Sabtu, 23 Juli 2016

Langkah Pertama

Bagian 1: Masa Anak-anak

Tetiba saya jadi ingat pengalaman pertama saya mengikuti lomba karya tulis di jenjang perkuliahan. Titik awal yang mengantarkan saya ke diri saya yang sekarang. Titik pertama perjuangan yang manisnya saya rasakan sekarang, menjadi bumbu tersendiri pada perjuangan kehidupan saya ke depan. Dan, saat pertama selalu tidak pernah bisa terlupakan.

Sejak kecil, entah darimana asalnya, saya memang suka lingkungan yang kompetitif. Saya bukan orang yang ambisius, tapi suka pada tantangan. Saya yakin semua itu tidak mungkin mak benduduk gitu aja. Mungkin, orangtua saya mengiternalisasi saya dengan ‘racun’ bermanfaat  tertentu sehingga saya seneng banget sama yang namanya ikut lomba. Apa karena saya orangnya PD? Hmm, not really. Mungkin kelihatannya saja saya orangnya cukup PD untuk berbicara dan tampil. Padahaaaal; semua itu terpaksa #ups. Jangankan ngomong di depan, nanya ke guru atau dosen aja saya keringetan dingin, bahkan sampe gemetar. Tangan saya bakalan basah, kalau memegang jantung udah deg-deg tidak karuan. Apalagi kalau sampai bicara. Saking bergetarnya, kadang saya lupa tadi saya bilang apa. Hahaha. Ssst jangan bilang2 ya :p

Oke, balik ke lomba. Sewaktu SD, saya sukaaak pake buangets sama mathematics. Saya tidak tahu ini berhubungan atau tidak dengan ibu saya yang guru matematika hahaha. Tapi lebih dari itu, saya suka tantangan dan logika. Yap, mengerjakan soal matematika adalah teka-teki hidup yang sangat saya sukai. Saya suka nggethu sendiri ketika mengerjakan soal. Pesaing Partner saya sewaktu lomba di SD kebanyakan adalah para lelaki yang satu kelas sama saya. Hahaha iya, kebanyakan matematika ini memang lebih digandrungi (dan well, dikuasai) oleh para lelaki. Mereka emang pinter-pinter sih logikanya. Tidak heran kalau sampai sekarang teman SD saya yang masih sering komunikasi kebanyakan laki-laki. Dari TK, SD, SMP, sampai SMA kami sekelas. Hastagah, ini gara-gara nggak ada sekolah lain kali ya :p

Masa-masa SD adalah masa ‘keemasan’ saya (soalnya lebih dikit saingannya dibanding SMP, SMA, apalagi kuliah :p). Saya lagi hobi-hobinya belajar, waktu itu. Beda dengan setelah SD. Hampir setiap hari orangtua mendampingi kami belajar. Dari mengerjakan PR, mengerjakan soal di buku, sampai tebak-tebakan. Bahkan ada satu tebak-tebakan parikan basa jawa yang sampai saat ini saya ingat: Pak Boletus, Tepak Kebo Lelene Satus! Hahaha betapa saya (dulu) sangat suka pelajaran ini.

Seingat saya, saya mulai ikut lomba-lomba sewaktu kelas tiga SD. Ehm, mungkin matematika, entahlah saya lupa. Yang saya ingat, SD ini masa-masanya saya sama sekali tidak bisa diam. Masa dimana lagi aktif-aktifnya saya. Ikut ini-itu, main ini-itu, rasanya ga pernah capek. Sepertinya benar bahwa kita harusnya mencontoh semangat dari anak-anak karena mereka selalu bersemangat. Juga pantang menyerah. Gagal? Coba lagi. Gagal lagi? Coba terus!!

