Bulir air itu belum juga berhenti terjatuh dari titik tinggi tanpa batas
Nampaknya langit sedang memperhatikanku
Dia tahu bahwa hati ini sedang gelisah
Dia mencoba menghiburku dengan caranya
Itu, disana, aku melihat secercah harapan
Mimpi akan segera terbayarkan
Entah apa sebagai tebusannya
Yang pasti kau sedang kehilangan sesuatu yang tidak kalah besarnya
Dan inilah arti sebuah pengorbanan
"Assalamu'alaykum wa rohmatulloh...."
"... Rapatkan barisan lagi...."Deg.
"Allahuakbar..."Sebagai makmum masbuk satu raka'at, saya santai saja ketika mendengar ada yang melantunkan iqomah untuk kedua kalinya. Saya pikir, ah, mungkin mereka musafir yang sedang berada di perjalanan dan akan menunaikan sholat berjamaah. Tetapi suara itu kian menguat. Saya mulai panik ketika melihat orang-orang di sekitar saya yang tadi telah melaksanakan sholat berjama'ah juga ikut berdiri. Saya ngeri membayangkan cara "sholat" orang Syiah yang selalu melaksanakannya dengan cara di jama' (tiga kali dalam sehari). Lalu, ah, ngga mungkin. Saya mencoba memutar kepala ke sekelililng. Benar-benar sedang melakukan "sholat" semua. Hm, menarik. Sedangkal inikah ilmu saya?
"Dek, ini lagi sholat apa?"Seorang anak kecil mungil manis yang tadi sholat di samping saya menjadi objek untuk saya "interogasi". Dia sedang berguling-guling di atas sajadahnya. Sepertinya dia sedang asyik dengan dunianya...
"Sholat sunnah po?"
"Bukan mba, ini sholat isya'..." akhirnya dia menjawab. Tapi tunggu, hey,
"Sholat isya'?????"
"Iya, di masjid ini biasanya kalo lagi hujan deres sholatnya di jama'.."
Hening.




