah menunjukkan Pulau Dem yang merupakan endapan sedimen sejak belasan atau mungkin puluhan tahun yang lalu. Saking luasnya, 'pulau' ini sudah ditumbuhi banyak mangrove dan bahkan banyak warga melakukan aktivitas disana. Beberapa perahu/sampan sengaja disewakan untuk menyeberang ke pulau ini. Kami juga bertemu dengan seorang bapak yang bekerja membangun dermaga disana. Dermaga lokal, mungkin milik salah seroang pemilik tambak disana, kata Ayah.

Matahari mulai meninggi. Kami tidak bisa berjalan terlalu jauh karena akses yang kurang memadai. Selain itu, Ayah sudah terlambat pergi bekerja. Semakin lama, akan mempengaruhi presensi kehadiran Ayah di kantor. Setelah dirasa cukup, kami kembali pulang. Melewati jalan kampung untuk memotong jarak agar lebih cepat.
Rintik hujan dan terik mentari mengiringi putaran roda motor kami. Sesekali kami menyapa warga yang sedang beraktivitas menuju tambak atau sawah. Kami menikmati saat-saat berharga ini. Aku, lebih tepatnya.
 
Kemarin Ibu mengabarkan bahwa Ayah sedang sakit, mungkin kelelahan karena hampir setiap pekan Ayah tidak pernah di rumah. Ada saja hal yang harus diselesaikan Ayah. Ah, Ayah selalu begitu. Tidak pernah merasa lelah dan tidak akan mau beristirahat meski hari libur sekalipun. Semua itu tidak pernah menghalangi Ayah untuk beraktifitas. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan nikmat iman dan sehat pada Ayah.

Allah, jagalah Ayah, juga Ibu. Sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.

Desember, 2015 - Merapi
Like father like daughter. I love you from the moon to the sky, and back, Ayah.


Yogyakarta, 18 April 2016 08:00

Love,
Your copied-oldest-daughter


Minggu, 08 November 2015

Rindu pada Biak

Jendela Dunia - dari Ruang Belajar Sempadan, Agustus 2015
Sore ini, hujan gerimis mengguyur kota pelajar untuk pertama kalinya setelah lama kering kerontang. Beberapa hari terakhir mendung memang selalu mengiringi, namun bulir air langit belum juga turun. Hanya gerah semalaman yang terasa karena awan masih terus menggantung di atas langit, tetapi belum juga genap terkondensasi. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari kampus menuju rumah. Sore hari begini, akan terasa lebih nikmat dengan menyeduh teh panas ditemani sekaleng biskuit dan sebuah buku di rumah. Bayang-bayang teh manis panas segera menyeruak memenuhi kepalaku, kerongkongan yang kering kemudian mengaminkan otakku.

Aku ingin segera sampai di rumah. Lampu merah ini sungguh menghambat perjalanan. Sebenarnya tidak, mungkin kendaraan di depanku saja yang begitu. Berjalan teramat pelan dan menutupi jalan, sedangkan di depannya tidak ada satupun kendaraan yang merintanginya. Ah, yasudahlah, mungkin ia sedang ingin bermesra dengan rintik hujan sore ini.

Kupacu motorku sedikit lebih kencang, enggan jika tubuhku basah kuyup. Terlalu banyak benda yang tidak boleh terkena air di dalam tasku. Dan aku sendiri enggan kedinginan, lalu masuk angin yang justru akan menggagalkan semua agenda yang telah disusun. Aku memainkan gas motor dengan sangat lincah. Sedikit kencang, lalu kemudian pelan. Meliuk ke kanan, kencang sedikit, lalu kembali perlahan. Begitu seterusnya. Aku menikmati perjalananku sore ini, dengan rintik hujan dan angin sepoi yang menemani.