Waktu itu saya kelas empat SD. Beberapa dari kami mewakili sekolah untuk mengikuti lomba siswa berprestasi tingkat kecamatan. Di tingkat kecamatan, masing-masing dipilih tiga besar putra dan putri untuk mewakili kecamatan ke tingkat kabupaten. Alhamdulillah waktu itu saya berada di tingkat pertama. Semenjak itu, mendadak saya jadi semakin banyak ‘job’ –a Saya diminta oleh Guru saya untuk menjadi ketua kelas. Tentu saja untuk melatih jiwa kepemimpinan saya (yaelah, anak SD pake jiwa-jiwa segala haha :p). Kebayang nggak kalau saya jadi ketua kelas? Hahaha, yaps, benar sekali: galak! :D Sampai sekarangpun, saya termasuk manusia paling alot kalau disuruh ngelanggar aturan. Kalau udah A, ya A, tidak bisa ditawar. (Semoga aturanMu juga kutegakkan dengan benar, ya Rabb :”). Termasuk dalam hal kedisiplinan di dalam kelas.

Setelah memberikan tugas, sudah biasa, guru akan meninggalkan kami barang sejenak. Entah ada rapat, atau sekedar ada keperluan di kantor. Dan, tentu saja sebagai ketua kelas, saya ‘diamanahi’ untuk mengontrol keadaan kelas. Guru akan bilang, “Teman-temannya jangan boleh rame, ya”. Dan, itu artinya, sesiapa saja yang mengganggu ketenangan di dalam kelas akan menjadi ‘mangsa’ saya. Kata-kata andalan saya adalah: Hee rekk ojok rame! Sing rame tak catet!!!” (Teman-teman jangan berisik! Yang berisik nanti kucatat!!!). Jangan bayangkan muka galak saya waktu itu hahaha. Yang jelas, namanya juga anak SD, mana ada yang bisa diam, semua pada begidakan keliling kelas. Coret-coret papan lah, lempar-lempar an lah, ilok-ilok an (ejek-ejekan) lah, apapun akan menjadi sumber untuk mereka berisik dan mengganggu ketenangan kelas. Dan saya, grrr tentu saja tidak berhenti teriak: “Hee reekk ojok rame talaaa~” (Teman-teman jangan berisik dooong~); yang ujung-ujungnya bakalan berakhir saya hopeless dan akhirnya ‘cuma’ mengumpulkan segepok nama dalam selembar kertas. Saya sudah lupa pada akhirnya apa yang terjadi pada nama-nama di dalam kertas itu. Yang pasti, saya tahu mereka tidak melupakan kata-kata andalan saya tadi sampai sekarang. Hahaha, makasih lho rekk, maafkan teriakan-teriakan tidak berguna saya yang bahkan mungkin hanya menjadi angin lalu bagi kalian sewaktu itu wkwk.

Selain ‘didaulat’ menjadi ketua kelas, saya juga dilatih menjadi petugas upacara. Kalau biasanya jadi protokoler atau pengibar bendera, sekarang jadi pemimpin upacara. Mungkin saat itu saya sudah kelas lima (atau masih empat saya lupa); yang pasti waktu itu saya menjadi satusatunya pemimpin upacara perempuan. Setelah itu, jadinya hampir setiap pekan saya bertugas. Berpanas-panas apalagi kalau amanat pembinananya lama :D alhamdulillah tidak pernah pingsan. Paling-paling gerak-gerakkin jempol kaki dan teman-temannya kalau sudah mulai keringat dingin. Pernah saking pegalnya, pembina upacara sampai menyinggung saya pas menyampaikan amanatnya hahaha.
Masih banyaaak sekali cerita-cerita ‘unik’ sewaktu saya masih bocah heuheu. Nanti dilanjut di lain waktu yaaa, insyaAllah ^^
Ah ya, Selamat Hari Anak! :) Bagi saya setiap hari adalah Hari Anak. Karena setiap hari mereka akan bertumbuh dan berkembang menjadi generasi emas bangsa ini. Merekalah yang akan menjadi pilar-pilar penerus setelah generasi kita nanti. Mereka yang selalu menggemaskan dan bersemangat. Semoga kelak kita melahirkan anak-anak yang dapat bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa, juga menjadi pemberat amal bagi orangtuanya kelak di akhirat. Aamiin. *sambil elus-elus perut :p


