Senin, 25 September 2017

Timbangan


 

*throwback Idul Adha xD

Masalah perdagingan ini, mengingatkan jaman SMA, tentang timbangan.
Yaps, pelajaran FI-SI-KA 😁 Which is, ketika kita sedang mengukur berat atau massa suatu benda, posisi kita terutama mata kita, harus sejajar dengan timbangan. Ga boleh dari atasnya, bawahnya atau sampingnya. Apalagi belakangnya, karena, ga bakal keliatan wkwk. Harus pas dari depannya.

Kenapa? Karena kalau ga pas dari depan, timbangan itu ga bakal akurat. Kebayang kan distorsi (?) atau pergeseran pengukuran yang ditimbulkan dari kesalahan pengukuran tadi? Kalau sedikit dan seperseribu siih mungkin maklum yaa. Tapi kalau terus menerus? Bakal ga adil. Padahal, timbangan itu harus passs, ga bisa kurang atau lebih, apalagi dalam hal jual-beli dan kawan-kawannya.

*Atau malah lebih amannya sih, kalau kita yang kasih atau jual, kasih pas banget atau lebihin dikit malah baik, daripada kurang ntar kita yang dosa :" ga kebayang lah gimana dosa orang2 yang 'ngganjel' timbangan gitu heu. Makanya kalo masuk pasar harus berdoa (?) *malah kemana2 😂

---

Sebenarnya, masalah timbangan tadi, sama sih seperti ketika melihat hidup orang lain, atau orang lain melihat hidup kita. Sama, mereka ga pernah tau ukuran pas atau normalnya untuk melihat sesuatu. Sudut pandang yang dipakeai pasti beda, makanya suka komentar cem macem, begini begitu.

Atau, sama juga ketika kita melihat situasi orang lain, suka mikir gini dan gitu, padahal kita ga pernah tau posisi mereka sebenarnya karena kita emang ga di posisi mereka, dan mereka ga di posisi kita. Jadi, ga bakal sama.

That's why, penting banget untuk nahan sebelum komentar, tanya dulu dalam diri: penting apa enggak, baik apa enggak, ngaruh apa enggak. Ini juga nasihat buat saya siih yang kadang suka nyeplos aja apalagi kalau orangnya udah deket gitu, suka dikit2 komen meski ga diminta. Maafkan lisan ini, yaaa :”

Terus, dibalik lagi, kita juga gabisa bandingin hidup kita sama orang lain, karena balik lagi, 'timbangan'nya ga sama, atau kalaupun timbangannya sama, sudut buat ngelihatnya beda. Ga mungkin ada dua orang dalam posisi yang sama persis, kaan?

Soo, jangan banding-bandingkan lagi hidup kita dengan orang lain, atau hidup orang lain dengan hidup yang lainnya lagi. Everyone has their own life, their own way, their own path. Enjoy your own life and do your own best, stay on your path. Heuu mangats!

Btw mending kita mikir, 'timbangan' setelah lebaran gimana? Lebar-an beneran apa gimana nih? :P Sama satu lagi, gimana besok ‘timbangan’ kita di Yaumul Mizan? ;’(


2 September 2017

Andika Putri Firdausy

Selasa, 12 September 2017

Domain Blog: Akhirnya “.com” !


Haloo teman-teman, assalamu’alaikum! Waah rasanya sudah lama sekali tidak menyapa :”) Selama ini baru bisa menyempatkan menulis di notes hape aja, hiks. Bismillah akan memulai dunia tulis-menulis lagi! :D

Okee, dimulai dari pertanyaan (?) pertama yaa..

