Tampilkan postingan dengan label #OWOP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #OWOP. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Oktober 2018

Tentang Takdir (2)

Doa hari ini, "Ya Allah, hindarkanlah hamba dr galau berkepanjangan tentang apapun yang sudah Engkau takdirkan."

Secukupnya aja yhaaa ~ 😗

Hidup manusia emang macem-macem, ya. Ternyata di luar sana banyak lho orang-orang 'galau'. Tentang banyak hal. Kenapa? Padahal kan Allah dah jamin semuanya to? Apakah mereka orang² yang keimanannya diragukan? Hmm enggak juga padahal.

Ya Allah...
Tawakkal tu, emang nggak mudah sih ya. Sama kaya istiqomah juga.
Keliatannya tinggal pasrah. Tapi, buntutnya panjang juga. Ya kita harus mau menerima segala ketentuan Allah, apapun itu. Dan, ini ada setelah ikhtiar, usaha-usaha yang kita lakukan.

Tapi, usaha yang kek mana?
Nah, itu lagi. Sering juga kita salah paham terkait usaha ini. Bukan hanya usaha yang berorientasi atau berskala dunia aja ya, tapi juga yang berorientasi akhirat. Usaha duniawi pasti dah pada paham lah ya. Usaha berorientasi akhirat? Sholat, puasa, doa, sedekah, sabar, ikhlas. Semuanya. Bukan hanya amalan yang dzahir terlihat aja, tapi yang nggak kelihatan juga.

Jangan pernah sepelekan amal usaha sekecil apapun. Allah Maha Melihat, gais. Dan, Allah Maha Tahu, mana yang terbaik buat kita.

Kalau kita sampai saat ini belum ditakdirkan sampai pada apa yang selama ini kita "tuju", sabar. Banyak jalan menuju Allah, to? Maksudku, janganlah kita ini menyempitkan karunia Allah yang sangat luas dengan menyempitkan takdir sesuai apa yang ada di pikiran kita aja. Cobalah buka sedikit pikiran kita. Pelan-pelan.

Coba rasakan, Allah tu, sebenarnya pengen kita kaya mana sih? Apa udah bener yang selama ini kita impi-impikan? Jangan-jangan, meski 'kelihatannya' baik, itu nggak baik buat kita? Jangan-jangan malah menjauhkan kita dari Allah? Atau jangan-jangan, emang kita belum siap sampai di titik itu?

Semua, pasti ada waktunya.
Sabar. Dan tetap lakukan yang terbaiks~

Pilih mana, sampai di titik atau mimpi yang kita inginkan, atau terus deket sama Allah?

Jakarta,
9 Oktober 2018

Senin, 08 Oktober 2018

Semoga Bertemu

Semalam, ada yang bilang rindu. Katanya, waktu mungkin tidak akan sama lagi seperti yang dulu.
Semalam, ada yang bilang rindu. Katanya, terbayang-bayang kisah bersama di masa lalu.
Hei, apakah sama?
Bukankah, waktu memang akan terus berjalan dengan atau tanpa kamu?
Maka jangan berhenti disitu..
Bergeraklah,
Berjalanlah,
Kalau perlu, berlarilah.
Kita susuri bersama mesin waktu yang kadang terkesan sedikit congkak itu, tak mau menunggu kita yang tertatih mengejarnya.
Tak apa, katamu, hidup bukan lomba lari bukan?
Pelan-pelan saja, asal kita terus bergerak. Asal kita tidak berdiam diri.
Nanti, pada saatnya, kita akan berhenti di tujuan akhir kita setelah pemberhentian-pemberhentian yang semoga menyenangkan.
Semoga kita bertemu lagi, ya!
Aku yakin akan banyak teman jalan yang datang silih berganti. Mungkin aku, atau orang lain, atau orang lain lagi.
Tak apa.
Asal tujuan kita masih sama, yakinlah esok kita akan berjumpa.

Jakarta,
8 Oktober 2018
Di penghulu shubuh.