Bangil, 23 Juli 2016 23:32

Seorang Anak dari Ibu dan Ayah,
Andika Putri Firdausy

Rabu, 20 Juli 2016

Wawasan Kebangsaan Masyarakat Perbatasan Perlu Diperkuat


Penguatan wawasan kebangsaan bagi masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia perlu dilakukan. Hal tersebut penting dilakukan untuk menjaga keutuhan bangsa. Pasalnya, wilayah perbatasan sangat rentah terhadap konflik dengan negara tetangga.
Sekelompok mahasiswa UGM tergelitik untuk mengetahui lebih dalam wawasan kebangsaan masyarakat di daerah perbatasan. Oleh karena itu, mereka melakukan penelitian mengenai wawasan kebangsaan di salah satu kawasan perbatasan yaitu masyarakat Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Desa ini berbatasan langsung dengan Desa Teluk Melanau, Malaysia. Mereka adalah Deta Wijayanti, Andika Putri Firdausy, Indah Miftakhul Janah, Aqmal Nur Jihad, dan Luqman Fikri Amrullah.
Pada penelitian kali ini Deta dan teman-teman melibatkan siswa kelas 5 SDN 16 dan SDN 19 Desa Temajuk sebagai objek penelitian. Mereka meneliti wawasan kebangsaan para siswa tersebut melalui 3 indikator, yakni paham kebangsaan, rasa kebangsaan, dan semangat kebangsaan.

Deka menyampaikan dari hasil penelitian di lapangan diketahui bahwa tingkat wawasan kebangsaan siswa SDN 16 Temajuk tergolong sedang dan siswa SDN 19 Temajuk tergolong tinggi. Penelitian kuantitatif ini mampu mengungkap lebih jauh bahwa tidak ditemukan korelasi antara pemahaman terhadap kebangsaan dengan rasa dan semangat kebangsaan.
“Nilai paham kebangsaan di dua sekolah tersebut tergolong rendah jika dibandingkan dengan nilai rasa dan semangat kebangsaan,” ungkapnya, Selasa (19/7) di Kampus UGM.
Dijelaskan Deka terdapat beragam latar belakang yang menjadi penyebab tinggi rendahnya wawasan kebangsaan. Fenomena ini kemudian dapat dijelaskan melalui teori kebiasaan dan pembentukan perilaku. Beberapa faktor yang berpengaruh diantaranya aktor meliputi guru dan siswa, keluarga, sekolah, hingga lingkungan masyarakat.
“Faktor lingkungan menjadi sangat penting, utamanya di daerah perbatasan,” jelasnya.
Menurutnya, wawasan kebangsaan di wilayah tersebut perlu dilakukan. Tidak hanya itu, pemerataan pembangunan, khususnya pendidikan, harus ditingkatkan dan terus dilakukan hingga ke pelosok daerah.
“Dengan pemerataan pembangunan diharapkan mengurangi ketergantungan hidup pada negara tetangga sehingga meminimalkan kemungkinan warga untuk pindah kewarganegaraan,” pungkasnya. (Humas UGM/Ika)

Sumber: Web UGM 

Rabu, 22 Juni 2016

Seayat Ilmu


“Menuntut ilmu karena Allah adalah bukti ketundukan pada-Nya. Mempelajarinya dari seorang guru adalah ibadah. Melangkah menuju majelisnya adalah pembuka jalan surga. Duduk di tengah kajiannya adalah taman Firdaus. Membahasnya adalah bagian dari jihad. Mengajarkannya adalah tasbih. Menyampaikannya kepada orang yang tidak tahu adalah shadaqah. Mencurahkannya kepada orang yang berhak menerimanya adalah qurbah.”
– Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu,
dalam Lapis-Lapis Keberkahan,
Salim A. Fillah

Saya sedang membaca buku yang setelah sekian lama teronggok ini, dan, pada halaman itu, saya berhenti. Allah, betapa ilmu-Mu sangatlah luas...

