Rabu, 16 September 2015

Kupanggil Ia Umak

| Bahagia itu sederhana, bukan?
Pagi ini, sama seperti pagi biasanya. Berkutat dengan rutinitas seperti biasa. 
Tiba-tiba, saat mata masih terpaku pada sebuah layar 14 inch, sebuah pesan singkat masuk ke dalam telepon genggamku. Dari Umak, Temajuk. Perasaan bahagia seketika menyergap. Setelah sekian lama, akhirnya aku mendapatkan kabar.
Orangtua angkatku memang tidak termasuk yang sering bepergian ke kecamatan. Berita mengenai keberadaan sinyal yang 'tiba-tiba' ada di Temajuk juga sampai kepadaku, namun hal tersebut belum berpengaruh begitu banyak tampaknya. Belum ada tanda-tanda sinyal di rumah.
Aku menjawab pesan dengan cepat, takut kalau-kalau sinyal akan segera menghilang. Semalam memang ada satu pesan dari Umak. Akan tetapi setelah aku menjawab pesannya nampaknya sinyal kembali menghilang. Pesanku tidak terkirim.Tidak berapa lama aku sibuk mencari pinjaman headset untuk kugunakan menelepon. Maklum, speaker HP tuaku sudah tidak bisa digunakan lagi.
Aku memencet deretan angka dengan cepat. Waktu benar-benar terbatas. Tidak ada yang tahu kapan sinyal akan datang dan pergi. Aku duduk dengan gusar. Layar 14 inch itu sudah tidak lagi mendapat perhatianku. Kufokuskan pandangan pada sebuah layar yang lebih kecil: layar telepon genggamku.
Tut..tut..tut...
Nada sambung terus berdering.
Tut...tut...tut...
Masih nihil. 
Aku mencoba berulang kali sampai akhirnya petugas yang menjawab.
'Maaf, nomor yang Anda telepon sedang berada di luar servis area. Silahkan mencoba beberapa saat lagi.'
Ah, benar saja. Waktuku belum cukup untuk berburu sinyal. Tapi aku tidak menyerah. Aku mencobanya lagi dan lagi.
Sembari menunggu telepon diangkat, aku membuka folder album foto di laptopku. Foto yang tidak seberapa jumlahnya itu kutatap lamat-lamat. Tampak sebuah foto berlatarkan sebuah ruang keluarga.

Galih, Umak, dan Aku. Sesaat sebelum pulang. (28 Agustus 2015)
Ada aku, Galih, dan Umak disana. Kami saling berpelukan. Kutamatkan lagi paras Umak. Paras yang teduh dan menenangkan. Ah, Umak. Seorang wanita tangguh dan luar biasa. Tidak pernah banyak bicara dan terus bekerja.
Tes... 
Cairan hangat mulai memenuhi kelopak mataku. Hangat.

Aku masih terus mencoba perburuan sinyal. Kemudian aku mengetik sebuah pesan, barangkali Umak tidak menjawab nomor tidak dikenal karena aku menggunakan nomor lain.
'Ibu, ini putri :) bisa teleponkah?'
Aku masih menunggu dengan gusar.
Akhirnya, tidak berapa lama, pesan singkatku terkirim. Aku segera mencoba kembali menelepon. Barangkali sinyal telah menghantarkan pesanku.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Teleponku diangkat, dan di saat yang bersamaan Umak menjawab smsku: 'Bisa'.

Senin, 14 September 2015

Pengertian Perasaan

Perasaan itu hal yang manusiawi, bukan?
Entah itu perasaan bahagia, sedih, kecewa, benci, dan termasuk juga cinta. Akan tetapi, tidak yang perlu kita sadari dan mengerti adalah, tidak semua perasaan itu bisa diungkapkan. Ada hal-hal yang membuat suatu perasaan harus dijaga dengan baik. Dijaga agar tidak keluar kemana-mana. Ditahan agar tidak membuncah seenaknya. Disembunyikan agar tidak tumpah sembarangan. Ditata ulang agar tidak jatuh pada hal-hal yang tidak seharusnya.

Terkadang memang, perasaan yang masih berisi banyak tanda tanya itu mengerikan. Tidak tahu akan bermuara kemana, tetapi juga tidak bisa seterusnya dibelenggu dengan kencang. Tapi kalau dibiarkan, pun juga tidak bisa, karena ia justru akan bertumbuh subur bak ilalang yang justru menghalangi tumbuhnya tumbuhan indah yang sebenarnya. Terkadang kita hanya butuh sedikit saja usaha untuk mengendalikan. 