*Kemana aja, Put?
Sebagai teman yang sudah lama tidak bersua, pasti kalau kita punya teman dan ‘menghilang’ dari peredaran karena sudah berbeda amanah di bagian bumi Allah yang lain, pastinya rindu-rindu gimana gitu sama masa muda (?) serta pertemanan dan persaudarannya kaan. Jadilah kalau ada kesempatan pasti saling bertanya kabar, sehat kah?, sibuk apa? dsb. Dan, sebagian besar teman yang bertanya ke saya dengan pertanyaan sibuk apa, Put? Pasti dijawab sibuk mencari kesibukan *sambil nyengir lebar* :D
Sibuk mencari kesibukan (?)
Hehe.. maafkan, tidak bermaksud tidak menjawab pertanyaan dengan baik dan benar, tetapi memang itulah adanya. Kalau dibilang sibuk, engga tuh, masih ada waktu buat scroll timeline :P tapi kalau dibilang nganggur, engga tapi ada juga yang dikerjain meski mungkin invisible (?). Jadi kumaha sih, Put sebenarnya? Jadi selama awal tahun setelah selesai urusan dengan scriptsweet memang ada beberapa urusan, kadang beruzlah juga escape dari Jogja meski ujung-ujungnya balik juga -.- Ya, sekarang saya (masih) available di Jogja, kok. Sampai waktu yang belum ditentukan (?) *tapi udah ditentuin Allah (:

Intinya mah, dimanapun kita berada semoga selalu sibuk dalam kebaikan *hiks note tomyself :”) Diniatkan baiklah semuanya, hingga lelahnya ga kerasa dan tercatat sebagai amal baik, biar ga sia-sia. Terus, saling doa aja yaa. Meski mungkin kita tak bersua dalam raga, semoga doa yang terpanjat menjadi pengikat persaudaraan kita. Doain supaya Putri... Doain yang terbaik ajadeh! :D *racetho, heu. But really, I do miss you gaisss :""")

***skip

Anywaaay, yang sejak tadi mau dibicarakan sebenarnya adalah...
Tadaaa ada yang sadar nggak sih ada yang berubah dari blog saya? Enggak...
Oke, baiklah.

Alhamdulillah sudah ada domain baruuu. *terharu* Sesungguhnya ini sudah wacana lama, tapi belum ada momen yang pas buat bener-bener merawat blog, hiks :” Sejarahnya, blog ini adalah blog kedua saya. Blog pertama sudah dihapus karena terlalu alay ‘berjiwa muda’,  banyak tjoerhat dan nama blognya ya, begitulah. Blog itu saya buat sejak SMP sekitar kelas dua atau tiga (?) lupa tepatnya kelas berapa. Nah, sedangkan blog ini, saya buat sejak tahun 2010, pas akhir kelas tiga mau SMA :))

Awalnya, saya mau membuat dengan nama: putritidur.blogspot.com. Sungguh bukan karena saya mau jadi puteri-puteri seperti di cerita dongeng. Tidak, saya tidak seanggun itu  >.< tapi karena murni saya suka tidur (?) wkwk :P Jadi ingat sewaktu kelas dua SMA, saya mengikuti seleksi lomba (OSN apa Sispres yaa, ya Allah lupa :( hiks) dan ada acara perkenalan gitu pas malam santai di hotel. Waktu itu kami diminta memperkenalkan nama, asal, dan hobi. Ada yang menyebutkan hobinya membaca, traveling, dll yang ketje deh, sedangkan pas giliran saya, jawaban saya adalah: tidur! Dan, seisi ruangan pada liat-liatan terus ketawa padahal saya sedang tidak melawak. Baiklah.

***skip (lagi)

Akhirnya saya membuat nama blog andikaputrii.blogspot.com yang isinya banyak curhatnya (?) tentang keseharian dan pengalaman yang semoga ada manfaatnya :” Sesungguhnya saya tipikal yang agak tertutup (?) kalau masalah tulisan. Entah, ngerasa ga pede aja gitu... Walaupun kalau udah cerita biasa secara lisan juga gabisa diberentiin siih.. (Haha, yang sering bareng pasti tau nih wkwk). That’s why lebih banyak tulisan dan cerita yang TBC (to be continued) alias belum selesai draftnya dan banyak juga yang kesimpan baik di laptop sama notes hape :”)