Mungkin, kalau dibuat menjadi satu buku, tidak akan cukup menuliskan kisah skripsi-an saya (yang belum selesai) ini #halah. Tapi, for sure, kadang saya berpikir, kok, hidup gue drama banget, ya :p

Saya sekarang berada di titik, anggap saja semangat pake banget. Sampai saya berpikir mengundurkan tiket pulang gegara pengen ngendon baca buku di perpus (padahal buku di kos juga belum rampung wkwk). Akhirnya tidak jadi saya lakukan karena keburu dimarahin adek kalau nunda2 pulang, nanti me-ha-pe-in orangtua soalnya, hiks, saya nggak mau itu. #baper

Saya nulis beginian, selain biar blognya keisi :p juga biar menambah semangat saya sendiri. Karena, kadang saat kita lelah, kita butuh mengatur ritme sejenak, bukan terus berhenti selamanya. Membaca perkataan Muadz bin Jabal itu, saya jadi semangat. Iya, ya, bahkan ilmu saya nggak ada apa-apanya. Cuma seujung kuku semut aja. Hiks, sama sekali tidak ada yang bisa dibanggakan bahkan disebutkan.  Allah, betapa kecilnya saya...

Saya ingat ketika suatu pagi saya sedang mengulang satu mata kuliah. Dosen saya waktu itu mengatakan, ‘Kalian kuliah, itu juga amanah. Bukan hanya di organisasi aja amanah itu. Ketika kalian bersungguh-sungguh dalam kuliah, artinya kalian juga sudah menunaikan amanah dengan baik’. Jleb. Rasanya seperti ditampar. Allah, apakah sudah cukup pertanggungjawaban saya?

Ya Allah, ingat juga di istilah Jawa tentang ‘tirakat’ dan sebagainya. Terkadang ketika kita sampai di suatu titik puncak, bisa jadi itu bukan karena usaha kita, melainkan juga karena usaha orang-orang di sekitar kita. Kita tidak akan pernah tahu doa dan usaha siapa yang akan sampai dan diterima Allah, makanya, jangan pernah berhenti berusaha, berdoa, dan berbuat baik. Karena bisa jadi itu tidak akan berimbas ke diri kita, tapi mungkin ke keluarga kita dan orang-orang di sekitar kita.

Ih, jadi kemana-mana -,-
Intinya, saya jadi kembali menata niat saya. Ilmu Allah-lah yang akan saya kejar, dan semoga itu menjadi pemberat amal saya ketika tidak ada hal lain yang bisa saya ‘ajukan’ pada Allah di peradilannya kelak. Semoga, jalan dalam menuntut ilmu ini, bisa bermanfaat bagi umat, dan kelak dapat saya pertanggungjawabkan. Kalau dari yang saya kutip di blognya Mba Dewi,
“You are the author of your own book on the Day of Judgement. Make sure it is well worth reading!”

Ini juga sih yang membuat saya kekeuh pengen S2 dulu sebelum kerja. Saya pengen mengexplore ilmunya Allah yang luas itu. Dan semoga dengan itu, bertambahlah keimanan saya. Dan dengan ilmu itu pula, saya bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat. Bismillah ya, biidznillah.

Mungkin, saya hanya seonggok daging yang bernafas dan bergerak. Tapi semoga, ilmu menjadikan saya manusia yang lebih bermanfaat dan berharga di mata Allah. Saya juga ingat nasihat Ibu suatu ketika, ‘Nduk, ilmu itu akan mengangkat derajat seseorang. Semangat, ya!’ Ah, Ibu. Semoga kelak Allah pertemukan kita dengan keadaan terbaik di surgaNya, seperti nama yang telah Ibu dan Ayah sematkan padaku.

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kita nikmat dalam menuntut ilmu. Menelusuri setiap hikmah di balik Kalam-Kalam Al-Qur’an juga ayat-ayat kauniyahNya. Semoga kita menjadi pejuang-pejuang ilmu yang senantiasa mengamalkannya. Kalau kata Ustad Salim di bukunya, ‘Di lapis-lapis keberkahan, ilmu adalah pengikat kebajikan‘. Semoga kita menjadi insan berilmu yang senantiasa menebarkan kebajikan. Dan dasar ilmu kita berawal dari Al-Qur’an.

