Sabtu, 21 Desember 2013

#2



Awan berarak, mengiringi langkah lima pemuda hebat pemimpin masa depan, semoga. 

Siang ini suasana berbeda di kereta. Kami hanya berempat, sedangkan satu kawan kami menunggu keberangkatan di tempat yang lain. Disinilah kami duduk selama kurang-lebih delapan jam. Mencoba “lari” dari rutinitas perkuliahan. Ah, semoga niat lurus dan tulus kami terjaga, Rabb.

Berasal dari latar belakang yang berbeda, tentu saja. Aku dan dua orang kawanku yang lain telah “bekerja sama” sebelumnya sehingga tidak banyak membutuhkan penyesuaian. Tapi tidak dengan dua kawan yang lain. Anggapa saja mereka newbie. Tidak, bukan bermaksud meng-eksklusifkan diri kami, hanya saja memang butuh penyesuaian dalam beberapa hal. Jadwal kuliah dan jadwal bertemu yang paling riskan. Pada akhirnya, kami semua harus rela pulang “larut” untuk menuntaskan semua ini. Haha, terdengar alay dan klise, mungkin. tapi, ya, begitulah. Dan semua cerita berawal dari sini.

Minggu, 08 Desember 2013

#1



Langit mulai gelap. Matahari telah kembali ke peraduan. Malam pun datang. Nada-nada melankolis mulai terdengar. Ah, besok waktunya, satu hari lagi saatnya. Ketika mimpi yang selama ini setia tegantung di atas langit, bagai daun, kini mulai terjatuh, ke pangkuan si empunya. Dia terwujud, dia terbentuk. Aku harap perjalan ini bukan hanya impian masa kecil, apalagi sekedar balas dendam akan nasib yang belum di tangan. Aku yakin, kita, memiliki tujuan yang lebih besar daripada semua itu. Keinginan, harapan, semua bermuara pada satu hal, kuharap. Meski jalan berbeda, tujuan utama haruslah tetap sama. Lagi, kuharap ini bukan sekedar jalan-jalan ala mahasiswa, apalagi sekedar mengalihkan dari kepenatan jam kuliah. Aku yakin, kita, memiliki tujuan yang lebih besar daripada semua itu. Sebelum pergi, mari luruskan niat!

7 Desember 2013 11:09 WIB

Rabu, 27 November 2013

Senja ?

Derap langkah mengiringi kepergiannya kali ini
Hening
Tak ada kata-kata manis terlontar dari bibir mungil
Senyap
Seakan dunia tak sanggup lagi bersuara
Diam tak bergeming
Seonggok daging terbujur kaku
Menatap kabur
Di akhir pertemuan itu, akhirnya
Ada pengakuan tak dinyana
Rasa itu, ada.
-Senja di Stasiun Kereta-

Jumat, 15 November 2013

Langit pun Menyapa : Hukum Sholat* Saat Hujan

Langit sedang berbahagia, nampaknya
Bulir air itu belum juga berhenti terjatuh dari titik tinggi tanpa batas

Nampaknya langit sedang memperhatikanku
Dia tahu bahwa hati ini sedang gelisah
Dia mencoba menghiburku dengan caranya

Itu, disana, aku melihat secercah harapan
Mimpi akan segera terbayarkan
Entah apa sebagai tebusannya
Yang pasti kau sedang kehilangan sesuatu yang tidak kalah besarnya
Dan inilah arti sebuah pengorbanan

"Assalamu'alaykum wa rohmatulloh...."
"... Rapatkan barisan lagi...."
Deg.
"Allahuakbar..."
Sebagai makmum masbuk satu raka'at, saya santai saja ketika mendengar ada yang melantunkan iqomah untuk kedua kalinya. Saya pikir, ah, mungkin mereka musafir yang sedang berada di perjalanan dan akan menunaikan sholat berjamaah. Tetapi suara itu kian menguat. Saya mulai panik ketika melihat orang-orang di sekitar saya yang tadi telah melaksanakan sholat berjama'ah juga ikut berdiri. Saya ngeri membayangkan cara "sholat" orang Syiah yang selalu melaksanakannya dengan cara di jama' (tiga kali dalam sehari). Lalu, ah, ngga mungkin. Saya mencoba memutar kepala ke sekelililng. Benar-benar sedang melakukan "sholat" semua. Hm, menarik. Sedangkal inikah ilmu saya?

"Dek, ini lagi sholat apa?"
 Seorang anak kecil mungil manis yang tadi sholat di samping saya menjadi objek untuk saya "interogasi". Dia sedang berguling-guling di atas sajadahnya. Sepertinya dia sedang asyik dengan dunianya...
"Sholat sunnah po?"
"Bukan mba, ini sholat isya'..." akhirnya dia menjawab. Tapi tunggu, hey,
"Sholat isya'?????"
"Iya, di masjid ini biasanya kalo lagi hujan deres sholatnya di jama'.."

Hening.


Rabu, 13 November 2013

Way

"Sudah kurasakan sejuknya hawa musim dingin di negeri matahari terbit.
Selamat Datang Para Pejuang Ilmu.
Bahwa ilmu-lah yang dapat meninggikan derajat seseorang setelah iman.
Bukan tahta, apalagi sekedar harta."

Salam, si jari manis.


When here is a will, there is a way.
Saat ini kami sedang "menguji" keampuhan kata-kata tersebut.
Laa haula wa laa quwwata illa billah: Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah.
Dan bahwa Allah bersama orang-orang yang yakin dan percaya.
Dan Allah Maha Kaya.
Dan Allah  tidak pernah menguji melebihi kemampuan hambaNya.
Dan Allah selalu bersama kita.

Karena istirahat itu tempatnya di Surga kelak.
Mari berjibaku!

See you next month, J!

Allah bersama orang-orang yang yakin dan percaya. Bismillah.

Senin, 28 Oktober 2013

"Silahkan"



“...Silahkan tutup pintu dari luar”

Astaghfirullah, ighfirlii ya Allah. 
Ampunilah hamba yang telah dzalim pada: 

waktu yang tidak berulang,
kedua orangtua dan segala kasih sayang,
raga sempurna ciptaanMu,
orang-orang yang telah “peduli” pada segala tindak-tanduk hambaMu ini.
Ighfirli, ya Allah...

Sungguh tidak pantas sebenarnya bagi saya untuk memohon lagi.
Tidak tahu lagi apa yang harus saya tulis.
Hanya saja, saya telah dzalim.
Dan itu sungguh bukan suatu kesalahan yang kecil. Ah.

Saya memang begitu.
Orang yang terlalu “santai”, mungkin.
Hanya saja, saya...

Katanya muslim.
Katanya taat peraturan.
Katanya jujur.
TAPI.....
kuliah aja TELAT.
Jadi, sebenarnya kamu ini apa?
Dzalim.
Satu kata tapi beragam makna.
Ah, semoga dengan ini saya SADAR, bahwa PRINSIP, bagaimanapun adalah PRINSIP.

Malu?
Biarlah. Apalah arti malu dibanding dengan pelajaran yang bisa diambil pagi ini.
Sungguh, sadarkah bahwa dirimu, yang diciptakan sempurna ini, kalah dengan seekor ayam, yang senantiasa bangun pagi, menyambut indahnya hari dengan semangat berkokoknya, setiap pagi, tanpa nanti. Ah
Sekretariat BEM KM FGE,
Selasa, 22  Oktober 2013, 7:43

Berkumpul di Jannah