Naah, salah satu tujuan dari perubahan domain ini adalah untuk membuat kesepakatan supaya lebih serius menulis. Tulis aja, bagi aja, asal yang ditulis adalah kebaikan insyaaAllah tidak masalah. Curcol dikit juga ndakpapa asal ga sering-sering wkwk. Toh, meskipun yang ditulis kadang terkesan baper (?), belum tentu hal itu dialami sama penulisnya kaan? Bisa jadi malah hal yang dialami orang lain tapi bisa diambil pelajarannya :) Selain ituu, ketika kita menggunakan suatu domain, blog kita akan terlebih lebih classy, karena kita merawat dengan baik (karena domain itu bayar wkwk). Tapi tenaang, perawatannya sangat mudah dan murah, kok. Cuma sepuluh ribu sebulan, atuh sehari ga sampe 500, kaya beli permen aja :3 Sayang-sayang doong kalau engga dicoba kaan. Kalo blog kita lebih trusted kan jadi lebih profesional juga. Daaan, lebih gampang ngetiknya karena jadi lebih pendek alamatnya :D Gitu.

So here we come, from www.andikaputrii.blogspot.com à www.andikaputrii.com
Semoga istiqomah nulis dan sharing yaaa. Bismillah! ^^

Sabtu, 18 Maret 2017

Tentang si Kakak dan Sixteen

Ceritanya pagi itu saya sudah siap-siap pergi menjemput rizqi (?) *apasih. Kemudian, qadarullah, si Kakak ditemukan gembos oleh tetangga kamar. What??? Kakak, apa yang kamu makan nak, perasaan semalam pulang masih sehat-sehat aja. Ada-ada aja hihi. xD

Seakan tau banget saya udah lama engga olahraga :p, akhirnya pagi-pagi harus menuntun si Kakak ke tambal ban terdekat. Karena sepertinya sudah sejak semalam bocor, jadi digeserpun sudah cukup berat, apalagi dituntun yak. Baru beberapa belas meter, saya sudah cukup merasa ‘menggeh-menggeh’ alias terengah-engah. *tariknapas*

Saking ‘panik’nya karena sebelumnya pernah bocor dan malah velg motornya penceng dan ngga enak dipake, saya bersemangat sekali menuntun si Kakak. Sampai akhirnya ketemu Ibu-Bapak yang ngeliatin saya aneh, seakan bilang: we lha ngopo embak ndadak dituntun barang, kurang gawean po piye  ._.  dan akhirnya menyarankan saya untuk ‘dinyalain aja mbak mesinnya’. Deg, baru sadar, kan bisa yaa nyalain mesin aja meski ga dinaikin yaa, kok tadi engga kepikiran kyaaa. Alhamdulillaah. Jrenggg, akhirnya perjuangan berlanjut xD

Pas jalan lagi, kebetulan menuju tambal ban saya dan Kakak harus melawan arus di jalan ringroad utara, subhanallah sekali.Aapalagi di arah berlawanan lampu hijau menyala, yak, semangat diliatin banyak orang :p mana si Kakak berat juga ya ternyataaa. Di tengah ‘perjuangan’ bersama si Kakak, kemudian saya jadi ingat sesuatu...

Perjuangan menyusuri pantai Sixteen di Temajuk :3 puasa2 siang bolong diantara pasir ya Allaah :’) 

Minggu, 26 Februari 2017

Betapapun hati tidak bisa jauh dengan Al-Quran

Berikut adalah tugas  serupa transkrip ringkasan kajian Ust. Syatori tentang Al-Qur'an.
Selalu merasa ada yang kurang jika tidak ditulis dengan lengkap :D jadi menulisnya terlalu bersemangat wkwk. Semoga menjadi pengingat ketika diri mulai ‘melemah’...

