Pamit.
Hijrah.
Bismillaah. 💕
Juanda,
24 Januari 2018 06:15
Al Faqir Ilallah
Seperti air yang membawa kesegaran, seperti angin yang membawa kesejukan, dan seperti api yang membawa kehangatan.
Beberapa hari ini, entah mengapa banyak orang senang sekali mengiris bawang dekat-dekat denganku. Meski aku berkacamata, tak ada jaminan akan bebas dari semerbak bawang. Jadi, jangan salahkan jika kelenjar air mataku bekerja lebih keras dari biasanya..
Sejak kemarin-kemarin, bahkan aku belum sempat pamit secara paripurna kepada semua (atau belum menyempatkan?). Sungguh bukan karena tak ingin pergi dengan cara yang baik, tapi apalah daya diri yang hatinya tak ingin berpamit.
Kata Dilan, "Rindu itu berat, biar aku saja."
Sayangnya, Dilan cuma bilang ke Milea, bukan ke aku. Jadinya, harus juga aku "menanggung" rindu, meski belum sehari.
Maafkan atas pesan-pesan yang belum berbalas, sungguh diri ini tak sanggup membaca semua pesan itu. Biarlah hujan yang mengiringi sepanjang perjalanan menjadi pengganti atas ucapan, doa, dan semuanyaaa selama ini, semoga Allah berkahi, semoga Allah balas dengan kebaikan yang lebih baik dan lebih banyak. Sungguh, hanya Allah sebaik-baik Pemberi Balasan.
Satu lagi, mohon maafkan. Untuk semuanya.
Entah apa lagi. Banyak. Tapi belum bisa berkata. Yang pasti, semoga iman dan doa menjadi penghubung senantiasa.
(sedang di) Bangil (dan agak pusing?),
22 Januari 2018 00:30
Andika Putri Firdausy
Pagi ini, yang biasanya kulewatkan saja dengan merapel 'brunch' (if you know what I mean wkwk), qadarullah harus pergi keluar dan akhirnya pilihan (kembali) jatuh pada warung di pertigaan itu.
Ketika membeli nasi kuning di pertigaan itu, jadi inget dulu zaman masih maba tahun pertama-kedua, sering diajak kesana sama mbak kos karena dekat, dan murah!! Sampe hafal sama anak penjualnya yang kecil yang selalu ikut jualan, dan suka kugodain karena dia imyut nurut dan aku emang suka anak kecil hahaha.
Kemudian, keadaan mengharuskanku (?) berpindah berkali-kali, kaya siput wkwk. Dan ketika suatu saat kembali, aku mencoba mengurai memori dengan membeli nasi kuning dan/atau nasi pecel di tempat yang sama. Tapi yang kucoba cari ternyata sudah tiada.
Ku mencoba bertanya, "Ilham nggak ikut bu?". Iya, nama anak kecil itu Ilham. "Nggak mbak, Ilham sekolah". Kemudian aku tertegun, tercekat, dan entah apa lagi sebutannya. "Loh, udah sekolah?", setengah ku berbicara sendiri. Dia sudah SD sekarang. Pantas saja. Waktu sudah berlalu sampai sekarangpun aku sudah sarjana. Tentu saja bukan hanya aku yang melalui proses panjang, bukan? Seorang Ilham-pun jua.
Hari ini, ketika aku kesana lagi, aku sudah tidak mencari Ilham. Aku membeli nasi pecel seperti biasa. Harganya juga baru naik seribu rupiah sejak pertama kuliah. Ditambah gorengan yang dulu lima ratus rupiah dan sekarang seribu tiga.
Ah, Jogja.
Sebentar lagi, jika aku kembali, aku sudah bukan tuan rumah lagi. Tapi tamu. Kau mau suguhkan apa besok jika aku kembali?
(masih di) Yogyakarta,
17 Januari 2018
Andika Putri Firdausy
![]() |
Ini Peta Gembira Loka Zoo, jadi kita bisa menentukan arah tujuan mengarungi kehidupan #eh
|
![]() |
| Tentang Pinguin Jackass, dari Afrika |
![]() |
| Pinguin :") |
![]() |
| Ini kita naik bebek-bebek-an yang dikayuh gitu lupa namanya hahaha heboh sendiri juga wkwk |