Kamis, 27 September 2018

Menumbuhkan Keyakinan

Tidak satu-dua malam
Bukan satu-dua hari
Tapi melalui malam-malam yang gelisah, bait-bait doa yang panjang, sampai tetes-tetes air mata
Terkadang, perasaan ragu itu seenaknya muncul kembali
Menggoda niatan diri apakah benar-benar mengharapkan ridho Ilahi
Kemudian keyakinan muncul kembali seiring keimanan yang terus diusahakan
Begitulah
Sesungguhnya keragu-raguan bukanlah sifat seorang mukmin
Kadang memang ia datang, tapi baiknya segera kita tepiskan
Berhenti, atau jalan kembali
Menumbuhkan keyakinan membutuhkan usaha yang tidak mudah
Tapi hei, bukankah akhir yang baik memang membutuhkan usaha yang lebih?

Rabu, 26 September 2018

Jangan Silau

Hati-hati sama cahaya.

Kalau kurang, namanya gelap. Mungkin tidak mematikan, tetapi bisa jadi sedikit menyulitkan.

Hati-hati sama cahaya.
Kalau lebih, namanya terang. Silau kadang. Dan, banyak orang nggak sadar, kalau ini bisa bikin sakit mata. Alih-alih malah sakit hati.

Jangan.
Nggak usah gitu-gitu amat liat cahaya di luar sana. Secukupnya saja sebagai penunjuk jalan untuk melanjutkan perjalanan.

Jangan.
Nggak usah banyak-banyak. Apalagi sampai membanding-bandingkan. Nggak perlu. Cukup dengan yang ada saja. Setiap orang kan, beda. Jadi, nikmati bagian kita saja.

Jangan silau dengan apa yang ada di luar sana. Cahaya terlalu banyak belum tentu baik untuk kesehatan jiwa dan ragamu. Cukupkan sesuai apa yang kita butuhkan, dan gunakan sebaik mungkin. Itu saja. (:

Rabu, 22 Agustus 2018

Betapa Tidak Mudahnya

Betapa tidak mudahnya menjadi orang baik, yang ketika berusaha menyampaikan maksud dengan baikpun, terkadang masih ada yang menilai tidak baik.

Betapa tidak mudahnya menjadi orang baik, yang ketika melakukan kebaikanpun, masih ada orang yang menganggapnya hanya kepura-puraan yang disengaja.

Memang tidak mudah, mengabaikan persepsi manusia. Tetapi niat yang lurus, semoga menjadi timbangan tersendiri, bagi orang baik yang beramal baik.

Jangan takut menjadi orang baik.
Jangan ragu untuk berbuat baik.
Karena Allah tidak pernah menilai amal seorang hamba dari tanggapan orang lain, melainkan dari niat awalnya.

Lillaah.
Walaupun lelah, insyaaAllah berkah.

Tidak mudah.
Belajar ikhlas, supaya hidup lebih mudah.

Yes, it's a big note for myself.
Cheers! Cause everything's gonna be allright! 😉

Jakarta, 22 Agustus 2018

Ketika tetiba kepikiran (lagi) tentang hoax dan niat sharing informasi, heu. Anyway, Eid Mubarak! Semoga menjadi hamba dan pribadi yg lebih baik lagi! ❤

Rabu, 15 Agustus 2018

Perspektif

Salah satu materi dari pelajaran Seni Budaya zaman SMP dan SMA adalah tentang Gambar Perspektif. Ada yang ingat?

Ialah ketika kita menggambar objek dari suatu titik pandang tertentu. Kalau digambar di atas kertas, titiknya bisa diambil dimana saja sih; kadang di tengah di pojok kiri, atau dimana saja. Suka-suka yang gambar. Gambarnya biasanya pake penggaris, karena gambar perspektif nih harus menggambar objek dengan menarik garis dari titik acuan.

*btw ini pelajarin seni yg cukup favorit bagi sy krn gambarnya pake penggaris jd lbh 'mudah' gak perlu mikir² amat wk

Hasilnya? Objek yang sama, tetapi dengan titik acuan berbeda, ya gambaran akhirnya akan berbeda.

Lho, tapi kan gambar awalnya sama? Yha. Tapi kan sudut pandangnya berbeda.

Sama seperti respon manusia ketika ada suatu kejadian. Pasti beda-beda, kan?

Ya, karena mereka melihat dari sudut pandang yang berbeda. Bahkan dari sudut yang sama pun, bisa jadi masih berbeda dalam menanggapi karena memang latar belakang pengetahuan yang berbeda.

Intinya,
Saling memahami.
No judgement.
Jangan lupa klarifikasi.