Akan selalu ada kerinduan terhadap Al-Quran

Mari kita awali dengan gambar yang menambah semangat :D
Keceriaanmu, nak, yang selalu bahagiakan hari-hariku :3

Sabtu, 17 Desember 2016

Three Years, Three Steps

Kyoto, 15 Desember 2013
It has been three years since that day ~
Saatnya kontemplasiii

Sejak perjalanan yang lalu, apa yang sudah didapatkan?
Apa yang sudah terlewati?
Mimpi bagian mana yang sudah tercapai?
Hmm rasa-rasanya diri ini masih terlalu jauh dari tujuan besar penciptaan :"

Jepang. Satu pengalaman yang menjadi buah dari berkumpulnya beberapa mimpi: naik pesawat, presentasi di luar negeri, jalan-jalan ke luar negeri, dan, of course, megang salju! Ehee. Agak kampungan? Biarin, daripada engga punya mimpi :p

Pulang dari Jepang, sama halnya dengan perjalanan jauh lainnya (katanya), membuat kita (saya) memiliki pandangan yang lebih luas tentang arti kehidupan. Pikiran jadi lebih terbuka, tidak hanya dalam tempurung Indonesia, terutama Jawa saja. Banyak pertanyaan-pertanyaan menemukan jawabannya. Banyak pula hikmah dari setiap kejadian yang terjadi, mulai dari tahap persiapan keberangkatan sampai kembalinya kami ke tanah air. Semoga bukan hikmah sesaat, ya. Tetapi benar-benar bisa menjadi pelajaran dalam menjalani kehidupan.
.

First, about partner.
Kyoto, 15 Desember 2013
Tau apa yang membuat saya bisa sampai di titik ini? Iya, orang-orang di sekitar saya. Kita tidak akan pernah bisa berjalan jauh jika sendirian. Memang sih, berjalan bersama-sama itu lamaaa banget. Sering gesekannya juga. Tapi, tujuan kita jelas. Dan ada sosok yang akan saling menguatkan dan mengingatkan kita di sepanjang perjalanan.

Dalam setiap tujuan dan pencapaian, saya lebih sering berpartner alias membentuk tim. Meski tidak selalu sama komponennya, tapi ada dua tim yang saya merasa sangat sejalan bersama mereka. Salah satunya, dan memang yang paling awal, adalah tim atau partner perjalanan saya ke Jepang.

Ke Jepang, zaman saya waktu itu (berasa udah berabad-abad aja :p), tidak semudah sekarang. Ngg, ini lebih ke perspektif dan euforia (?) siih. Dulu mah belum sebanyak sekarang informasi tentang dunia ke-luar-negeri-an baik yang konferensi atau exchange (atau sayanya yang dulu cupu banget yak? #eh). Dulu juga tidak segampang sekarang mencari sponsor, walaupun sekarang juga tidak bisa dibilang mudah. Dulu juga mah di tempat saya kuliah, apalagi mahasiswa muda-mudi ‘aneh’ banget kalau sampai ‘bertingkah’ ke luar negeri segala. Sesuatu deh. Makanya itu butuh perjuangan ekstra. Termasuk dalam menghadapi dinamika perkuliahan (baca: praktikum) di tahun kedua itu sesuatu syekalih. Dan dalam berjuang, sendiri itu engga enak. Serius. (Lain kali saya cerita bagian ini). That’s why we need journey’s partner. #tsaaah

Intinya mah, mencari partner yang sevisi itu sangat penting. Saya sangat bersyukur dipertemukan Allah sama partner yang luar biasa. Ima, Azza, Isna, dan Pipit, dengan segala kelebihan dan kekurangan, juga ke-luar-biasa-an mereka. Pengalaman pertama yang akan menjadi pelajaran bagi pencarian pengalaman-pengalaman selanjutnya. Meski pada akhirnya kita bersilang jalan #eaa, tapi aku yakin mimpi terbesar kita masih sama, fingers... :”) *tetibamellow.
.