Di lampu merah kesekian aku berhenti. Pas sekali, setiap aku hampir sampai di persimpangan, rona hijau di deretan traffic light itu segera berubah menjad merah. Sepertinya Allah ingin menguji kesabaranku, atau mungkin hujan sedang rindu denganku. Aku segera berhenti dan merapikan barisan motorku. Tak lama segera kumatikan mesin motorku karena durasi menuju lampu hijau masih cukup lama. Sambil mengamati sekeliling, sayup-sayup terkedang suara dari pengeras masjid/mushola terdekat. Suara anak-anak kecil yang sedang memanggil temannya untuk mengaji di surau – TPA. “Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh. Teman-teman yang mau mengaji sudah ditunggu oleh teman-temannya..Yu..da Fa..jar, I..na, Me..ga,.... “. Dan tiba-tiba pikiranku melayang ke suatu sore di ujung sana...
~~~
Di Kota Pelajar ini, mereka – anak-anak TPA—selalu perlu untuk memanggil terlebih dahulu teman-teman mereka yang mau mengaji di surau melalui pengeras suara surau. Entah karena semangat mereka yang menggebu, atau karena belum ada yang datang. Aku juga tidak tahu pasti. Hanya saja, ini cukup berbeda dengan keadaan di luar sana.

Terkadang aku merasa semua ini cukup membingungkan; kalau aku tak boleh menyebutnya tidak adil. Betapa tidak? Bahkan di pelosok sana, sebagaimanapun cuaca, mereka bahkan selalu datang tepat waktu, bahkan lebih awal dibandingkan kami. Mereka rela menunggu berjam-jam, yang bahkan kami baru datang ketika waktu sudah hampir habis. Mereka rela menunggu, berlama-lama, ‘hanya’ untuk sedikit ilmu yang akan mereka dapatkan. Entah itupun apa. Rasanya, hati ini seperti teriris. Di Jogja, banyak sekali majelis ilmu dan TPA untuk anak-anak. Banyak sekali asatidz yang ‘rela’ menunggu anak-anak untuk mengaji, tetapi tidak sedikit yang enggan. Sedangkan jauh di luar sana, sadarkah, bahwa banyak anak-anak yang mau dan sangat ingin, bahkan sangat membutuhkan, tetapi tidak ada yang bisa mereka dapatkan? Fasilitas sangat terbatas disana, bahkan seorang gurupun sangat berharga.

 Di satu dusunku, terdapat puluhan anak keil, tetapi hanya ada satu surau aktif yang digunakan untuk belajar mengaji. Akan tetapi keadaan di dusun ini cukup baik karena ada Pak Haji yang bersedia mengajarkan mengaji kepada anak-anak. Hampir setiap hari mereka mengaji, tidak terbatas hanya di bulan Ramadhan saja. Saat kami berada di sana, mengaji mereka berubah menjadi dengan kami, bukan dengan Pak Haji disana. Mereka adalah anak-anak yang semangat dan ceria. Mereka selalu menebarkan kebahagiaan di muka-muka lelah kami setelah seharian mengerjakan program yang lain. Mereka juga biak-biak yang setia. Setia menunggu kami yang entah kapan datangnya. Kadang kami lupa, atau bahkan kadang kami sengaja pergi karena kelelahan. Tetapi mereka senantiasa sabar menunggu kami demi sesuap ilmu dan berkah yang mereka harapkan.

Ah, kalian dek. Senyum yang begitu tulus. Mata yang begitu berbinar. Maafkan kakak iie belum bisa menjadi kakak yang baik. Kakak sayang dan rindu kalian, dek... :’)


[7 November 2015 - To be continue...]

Rabu, 16 September 2015

Kupanggil Ia Umak

| Bahagia itu sederhana, bukan?
Pagi ini, sama seperti pagi biasanya. Berkutat dengan rutinitas seperti biasa. 
Tiba-tiba, saat mata masih terpaku pada sebuah layar 14 inch, sebuah pesan singkat masuk ke dalam telepon genggamku. Dari Umak, Temajuk. Perasaan bahagia seketika menyergap. Setelah sekian lama, akhirnya aku mendapatkan kabar.
Orangtua angkatku memang tidak termasuk yang sering bepergian ke kecamatan. Berita mengenai keberadaan sinyal yang 'tiba-tiba' ada di Temajuk juga sampai kepadaku, namun hal tersebut belum berpengaruh begitu banyak tampaknya. Belum ada tanda-tanda sinyal di rumah.
Aku menjawab pesan dengan cepat, takut kalau-kalau sinyal akan segera menghilang. Semalam memang ada satu pesan dari Umak. Akan tetapi setelah aku menjawab pesannya nampaknya sinyal kembali menghilang. Pesanku tidak terkirim.Tidak berapa lama aku sibuk mencari pinjaman headset untuk kugunakan menelepon. Maklum, speaker HP tuaku sudah tidak bisa digunakan lagi.