Karena hidup ini adalah seni untuk saling mengerti ~

Jakarta,
15 Agustus 2018

#iyainajalahyha

Jumat, 27 Juli 2018

Mencari Alasan

Ternyata, mencari-cari alasan itu, tidak selalu buruk. Tidak selalu berkonotasi negatif, seperti yang selama ini kupikirkan.

Misalnya, ketika kita mencari-cari alasan untuk tidak marah, mencari-cari alasan untuk tidak berprasangka, mencari-cari alasan untuk tidak malas dan seolah lupa. Ternyata, sangat tidak mudah, bukan? Dan, tentu saja tidak berkonotasi negatif.

Kata seorang kawan hari ini, "Tunggu, jangan buru-buru menyimpulkan. Kita harus mencari 70 alasan agar tidak berprasangka buruk."

Ah, benar juga rupanya.
Betapa awal dari berbagai bentuk kedzoliman salah satunya adalah ketidakkuasaan kita untuk mencari-cari alasan. Untuk tidak cepat-cepat marah, untuk tidak cepat-cepat suudzon, untuk tidak cepat-cepat menghakimi seseorang atau suatu hal.

Benar juga.
Kalau perlu, bukan 70, tapi seribu. Atau sejuta? Ah, baiknya memang tidak terbatas.

Bukankah kelapangan hati kita seharusnya seluas samudera? Agar menjadikan diri jauh dari berbagai keburukan, yang justru pada puncaknya akan mencelakakan diri sendiri.

Baiklah, hari ini belajar satu hal lagi. Tak selamanya yang terlihat buruk itu tidak baik. Ya "mencari alasan" ini misalnya. Tinggal bagaimana kita melihat dengan kacamata apa. Itu saja.

Jumat, 20 Juli 2018

Kehilangan

Kenapa manusia baru merasa sesuatu itu berharga ketika kehilangan?

Mungkin, karena selama ini ia tidak peka. Menganggap apa yang dia dapatkan adalah sesuatu hal yang "wajar". Padahal, tentu ia tidak akan mendapatkannya jika Allah tak memberikannya.

Mungkin juga, karena selama ini ia kurang bersyukur. Selalu merasa kurang dengan apa yang dimiliki. Padahal, tidak semua orang mendapatkan kesempatan itu. Hingga, ia baru menyadari bahwa sesuatu itu berharga ketika harus melepaskannya.

Atau, selama ini kehidupan tak dijalaninya dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Seakan hidup hanyalah sebuah "rutinitas" yang tidak berarti. Padahal, dalam menjalani hari-hari seorang mukmin tentu harus bersungguh-sungguh. Meniatkan diri dan segala yang terjadi untuk Allah. Maka, tidak akan ada yang sia-sia dalam hidupnya.

Begitulah tabiat manusia.
Sering tersadar, sering juga terlupa.
Semoga, lebih banyak ingatnya.
Semoga, akhirnya adalah puncak keimanannya.

Jumat.
Jangan lupa Al Kahfi, ya! (:

Minggu, 15 Juli 2018

Sibling(s)

Someone who knows you well, sometimes more than your ownself. Someone who gives you much attention, but dont want you to know. Someone who treats you, although its the last coin. Someone who randomly getting mad to you, but contains love inside. 🍁

Kata orang, kita kembar. Saking miripnya, cuma beda dua tahun. Dari prinsip dan kesukaan juga nggak beda jauh, tapi bukan karakter, haha. Kalau nggak dibilang kembar, kadang orang bilang kamu kakaknya. Sepertinya karena kedewasaanmu, dan kebocahanku, haha. But yes, sometimes aku merasa lebih bocah darimu, heu.

Dek, I'm not the best sister, but I tried to be, and I will always be. Pesen Ayah sama Ibuk sebelum pergi, katanya, "nitip adek." I hope I can do it well..

Kata ayah lagi, "mbak yang dewasa, ya,". I know sometimes I am more childish than you. I hope I can play this role better.

Meski dunia masa kecil kita penuh "ketidakharmonisan", yang sering kuungkit2 karena aku lebih sering kalah haha, but I will always be thankful cause Allah gives me you. Yes, you.

Maybe this world is not as small as your hand which you can control. But you have Allah which is "Bigger" than everything you can imagine. All the things in this life is not ours, but we can ask Him to make it easier. Calm, life is only life. We "only" have a task to be better one, not a perfect one. Keep going, girl! 💅

Keep shining my little-with-the-big-heart star 💫

Sorry for being annoying and 'gengsian' Mbak. Maybe I will always be like that, but it will never decrease my love and pray to you 💕

Gumarang, 15 July 2018
Unperfect sister.