22 Juni 2016 / 17 Ramadhan 1437
Sang Pejuang Ilmu,


Andika Putri Firdausy

Senin, 20 Juni 2016

Melangitkan Doa

Ramadhan sudah separuh berlalu, apa saja yang sudah kita lakukan? :”

Kesibukan dunia seringnya melenakan kita. Kalau bukan kuliah, organisasi, atau hal ‘sesepele’ hobi. Semuanya. Padahal, Ramadhan ini waktu yang hanya ada seperduabelas dalam setahun, dan, belum tentu tahun depan kita bertemu lagi. Banyaaak sekali kelebihan dari bulan ini. Bulan penuh ampunan, bulan dimana pahala amalan dilipatgandakan, bulan dimana setan-setan dibelenggu...

Sebelum Ramadhan sampai, doa saya hanya satu, Allah sampaikan saya di bulan suci ini. dan alhamdulillah, Allah masih mengizinkan saya bertemu dengan Ramadhan :)

Di awal bulan Ramadhan, suatu ketika saya sedang berbuka bersama. Bahasan kami sore itu sederhana, tentang doa. Selain di waktu-waktu ijabah seperti berdoa di hari Jumat, berdoa diantara adzan dan iqomah, berdoa saat sujud dalam sholat, berdoa saat hujan, dan lain-lain, bulan Ramadhan ini juga waktu yang sangat tepat untu memperbanyak doa. Bahkan sore itu, kami disarankan untuk menge-list semua doa yang akan kita panjatkan sepanjang Ramadhan. Entah doa itu berkaitan dengan dunia atau akhirat, untuk diri sendiri maupun keluarga kita atau bahkan orang lain. Siapa tahu, Allah akan segera menjawabnya dalam waktu dekat.

Doa, adalah salah satu interaksi yang sangat intim antara hamba dengan penciptanya. Komunikasi melalui doa adalah percakapan terindah yang tidak bisa diwakilkan. Hanya kita dengan Nya.

Bulan Ramadhan, adalah salah satu waktu terbaik untuk semakin banyak melangitkan doa. Bukan hanya karena banyaknya keinginan kita yang ingin segera tercapai, tapi lebih karena ingin semakin dekat denganNya. Bukankah, Ia lebih baik dalam membaca diri kita dan kebutuhan kita daripada kita sendiri?

Biarkan Ia merengkuh kita dalam doa-doa kita. Dan waktu sebagai perantara yang akan perlahan menjawab semua pertanyaan dan penantian kita. 
Ramadhan, saatnya melangitkan doa, dan mendekatkan diri padaNya. Selamat bermesra denganNya. :’)

20 Juni 2016/ 15 Ramadhan 1437
Yang merindukanMu, selalu,

Andika Putri Firdausy

Senin, 18 April 2016

Senin Bersama Ayah

My first love, and my heroes ever after, I just hope He gimme chance to give my best for you. Not only in this Dunya, but also over there, in Akhirah. 
Sepagi ini, tepat Senin yang lalu, aku dan Ayah baru saja kembali ke rumah. Sejak matahari belum menyingsing, kami mulai menelusuri jalanan pantura yang memadat di senin pagi. Matahari terbit di atas Sungai Brantaspun menyapa kami. Kokohnya Arjuna dan Welirang juga mengiringi langkah kami.

Ayah mengajakku berkeliling. Menikmati sepoi angin dan rintik hujan di pagi hari. Pagi yang menyenangkan, bersama orang yang menenangkan.
Sebenarnya, tujuan utama kami berjalan-jalan adalah untuk survei pra lapangan scriptsweet. Ayah rela memotong jam kerjanya untuk mengantarkanku. Ya, hanya Ayah yang bisa mengantarku kesana-kemari. Satu-satunya lelaki yang sampai saat ini kujatuhkan hatiku padanya. Ia yang selalu memesona dan bersahaja.