Setelah partner, second is about work.
Kumamoto Univeristy, 13 Desember 2013
Setelah mempunyai ‘komposisi’ partner yang pas, pembagian kerja adalah hal yang sangat penting. Keduanya saling berkaitan. Kan ngga mungkin ya, kalau kita punya tujuan besar, tapi cuma diem-diem aja? Yah, itu mah sama aja ngga bakal dapat apa-apa. Kalau waktu itu sih, kami harus pandai-pandai ‘membelah diri’ dengan urusan paper, administratif ke Jepang, kuliah dan praktikum, organisasi, dan urusan pribadi kami masing-masing.

Kalau boleh jujur, IP saya semester tiga waktu itu adalah IP paling rendah selama saya kuliah :’D Kenapa? Karena saya sering bolos, hiks. Engga diing.. Sebenarnya itu hak saya siih, karena kan toleransi kehadiran 75%, jadi sayang aja gitu kalau disia-siakan #ngeles. Tapi jeleknya, saya jadi terlalu memaksimalkan, dan hampir di semua mata kuliah yang saya ikuti waktu itu saya absen 2-3 kali. Itu aja saya masih lari-lari mengejar berbagai tugas dan laporan praktikum, belum amanah organisasi juga. Seru lah pokoknya :3 Sampai saya yang paling tidak bisa begadang harus minum kopi dan masuk angin disusul demam karena harus menyelesaikan banyak hal.

Menyesal?  Oh, tentu tidak! Tapi tidak menyesal bukan berarti harus mengulanginya kan? Hehe.. Ambil hikmahnya aja: skala prioritas dan harus belajar mengurangi waktu tidur :) biar ngga kaya bayi yang banyak tidur wkwk (ini emang PR sejak lama dah -,-) Jadi, sebanyak apapun pekerjaan, tetap harus diselesaikan semua. Jika kita punya A, B, dan C yang harus diselesaikan, maka kita harus memberikan 100% ketika mengerjakan A, 100% ketika mengerjakan B, dan 100% juga ketika mengerjakan C. Karena, fokus itu sangat penting! Saya paling menghindari ketika kuliah disambi dengan mengerjakan yang lain. No! Selain itu tidak beradab (tidak sopan maksudnya ehee), itu juga mengganggu konsentrasi kita. Dan justru kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari yang kita lakukan. Saya juga sih mengejar keberkahannya aja. Toh kalau kita sedang berbicara di depan, juga pasti sedih kan kalau ada yang usrek  sendiri di belakang? Ini mah masalah lain lagi tentang bercermin, tapi penting juga dalam kehidupan :)

Cukup disitu? Hmm tidak juga. Sepulang kuliah dan menuntaskan amanah kampus, malam hari kami biasa berkumpul di ‘basecamp’ untuk membicarakan berbagai hal. Mulai dari persiapan keberangkatan sampai tentang mimpi-mimpi kami. Atau sekedar haha-hihi menghilangkan penat sejak sehari beraktivitas. Yang jelas, semua persiapan itu membutuhkan energi yang tidak sedikit. Menguras kantong sampe kering sekeringnya. Bahkan pernah menguras hati saking penatnya. *emang kamar mandi di kuras :D

Tapi kami yakin, semua lelah dan perjuangan kami akan terbayar lunas. Dan itu terbukti, bahkan surplus. :)
.

Last but not least, third is pray.
Kyoto, 15 Desember 2013

Pernah dengar pepatah ini: “If you work, you work. If you pray, God work.” ?

Yes, karena sebagai hambaNya, kita sudah barang tentu memiliki hubungan khusus yang tidak akan bisa diusik oleh sesiapapun jua. Tingkatan tertinggi setelah usaha adalah doa, baru setelah itu kita berserah diri. Doa adalah bagian yang sangat penting. Bukan hanya doa dari kita pribadi, tapi juga orang lain, terutama doa dan ridho dari orangtua kita. Terutama lagi, Ibu. Doa akan menjadi pembuka jalan yang akan melancarkan dan menguatkan usaha-usaha yang akan kita lakukan. Dan karena kita yakin bahwa jawaban dari setiap doa adalah “Iya”, maka berserah diri adalah ujungnya. Wis to, pokoknya mah, setelah usaha yang maksimal, doa maksimal, insyaAllah semua akan lancaaarrr dan hasilnya adalah yang terrbaiiik ;)
.