Senin, 02 Juli 2018

Idol

Pernah dak sih, kita secara sengaja atau tidak, tiba-tiba mengikuti suatu tren, atau gaya bicara, atau pembawaan, atau hal lain yang mengikuti suatu tokoh?

Kalau iya, berarti secara tidak langsung, kita sudah terpapar 'virus' tokoh tsb. Entah secara pengakuan kita mengidolakan atau tidak, tapi alam bawah sadar kita sudah otomatis mengikuti jalur hidupnya.

Sayangnya, di zaman sekarang ini, emang nggak mudah cari contoh yang baik.. Tapi, ada. Dan akan selalu ada kalau kita mau mencari.

Jangan sampai kita terlena dengan "tren-tren" unfaedah atau malah berdampak negatif. Naudzubillah. Udah mah nggak dapet manfaat, malah merugikan. Hiii sereeem~

Kadang, serem sendiri liat zaman sekarang. Cem mana besok zaman anak-anak kita, kan? Betapa tidak mudahnya. Tapi sekali lagi, bisa. Kalau kita tau caranya.

Naah, itu. Kek mana lagi caranya? Itu yang harus dicari tahu.

Harus mau terus-terusan belajar. Dari sumber yang benar. Harus mau terus-terusan memperbaiki diri kita, juga dari sosok-sosok yang mencerahkan. Dalam hal ini, penting sekali mencari sosok "idol" yang benar. Rasulullah misalnya?

Emang nggak mudah, dan nggak akan mudah. Tapi, bisa. Kalau kita mau belajar.

Life is never ending learning, tho?

Sabtu, 30 Juni 2018

Hati-Hati dengan Hati

Betapa tidak mudahnya urusan seonggok daging ini, jika kita tak memasrahkannya pada Yang Membolak-balikkan Hati.

Urusan hati, salah sedikit, akan jadi kacau.

Perasaan-perasaan yang muncul dari hati, memang terkadang tidak bisa kita kuasai. Hanya, perilaku setelahnya yang patut bagi kita untuk berhati-hati.

Apakah benar semua yang kita lakukan berlandsakan taqwa?
Apakah benar semua yang kita lakukan berlandaskan iman?
Apakah benar semua yang kita lakukan hanya karena Allah?

Hanya hati kita yang tahu.
Seonggok daging yang mudah sekali berpaling, jika tak kita tautkan pada Allah.
Seonggok daging yang mudah sekali berprasangka, jika tak kita titipkan pada Sang Penjaga.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

"Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii 'alaa diinik"

Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

(HR. Tirmidzi no. 3522)

Sabtu, 19 Mei 2018

CONNECTION

Kata Syekh Yusuf Estes, bahasa Inggrisnya "sholat" itu bukan 'pray'

Lalu, jamaah pada bingung, termasuk aku. Bukankah, selama belasan tahun kita belajar bahasa Inggris dan ketika kita mau sholat bilangnya "I wanna pray" ?

Sambil ku berpikir keras, kemudian beliau bilang, kalo 'pray' itu lebih ke berdoa, du'a, yang bisa kita lakukan anytime, anywhere.

Sedangkan, sholat itu, beda...
Kata beliau, SHOLAT itu C O N N E C T I O N.

Sholat itu,

Connection to Allah, yang nggak semua orang bisa merasakan nikmatnya.

Connection to Allah, yang membutuhkan kondisi spesial untuk merasakan kekhusyukannya.

Lalu, sampai manakah "connection" kita sama Allah?

Mumpung Ramadhan, dimana pahala amal dilipatgandakan, mari  makin dekat-dekat, supaya sinyalnya makin kuat :") #ntms

Anyway, almost five years ago ya guys 🙈

Senin, 14 Mei 2018

Berawal dari Kipas Angin

Setelah sekitar 4 bulan bertahan tanpa kipas di ibukota yang nggak dingin ini, heu, akhirnya...

Bukan karena nggak mau beli sih, tapi emang nggak bisa pake kipas angin, or we call it 'masuk angin' dkk. Yang pernah tinggal bareng pasti tau, saya orangnya anti banget kipasan, atau yaa paling kepaksanya kipas dihadapkan ke arah lain.