Kami berjalan menyusuri Sungai Porong, anak Sungai Brantas, yang mengarah ke laut di Kecamatan Jabon. Sungai ini pula yang menjadi salah satu outket luapan lumpur Lapindo yang saat ini tengah menjadi subjek penelitianku. Ayah menunjukkan aku banyak hal, yang bahkan tidak aku temui di tumpukan buku di rak perpustakaan, atau lembaran-lembaran jurnal yang telah ku cetak. Ayah mengajarkan lebih dari semua itu.

Tempat kami berpijak memang sudah tidak asing lagi bagi Ayah. Dulu, hampir 26 tahun yang lalu saat Ayah masih bujang, Ayah pernah bekerja disini, menjadi juru administrasi di tambak milik Pak Malik. Namun sekarang, kantor Ayah sudah berubah menjadi warung. Akan tetapi, tambak-tambak ikan dan udang itu masih lestari sampai saat ini.
Kami berjalan mendekati sungai. Ayah menunjukkan Pulau Dem yang merupakan endapan sedimen sejak belasan atau mungkin puluhan tahun yang lalu. Saking luasnya, 'pulau' ini sudah ditumbuhi banyak mangrove dan bahkan banyak warga melakukan aktivitas disana. Beberapa perahu/sampan sengaja disewakan untuk menyeberang ke pulau ini. Kami juga bertemu dengan seorang bapak yang bekerja membangun dermaga disana. Dermaga lokal, mungkin milik salah seroang pemilik tambak disana, kata Ayah.

Matahari mulai meninggi. Kami tidak bisa berjalan terlalu jauh karena akses yang kurang memadai. Selain itu, Ayah sudah terlambat pergi bekerja. Semakin lama, akan mempengaruhi presensi kehadiran Ayah di kantor. Setelah dirasa cukup, kami kembali pulang. Melewati jalan kampung untuk memotong jarak agar lebih cepat.
Rintik hujan dan terik mentari mengiringi putaran roda motor kami. Sesekali kami menyapa warga yang sedang beraktivitas menuju tambak atau sawah. Kami menikmati saat-saat berharga ini. Aku, lebih tepatnya.
 
Kemarin Ibu mengabarkan bahwa Ayah sedang sakit, mungkin kelelahan karena hampir setiap pekan Ayah tidak pernah di rumah. Ada saja hal yang harus diselesaikan Ayah. Ah, Ayah selalu begitu. Tidak pernah merasa lelah dan tidak akan mau beristirahat meski hari libur sekalipun. Semua itu tidak pernah menghalangi Ayah untuk beraktifitas. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan nikmat iman dan sehat pada Ayah.

Allah, jagalah Ayah, juga Ibu. Sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.

Desember, 2015 - Merapi
Like father like daughter. I love you from the moon to the sky, and back, Ayah.


Yogyakarta, 18 April 2016 08:00

Love,
Your copied-oldest-daughter


Sabtu, 20 Februari 2016

Baru Kemarin Sore

| Syudah terlalu lama aku meninggalkanmu, Nak... *bersihinsaranglabalaba* :3

Time flew so fast that we didn't realize...

Sadar ga sih, kalau waktu itu terasa cepat sekali berlalu?
Suatu kali, saya sedang berbincang dengan adik angkatan yang masih bau kencur, hehe. Masih muda banget kalau dibanding dengan saya. Dia masih angkatan tahun pertama di Geografi. Sedangkan saya? Ah sudahlah. :"
Kami ngobrol ngalor-ngidul, mulai perkuliahan, organisasi, sampai ke mimpi. Di tengah perbincangan, lalu dia nyeletuk, "Mbak, bentar lagi Mbak lulus ya." Glek. Pertanyaan yang cukup menohok bagi saya.

Mengapa kata 'lulus' ini sedemikian menghantui? Seakan baru pertama mendengar dan tidak ingin mendengarkannya lagi. Lulus adalah keniscayaan bagi seorang mahasiswa dimanapun ia berada. Ia adalah sesuatu yang pasti harus dikejar dan diselesaikan. Akan tetapi, tak perlu jua terus diperdengarkan ulang, bukan?