Jadi ini sih intinya, sesuatu yang besar didapatkan dengan pengorbanan yang besar jua.
Tidak bisa kita pengen ini-itu tapi yang dilakukan juga cuma itu-itu lagi, itu-itu doang. Mungkin bagi sebagian orang, konferensi mah gitu doang, sepele. Ke Jepang juga cuma situ doang, gampang. Tapi bagi kami, bagi saya utamanya, perjalanan ke Jepang memberikan hikmah yang luar biasa dalam diri saya. Tentu masih banyak hal yang harus saya perbaiki dari diri saya, tapi saya tidak bisa mengatakan bahwa tidak ada yang saya dapatkan sepulang dari Jepang, justru banyaak!

Soo, keep fighting on your dreams! Jaga diri (dan hati) supaya tetap on the track  dengan tujuan besar kehidupan *halah yang sudah kita bangun sejak awal. Penyesuaian dengan realita sedikit tidak masalah. Tapi bukan berarti kita akan menyerah dengan keadaan. Yang membuat kita berhenti hanya Allah, bukan kelemahan kita. Terlalu banyak alasan yang membuat kita harus lebih banyak bersyukur dan terus bekerja keras. Kalau kata Pak Dis sih; bersyukur dengan cara bekerja keras :D Selamat berjuaaang!
.
Semoga tulisan ini juga menjadi pengingat bagi diri agar senantiasa tegar dalam berjuang :’)

Selesai ditulis di Yogyakarta, 16 Desember 2016 23:52

Your Journey Partner,

Andika Putri Firdausy a.k.a #PutriPejuang a.a.k.a #FirdausyFighter

Sabtu, 03 September 2016

Tentang Penerimaan #3

(Masih) Tentang Penerimaan #3

Penerimaan itu bukan sekadar tentang jodoh. Bukan hanya tentang bagaimana kita akan bersanding dengan orang ‘antah-berantah’. Bukan. Penerimaan itu berhubungan dengan hal yang sangat luas. mampu menerima orang-orang di sekitar kita, misalnya.

Kita hidup di dunia yang penuh warna-warni. Dari putih, kuning, hijau, merah, biru, cpklat, ungu. Bahkan bagi sebagian orang, satu warna pun akan berkembang lagi menjadi merah bata, maroon, peach, merah jambu, merah bendera, dan masih banyak lagi.

Penerimaan itu tentang bagaimana kita siap hidup dengan banyak orang. Entah itu di rumah, kos, asrama, kontrakan, kampus. Atau mungkin berinteraksi di kereta, di bus, pesawat, warung makan, atau sekedar berpapasan di jalan.

Penerimaan itu tentang sinergi. Tentang harmoni. Bagaimana kita menyulap not-not tunggal yang tak berirama, menjadi sebentuk nada indah yang berharmoni.

Penerimaan itu tentang legawa; ikhlas dengan segala yang ada dan terjadi di sekitar kita. Tentu jika itu bukan sesuatu yang berlawanan dengan perintahNya.

Berat? Tentu saja.
Kalau mudah, untuk apa kita bersusah payah belajar?

Butuh waktu? Tentu saja.
Kalau tidak, mengapa kita harus memulainya sesegera mungkin sejak sekarang?

Penerimaan itu bukan hanya tentang aku dan kamu. Tapi, lebih tentang aku dan Dia.
karena hanya Ia yang bisa membaca apa-apa yang sedang terjadi pada hatiku.

Penerimaan itu memang hanya tentang aku dan Dia. Karena hanya ridhoNya yang kuharap mampu mengantarkanku pada perjumpaan terindah denganNya.