Perasaan memang terkadang melelahkan. Ttidak selalu bisa diungkapkan, atau bahkan sekedar diartikan. Ya, terkadang perasaan memang tidak bisa diartikan. Bisa jadi, satu sikap hati kita menunjukkan berbagai  jenis perasaan. Mungkin, seperti yang kurasakan saat ini.


Yogyakarta, 6 Mei 2015 11:01
I just hope Allah always guide us.

Rabu, 22 April 2015

Lost in Bangkok

It has been a long time since I realize that my heart is left behind in Bangkok! OMG!!!

Btw, post kali ini akan agak sedikit alay, maafkeun ><
Oke, saya akan menceritakan sesingkat mungkin serangkaian perjalanan saya ke Bangkok bulan lalu (karena kalau detail pasti nggak akan selesai :p). And the story began here...

Selasa, 07 April 2015

KAMU

Waktu yang mempertemukan.

Kita tidak akan pernah tahu arti sebuah pertemuan, apakah itu awal dari kesuksesan kita, atau justru kehancuran kita. Waktu itu sekitar bulan September 2013, ketika tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam kotak masuk HP saya. Nomor yang tidak dikenal, mengenalkan dirinya sebagai adik angkatan yang ingin berkenalan dengan saya. Menarik, dari mana anak ini tahu nomor saya? Mengapa dia tetiba sms saya? Beragam pertanyaan menghantui, tapi toh waktu itu saya sedikit acuh, karena dia sendiri juga sibuk, berkali-kali diajak bertemupun belum bisa. Ya sudahlah, mungkin belum waktunya.

Senin, 06 April 2015

Happy Birthday

As I'm getting older...

Then I have to being better...

That's not a compromise...

But really something that I have to do so...



Rabu, 25 Februari 2015

Menemukan Perbedaan

Bismillah.


COULD YOU FIND THE DIFFERENCE?

Teras Masjid Istiqlal, Jakarta (6 Sept. 2013)
Nyamm~ tulisan ini berawal dari waktu itu, ketika saya 'berkunjung' ke Masjid Mujahidin UNY, Yogyakarta. 
Saya sadar bahwa bahan yang saya tulis pernah marak akhir-akhir ini, termasuk di Yogyakarta: kemiskinan. Indonesia merupakan Negara dengan penduduk miskin sejumlah sekitar 11% dari total penduduk Indonesia yang 250an juta jiwa (bps.go.id). Nilai ini merupakan nilai yang cukup tinggi melihat dari banyaknya potensi yang dimiliki oleh Indonesia. Ah, saya tidak ingin membahas hal itu sekarang~

Minggu, 11 Januari 2015

PATAH

P.A.T.A.H

Patah. 
Sayap-sayap burung yang indah itu mulai patah. 
Ranting-ranting pohon yang kuat itu mulai patah. 
Semua menjadi basah. 
Seperti kertas yang tercelup dalam air. 
Basah, lalu entah berubah menjadi apa. 
Lembap, lalu sedikit demi sedikit terlepas. 
Tercerai-berai. 
Hancur berantakan.

Bukankah sudah sering kubilang, jangan pernah berharap pada sesosok makhluk. Apatah lagi manusia. Yang seringnya hanya bisa berdusta ketika berkata. Yang serinya hanya bisa ingkar ketika berjanji. Yang seringnya berkhianat jika dipercaya.

Bukankah sudah sering kukatakan, jangan pernah letakkan alasan pada sesuatu selainNya. Yang karena selainNya tidak akan pernah memberikan kepastian yang nyata. Yang karena selainNya tidak bisa mengerti kita seutuhnya.

Penciptaan manusia memang sangat rumit. Bukan bagi penciptanya, tetapi bagi yang diciptakan. Sungguh manusia telah sering melampaui batas-batas yang telah ditetapkan. Sungguh manusia telah sering melampaui batas-batas yang bisa disanggupi dirinya sendiri.

Terkadang kita tidak pernah tahu batasan diri kita sendiri, apalagi untuk memahami batasan orang lain. Maka akan lebih baik jika kita mampu memahami diri kita sendiri terlebih dahulu. Seutuhnya. Kemudian belajar memahami orang lain. Dan terakhir, baru meminta hak kita untuk dipahami oleh orang lain.

Rabbi, ighfirli, ya Allaah...


Selesai di tulis, Maguwo 11 Januari 2015 22:28

-Andika Putri Firdausy

Berkumpul di Jannah