Rasanya, baru kemarin sore Ayah mengantarkan saya ke Jogja dengan menaiki mobil travel. Rasanya baru kemarin sore kami datang shubuh-shubuh di UGM tanpa ada kerabat satupun. Rasanya baru kemarin sore seorang malaikat bernama Pak Rohman menawari kami untuk mampir ke rumahnya sekedar bersiap-siap registrasi setelah lelah perjalanan seharian.

Rasanya baru kemarin sore saya mencari kos ditemani Tante Rini hingga saya hampir pingsan kelaparan. Rasanya baru kemarin sore saya diantar Ayah, Ibu, dan Adik saya ke kos baru dan berkenalan dengan para penghuninya disana. Rasanya baru kemarin sore saya dan Uni Ella, Uni Dina, Mbak Erlin, Mbak Adah, Ririn, Mba Usi, Mbak Neni, Mbak Fifi, Mbak Ufi, kami terbahak-bahak menonton reality show di ruang keluarga kosan kami. Rasanya baru kemarin kami foto studio bersama untuk mengantarkan salah satu diantara kami pulang ke tanah asalnya. Rasanya baru kemarin saya berpamitan dengan Bu Bodro dan Pak Ingin untuk berpindah ke tempat yang lebih baik untuk saya.

Rasanya baru kemarin sore saya mencari kosan baru diantar oleh Ima. Rasanya baru kemarin sore saya berkenalan dengan Bu Tuti dan Bapak lalu memutuskan untuk menetap disana. Rasanya baru kemarin sore saya diajak Ibu makan berdua di KaliMilk dan Nungong Jeumpa. Rasanya baru kemarin sore saya kenalan sama Mbak Tia dan Mbak Tari yang baik. Rasanya baru kemarin sore Pak Jo membetulkan lampu depan kamar saya. Rasanya baru kemarin sore abu Gunung Kelud berhasil memutihkan kamar saya dan Mbak Tia hingga kami mengalami petualangan yang menghebohkan. Rasanya baru kemarin sore saya kekunci di kosan sendiri hingga jam dua pagi. Rasanya baru kemarin sore saya serasa memiliki istana ketika Ibu dan Bapak pergi ke Jakarta. Rasanya baru kemarin sore ketika saya kembali harus memutuskan untuk berpindah ke tempat yang lebih baik untuk saya.

Rasanya baru kemarin sore saya wawancara dengan Umi di ruangan yang sekarang kami sebut RBU itu. Rasanya baru kemarin sore akhirnya Ayah dan Ibu memberikan restu untuk saya kembali berpindah. Rasanya baru kemarin sore saya dibantu Ima mengangkut berdus-dus barang dan kembali menatanya di ruang baru. Rasanya baru kemarin sore saya berkenalan dengan Ammah Ela dan Ammah Firda yang menyambut saya pertama kali. Rasanya baru kemarin sore kami berempat, santri 'baru', berkenalan di depan puluhan santri lainnya di class meetingRasanya baru kemarin sore saya 'berkenalan' dengan para asatidz; Ustadz Deden, Ummi Isma, Ustadz Ahmad Dahlan, Ustadz Sunono, Ustadz Talqis, Ustadz Tulus, Ustadz Syafi'i, Ustadz Darlin, Ummi Widi, Ummi Habibah. Rasanya baru kemarin sore saya sekamar dengan Vio. Rasanya baru kemarin sore saya lalu pindahan kamar dan sekarang berdua dengan Mbak Awi. Rasanya baru kemarin sore saya dan Nana mengejar-ngejar kereta dengan kecepatan gilaRasanya baru kemarin sore kami rihlah naik bis ke luar kota. Rasanya baru kemarin sore saya tertidur dan bolos kelas. Rasanya baru kemarin sore saya merasa sangat lelah dan jenuh menjalani semua rutinitas. Rasanya baru kemarin sore pula saya sangat bersyukur bisa 'terjerembab' di tempat ajaib ini.

Rasanya baru kemarin sore...

Memori tiga setengah tahun itu kembali berputaran. 
Menari-nari lincah di dalam kepala yang penuh pikiran berjejalan.
Saya kembali merunut semua yang telah saya lalui, yang saya alami, yang saya rasakan.