Tapii, entah mengapa beberapa waktu terakhir panasnya Jakarta luar biasa sampe bikin baju literally basah, ditambah nyamuk yg bikin bentol-bentol, akhirnya diputuskanlah untuk membeli, K I P A S A N G I N .

Sesepele itu sebenernya..
Cumaan, kadang dalam hidup kita suka 'terlalu' kekeuh sama diri sendiri, dan nggak mau mencoba mengerti keadaan. Padahal udah tau sebenernya diri kita butuh, tapi tetep aja merasa sok kuat dengan apa yang ada.

Sama kaya iman.
Kita tuuh sebenernya tau kekuatan kita cuman 'segitu'. Kita juga tau di luar sana ada banyak sarana yang bisa mendukung dan memudahkan urusan kita. Sayangnya, kita terlalu asik di zona nyaman. Jadinya, yaa gitu-gitu aja deh hidup kita, susah naik kelas heuheu~

Pokoknya, kalau mau berubah ke arah yang lebih baik mah, harus mau keluar dari zona nyaman. Buat dapet sesuatu yg "worth it" itu, nggak akan bisa kalo usaha kita juga nggak "worth it" kan?

Eh, kok panjang? 😂😂😂

Dan tulisan ini sesungguhnya adalah pengingat bagi diri sendiri heuheu #ntms

Senin, 19 Maret 2018

Silhouette

SIL•HOU•ETTE :// (N) 

The dark shape and outline of someone or something visible against a lighter background, especially in dim light.

-

Anyway, kamu tau nggak kenapa 'siluet' itu mostly terlihat sangat bagus, eye-catching, lagi instragam-able?

Kenapa?

Karena siluet itu diambilnya dari samping, yang sebagian.

Hah? Maksudnya?

Iyaaa, siluet kan, hanya memperlihatkan sebagian dari objek, bukan keseluruhan.

Lalu?

Itu, sama seperti ketika kita melihat orang lain, atau orang lain melihat kita. Hanya sebagian. Enggak pernah utuh. Hanya orang-orang tertentu, semisal keluarga, yang tahu benar-benar tentang kita. Atau bahkan, merekapun enggak tahu. Hanya Allah yang tahu. Bahkan, bisa jadi lagi, diri kita sendiri, belum tentu memahami jati diri yang sesungguhnya.. Jadi, ya gitu. Kadang, prasangka orang hanyalah sebatas persepsi yang tidak terbukti. Karena, mereka cuma tau sebagian aja dari diri kita.

Hmm begitu rupanya. Lantas?

Benarnya sih, yaa kita enggak perlu lah menceritakan diri kita ke orang lain, apalagi sampai membagus-baguskan diri di depan orang lain. Sama sekali enggak perlu. Karena,

Karena yang menyukai kita nggak membutuhkan itu, dan yang nggak menyukai kita nggak akan percaya itu, kan?

Yak, benar sekali, layaknya quotes dari Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Sebentar, terus, kita kudu gimana?

Lakukan yang memang kita sadar ingin dan butuh kita lakukan. Bukan karena orang lain. Tapi karena Allah. Karena nilai dan prinsip yang kita pegang kuat-kuat.

Sanggup?

Mungkin kalau sendiri enggak, tapi kalau barengan, semoga lebih bisa deh~

-

Okey, percakapan yang agak absurd. No father-father. Yang penting kita sama-sama paham, kalau hidup bukan cuma ngalir, apalagi cuma demi orang lain. Ada masa depan lebih besar yang sedang kita perjuangkan. Let's hit the book! 😎


#ntms

Jumat, 09 Februari 2018

Titik Marginal

Salah satu teori dari pelajaran pelajaran ekonomi jaman SMA yang paling saya ingat adalah tentang "Titik Marginal".

Intinya dalam teori itu seingat saya adalah; ada titik ketika kepuasan manusia mencapai puncaknya. Alias terbatas.

Misalnya, kita lagi haus banget-banget. Terus, ada yang menawarkan kita es kelapa muda yang teramat sangat segar sekali. Minumlah kita tanpa pikir.

Satu gelas, rasanya tidak bisa dideskripsikan saking enak dan segarnya. Dua gelas, juga masih terasa segar dan masih kurang. Tiga gelas, cukup melegakan. Empat gelas, perut kita sudah kenyang dan tidak ingin minum lagi. Jika diteruskan lima gelas, bahkan mungkin air itu akan kita keluarkan lagi.