Aku memencet deretan angka dengan cepat. Waktu benar-benar terbatas. Tidak ada yang tahu kapan sinyal akan datang dan pergi. Aku duduk dengan gusar. Layar 14 inch itu sudah tidak lagi mendapat perhatianku. Kufokuskan pandangan pada sebuah layar yang lebih kecil: layar telepon genggamku.
Tut..tut..tut...
Nada sambung terus berdering.
Tut...tut...tut...
Masih nihil. 
Aku mencoba berulang kali sampai akhirnya petugas yang menjawab.
'Maaf, nomor yang Anda telepon sedang berada di luar servis area. Silahkan mencoba beberapa saat lagi.'
Ah, benar saja. Waktuku belum cukup untuk berburu sinyal. Tapi aku tidak menyerah. Aku mencobanya lagi dan lagi.
Sembari menunggu telepon diangkat, aku membuka folder album foto di laptopku. Foto yang tidak seberapa jumlahnya itu kutatap lamat-lamat. Tampak sebuah foto berlatarkan sebuah ruang keluarga.

Galih, Umak, dan Aku. Sesaat sebelum pulang. (28 Agustus 2015)
Ada aku, Galih, dan Umak disana. Kami saling berpelukan. Kutamatkan lagi paras Umak. Paras yang teduh dan menenangkan. Ah, Umak. Seorang wanita tangguh dan luar biasa. Tidak pernah banyak bicara dan terus bekerja.
Tes... 
Cairan hangat mulai memenuhi kelopak mataku. Hangat.

Aku masih terus mencoba perburuan sinyal. Kemudian aku mengetik sebuah pesan, barangkali Umak tidak menjawab nomor tidak dikenal karena aku menggunakan nomor lain.
'Ibu, ini putri :) bisa teleponkah?'
Aku masih menunggu dengan gusar.
Akhirnya, tidak berapa lama, pesan singkatku terkirim. Aku segera mencoba kembali menelepon. Barangkali sinyal telah menghantarkan pesanku.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Teleponku diangkat, dan di saat yang bersamaan Umak menjawab smsku: 'Bisa'.

Selasa, 07 April 2015

KAMU

Waktu yang mempertemukan.

Kita tidak akan pernah tahu arti sebuah pertemuan, apakah itu awal dari kesuksesan kita, atau justru kehancuran kita. Waktu itu sekitar bulan September 2013, ketika tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam kotak masuk HP saya. Nomor yang tidak dikenal, mengenalkan dirinya sebagai adik angkatan yang ingin berkenalan dengan saya. Menarik, dari mana anak ini tahu nomor saya? Mengapa dia tetiba sms saya? Beragam pertanyaan menghantui, tapi toh waktu itu saya sedikit acuh, karena dia sendiri juga sibuk, berkali-kali diajak bertemupun belum bisa. Ya sudahlah, mungkin belum waktunya.

Minggu, 26 Oktober 2014

Bunga, Burung, dan Kupu-kupu

Bunga, Burung, dan Kupu-kupu

“Bunga tidak pernah tahu bahwa dirinya harum. Burung tidak pernah tahu kalau suaranya merdu. Dan kupu-kupu tidak pernah tahu kalau dirinya indah.”

Bukankah Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna?

Seringnya kita lupa, bahwa penciptaan manusia pada dasarnya memiliki tujuan yang besar. Sebagai hamba Allah, dan tentu saja sebagai khalifah di muka bumiNya. Allah menciptakan kita di dunia, bukan hanya untuk bersenang-senang, apalagi bersantai ria, tetapi lebih dalam yaitu memakmurkan bumi ini, beramar ma’ruf nahi munkar. Banyak sekali hal yang bisa kita lakukan untuk melaksanakan amanah tersebut. Jangan pernah berpikir bahwa itu hal yang sulit, karena bukankah setelah kesulitan ada kemudahan? Dan hei, Allah tidak akan menguji melebihi kemampuan hambaNya, kan? So, lets do it, dude!

Kamis, 18 September 2014

Greatest Thing

Mom is a great human-being that God ever created.She's loving, caring, and sharing.She has never ending love.Never ending attention.And never ending smile.She teach us how to be a good one.She teach us how to be a great one.She teach us how to be extraordinary.But.She never take the advantage for herself.She is the wisest person.She is the unpaid one.She is the most lovely one.Never let her tears fall as long as you can.She just want to see your smile.Never let her disappointed of you.She just want to see your success.Mom, you are a great one I ever had in this life, from God.I love you. ♥

Your daughter,
Sept, 16th 2014 07:15

Jumat, 15 Agustus 2014

Kenalin nama gue 'Dhika'

"Kenalin, nama gue Dhika."
Barangkali begitu kata-kata yang seharusnya 'sama-sama' kami ucapkan saat pertama kali bertemu.