Dan sekarang saya berada disini, sedang menuliskan ini.

Ah, waktu begitu cepat berlalu.
Begitu saja kita melalui banyak tempat, menemui banyak orang, melakukan banyak hal.
Tapi, apakah sudah cukup yang kita lalui? Apakah sudah cukup yang kita temui? Apakah sudah cukup yang kita lakukan?

Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. [QS. Al-'Ashr: 1-3]

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak merugi.



Muzdalifah 8,
Yogyakarta, 20 Februari 2016 09:09 AM


Andika Putri Firdausy
a.k.a Putri Pejuang

Sabtu, 05 Desember 2015

Sang Pemimpi

Saya ini pemimpi. 
Bukan. Bukan pemimpi hasil bunga tidur lho ya. Ya, meski salah satu hal yang paling sulit saya hindari adalah tidur. Tapi, saya memang seorang pemimpi. Pemimpi sejati. Tapi sayangnya terkadang mimpi itu melenakan, ya? Saya sering mendengar orang berkata berbagai pendapat tentang mimpi. Mimpi yang harus tinggi, ditulis, kalau perlu dirinci secara visioner supaya jtujua hidup kita jelas. Well, itu benar sekali. Tapi, kalau cuma nulis ‘aja’, kadang kekuatan mimpi itu jadi kurang.

Saya ini pemimpi. 
Bukan. Bukan mimpi yang ditulis besar-besar di depan pintu kamar supaya semua orang bisa melihat dan mendoakan. Tidak. Saya bukan tipe se’berani’ itu. Saya masih sering merasa kecil. Meski saya sendiri pernah bilang bahwa memang salah satu cara mengingat mimpi adalah menuliskannya. Bukan hanya mimpi bahkan, tetapi banyak hal, akan lebih mudah diingat jika pernah dituliskan. Tapi, beda dengan mimpi. Jika hanya ditulis, mimpi itu selamanya hanya akan menjadi mimpi. Tetap selalu menjadi mimpi.

Saya ini pemimpi. 
Bukan. Bukan pemimpi yang kemudian dengan beraninya meminta restu kepada orang-orang terdekat untuk mewujudkan. Saya bukan pemimpi yang berani mengambil langkah-langkah ‘gila’ untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya. Saya bukan pemimpi yang punya cukup keberanian untuk ‘mencuri’ ilmu dari para pengejar mimpi lainnya. Saya tidak seberani itu. Bahkan mungkin sampai sekarang.

Saya ini cuma pemimpi kecil, yang beraninya menulis mimpi di ingatan. Saya ini cuma pemimpi kecil, yang paling mentok nulis mimpi di buku harian yang disimpan rapat-rapat. Saya ini cuma pemimpi kecil, yang jangankan punya mimpi yang mustahil, mimpi saya itu lebih banyak hal ‘remeh-temeh’; tapi saya akui memang banyak. Saya tidak cukup berani untuk bermimpi memeluk bulan. Lha wong, saya ini cuma orang kecil.

Tapi, saya berharap itu tidak lagi terjadi.
Dunia ini terlalu luas sepertinya untuk ‘hanya’ menjadi seorang pemimpi kecil...

Saya punya banyak mimpi, banyak sekali. Dari hal sederhana yang mungkin orang pun enggan memimpikannya, hingga hal rumit yang bahkan orang tidak mungkin memikirkannya. Saya suka sekali bermimpi. Walaupun, mimpi itu beda tipis dengan khayalan. Dan berkhayal, itu bukanlah suatu nilai yang akan saya pegang. Tidak, bermimpi itu ternyata sangat berbeda jauh dengan berkhayal.


Khayalan akan membuat kita semakin nyenyak tertidur, sedangkan mimpi akan membuat kita henyak terbangun. 
Khayalan pula tidak akan membuat kita melangkah maju, tetapi mimpi tidak akan membuat kita berhenti.


Tertanda,
Sang Pemimpi(n) Sejati.

To be continue*

Berkumpul di Jannah