Begitulah. Titik marginal ada pada gelas keempat, ketika kita sudah "puas" dan tidak ingin lagi menambah porsi. Dan kita baru sadar bahwa yang tadi-tadi itu, sesungguhnya hanyalah nafsu belaka...

Begitulah manusia.
Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu, banyak sekaliii~

Keinginan kita mungkin tak berujung, lalu bisakah kita implementasikan pada rasa syukur?
Impian kita mungkin tak berbatas, lalu bisakah kita implementasikan pada stok sabar?

Sesungguhnya rahmatNya pula tak terbatas. Tapi sungguh kita lebih sering alpa tak mengingatnya. Padahal jika kita mau sedikit saja lebih bersabar dan bersyukur dalam setiap keadaan, tentu semuanya akan terasa lebih membahagiakan.

Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Jakarta, 9 Februari 2018

Senin, 05 Februari 2018

Tentang Memasangkan

Seneng nggak siih kalian melihat pasangan muda-mudi aktivis-progresif gitu yang meniqa? Hahaha, kalau aku bukan senang, tapi bahagiaaa, sambil doain yang baik-baik 😍

Entah mengapa, sadar atau enggak, kita seringkali memasangkan (?) mbak yang satu dengan mas yang lain, yang menurut kita "cocok" dengan segala kelebihan dan tipikal mereka, entah bidangnya atau apapun yang ada pada diri mereka. Sejak jaman sekolah dulu, atau awal kuliah lah, seringkali mendoakan diam-diam (?) "pasangan" mbak-mas yang kita anggap cocok. Sama-sama pintar, aktif, kontributif, keren, de el el pokoknya mah berharap mereka (dan kita adalah regenerasinya) adalah sosok harapan Bangsa ini yang akan menjadi bagian dari perunahan Indonesia yang lebih baik. Hahaha rada lebay, ya?

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ternyata dunia nggak sesempit itu. Atau malah sesempit itu? Wkwk. Boleh jadi, mbak-mas yang kita pasangkan tadi "kebetulan" cocok. Atau, bisa jadi, mbak-mas tadi ternyata nggak cocok. Mereka hanya kita cocok-cocokan saja. Mereka, ternyata, memiliki pasangan mereka masing-masing yang "tidak kalah cocok" dengan yang selama ini coba kita pasang-pasangkan.

Hahaha, lucu ya? Memangnya kita ini siapa berani memasang-masangkan yang orangnya sendiri aja belum tentu melakukan hal yang sama. Tapi, kenyataannya, apapun yang terjadi pada mereka, siapapun yang bersama mereka sekarang (atau kelak), tentu mereka bahagia, bukan? Mereka menemukan partner-berjuang-selamanya dengan caranya masing-masing, dengan cara yang baik.

Jadi, berhentilah wahai kalian-kalian (dan aku hahaha) sang ahli nujum (?) yang hobi memasangkan manusia. Bukankah Allah sudah menjamin (54:21) bahwa setiap makhlukNya macam kita ini memang diciptakan berpasang-pasangan? Termasuk mbak-mbak dan mas-mas itu.

Berhentilah, sebelum mereka terpengaruh oleh candaan kalian, walaupun prinsip teguh mereka bisa jadi tak goyah hanya untuk meladeni candaanmu. Tapi, bukankah sebaik-baik penghantar perasaan adalah doa? Doakanlah.

Doakanlah mereka-mereka yang belum Allah pertemukan dengan jodohnya itu, supaya saling menemukan di waktu yang tepat. Ketika, sudah sama-sama siap mengarungi bahtera yang sesungguhnya. Sekarang, kita dulu yang perlu bercermin; memang, sudah apa kita dibandingkan ke-keren-an mereka-mereka? Baiknya kita perbaiki diri dulu saja dengan benar~

(masih di) Yogyakarta,
18 Januari 2018 02:38

Andika Putri Firdausy

#latepost wkwk baru inget sewaktu kemarin berdiskusi tentang suatu hal wkwk. Yhaaa intinya mah gitu. Jodoh adalah keputusan Allah. Kita boleh minta cem-macem, tapi hasil akhir tetap: hak prerogatif Allah. Soo, sebagai hamba yang baik, yang penting tujuan kita lurus, yang lain bakal ngikut aja~ 😉