Jumat, 06 Juni 2014

Ibu...


Mungkin aku akan terus mendewasa
Menjadi sosok yang terlihat bijak di hadapan banyak orang
Tapi
Aku tetaplah anak kecil Ibu
Anak kecil ibu yang manis dan manja
Anak kecil yang akan selalu membutuhkan Ibu...

Ibu, terima kasih....


Di tengah gelapnya malam dan keringnya air mata,
Yogyakarta, 5 Juni 2014  18:37


 
 
 
 

Sabtu, 05 April 2014


We always have our own way ^^ mhihihi, thanks to be a nice and superb little-sister! I love you!!! ♥

Semoga Allah selalu menjagamu, menjaga kedua orangtua kita, juga menjagaku. Menaungi keluarga kita dengan rahmatNya. Mengiringi langkah kita dengan ridhoNya. Menjaga kita, sampai kelak kita dipertemukan kembali di syurgaNya. Aamiin ya Rabb.

Allah, aku mencintai Allah. Aku mencintai Ayah dan Ibuk karena Allah. Aku juga mencintai adek karena Allah.

Allah, terima kasih atas segala nikmat yang Engkau berikan kepadaku, kepada kami. Izinkanlah kami menjadi seorang yang lebih baik lagi. Istiqomahkanlah kami di jalanMu, Rabb. Ridhoilah selalu langkah kami.


Yogyakarta, 5 April 2014 19:12

Andika Putri Firdausy
-sayainginpulang-


Kamis, 03 April 2014

Laskar GMIF 2014

Berawal dari poster ini...

Poster Open Recruitment GMIF

Alhamdulillah, Allah telah mempertumkan saya dengan keluarga baru yang superb!

SuperCamp #1 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi UGM 2014
Ada 15 orang yang menjadi anggota di GMIF 2014 ini, termasuk saya. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa, hebat dan bersemangat. Juga kakak-kakak coach yang juga luar biasa. Mbak Birrul, Mas Maul, Mbak Mona, Mbak Tika, Mas Handi, dan lain-lain. Saya baru mengenal mereka, tapi saya sudah merasa sangat nyaman. Berada di tengah orang-orang luar biasa bukan hal yang bisa didapat semua orang. Saya sangat bersyukur meski saya (masih) bukan siapa-siapa.

Pada miniproject SuperCamp #1 kemarin saya menjadi seksi Humas/LO bersama dengan Sekar, sie yang baru pertama kali saya kerjakan karena biasanya hanya berkutat dengan kesekretariatan. Dan, luar biasa! Banyak hal yang saya pelajari, terutama cara berkomunikasi dengan bapak/ibu dosen. Juga, saya jadi mengenal beberapa dosen yang juga luar biasa

Oke, saya sudah diberi kesempatan oleh Allah dan saya tidak boleh menyia-nyiakannya!

Lakukan hal yang bermanfaat dan jadilah yang lebih baik!

Yogyakarta, 3 April 2014
10:37
Gedung S2/S3 MIPA UGM

Andika Putri Firdausy

Senin, 23 September 2013

NONGSA ?

Nongsa!
Ada yang tahu NONGSA itu nama apa?
Yup, Nongsa adalah nama sebuah kecamatan sekaligus nama salah satu daerah terdepan Indonesia. Nongsa terletak di Provinsi Kepulauan Riau. Kecamatan Nongsa memiliki lima kelurahan, yaitu Kelurahan Batu Besar, Sambau, Kabil, Ngenang, dan Kelurahan Nongsa. Daerah ini terkenal dengan wisata pantainya. Kecamatan Nongsa juga memiliki beberapa resort dan padang golf berstandar Internasional yang sering menjadi tujuan wisatawan, baik domestik maupun manca negara (Wikipedia).

Sumber: http://www.yachtaragorn.com/Cruise.html
Tapi...
Selain nama daerah, Nongsa adalah nama suatu kelompok dalam ARDVIE (Ardgiss Voyage Intimate) 2013, yang merupakan kegiatan makrab jurusan SIGPW (Sains Informasi Geografis dan Pengembangan Wilayah) Fakultas Geografi UGM. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan para Gadjah Mada Muda, terutama Geograf Muda, dengan kehidupan seorang geograf. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk mengakrabkan mahasiswa SIGPW, baik angkatan 2013, maupun lintas angkatan, dan banyak tujuan serta manfaat yang lain.



Foto diatas diambil pada hari kamis yang lalu, 19 September 2013, di sebuah rumah makan Pondok Cabe deket Mirota. Merupakan sebuah tugas awalnya untuk makan bersama dengan kelompok ini, kelompok luar biasa. Tetap semangat ya, adek-adek yang istimewa. Ardvie hanya awal, lakukanlah dengan semangat dan ikhlas. Yo semangat Nongsa yoo! Keep smile! :3


Dari atas kiri ke bawah kanan: Izan, Agus (Pemandu), Angga, Fendi, Riesa, Ika, Saya, Merry, Tary, Iza, Raisa, Hanin, dan Raden. Keep smile!!! :))

Berkumpul di Jannah