Selesai ditulis 30 Agustus 2016 04:40,
diedit 3 September 2016 09:55


--Masih tentang #Penerimaan :3

Selasa, 30 Agustus 2016

Tentang Penerimaan

Membangun Kesiapan untuk Menerima

Apakah ini tentang menikah?
Tidak selalu.

Kalimat dalam buku itu sungguh sangat dalam dan membuat saya merasa sangat kerdil, merasa bahwa terkadang perjalanan hidup ini menjadi cukup berat..

Begini.
Dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada berbagai hal dan permasalahan yang kita tidak akan pernah tahu bagaimana cara penyelesaian terbaiknya. Kalau iman kita sedang naik, hati kita menjadi baik, dan segalanya menjadi baik-baik saja. Semua masalah akan wesewesewes, bablas aja~ Penerimaan kita terhadap segala sesuatu akan sangaaat mudah. Hati kita akan menjadi saaangat lapang. Mau ada yang berbuat salah sama kita? Tidak akan menjadi masalah, karena kita sedang dekat dengan Allah. Hati kita sedang sehat sepenuhnya. ♥

Sayangnya, jika iman sedang melompat-lompat ngga karuan, apalagi sampai terjun bebas; hmm, disitulah sumber masalahnya. Hati menjadi tidak pernah tenang, selalu kemrungsung, dan semua menjadi serba salah. Masalah yang kecil akan dibesarkan, dan masalah besar tidak akan pernah sampai pada kata selesai. Bahagia? Tentu saja tidak. Hidup kita akan dihantui dengan rasa menyesal, kesal, dan semua rasa tentang ketidaktenangan (?). Intinya, hati kita tidak pernah merasa cukup dan tenang. Dan tentu saja, saat itu hati kita sedang jauh dengan Allah. Dan kita butuh untuk sesegera mungkin mendekatkan diri lagi, supaya semua menjadi baik-baik saja. (:

Apakah ini tentang menikah?  
Ya, bisa jadi.

Kalimat dalam buku itu sungguh sangat dalam dan membuat saya cukup terhenyak, merasa tidak belum siap..

Begini.
Kita, saya sendiri, termasuk orang-orang yang berprinsip untuk tidak memiliki ‘hubungan’ selain dengan pernikahan. Jadi, well, terkadang (atau mungkin?entahlah kan saya belum pernah :p), pernikahan itu menjadi semacam rahasia besar yang ngga bisa saya intip sama sekali sampai kelak benar-benar terjadi. Kalau ditanya kriteria, sebenarnya saya tidak bisa mengukur dengan tepat. Pasti punya lah mau gimana-gimana, tapi kan, tetap saja, semua itu ‘apa kata Allah’. Ingat aja pokoknya mah sama “Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik; wanita yang baik untuk laki-laki yang baik”. Juga, tentang “Bisa jadi, apa yang baik menurutmu belum tentu baik untukmu.”; dan apa yang menjadi ketetapan Allah-lah yang terbaik untuk kita. Nah, di titik ini lah kita harus belajar. Menerima semua takdir yang Allah tetapkan untuk kita. Baik itu tentang jodoh, ataupun yang lainnya. Semua perlu dipersiapkan. Agar kelak, kita tidak lagi sibuk dengan belajar menerima (yang telah kita siapkan sebelumnya), tetapi berjuang menghadapi yang lebih besar.

Udah sih gitu aja. :p
Nulisnya jadi panjang gegara pada heboh haha. Makanya to di tabayyun dulu kalau ada berita mah wqwq. Maap yak. Berasa apaan perlu press conference:p Saya mau dan tentu saja ingin menikah. Tapi saya belum akan menikah dalam waktu dekat. Belum ada calon :p. Saya mau script-sweet an dulu aja baru bikin “proposal” ke Allah. Udah gitu aja. (:

Yogyakarta, 29 Agustus 2016 21:00

Sebentar lagi due date.
Syemangats Mblooo #PutriPejuang, istirahatnya entaran aja yak di Firdausy (; *aamiin.

Berkumpul di Jannah