Jakarta, lagi di ruang rapat yang kita kuasai  (08:06)

Minggu, 04 Februari 2018

Ruang Penyimpanan

Ada banyak hal yang terjadi di dunia ini. Kemarin, hari ini, dan esok. Tetapi, kita tidak akan pernah bisa menyimpan semuanya sendiri. Ada ruang-ruang yang kemudian hari menjadi sesak akan hal-hal yang telah terlalu lama terlewat. Ada bagian-bagian diri yang menjadi terlalu lemah apabila berlama-lama berkutat dengan yang seharusnya terlupa. Dan ada keping-keping hati yang harus diselamatkan dari kenangan-kenangan yang harusnya dilupakan.

Ada banyak hal yang telah kita lakukan, orang-orang yang pernah kita temui, dan pekerjaan yang kita selesaikan. Tetapi, tidak semuanya harus disimpan baik-baik selamanya. Manusia bukanlah komputer yang meski memiliki kapasitas terbatas, tapi tetap memiliki simpanan tak terbatas di ruang-ruang yang lain, harddisk misalnya.

Tapi, bukankah kita tidak mau seperti itu? Manusia, bagaimanapun jua, memiliki kapasitas terbatas yang harus dikelola dengan baik. Biarkanlah diri kita menjadi utuh dan tetap utuh tanpa menyimpan ruang di tempat yang lain. Karena semua itu hanyalah tentang kita, bukan? Tidak ada hubungannya dengan orang lain.

Maka demi itu, kita lagi-lagi harus memperbaiki ruang penyimpanan kita. Membaginya dengan mana yang urgent, prioritas, rutinitas, atau hal-hal sekunder-tersier yang layak dikemudiankan. Kita harus pandai-pandai membagi ruang, menyekat antar ruang, pun juga mengisinya dengan hal yang seharusnya. Seakan merapikan folder dalam ruang komputer yang berserakan. Bahkan terlalu berserakan. Atau jangan-jangan, kita perlu menginstal ulang saja semua?

Sepertinya tak perlu. Cukup berdamai dengan diri dengan menghapus yang tak berarti. Bila saatnya folder itu dibutuhkan lagi, mungkin kita bisa membuat yang semisalnya?

Kereta Lokal Merak-Rangkas,
4 Februari 2018 08:28

Andika Putri Firdausy

Kamis, 25 Januari 2018

Hari Pertama

Syukur tak terhingga untuk Ia yang tak pernah alpa memahami setiap hal dari hamba-hambaNya. Doaku sebelumnya, di atas udara, diantara perjalanan, yang -katanya dan semoga - makbul, rasa-rasanya sudah diaminkan cepat oleh malaikat. Semoga. Khusnudzon itu, perlu kan? Wajib bahkan, apalagi terhadap ketentuan Allah.

Waktu Fajar, biasanya cukup ku tarik selimut tanda enggan memenuhi panggilan istimewa yang sungguh tak semua orang bisa merasakannya. Tapi fajar tadi, bahkan sebelum fajar, semesta melalui perintahNya seakan terus mengajakku, membisikkan lembut seruan-seruan yang aku mintakan, agar diri ini bisa kembali pulang, dengan sebenar-benar pulang. Ah, lain cerita lagi ini, karena akan panjang. Tentang perjalanan menuju pulang...

Pagi ini, semua kumulai dengan bahagia. Kekhawatiran-kekhawatiran yang sebelumnya kerap kupikirkan, telah kutitipkan pada Yang Maha Menjaga. Biarlah. Aku memulai dengan niat yang baik, dan semoga dapat menjalani dengan baik, dan selesai juga dalam keadaan baik.

Paginya pagi. Seorang bapak ramah mengantarku. Oh, ada lagi, sebelumnya seakan tahu saja hari pertama, aku mendapat 'tumpangan gratis'. Pertanda baik. Dan semua akan baik-baik saja. Semoga. Dan memang harusnya begitu.

Subuh tadi hujan. Jalanan basah. Suasana kota yang biasa penuh hiruk-pikuk pun lengang. Aku menghirup udara segar sedalam-dalamnya. Ah, lega sekali. Rasanya, ingin seperti ini setiap hari.
Tapi aku tahu, ini baru awal. Dan akan banyak hal menanti di depan. Mari siapkan dengan sebaik persiapan. Agar bisa berpulang dengan sebaik keadaan.

Terima kasih, Allah.
Terima kasih Ibuk dan Ayah dan Adik.
Terima kasih, semuanya.
Doakan aku.

Jakarta,
25 Januari 2018 07:40
A new place (and stories, and memories, and contributions, and many more) to be fought

Andika Putri Firdausy

Senin, 22 Januari 2018

Akumulasi

Beberapa hari ini, entah mengapa banyak orang senang sekali mengiris bawang dekat-dekat denganku. Meski aku berkacamata, tak ada jaminan akan bebas dari semerbak bawang. Jadi, jangan salahkan jika kelenjar air mataku bekerja lebih keras dari biasanya..

Sejak kemarin-kemarin, bahkan aku belum sempat pamit secara paripurna kepada semua (atau belum menyempatkan?). Sungguh bukan karena tak ingin pergi dengan cara yang baik, tapi apalah daya diri yang hatinya tak ingin berpamit.

Kata Dilan, "Rindu itu berat, biar aku saja."

Sayangnya, Dilan cuma bilang ke Milea, bukan ke aku. Jadinya, harus juga aku "menanggung" rindu, meski belum sehari.

Maafkan atas pesan-pesan yang belum berbalas, sungguh diri ini tak sanggup membaca semua pesan itu. Biarlah hujan yang mengiringi sepanjang perjalanan menjadi pengganti atas ucapan, doa, dan semuanyaaa selama ini, semoga Allah berkahi, semoga Allah balas dengan kebaikan yang lebih baik dan lebih banyak. Sungguh, hanya Allah sebaik-baik Pemberi Balasan.

Satu lagi, mohon maafkan. Untuk semuanya.

Entah apa lagi. Banyak. Tapi belum bisa berkata. Yang pasti, semoga iman dan doa menjadi penghubung senantiasa.

(sedang di) Bangil (dan agak pusing?),
22 Januari 2018 00:30

Andika Putri Firdausy

Kamis, 18 Januari 2018

Memupuk Kenangan

"Tidak baik menumpuk kenangan," bisikmu kala itu.

"Kenapa?" Aku, dengan wajah penasaran, tentu saja ingin tau alasanmu. Bukankah selama ini kita mencipta banyak sekali kenangan?

"Karena hati manusia tidak seluas itu, sebenarnya. Ada kalanya, kita perlu menyingkirkan yang telah usang, dan menggantinya dengan yang baru", ucapmu tanpa ragu.

"Jahat sekali..." jawabku mengambang, sambil tak mengerti apa yang ada di pikiranmu.

"Bukan begitu. Tapi manusia memang berbatas bukan? Ada saatnya, dimana kita harus melangkah maju dengan tanpa ragu. Termasuk, jika harus memilah dan memilih mana hal-hal yang akan kita bawa terus berjalan, atau terpaksa kita singkirkan di tengah jalan".

"Apapun itu?"

 "Iya, apapun. Dan siapapun"

Kau menjawab dengan mudahnya, seakan tanpa beban. Sedangkan aku, waktu itu, masih dipenuhi banyak pertanyaan. Manusia sepertiku, yang terlalu banyak memupuk kenangan, yang terlalu banyak menyimpan harapan, sepertinya terlalu sulit untuk harus mengikhlaskan semua kenang.

Tapi, hari ini aku sadar. Perkataanmu, dulu, ada benarnya juga. Bukan, maksudku, benar sekali.

Ada kalanya, aku memang harus melepaskan sesuatu yang telah lama pergi, yang selama ini kubuat-buat saja seakan masih disisi. Aku harus terus hidup, dan belajar menerima keadaan. Bahwa yang ada di belakang hanyalah pelajaran, agar ke depan, aku bisa berjalan dengan tenang, memperbaiki yang akan datang.

Terima kasih atas nasihatmu kala itu. Kini kumasukkan namamu dengan baik dalam sekotak kardus yang akan kutinggalkan. Katamu, apapun dan siapapun, kan?



*ditulis ketika lagi milih baju, pindahan meninggalkan Jogja huhu, dan menemukan baju sejak SD waktu lomba tk prov hahaha.
Dasar manusia baper. Ayo berubah!!! >.<

(masih di) Y
ogyakarta, 
17 Januari 2018 11:40


Andika Putri Firdausy

Berkumpul di Jannah